Minggu, 30 Juli 2023

MENYOAL KEBABLASAN DALAM MENULIS


Kegiatan menulis merupakan kegiatan yang membutuhkan energi cukup besar, bahkan sangat besar. Hal ini karena kegiatan menulis merupakan kegiatan yang melibatkan aspek psikis dan fisik. Artinya, ketika proses menulis dijalankan, maka seorang penulis melakukannya secara total. Oleh karena itu, energi yang dibutuhkan mrliputi energi psikis dan fisik. Dua aspek tersebut bekerja secara bersamaan sehingga kebutuhan energinya cukup besar. Seorang penulis harus dapat mengelola kedua energi tersebut sehingga tidak mengalami kemandegan ataupun kebablasan.

Kebablasan dalam proses menulis adalah sebuah kondisi yang terjadi pada seorang penulis, sedemikian rupa akibat energi dalam diri yang cukup tinggi. Energi yang sangat tinggi ini berwujud semangat menulis yang berapi-api. Penulis melakukan proses penulisan sangat lancar sehingga pengaliran materi tulisan terjadi tanpa hambatan. Seperti kereta api tanpa stasiun!

Akibat energi atau semangat yang sangat tinggi pada proses0 penulisan, maka penulis kebablasan dalam proses penuangan idenya. Materi tulisan seakan tidak berhenti mengslir dari memori otak sehingga jumlah tulisan yang didapatkan jsuh lebih banyak dari seharusnya. Penulis seakan tidak dapat menghentikan pengaliran idenya. Seperti air bah yang berhasil menjebol dinfing bendungan. Air menerabas apapun yang dilewati ataupun yang menghalangi laju pengalirannya. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Fenomena terjadinya aliran bah ide atau materi tulisan dapat terjadi karena:

1. Penguasaan materi oleh penulis

Kebablasan dalam proses menulis dapat terjadi karena penulis yang sangat menguasai materi tulisan. Penulis-penulis krlompok ini seringkali mengambil obyek tulisan yang sangat familiar dengan pengalaman batinnya. Obyek tulisan ini, misalnya bidang atau dunia kerjanya. 

Penguasaan materi tulisan merupakan prasyarat bagi seorang penulis agar dapat lancar melakukan proses menulisnya. Ini merupakan kondisi dasar seorang penulis agar tidak berpikir saat menulis. Berpikir saat menulis dapat cepat menghabiskan eneri dan semangat menulis. Akibatnya, kehabisan energi pada pertengahan proses menulis. Putus asa dan mandeg dalam proses menulis. 

Berbeda dengan penulis yang menguasai materi tulisan sedemikian rupa sehingga pada saat menulis, prosesnya seperti tanpa kendali. Proses berjalan lancar sehingga penuangan ide tidak mengalami hambatan. Bahkan, penulis yang menguasai materi prnulisan akan merasa nyaman saat menulis sehingga tulisannya membengkak, seakan meliar. Mereka justru kesulitan untuk memghentikan kegiatan menulis sebab materi yang ditulis terus mrngalir. 

2. Suasana hati yang mendukung

Salah satu aspek penting yang diyakini dapat mendukung kelancaran proses menulis adalah suasana hati sang penulis. Sebenarnya kondisi ini tidak hsnya pada penulis, melainkan pada semua orang dan pekerjaan. Suasana hati sangat menentukan tingkat keberhasilan dalam melakukan kegiatan, khususnya penulis. Hal ini karena pada saat kita melakukan kegiatan, hati akan menyertainya. 

Kegiatan menulis sangat terkait dengan suasana hati. Ini merupakan pendapat banyak orang. Walau sesungguhnya tidak selalu begitu. Tetapi, ketika suasana hati dikaitkan dengan kenyamanan, pendapat tersebut setidaknya dapat diterima. Oleh karena itu banyak penulis yang mengeksekusi idenya dengan mencari tempat nyaman untuk menulis. Mereka menginap di villa-villa di gunung-gunung untuk menulis. Hal tersebut dilakukan agar pikiran nyaman dan tenang.

Lingkungan yang mendukung proses menulis akan berdampak pada suasana hatinya. Hati yang nyaman dan tenang akan meningkatkan kualitas konsentrasi seseorang. Mereka yang suasana hatinya tenang, pasti dapat berkonsentrasi secara optimal.

3. Suasana lingkungan menulis yang kondusif

Identik dengan suasana hati, suasana lingkungan juga memberi pengaruh terhadap proses menulis. Hal ini karena suasana lingkungan sangat mrnentukan suasana hati seseorang, penulis. Jika suasana lingkungan kondusif untuk kegiatan menulis, maka proses menulis dapat berjalan lancar. Sebaliknya, jika suasana lingkungan kurang kondusif, berisik dan sebagainya, maka hal tersebut dapat mengganggu proses menulis. Penulis dapat kehilangan konsentrasi sebab pikirannya yang terganggu oleh kondisi lingkungan.

Penulis yang lancar dalam proses menulisnya, pasti didukung oleh lingkungan yang kondusif untuk proses menulis. Penulis merasa nyaman sehingga sapat dengan lancar mengalirkan ide tulisannya. Dan, kondisi ini ternyata dapat menyebabkan seorang penulis mengalami kebablasan saat menulis. Dia merasa nyaman dalam menulis sehingga proses berlangsung tanpa hambatan. Akhirnya, kenyamanan tersebut menyebabkan penulis melupakan koridor yang harus dilewatinya. Mereka menulis dan menulis sebab pikiran mereka hanya terfokus pada menulis. Tidak ada aspek lain yang masuk ke dalam pikiran sehingga seperti air yang mengalir tanpa ada bendungan.

Meskipun demikian, kebablasan dalam menulis bukanlah sesuatu yang perlu dirisaukan. Ada satu masa yang akan menangani kondisi ini, yaitu editing, penyuntingan. Pada saat inilah, tulisan-tulisan yang dianggap terlalu melebar dapat dipangkas, sesuai kebutuhannya. Artinya, kebablasan dalam proses menulis menyebabkan molornya waktu penyelesaian tulisan. Materi yang seharusnya tuntas dikerjakan terpaksa harus terus dilakukan dalam kurun waktu yang tidak tentu. 

4. Modal materi tulisan yang berlimpah 

Untuk dapat melakukan proses menulis, maka kita mempunyai bahan yang akan kita tulis. Materi tulisan tersimpan dalam memori otak kita dan mengalir keluar saat kita menulis. Walau kita sadar bahwa ketika satu kata kita tulis, maka kata kedua sudah siap untuk dituliskan. Begitu juga halnya dengan kata-kata selanjutnya pun sudah antri untuk dituliskan bersama kata sebelumnya. Ini terjadi karena persediaan materi tulisan sudah bertumpuk-tumpuk dalam otak ataupun pikiran kita. Seperti air dalam instalasi saluran air, jika keran dibuka, air segera berebut untuk keluar, memancar. 

Seorang penulis dapat mengalami kebablasan pada saat menulis karena bekal materi tulisan yang berlimpah. Materi yang ditulisksn seakan tidak ada habisnya. Terus mengalir dan mengalir. Hal ini mengakibatkan materi yang ditulis terus berkembang, bahkan melebar dari koridor yang sudah disusun dalam outline tulisan. Kesan yang muncul adalah tulissn yang bertele-tele. Semua aspek dituliskan, dijelaskan sehingga didang pembaca tidak perlu berpikir berat saat membaca atau mempelajari tulisan tersebut. Kesan lainnya adalah sidang pembaca akan merasa dibodohkan oleh penulis. 

Sejatinya, modal materi tulisan sangat penting menentukan kecepatan dan kepadatan tulisan yang dihasilkan oleh penulis. Penulis dapat memberikan penjelasan selengkapnya kepada sidang pembaca secara keseluruhan. Sidang pembaca disuguhi semacam makanan siap saji sehingga tidak perlu repot-repot untuk memasaknya, tinggal memakannya. Kondisi seperti ini kurang mendidik sidang pembaca. Seorang penulis harus memberi kesemparan kepada sidang pembaca untuk mengembangkan pikirannya dengan pematik tulisan. 

5. Manajemen penulisan yang apik

Setiap kegiatan pasti melalui sebuah proses manajemen atau pengelolaan yang meliputi beberapa langkah konkret dan efektif. Manajemen ini dilakukan sejak perencanaan pekerjaan hingga akhirnya. Salah satu pola yang dapat diterapkan adalah POAC (Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling). 

Seorang penulis harus mampu mengelola proses menulis agar kegiatannya efektif. Langkah-langkah pengelolaan sebagai berikut:

a. Planning
Planning atau perencanaan merupakan kegiatan pra menulis. Seorang penulis harus menyusun planning, perencanaan terkait proses menulis yang akan dijalankan. Kegiatan ini perlu dilakukan agar terlihat hal-hal yang harus dilakukan pada saat menulis. 

Pada saat melakukan perencanaan menulis, seorang penulis melakukan langkah persiapan atas segala hal yang harus dilakukan. Langkah persiapan ini dapat kita sebutkan misalnya, pengumpulan materi tulisan, penyusunan outline tulisan, menetukan target-target penulisan, dan yang lainnya. 

Dengan perencanaan yang holistik, maka seorang penulis dapat melakukan proses menulis dengan lancar, bahkan dapat mengalami kebablasan dalam menulis.

b. Organizing

Kita harus mengorganisasikan setiap aspek penting dalam menulis. Seorang penulis sebelum melakukan proses menulis harus melakukan organizing setiap materi tulisannya. Dengan cara ini, maka setiap materi akan berada pada bagian masing-masing. Organizing atau pengelompokan materi tulisan ini memudahkan penulis untuk menambah materi tulisan pada setiap.bagian tulisan.

Materi tulisan perlu kita organising atau kelompokan sesuai dengan pembagian tulisan berdasarkan outlinenya. Hal ini sangat memungkinkan untuk secara cepat kita dapatkan pada saat kita mrmbutuhkan rujukan tulisan. Kita tidak perlu kebingungan pada saat menuliskan materi tertentu. Misalnya, setiap bagian outline kita buatkan folder pada komputer dan hal ini memudahkan kita memanggilnya atau melihatnya saat membutuhkan materi rujukan tersebut. 

c. Actuating

Setelah semua materi tulisan kita kelompokkan sebagai sumber rujukan, maka selanjutnya kita merealisasi kegiatan menulis. Kita harus segera bertindak untuk menulis sehingga proyek menulis dapat diselesaikan sesuai dengan perencanaan yang sudah disusun penulis. 

Actuating merupakan tindakan konkret yang dilakuan oleh penulis dalam rangka mewujudkan proses menulisnya. Ini merupakan kegiatan nyata untuk merekam jejak ide atau gagasan dalam bentuk tulisan. Seorang penulis harus segera menulis ketika perencanaan dan pengelompokan materi sudah selesai dilakukan. 

d. Controlling

Controlling dalam manajemen mrnulis dilakukan pada proses menulis dan setelah proses selesai dilakukan penulis. Controlling ini penting melakukan langkah antisipasi kerja menulis dari penulis. Pada saat proses menulis berlangsung, maka fungsi controlling adalah mengantisipasi  terjadinya kebablasan saat menulis. Sedangkan controlling saat proses menulis selesai adalah untuk melakukan proses editing terhadap materi tulisannya. 

Proses controlling ini memegang peranan atas kesesuaian tulisan dengan outline serta kebenaran-kebenaran kata dan sebagainya. Pada saat inilah, seorang penulis melakukan pembenahan, pembenaran atas kesalahan-kesalahan bahasa, kosa kata dan aturan kebahasaan. Dengan demikian, maka sidak pembaca akan merasa nyaman pada saat menikmati tulisan tersebut.

Jika seorang penulis dapat menciptakan 5 (lima) kondisi standar tersebut, maka kemungkinan besar proses penulisannya tidak akan mengalami hambatan. Oleh karena itu, setiap penulis harus mengkondisikan dirinya secara optimal sebelum mrlakukan kegiatan menulis. Pengkondidian diri berproyeksi pada kemampuan diri mengelola potensi yang ada dalam dirinya dan juga di luar dirinya. 

Apakah Anda sebagai penulis sudah mampu mengkondisikan diri dan lingkungan untuk mrndukung keberhasilan proses penulisan? Jika sudah, maka bersyukurlah bahwa Anda dapat menjslankan proses menulis dengan lancar. Tetapi, jika Anda brlum dapat mengkondisikan, maka segeralah mengkondisikan diri. Jangan sampai kita mengalami kebuntuan pada saat proses menulis dilakukan atau dijalankan. Pun, jangan sampai kita kebablasan saat mrnulis sebab tulisan yang kebablasan menyebabkan hasil tulisan kita bertele-tele dan kurang fokus pada ide atau gagasan yang kita tuliskan. 

Selamat karena Anda seorang penulis yang mampu mengendalikan diri dan mengkondisikan tulisan sehingga tidak berkembang liar, tidak terkendali akibat manajemen penulisan yang kurang baik. 


Gembongan,  2 Agustus 2023
Mohammad Saroni
Penulis buku: #Orangmiskinharussekolah

Sabtu, 29 Juli 2023

LANGKAH MEMBONGKAR KEBUNTUAN SAAT MENULIS

Setiap penulis pasti pernah mengalami kebuntuan saat menulis. Kebuntuan menulis ini dapat menyerang penulis pemula hingga penulis yang sudah banyak menulis. Kebuntuan menulis merupakan sebuah kondisi, dimana seorang penulis merasa kesulitan untuk melanjutkan proses penuangan ide atau gagasan dalam tulisan. Otak terasa blank dan tidak ada lagi materi yang dapat dituliskan sebagaimsna harusnya. Walaupun, sebelum kondisi tersebut terjadi, proses menulis sangat lancar, tetapi tiba-tiba saja semua hilang. Otak terasa kosong, zonk dan seakan materi yang dituangkan sudah habis. Semakin dipaksakan, maka terasa semakin kosong pikiran terkait materi tulisan. Pada akhirnya, penulis merasa putus asa dan berhenti, tidak.melanjutkan proses menulisnya. Hal tidak jarang membuat tulisan terbengkalai seban ketiadaan bahan untuk ditulis. 

Kebuntuan pada saat menulis merupakan fenomena umum yang akan dialami oleh penulis. Tidak seorangpun penulis yang bebas dari sergapan kondisi kebuntuan ini. Semua pasti pernah mengalami kebuntuan ini. A yang berhasil membongkar dan menghancurkan kebuntuan tersebut sehingga mampu menyelesaikan proyek tulisan. Tetapi tidak aedikit penulis yang terjebak dan tidak mampu.melanjutkan proyek menulis sehingga tulisan terbengkalai. Tulisan menjadi sampah, jika kita menengok saat menulis dilakukan dengan mesin ketik sebab setiap kali mengalami kebuntuan, maka lembaran kertas akan kita remas-remas dan buang ke keranjang sampah.

Fenomena ini dapat dialami seorang penulis dengan berbagai ragam latar belakang penyebabnya. Secara umum, kita dapat mengatakan bahwa untuk membongkar kondisi ini, kebuntuan dalam proses menulis, maka ada beberapa langkah efektif yang dapat kita terapkan, yaitu:

a. Mengatur jadwal kegiatan menulis

Untuk menghindari kebuntuan pada saat proses menulis, maka hal yang dapat kita lakukan adalah mrngatur jadwal menulis. Mengatur jadwal menulis memungkinkan bagi penulis untuk mempersiapkan amunisi yang cukup untuk proses menulis. Amunisi ini sangat penting agar tidak kehabisan pada saat proses menulis sedang berlangsung. Kebuntuan proses menulis dapat disebabkan karena amunisi menulis kita habis. Jika proses menulis dapat diasumsikan sebagai sebuah peperangan, maka dapat kita bayangkan apa yang terjadi jika kita kehabisan amunisi pada saat sedang berperang?

Jadwal yang kita terapkan dalam proses menulis sangat memungkinka kita mengatur persediaan amunisi. Artinya kita dapat mengatur waktu untuk menulis, kapan mulai menulis dan kapan berhenti menulis sehingga pikiran kita dapat selalu segar atau fresh. Sebelum kita mencapsi titik kejenuhan dalam proses menulis, maka jadwal sudah mrmbatasi waktu yang kita pergunakan untuk menulis. Jadwal ini memungkinkan bagi kita untuk mengatur kebutuhan waktu untuk menulis dan jumlah materi tulisan yang akan kita tulis. Jika pengelolaan jadwal kita tepat, maka jumlah materi yang kita sediakan akan tepat habis pada saat waktu habis. Artinya kita tidak perlu mencari-cari materi tulisan yang belum kita persiapkan untuk memenuhi waktu yang tersisa. 

Mengatur jadwal waktu proses menulis memang mrmungkinkan kita mengelola materi tulisan dan waktu yang dibutuhkan untuk menulis. Untuk hal tersebut dibutuhkan kemampuan dalam mengelola waktu dan materi. Semakin bagus pengelolaan waktu dan materinyya,, maka tepat jadwal yang sudah kita rencanakan. Oleh karena itu, seorang penulis harus mampu merencanakan waktu yang tepat dalam proses menulis terkait dengan materi yang dituliskan. 

b. Buatlah outline tulisan

Outline atau kerangka tulisan merupakan rin ian materi tulisan yang akan ditulis oleh penulis. Outline ini akan menjadi koridor penulis dalam menuangkan materi tulisannya sehingga tidak terjadi penyimpangan materi tulisan. 

Sejatinya, selain kebuntuan dalam proses menulis, ada kondisi lawannya yaitu kebablasan dalam proses menulis. Seorang prnulis dapat saja mengalami kondisi ini. Tetapi, kondisi ini akan kita bahas pada tulisan selanjutnya. Hal yang jelas dari kebablasan menulis terjadi karena tidak adanya kerangka menulis yang tepat dan disusun penulis untuk memberikan pendampingan menulisnya.

Dengan adanya outline, maka berarti seorang penulis sudah mempersiapkan materi yang akan ditulis dalam tulisannya. Penulis sudah mempunyai batasan-batasan yang harus ditulis dan tidak ditulis. Dengan demikian,maka tulisan penulis benar-benar bernas. Tidak ada kata-kata atau kalimat sia-sia yang seharusnya tidak perlu tetapi tetap dituliskan oleh penulis. 

Outline ini mengarahkan penulis untuk menuliskan hal-hal urgen yang mrmang harus ditulisksn terksit materi tulisan atau ide tulisan, tidak bersayap-sayap krluar dari kerangka. Outline ini menjadi pegangan penulis sehingga kelancaran materi lebih terjamin dan penulis selalu mempunyai materi untuk dituliskan tanpa harus mrmikirkan hal-hal yang akan dituliskan. Pikiran lebih terfokus pada ide atau gagasan yang akan dituliskan dan tidak berkembang liar. 

c. Menentukan target menulis

Kita harus mengakui bahwa setiap orang mempunyai batas kemampuan dalam melaksanakan kegiatan. Kita tidak dapat memaksa diri kita untuk terus beraktivitas tanpa batas. Oleh karena itu, kita harus dapat mengatur target menulis setiap proyek tulisan kita. Selanjutnya, dengan target ini, maka kita dapat mengatur waktu untuk kegiatan yang lain. 

Target merupakan ukuran capaian yang ingin kita dapatkan dalam satu proses menulis. Target juga dapat diartikan sebagai kesepakatan atau komitmen diri di dalam mencapai ukuran tertentu dari kegiatan, dalam hal ini kegiatan menulis. Untuk target ini dapat kita kelompokkan pada kondisi, yaitu target waktu dan target tulisan. 

1. Target waktu adalah kesepakatan kita dalam menulis berdasarkan ukuran waktu yang diperlukan dalam satu kali proses menulis. 

Ukuran waktu yang kita maksudkan adalah batas waktu yang kita pergunakan untuk menulis ataupun masa waktu yang kita manfaatkan untuk menulis. Batas waktu yang kita maksudkan adalah terkait banyak dan sedikitnya waktu untuk menulis, misalnya 30 (tiga puluh) menit atau 60 (enam puluh) menit. Sedangkan masa waktu yang kita maksudkan adalah kapan proses menulis tersebut dilakukan, misalnya pagi hari, siang hari, atau malam hari.

Target waktu inilah yang diharapkan dapat mengatur amunisi menulis seorang penulis terkait dengan waktu yang dibutuhkan atau diseduakan untuk proses menulis. 

2. Target tulisan adalah kesepakatan kita menulis berdasarkan jumlah tulisan yang dihasilkan dalam sekali proses menulis. 

Pada waktu menulis, kadang kita dibatasi jumlah kata, jumlah alenia, jumlah lembar, dan sebagainya. Ini merupakan salah satu upaya penyelenggara agar penulis tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan proyek tulisannya. 

Dalam konteks ini, kita dapat menentukan target tulisan yang kita hasilkan pada setiap saat menulis. Target ini dapat kita tentukan berdasarkan perhitungan kemampuan menulis kita. Kemampuan yang kita maksudkan dalam hal ini terkait dengan kemampuan berproses, kemampuan melakukan kegiatan menulis. Untuk target tulisan ini kita dapat memasang target satu halaman, dua halaman, atau mungkin dua alenia saja. Seorang penulis dapat saja memasang target dalam sekali proses menulis sebanyak satu halaman dan seterusnya.

d. Jangan memaksa diri

Kebuntuan dalam menulis dapat terjadi akibat kemampuan diri yang tidak berimbang antara kemampuan atau ketahanan diri dengan bekal materi tulisan yang tersimpan dalam memori otak. Ketika proses menulis dilakukan, maka materi yang tersimpan dalam memori otak dialirkan dan diwujudkan dalam bentuk tulisan.

Setiap melakukan sesuatu, maka salah satu pertimbangan kita adalah kemampuan diri untuk melakukan kegiatan tersebut, dalam hal ini menulis. Kita harus dapat mengukur batas kemampuan diri untuk melakukan kegiatan menulis. Dengan pengetahuan ini, maka kita dapat mengetahui kapsn harus berhenti melakukan kegiatan menulis. Jika tidak, kemungkinan kita akan memsksakan diri untuk menulis walaupun sudah lelah. 

Pada sisi yang lain, kita jangan memaksakan diri untuk menulis sesuatu yang tidak kita kuasai. Jika kita melakukan hal tersebut, berarti kita memaksa diri untuk mengungkapkan sesuatu yang sesungguhnya tidak ada pengetahuan itu dalam memori kita. Kita memaksakan diri untuk memeras otak mengalirkan sesuatu yang tidak ada di dalam otak. Akibatnyatak akan mengalami kebuntuan.

e. Menulislah lebih dari satu proyek dalam sekali proses

Mungkin secara sepintas kita akan bertanya-tanya bagaimana kita dapat menulis lebih dari satu pfoyek menulis, sedangkan satu proyek saja mengalami kebuntuan. Apakah tidak justru membuat pikiran kita semakin buntu sebab harus menuangkan lebih dari satu ide dalam waktu bersamaan?

Sepintas memang membingungkan sebab sudah mrngslami kebuntuan tetapi harus menulis dengan beberapa tulisan yang lain. Tetapi sesungguhnya hal ini merupakan sebuah pengkondisian diri dan pikiran terksit materi penulisan. Ketika kita mengalsmi kebuntuan pada satu tulisan, maka kita dapat berpindah pada tulisan yang lain. Hal ini karena ide tulisan pasti tidak sama dan hal tersebut semacam refreshing dalam proses. Ketika pikiran kita buntu pada tulisan pertama, maka sesungguhnya pikiran kita sudah fresh untuk tulisan kedua. Dengan demikian, maka kebuntuan pikiran dapat dibongkar atau dicairkan.

f. Berhentilah menulis dan lakukan kegiatan menyenangkan hati

Kebuntuan proses penuangan ide tulisan disebabkan oleh suasana.pikiran yang mencapai kejenuhan. Pikiran kita mencapai batas kemampuan untuk mengungkapkan atau mengalirkan materi tulisan. Orang mengatakan bahwa pada saat itu kita sedang dedel pikiran. Jika kita menghadapi kondisi ini, maka jika dipaksakan untuk melanjutkan kegiatan menulis, kebuntuan akan semakin  menguasai diri kita. Oleh karena itu, salah satu cara untuk membongkar kebuntuan adalah menghentikan kegiatan menulis dan melakukan kegiatan lain yang bersifat refreshing.

Kebuntuan terjadi karena pikiran mengalami kekalutan. Pikiran tidak sedang berada pada kondisi terbaik, melainkan sedang blank, zonk. Pikiran kita sedang kosong sehingga tidak ada lagi yang dapat dituangkan untuk dituliskan. Kekosongan pikiran karena otak dan pikiran yang terlalu panas dan tegang. Hal ini menyebabkan kebingungan pikiran kita. Kondisi ini membutuhkan penyegaran suasana. Untuk hal tersebut dapat dilakukan dengan menghentikan kegiatsn menulis dan mencoba mencari kegiatan lain untuk menyegarkan pikiran. 

g. Menulislah.yang ada di pikiran dan jangan memikirkan apa yang ditulis

Kejadian ini merupakan kekadian umum yang dilakukan oleh penulis, terutama penulis pemula. Sejak awal kegiatan menulis, mereka memilirkan apa yang akan ditulis dalam proyek tulisannya. Mereka berusaha untuk menemukan hal-hal yang dituliskan berbarengbdengan kegiatan menulisnya. Artinya, mereka sebenarnya belum mempunyai materi dalam pikiran untuk dituliskan sehingga pada saat menulis, sekaligus mereka memikirkan apa yang dituliskan. Pikiran akan bekerja tandem sehinggaenyebabkan pikiran cepat lelah dan jenuh. Seharusnya, pada saat menulis, kita hanya mengalirkan materi.yang akan kita tulis, bukan lagi mrnulis sambil berpikir.

Seorang penulis harus menulisksn apa yang ada di dalsm pikirannya sehingga kegiatan dapat lancar. Penulis dapat menuntaskan semua materi yang akan dituliskannya hingga tandas. Setelah materi dalam pikirannya tandas dituliskan, maka penulis harus berhenti atau menghentikan kegiatan menulisnya. Ini merupakan fase istirahat bagi penulis untuk mengisi amunisi materi tulisannya. Dengan cara seperti ini, maka seorang penulis tidak akan mengalami kebuntuan dalam proses menulis.


Begitu pentingnya kemampuan membongkar kebuntuan menulis oleh seorang penulis sehingga setiap.penulis harus mempunyai kemampuan tersebut. Hal ini karena kondisi kebuntuan dapat menyebabkan seorang penulis putus asa dan akhirnya meninggalkan bakal tulisan yang sudah ditulis sebagian tersebut. Oleh karena itu, seorang penulis harus mampu membongkar kebuntuan menulisnya secara aktif. Dengan, memahami langkah-langkah yang penulis ungkapkan di atas, semoga setiap penulis dapat segera membongkar kebuntuannya dan meleburkannya sehingga mampu meningkatkan produktivitas menulisnya. 

Semoga bermanfaat bagi semuanya!


Gembongan, 30 Juli 2023

Mohammad Saroni
Penulis buku:
#pendifikan karakterta pakekerasan