Mohammad Saroni
Ketika pintu langit tertutup rapi
tak ada lagi jalan untuk pulang
bumi kehilangan jembatan penghubung
langit pun kehilangan penyangganya
Bunga-bunga kehilangan warna
buah - buah kehilangan rasa
hanya abu-abu menyelimuti langit
tidak ada lagi hitam atau putih
Suara tangis terdengar menyayat
seperti tangisan langit saat hujan
air matanya jatuh menghujam bumi
seperti ujung tombak kehilangan mata
Air langit menggenangi wajah bumi
memasuki semua pori-pori
menerobos hingga lambung terdalam
menyembunyikan semua tanpa kecuali
PINTU SEARAH
Mohammad Saroni
Pintu itu hanya searah
jika kita keluar tak dapat masuk
jika kita masuk tak dapat keluar
karena sesungguhnya hanya Dia yang mengerti
Kita telah melewati satu pintu
berkelana di halaman rumah
kadang hingga tersesat di belantara
tenggelam dalam lautan kehidupan
Kita tidak kembali lewat pintu itu
sebab pintu telah tertutup untuk kembali
maka kita hanya dapat mencari anak kunci
untuk pintu kembali yang belum ketemu
Kadang kita menemukan anak kunci
tetapi tidak semua pintu dapat dibukanya
bahkan seringkali anak kunci itu patah
padahal pintu belum sempat terbuka
Maka, kita kembali susuri jalan kehidupan
mencoba temukan anak kunci yang lain
lantas mencobanya untuk membuka pintu
walau masih sering kita gagal membukanya
Tetapi, hidup mengajari kita untuk berjuang
walau luka sudah mencacah sekujur tubuh
selama pintu masuk belum terbuka
pantang kaki untuk melangkah masuk
Pintu ini pintu searah
Sekali masuk tidak dapat keluar
Sekali keluar tidak pernah dapat masuk
Maka, tunggu pintu-pintu terbuka untuk kita
Gembongan, 20 Februari 2026
