Kamis, 29 Desember 2022

ANTARA IDE DAN NIAT MENULIS

Banyak orang bilang bahwa untuk menulis, maka hal utama yang harus disiapkan adalah ide arau gagasan. Ide atau gagasan adalah bahan dasar yang menjadi modal kita menulis. Ide atau gagasan inilah yang kita kembangkan sehingga menjadi tulisan kita. Dan, ise atau gagasan adalah koridor penulisan kita. Dengan adanya ide atau gagasan inilah, maka kita dapat mengikat berbagai hal yang terkait dengannya. 

Pada setiap pelatihan dan pembimbingan penulisan selalu ditekankan agar menentukan ide atau gagasan dasar dari tulisan. Kita harus mempunyai ide atau gagasan ketika akan melakukan kegiatan menulis. Ide dijadikan sebagai koridor untuk menyampaikan bahan tulisan. Dengan ide dasar, maka akan tercipta bayangan tentang bagaimana tulisan yang akan kita buat. Kita dapat menciptakan kerangka tulisan dalam imajiner kita sehingga pada saat kita bergiat menulis, maka kerangka inilah yang menjadi panutan pola pikir kita. Kita tidak boleh menyimpang dari kerangka ide ini. Jika kita menyimpang, maka akan terjadi pembiasan makna dan arah tulisan.

Ide menulis

Ide adalah pondasi dasar pembentukan kerangka tulisan. Seperti sebuah bangunan rumah, maka kerangka dasar akan menentukan bentuk rumah yang akan dibuat. Selsin bentuk rumah, ketangka juga menentukan kekuatan bangunan yang kita buat, tulisan yang kita buat.

Ide ini merupakan hasil olah pikir kita yang merespon setiap kondisi kehidupan di sekitar. Setiap saat kita berhadapan dengan kondisi kehidupan yang berbeda. Ini merupakan keberagaman dalam hidup. Tetapi, dari sekian banyak keberagaman yang kita hadapi, tidak semuanya tersangkut dalam pikiran kita. Tidak semuanya terjaring ke dalam syaraf ingat kita, apalagi merasuk ke dalam rasa kita.

Kondisi kehidupan yang terjaring ke dalam pikiran kita yang selanjutnya ditindaklanjuti menjadi ide atau gsgasan menulis. Kita hanya menuliskan apa yang tersangkut dalam pikiran kita, sedangkan yang lain akan hilang begitu saja. Ide atau gagasan menulis datang ketika kita melihat, mendengar, merasakan, mengecap, dan membau berbagai hal dalam kehidupan. 

Ide terlahir oleh persetubuhan jiwa dengan kondisi yang ada di lingkungan hidup kita. Pada saat kita berinterasi dengan lingkungan, maka diri kita memberikan respon dalam.wujud ide atau gagasan tersebut. Kita melihat, mendengar, mencium, meraba, dan mengecap, maka diri kita meresponnya dalam bentuk tanggapan pemikiran. Tanggapan pemikiran ini selanjutnya berkembang menjadi ide atau gagasan. 

Artinya, agar kita dapat memperoleh ide atau gagasan, maka kita harus berinteraksi aktif dengan lingkungan. Kita harus bersetubuh dengan lingkungan, lebur.dengan segala kondisi.yang ada dimlingkungan aecara langsung. Hal ini akan memunculkan respon diri.terhadap kondidi lingkungan. Respon inilah yang kemudian kita sebut sebagai ise atau gagasan.

Niat menulis

Niat adalah bagian penting dalam kegiatan menulis. Sesungguhnya, niat sangat penting dalam setiap kegiatan hidup kita. Oleh karena itu, kita harus mendasari setiap kegiatan hidup kita dengan niatan yang kuat. Niat inilah yang akan menjadi pemicu semangat kita melakukan kegiatan hidup. 

Niat merupakan energi besar yang berasal dari diri setiap orang. Niat ini muncul sebagai respon diri terhadap setiap kondisi dan kejadian dalam hidup. Respon ini merupakan satu bentuk atau upaya agar setiap kondisi dan kejadian dapat direkam serta menjadi jejak kehidupan. Hal ini sangat penting bagi kehidupan sebagai upaya mencatat sejarah. 

Dengan niat, maka upaya untuk mewujudkan sesuatu akan lebih terkonsentrasikan. Begitu juga halnya dengan niat menulis. Pada saat kita sudah berniat menulis, maka secara teratur kata-kata mengalir untuk dituliskan. Semua kata akan terkonsentrasikan dalam pikiran sehingga dengan mudah diwujudkan dalam bentuk tulisan.  Energi yang mendorong niat menulis melahirkan semangat yang sangat besar. Semangat besar inilah yang sesungguhnya sangat kita butuhkan pada saat menulis. Semangat inilah yang menjadikan kita beraktifitas menulis secara maksimal.Tidak akan berhenti sebelum sampai dan berarti.

Oleh karena itu, pada saat kita aksn menulis, maka pupuklah niat menulis secara optimal. Jadikan niat itu sebagai energi yang mendorong kita secara konkret melakukan proses menulis. Niat ini kita jadikan sebagai energi untuk mewujudkan ide atau gagasan. Dan, kita harus mengakui bahwa banyak ide atau gagasan yang muncul, justru pada saat kita menulis. 

Begitulah, seorang penulis dalam proses kreatif kepenulisannya mengedepankan niat dan ide. Kedua aspek tersebut dikolaborasikan sehingga satu kesatuan yang saling menguatksn kegiatan menulis. Kita harus mempunyai niat menulis yang cukup, bahkan sangat besar sehingga ide atau gagasan yang kita miliki dapat diwujudkan dalam bentuk tulisan. Kedua aspek ini harus seimbang sehingga tidak akan saling mematikan.  
Seorang penulis akan kehilangan gagasan jika niat menulisnya kecil. Begitu juga sebsliknya, seorang penulis akan kehilangan niat menulisnya jika gagasan atau idenya tidak kuat.  
Oleh karena itu kedua aspek tersebut harus dipahami penulis dengan sebaik-baiknya. Bagaimana, sudah siapkah Anda menulis?


Gembongan, 18 Januari 2023
Mohammad Saroni
Penulis buku Personal Branding Guru dan yang lainnya

Rabu, 28 Desember 2022

MENANGKAP IDE DI PASAR

Darimanakah  dan dimana kita dapat memperoleh ide? 

Apakah harus menunggu di depan laptop yang terbuka dan menyala? Ataukah sambil tiduran di atas geladak bambu di bawah rerimbun pepohonan? 

Setiap orang akan memberikan jawaban yang berbeda terkait hal ini. Dan, memang kita tidak dapat menentukan secara pasti terkait darimana dan dimana kita mendapatkan ide. Ide itu seperti udara, kalau kita diam pasti akan datang tetapi jika kita berlari mengejarnya, maka dia lebih berlarinya melewati kita.

Lantas bagaimana?

Untuk mendapatkan ide menulis, setidp orang, penulis mempunyai trik masing-masing. Ada yang sama, tetapi banyak yang berbeda. Untuk mereka yang sudah terbiasa menulis, ide itu seakan melekat di kepala dan mata dan semua indera.diri. Apapun yang dilihat, didengar, dirasa, diraba adalah sumber ide yang bernas sehingga dapat segera dituliskan. Tetapi, bagi penulis pemula, mendapatkan ide untuk menulis masih dianggap hal yang sulit. Apapun yang dilihat, didengar, dirasa, diraba seakan sebagai kejadian arau hal biasa dalam kehidupan, tetapi ketika penulis lain memublikasikan tulisan terkait apa yang mereka lihat, dengar, rasa, dan raba, maka mereka baru menyadari bahwa mereka pernah dekat dengan ide tersebut. 


Berlatih Menulis, Menganyam Jejak

Kita ada karena cerita. Tanpa cerita, kita tidak pernah ada dan cerita tidak pernah tuntas, bahkan saat kita telah tidur nyenyak. 

Hal ini karena hidup dan kehidupan kita adalah rangkaian cerita yang saling berkesinambungan dan berlangsung seumur hidup kita. Selama nyawa masih bersemayam dalam raga kita, maka selama itu pula cerita akan lahir. Setiap ucapan dan tindakan kita akan melahirkan cerita. Dan, kita hidup karena cerita tersebut. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa kita hidup jika tidak ada bukti atas hidup kita.

Ada skenario yang sangat besar dan menjadi acuan kehidupan kita. Skenario tersebut adalah rangkaian adegan, dialog dan laku yang harus kita lakukan. Kita tidak dapat menyimpang dari skenario tersebut.  Dan, kita tidak pernah melakukan kesalahan dalam menjalankan adegan, dialog, dan laku dari skenario akbar tersebut. Hal ini karena setiap apa yang kita lakukan memang bagian dari skenario tersebut.

Dan, setiap adegan, dialog, dan laku yang kita lakukan tidak ada jejak tertulisnya. Kita tidak pernah diberi script cerita yang harus kita perankan, melainkan langsung melakukannya tanpa pernah tahu teks skenario hidup kita.

Jika cerita itu kita biarkan begitu saja, maka cerita itu akan hilang begitu saja juga. Orang-orang tidak lagi mengenali kita. Kita akan hilang dari percaturan hidup selamanya. Nama kita ditelan bumi sehingga tidak ada seorangpun yang memperbincangkan nama kita. Hilang.

Akankah kita biarkan hal tersebut?

Kita sering mendengar atau membaca wacana tentang _*the lost generation.*_ Sebuah generasi yang hilang karena tidak adanya informasi tentang generasi yang dimaksudkan. Bahkan, bukti fisik keberadaan generasi tersebut tidak ada, tidak ditemukan hingga sekian generasi. Tidak ada informasi yang jelas terkait keberadaan generasi tersebut. Memang ada informasi tentang pernah adanya sebuah generasi, tetapi tidak ditemukan, hilang!

Salah satu langkah konkret untuk menjaga keberadaan sebuah generasi adalah dengan menulis. Dengan tulisan, maka setiap generasi dapat mengetahui keberadaan generasi sebelumnya sehingga dapat segera ditemukan keberadaannya.

Kita banyak menemukan peradaban karena tulisan. Lantas mengapa kita tidak mau menulis?

Kita harus belajar menulis untuk menganyam jejak keberadaan. Dengan tulisan, maka kita dapat mengabarkan keberadaan kita. Saat kita tidak ada, maka orang dapat memprediksi keberadaan kita. Kita dapat mengabarkan apapun terkait kehidupan kita, posisi, budaya, waktu kehidupan, apa yang terjadi saat itu. Dengan demikian, semua orang mudah untuk menemukan kita. 

Kita menulis untuk menganyam jejak. Kita dapat meninggalkan jejak untuk generasi setelah kita. Hal ini karena tulisan itu abadi. Tulisan akan tetap ada dan akan menjadi sumber informasi. Oleh karena itu, kita harus menulis agar jejak kita tetap terbaca. Kita tidak boleh membiarkan jejak kita hilang begitu saja. Sekecil apapun jejak kita, maka itu adalah catatan penting untuk kehidupan kita. Mati kita menulis untuk keabadian mengantisipasi kepunahan tanpa informasi, jejak. 

Semoga kita sudah memahami alasan mengapa kita harus menulis. Jangan sampai kita menjadi generasi yang hilang begitu saja di belukar kehidupan. 

Salam literasi!!

Gembongan, 24 Desember 2022

Mohammad Saroni
Penulis buku:
#Personal Branding Guru

Jangan Menunda untuk Menulis


Waktu terus berlalu. Tak pernah berhenti. Pergerakan sang waktu seperti air yang mengalir menuju laut. Dan, sesampai di laut, air terus bergerak sebagai riak, ombak, dan gelombang. Tidak ada kekuatan yang dapat menghentikan perjalanan waktu. Justru waktu akan menggilas mereka yang mencoba untuk menghentikannya.

Kita ini bagian dari kehidupan dan waktu.  Kita tidak mungkin berhenti dan melepaskan diri dari pergerakan hidup dan waktu. Kita tidak mungkin membiarkan waktu berjalan dan kita menjadi penonton. Kehidupan ini seperti kendaraan dan kita ada di dalamnya. Ikut bergerak di dalamnya. Walaupun kita diam saja, tidak melakukan apapun, kita tetap terbawa oleh pergerakannya. Tetapi satu hal yang harus kita pahami bahwa kita dapat ditinggalkan oleh kehidupan, bahkan kita dapat dilemparkan dari kehidupan ini.

Lantas mengapa kita menunda-nunda kegiatan hidup kita?

Sebagaimana sebuah lomba lari marathon, kita harus terus berlari. Tidak harus berlari cepat. Seharusnya, jika kita tetap berlari sudah mencapai posisi terdepan, maka jika kita berhenti, kita akan berada di posisi buritan. Untuk mencapai posisi terdepan lagi, maka perlu kerja yang sangat keras. Kita harus memaksa diri agar berlari dengan cepat agar dapat menyalip pelari yang lain dan mencapai posisi terdepan lagi. 

Apa yang dapat kita simpulkan?

Ya, menunda itu artinya menyiksa diri sendiri. Jika kita menunda pekerjaan kita, maka kita harus bekerja keras agar pekerjaan dapat selesai sesuai target waktu. Berbeda dengan, jika melakukan kegiatan sesuai waktunya, maka proses kerjanya teratur berurutan sesuai porsinya. 

Oleh karena itu, janganlah kita suka menunda-nunda pekerjaan yang menjadi tanggungjawab dan kewajiban kita. 

Bahwa setiap kegiatan sudah ditentukan jadwal penyelesaiannya. Ada batasan waktu hingga pekerjaan tersebut selesai dikerjakan. Jika kita menunda-nunda waktu pengerjaan, maka hal tersebut berarti membuang waktu sia-sia. Dan, pada saat waktunya mendekati akhir, kita akan kalang kabut menyelesaikan tugas dan kewajiban kita.

 Apa yang terjadi pada pekerjaan yang dilakukan dengan tergesa?

Terkait dengan kegiatan menulis, maka menunda waktu untuk menulis artinya membuang ide secara sia-sia. Pada saat kita mempunyai ide untuk dituliskan, tetapi kita menunda untuk mengeksekusi ide tersebut menjadi tulisan, maka ide tersebut akan hilang. Kemampuan otak kita untuk mengingat, rata-rata lemah sehingga untuk menyimpan selintas dan lintasan ide yang datang sekilas tidak kuat. Masalahnya adalah, kehadiran ide selalu mendadak. Pada saat kita tidak siap menulis, ide itu muncul. Tetapi, pada saat kita menghadapi layar laptop, ide tidak muncul-muncul. Duduk berjam-jam, ternyata tidak ada yang tertulis. Tetapi, ketika kita berkendara atau menyimak pelajaran, ide itu bermunculan.

Apa yang harus kita lakukan?

Maka, segera tulislah ide yang mendadak muncul, walau hanya kata kuncinya saja. Dengan cara seperti ini, maka kita dapat menjamin bahwa ide tersebut tidak akan hilang. Banyak cara untuk tidak menunda menulis ini. Kita dapat menulisnya di hape atau potong-potongan kertas sebesar KTP yang selalu kita bawa kemana-mana. Katakanlah semacam script untuk menulis kata kunci ide tersebut.

Mojokerto, 24 Desember 2022

Penulis Buku: 
#Mendidik Karakter Tanpa Kekerasan

MENGAPA SAYA MENULIS?

Mengapa aku harus menulis? Bukankah aku dapat menyampaikan ide secara lisan? Bukankah lebih cepat dan simpel jika kita menyampaikan ide atau pendapat?

Kita sudah memahami bahwa menulis itu sejatinya sama dengan ngomong. Pada saat kita ngomong dan menulis, maka pada saat itu kita sedang menyampaikan pendapat kita. 

Lantas, mengapa aku harus menulis?

Aku menulis sebab aku menginginkan ideku dapat abadi dalam kehidupan ini. Aku sangat menyadari bahwa ide yang disampaikan secara lisan, melalui kegiatan ngomong tidak dapat abadi. Segala yang kita sampaikan secara lisan akan segera dilupakan dan tidak mungkin dapat diambil lagi secara utuh.

Omongan itu dapat berkurang, dapat juga bertambah jika sudah disampaikan ulang oleh orang lain. Tetapi, tulisan tidak dapat dimanipulasi. Apa yang kita tulis sekarang akan tetap seperti itu. 

Isi tulisan cenderung bersifat tetap walaupun sudah beberapa kali dinukil dan ditulis ulang oleh orang lain. Tetapi, ide yang disampaikan secara lisan akan berbeda penyampaian ulang oleh beberapa orang. 

Inilah alasan, mengapa aku menulis ide atau gagasan. Aku ingin ide atau gagasanku utuh sebagaimana aku sampaikan jika ada orang ingin menulis ulang tulisanku ke dalam tulisannya.

Dan, setiap orang mempunyai cara tersendiri dalam menyampaikan ide atau gagasannya. Tetapi, dari berbagai cara yang mungkin diterapkan untuk menyampaikan ide atau gagasan, maka menulis adakah cara paling efektif. Di samping itu, ide yang ditulis mempunyai kecenderungan untuk diketahui lebih banyak orang dalam waktu bersamaan, misal yang berbentuk buku.

Bagaimana dengan Anda, apakah suka ngomong atau lebih suka menulis?

Salam literasi!!


Gembongan, 26 Desember 2022

Penulis buku Orang Miskin Harus Sekolah

Sabtu, 26 November 2022

MENULIS ADALAH KEBUTUHAN HIDUP

Salah satu hal penting dalam kehidupan adalah jejak hidup. Setiap kita adalah para penjejak kehidupan yang membuat sejarah dalam kehidupan. Sekecil apapun jejak yang kita buat, itu adalah sejarah hidup kita. Jejak itulah yang menunjukkan pada masyarakat bahwa kita pernah ada dalam kehidupan ini.

Menulis sebagai salah satu kemampuan dasar manusia untuk menjaga kesinambungan jaman. Perlu adanya jembatan penghubung antar generasi sehingga tidak terjadi lost generation.  Bahkan seorang sastrawan pernah mengatakan bahwa sepintar, sepandai apapun seseorang, jika tidak menulis akan hilang dari peradaban. Seseorang yang pintar tetapi tidak menulis akan kehilangan jejak keberadaannya dalam kehidupan.

Kita adalah pelaku sejarah
 
Setiap yang ada akan menjadi tiada, tetapi ketiadaannya akan meninggalkan jejak. Jejak-jejsk yang kita kita tinggalkan dalam kehidupan akan menjadi penanda keberadaan kita. Setiap orang tentunya meninggalkan jejsk masing-masing. Tetapi, jejak abadi adalah tulisan. Oleh karena itu, kegiatan menulis dikatakan sebagai  kegiatan keabadian. Jika kita menulis, maka sesungguhnya kita sedang berusaha menciptakan sesuatu yang abadi.

Kita dapat melihat, mendengar, dan menemukan bahwa keberadaan suatu bangsa atau seseorang dari tulisan. Banyak prasasti ataupun batu bertulis yang bercerita tentang berbagai kejadian di masa lalu. Darimana kita mengetahui keberadaan kerajaan besar bernama Majapahit atau kerajaan-kerajaan lain yang pernah ada di bumi pertiwi? Salah satu jawabannya adalah dari beberapa tulisan yang mereka tinggalkan sebelum hilang dari peradaban. Tulisan-tulisan tersebut bercerita tentang berbagai hal dari setiap negara, rajanya, ratunya, puterinya, patihnya, tempatnya, daerah kekuasaannya, dan sebagainya. 

Berdasarkan tulisan-tulisan yang ditinggalkan, maka kita dapat mengenal lebih jelas tentang berbagai hal tentang sebuah bangsa, budayanya, agamanya, dan sebagainya. Semua terkait dengan personal. Personal yang dimaksudkan adalah seorang penulis. Oleh karena itu, keberadaan seorang penulis sangat penting untuk mencatat sejarah kehidupan. 

Kita ini para pembuat jejak kehidupan, tidak peduli bangsawan maupun orang biasa. Semakin banyak para penulis di sebuah masyarakat, maka semakin lengkap jejak yang dituliskannya. Setiap penulis akan memberikan sudut penulisan dan cara penulisan yang berbeda. Hal ini merupakan perbendaharaan obyek tulisan untuk masyarakat. Dengan demikian, maka semakin lengkap obyek jejak yang dituliskan. Semakin lengkap hasil tulisan, maka semakin terbuka semua sisi kehidupan masyarakatnya. 

Kita sebagai pelaku sejarah, setisp orang adalah pelaku sejarah, maka sudah seharusnya menuliskan sejarah kehidupannya. Jika memungkinkan, maka dapat menuliskan sejarah lingkungan, orang-orang penting di masyarakat sehingga pada saatnya semua sisi kehidupan tercatat semuanya. Kita harus menuliskan setiap hal dalam kehidupan sehingga ada catatan yang pada saatnya dapat dijadikan rujukan ketika generasi mendatang membutuhkan data terkait kehidupan sebuah masyarakat. Dengan demikian, maka tetap ada benang benang penghubung antar generasi dan tidak akan terjadi lost generation. 

Jejak tidak boleh hilang

Jejak adalah satu bukti langkah atau kegiatan yang telah u lakukan. Jejak ini merupakan bukti keberadaan kita dalam satu waktu kehidupan di tempat tertentu. Dengan demikian, maka keberadaan kita dapat dengan mudah terjejak sehingga memudahkan jika dibutuhkan. 

Seperti saat sekarang ini, kita membaca banyak informasi ditemukannya banyak situs terkait kerajaan Majapahit. Situs-situs yang ditemukan berupa puing-puing bangunan yang terpendam, sebagian sudah porakporanda. Jika hanya situs-situs berupa bangunan semata, kemungkinan mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi peninggalan tersebut. Kita hanya berkira-kira tentang peninggalan tersebut. Tetapi, jika ada jejak berbentuk tulisan, maka proses identifikasi akan semakin mudah, gampang. Jejak berbentuk tulisan swringkali berisi tentang isinya, siapa, dimana, kapan, untuk apa, bagaimana dan mengapa jejak tersebut dibuat. Dalam hal ini kita mengenalnya sebagai 5W dan 1H. 5W yang dimaksud adalah What, Who, When, Where, dan Why. 1H adalah How. 

Jejak tidak boleh hilang agar keberadaannya tidak terkubur dan dilupakan, tidak dikenal generasi masa depan. Jika kita tidak meninggalkan jejak, maka keberadaan kita tidak akan diketahui oleh generasi baru. Mereka seakan-akan ada begitu saja tanpa informasi generasi sebelumnya. Akan terjadi kekosongan masa dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ada lost generation sehingga kelahiran generasi berikutnya yang 'seperti' muncul begitu saja.

Tulisan adalah jembatan penghubung

Kita harus mengakui bahwa selalu ada jeda antar generasi. Jeda ini dapat begitu lebar, sempit, atau tidak kentara. Tetapi, kepastian bahwa setiap generasi pasti ada jeda dengan generasi sebelumnya dan sesudahnya. Tetapi, jeda tersebut bukanlah pemutus, melainkan penghubung, jembatan antar generasi. 

Dengan adanya tulisan, maka akan tercipta jalinan antar generasi. Generasi baru dapat segalahal ikhwal generasi lama sari tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh para penulis generasi lama. Hasil tulisan, khususnya terkait cerita atau pola kehidupan meripakan sumber informasi yang sangat penting bagi setiap generasi. Dengan tulisan yang dihasilkan setiap generasi, maka proses kehidupan akan menuju perbaikan sebab setiap generasi akan belajar dari informasi dalam tulisan tersebut. 

Kita pasti menyadari bahwa kita dapat mengetahui segal hal.ikhwal tentang generasi kerajaan Majapahit karena kita membaca hasil tulisan para pujangga waktu itu. Mereka menuliskan berbagai hal terkait kehidupan masyarakat Majapahit. Tulisan-tulisan inilah yang menjadi sumber pengetahuan kita. Berbagai tulisan kita dapatkan sebagai peninggalan sejarah kerajaan Majapahit. Hal tersebut sangat penting dan berarti bagi kesinambungan generasi. Dari tulisan-tulisan tersebut,maka kita mengetahui bahwa bangsa kita pernah begitu besar dan disegani oleh bangsa lain. Bahwa, kita pernah mempunyai seorang pejabat besar yang sangat cinta bangsa dan negara yang mempunyai cita-cita sangat besar, mempersatukan Nusantara dalam satu pemerintahan, Majapahit.

Tulisan adalah jembatan penghubung antar generasi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang setiap generasinya terhubung sedemikian rupa sehingga melakukan koreksi dan mrmperbaiki setiap kondisi kehidupan berbasis pengalaman generasi sebelumnya. Setiap generasi baru mengembangkan diri berbasis pengalaman generasi sebelumnya, bahkan sebelumnya. Pola kehidupan masyarakatnya berkesinambungan sehingga kondisi kehidupan masyarakat semakin membaik dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sudah terjadi pada generasi sebelumnya.

Kita membutuhkan pengakuan eksistensi diri

Jejak kehidupan menjadi hal penting terkait eksistensi diri. Dengan adanya jejak kehidupan, maka eksistensi diri akan dikenal sepanjang masa. Salah satu cara efektif untuk menjaga jejak kehidupan adalah dengan tulisan. Tulisan adalah keabadian. Tulisan akan tetap dibaca orang selamanya. Bahkan, setiap jaman akan berusaha menemukan jejak kehidupan berbasis tulisan. Hal ini karena tulisan dapat menjelaskan secara detail hal-hal kehidupan yang sudah terjadi pada jamannya. 

Kebutuhan atas eksistensi diri yang kita maksudkan dalam hal ini tidak terbatas pada diri pribadi. Eksistensi yang juga perlu mendapatkan perhatian dan dijaga serta dikembangkan adalah eksistensi masyarakatnya. Eksistensi masyarakat harus dijaga sehingga tidak hilang dari percaturan hidup di masyarakat dunia. Dengan demikian, walaupun sebuah masyarakat hilang, misalkan karena bencana alam atau perang besar, maka eksistensi mereka masih dapat ditemukan dari tulisan-tulisan yang dihasilkan pada jamannya. 

Oleh karena itu, setiap masyarakat pasti mempunyai seorang atau beberapa orang penulis yang merekam jejak kehidupan masyarakatnya sehingga menjadi semacam repertoar bagi keberadaannya. Pada saat yang dibutuhkan, maka semua orang dapat mengetahui keberadaan masyarakat tersebut. Walaupun secara fisik, mungkin sebuah masyarakat hilang dari peradaban, tetapi bukti tulisan akan tetap menunjukkan bahwa pernah ada masyarakat di daerah tersebut.

Kebutuhan pengakuan atas eksistensi diri menjadi satu hal penting untuk menjaga keberadaan secara utuh. Dan, untuk dapat memperoleh pengakuan dari masyarakat, maka jejak-jejak harus dibuat sedemikian rupa sehingga swtiap generasi dapat mengetahui dan selanjutnya dapat menerapkan dalam kehidupan di jamannya. 

Begitu pentingnya kegiatan menulis dalam kehidupan sehingga gerakan untuk menulis digalakan di setiap sudut kehidupan. Semua menyadari bahwa peran kegiatan menulis sangat penting di dalam menorehkan jejak kehidupan bangsa dari generasi sebelnya kepada generasi berikutnya. Dengan tulisan, maka jejak dapat abadi. Bahkan, hingga beberapa generasi ke depan, jejak tulisan tetap dapat dipahami walaupun mungkin alat dan bahasa yang dipergunakan tidak lagi sama. Oleh karena itu, maka sudah seharusnya setiap generasi mengembangkan diri dalam kegiatan tulis menulis untuk menorehkan jejak kehidupannya. Dan, bangsa Indonesia sangat menyadari hal tersebut sehingga gerakan tulis menulis telah dicanangkan sebagai gerakan nasional.



Gembongan, 13 Desember 2022
Mohammad Saroni
Penulis buku #Pendidikan untuk Orang Miskin
Dapat dihubungi di
mohammad_saroni13@yahoo.co.id
atau
085784990514

Senin, 12 September 2022

APAKAH ADA BUDAYA ANTRI SAAT MENULIS?

Budaya antri telah dijadikan salah satu indikator karakter seseorang. Kita dapat mengetahui karakter seseorang berdasarkan sikapnya saat antri. Seseorang yang tidak tertib dikatakan sebagai orang yang tidak berbudaya. Akibatnya, mereka mendapatkan perlakuan negatif dari masyarakat, terutama mereka yang sama-sama antri pada waktu yang sama. Sementara, mereka yang dengan tertib melakukan budaya antri akan mendapat respon positif.

Minggu, 11 September 2022

HIDUP SEBAGAI PENULIS

Benarkah kegiatan penulis dapat menghidupi kita? Apakah penghasilan yang kita dapatkan dari kegiatan menulis dapat menutup kebutuhan hidup kita? Kegiatan menulis itu kegiatan absurd. Memang kita dapat menulis sebanyak-banyaknya, tetapi kepada siapa karya tulisan tersebut kita jual agar kita mendapatkan penghasilan. Tidak semua penulis dapat memperoleh penghasilan dari kegiatannya. Tetapi hal tersebut bukan masalah utama. 
Keputusan untuk mengambil profesi sebagai penulis memang sangat berani. Orang-orang pemberani tidak takut pada kondisi yang bakal dialami setelah menjadi penulis. Hidup memang pilihan yang sebenarnya bukan pilihan kita. Ada skenario besar yang mengatur pilihan tersebut. Buktinya, walaupun kita sudah memilih ternyata tidak jarang yang kita dapatkan tidak seperti pilihan kita. Oleh karena itu, jika kita memilih menjadi penulis dan ternyata benar-benar menjadi penulis, berarti itulah sesungguhnya pilihan kita. Keputusan alam berkelindan dengan pilihan kita. Maka, bersyukurlah para penulis yang memang telah memilih menjadi penulis.

Profesi itu bukan pilihan

Kita harus mengakui bahwa sesungguhnya selalu ada tempat khusus untuk kita. Tempat khusus tersebut merupakan tempat kita menyimpan hal-hal yang bersifat pribadi dan tidak boleh semua orang mengetahuinya. Itu adalah benak atau pikiran kita.

Setiap saat kita selalu berpikir. Hal ini karena setiap saat selalu ada hal-hal yang masuk ke dalam pikiran kita. Hal-hal tersebut tersimpan dalam memori rapat-rapat. Tidak semua orang kita beritahu hal-hal tersebut. Bahkan,mungkin hanya satu atau dua orang yang kita beritahu. Itu menjadi rahasia kita. 

Tetapi, bagaimanapun, kebocoran pasti terjadi pada segala hal yang kita simpan. Rahasia tersebut terurai karena orang lain ataupun diri kita sendiri. Kita bukanlah penyimpan rahasia yang hebat. Selalu saja ada kebocoran sehingga orang lain mengetahuinya. Oleh karena itu, kitq perlu menyiasati dengan membuka sendiri melalui tulisan. 

Kegiatan menulis bukanlah pilihan profesi kebanyakan orang. Mereka sangat menyadari bahwa profesi sebagai penulis tidak menjanjikan apa-apa. Tetapi, tekad dan niat jiwa menjadi energi besar untuk menjalani kehidupan sebagai penulis. Mereka berkeyakinan bahwa profesi penulis dapat memberikan masa depan yang menjanjikan, baik. Karena bukan pilihan, maka tidak sedikit yang memposisikan profesi penulis sebagai pilihan kedua. Mereka tetap mempunyai profesi utama.yang menopang kehidupan.

Menulis itu membebaskan
Pada saat kita menulis, kita mengalirkan energi dari dalam ke luar. Energi dalam diri mengalir ke dalam otak dan menuju jemari. Otak memberi perintah pada jemari untuk menuliskan, mengetik segala hal yang ada di dalam otak, pikiran. 

Kita harus mengakui bahwa segala yang tersimpan dalam otak, pikiran adalah beban. Beban ini menyebabkan kita tidak nyaman, gelisah dan mengurangi produktivitas pikir, gerak, dan karya kita. Oleh karena itu, banyak orang yang kesulitan melakukan kegiatan hidup jika pikirannya banyak beban. Beban harus dilepaskan, caranya adalah menuangkan dalam tulisan.

Kita tidak memilih profesi sebagai penulis, tetapi jalan hidup memang mengarahkan kita ke sana. Jika kita tanyakan pada anak-anak tentang cita-citanya ke depan, maka tidak akan kita dengar jawaban menjadi penulis. Profesi penulis bukanlah pilihan kita, tetapi alam yang telah memilih kita. Dan, kita adalah para pelakunya.

Penulis itu ya menulis, ya memikir

Penulis itu pekerjaannya ya menulis. Dia menuliskan segala hal yang direkam memori otaknya dari kehidupan. Setiap peristiwa atau informasi yang didapat dari kehidupan, direkamnya dalam memori otak. Rekaman informasi ini mengendap dalam pikiran. Endapan ini dicairkan dalam bentuk tulisan.

Tulisan yang baik adalah merupakan endapan pengalaman hidup yang tersusun apik dalam memori otak. Pengalaman hidup yang dimiliki seseorang adalah sumber tulisan yang terbaik. Tentunya dalam hal ini, penulis adalah koki dari masakan pengalaman yang ada. Jika kokinya mahir mengolah masakan, maka masakan terasa enak. Jika tidak, maka cerita itu mengalami kegagalan.

Untuk dapat menjadi penulis, dibutuhkan waktu yang relatif panjang. Proses kelahiran seorang penulis berbenturan dengan waktu. Perbenturan itu tidak hanya menghancurkan, tetapi juga mengasah kemampuan sang penulis. Semakin mampu bertahan terhadap benturan benturan kehidupan, maka semakin bagus pengalamannya dan penuangan ceritanya semakin piawai.

Seorang penulis itu sekaligus seorang pemikir, selain menulis, dia juga memikir. Isi tulisan yang dihasilkan adalah hasil dari pemikirannya. Hal ini sering dan umumnya terjadi dan dilakukan oleh penulis. Dengan demikian, tulisannya adalah tanggapannya terhadap setiap kejadian di sekeliling hidupnya. Penulis merespon setiap informasi dan menyimpannya dalam memori otaknya. Selama proses penyimpanan tersebut, otak mengendapkan sehingga didapatkan inti sari dari informasi. Intisari informasi itulah yang kemudian dituliskan oleh penulis.

Penulis itu pemikir karena pada saat proses menulis dilakukan, pada saat itulah pikirannya bekerja. Dia mencoba untuk menuangkan gagasannya yang berada dalam endapan informasi dalam memori otaknya. Kata-kata dipilih, dirangkai menjadi kalimat. Kalimat yang dirangkai haruslah dapat dipahami semua orang. Pada saat itulah, penulis berpikir untuk memilah dan memilih kata-kata yang pas dan sesuai dengan kalimat yang akan dirangkaikan ya.


Sabtu, 10 September 2022

MENGAPA KITA HARUS MENULIS?

Ini satu pertanyaan klise yang dari dulu selalu ditanyakan banyak orang. Padahal, sesungguhnya pertanyaan tersebut tidak perlu ditanyakan lagi. Mengapa demikian? Sebab, kita sudah banyak menemukan hakikat dan manfaat menulis dalam kehidupan kita. Banyak hal yang dapat kita tuliskan sebagai bentuk kepedulian kita terhadap pengembangan kemampuan literasi anak bangsa. 

Kita harus mengakui bahwa menulis adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seseorang untuk hidup.  Sebenarnya ada 3 (tiga) kemampuan dasar.yang harus dimiliki seseorang agar hidupnya tidak mengalami kesulitan. Ketiga kemampuan dasar tersebut adalah membaca, menulis, dan berhitung. Kita sering menyebutnya sebagai calistung

Kemampuan membaca memungkinkan kita untuk dapat mengetahui banyak hal, informasi dalam hidup. Semisal kita bepergian ke luar kota, maka tidak akan tersesat sebab kita dapat membaca plangboard penunjuk arah dan posisi. Setiap saat kitai berada di suatu tempat, maka kita dapat mengetahui lokasi sebab membaca. Kita dapat saja bertanya pada orang-orang, tetapi tentunya hal tersebut menjadi ribet.

Sementara itu, kemampuan menulis memungkinkan bagi kita untuk menyampaikan ide, gagasan, atau yang lain kepada orang-orang. Kita dapat menuliskan banyak hal yang telah terjadi, sedang terjadi, bahkan yang akan terjadi. Dengan kemampuan menulis, maka terbuka pintu gerbang komunikasi personal maupun massal. Kita dapat menuliskan berita dan mengirimkan ke media massa sehingga masyarakat membacanya dan mengetahuinya. Inilah hebatnya kemampuan menulis. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa kita ini tidak abadi, tetapi tulisan adalah abadi.

Dan, kemampuan ketiga adalah menghitung. Manfaat apakah yang kita dapatkan dengan mengembangkan kemampuan menghitung? Sangat banyak dan sekali lagi sangat banyak. Kemampuan menghitung dapat memberikan kemudahan bagi kita untuk mengkalkulasi, misalnya keuangan, perkiraan waktu, perkiraan tempat, dan sebagainya. 

Kita adalah makhluk sosial yang jelas menggambarkan bahwa kita tidak dapat hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain untuk kesempurnaan hidup kita. Kita tidak akan sempurna jika tidak ada orang lain dalam kehidupan kita. Hal ini karena kita tidak dapat memenuhi kebutuhan kehidupan sendiri. Ada peran orang lain sehingga kita dapat menjalani kehidupan secara sempurna.

Ketiga kemampuan tersebut saling terkait. Tidak terpisah satu dari yang lainnya. Oleh karena itu, kita harus menguasai ketiganya secara sama baiknya. Jika dapat membaca, pasti dapat menulis dan berhitung. Jika dapat menulis, maka pasti dapat membaca dan menghitung. Jika kita dapat menghitung, maka pasti dapat membaca dan menulis. 

Tujuan kita menulis

Untuk apa kita menulis? Mungkin, jika kita melihatnya sepintasan, kita tidak dapat menemukan 'untuk apa kita menulis?'  Padahal sesungguhnya banyak sekali manfaat yang kita dapatkan dengan kegiatan menulis. Manfaat tersebut dapat untuk diri sendiri atau untuk orang lain.

Dan, sebagai salah satu kemampuan dasar untuk menghadapi kehidupan, sesungguhnya setiap orang haruslah menulis. Kegiatan menulis ini sangat fleksibel berdasarkan kebutuhannya. Hal ini karena kegiatan menulis itu merupakan wujud dari pikiran kita. Banyak hal yang ada di dalam pikiran kita. Tersimpan dalam memori otak kita, sejak kita masih bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan tua.

Pada sisi yang lain, keberadaan kita dalam kehidupan tidak dapat terpisah dari keberadaan orang lain. Bahkan, keberadaan orang lain sangat dekat pada kita. Artinya, kita tidak dapat menghindar dari mereka. Kita butuh mereka, mereka juga butuh kita. Saling melengkapi, saling menguntungkan, tetapi kadang ada yang merugikan. Tetapi, kita tetap harus berkomunikasi dengan mereka. Salah satu bentuk komunikasi yang kita terapkan adalah surat atau komunikasi tertulis.

Jika kita memperhatikan kegiatan tulis menulis, maka kita dapat mengatakan bahwa tujuan menulis adalah:

1. Menyampaikan ide atau gagasan
Ide atau gagasan adalah informasi yang ada di dalam pikiran kita terkait sesuatu dalam kehidupan. Ide atau gagasan ini pada umumnya berbentuk respon pikiran dan hasil pemikiran terhadap stimulus lingkungan, kehidupan. 

Setiap saat dalam kehidupan kita, ada hal-hal baru yang perlu kita respon. Hal-hal tersebut akan disimpan dalam memori kita. Sebagai konsekuensinya, pikiran kita merespon dengan melahirkan ide atau gagasan. Gagasan ini merupakan counter dari kondisi yang ada. Kita merespon kondisi kehidupan dengan menciptakan kondisi imajiner dan menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Kita menulis adalah untuk mengikat ide atau gagasan dalam bentuk tulisan. Kita berharap agar masyarakat mengetahui segala ide, gagasan yang kita miliki. Selanjutnya, semoga ide, gagasan tersebut diterima dan diterapkan masyarakat.

2. Melawan lupa
Lupa adalah sifat manusiawi. Setiap orang mempunyai kondisi ini. Kalau orang mengatakan bahwa orang-orang berumur pasti pelupa, maka hal tersebut tidak benar. Pelupa itu sifat dasar manusia, mulai dari anak-anak hingga tua renta. Hal ini kodrat yang tidak dapat dilawan. Kita memang dapat melatih agar tidak pelupa, tetapi tetap saja ada bagian  merupakan unsur lupa. 

Kondisi lupa ini terjadi karena kemampuan memori kita. Sebenarnya bukan karena keterbatasan kemampuan memori untuk mengingat, melainkan semata karena sangat banyaknya informasi yang harus disimpannya. Setiap saat, setiap hari permasalahan hidup mendatangi kita. Akibatnya, simpanan memori tertumpuk oleh simpanan baru.

Dan, menulis merupakan upaya kita untuk melawan lupa. Perlawanan kita terhadap lupa karena informasi yang seharusnya kita simpan dalam memori, kita alihkan dalam bentuk tulisan. Dengan demikian, maka setiap saat kita dapat membaca ulang tulisan tersebut. .Setiap saat kita dapat mengetahui kembali informasi yang harusnya kita simpan dalam memori otak 

3. Mengembangkan diri
Menulis adalah upaya untuk mengungkapkan perasaan, respon diri terhadap kondisi yang kita hadapi dalam simbol-simbol. Simbol-simbol yang kita maksudkan adalah huruf, kata, kalimat, paragraf, dan tulisan utuh. 

Pada saat kita menuangkan rasa, respon, saat itu kita mengembangkan kemampuan diri. Kita mencoba untuk mengembangkan kemampuan kita menyatakan ide, gagasan, respon, perasaan dalam bentuk tulisan. Kita mencoba untuk merangkai huruf-huruf menjadi kata, kata-kata menjadi kalimat, dan seterusnya. 

Kemampuan untuk menyampaikan gagasan dalam bentuk tulisan adalah kemampuan spesial.  Sesungguhnya, ini kemampuan biasa sebab semua orang mempunyai kemampuan tersebut. Tetapi, tidak semua orang dapat melakukan hal tersebut sehingga hanya orang pilihan yang dapat dan ini adalah kondisi spesial 

Dengan kegiatan menulis, maka sesungguhnya kita sedang mengembangkan diri. Orang-orang akan melihat kita kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Artinya orang-orang melihat kita sebagai sosok yang berkemampuan spesial.

4. Sumber penghasilan
Kegiatan menulis adalah kegiatan yang dapat memberikan finansial bagi.kita. Artinya, dengan karya tulis, maka kita dapat memperoleh uang. Uang inilah yang kita maksudkan sebagai finansial. 

Karya tulis kita yang sudah dikenal masyarakat, apalagi sudah menjadi penantian, pasti akan meningkatkan penghasilan penulis. Karya tulis berupa buku yang diperjualbelikan di masyarakat jika menjadi best seller, maka akan selalu ditunggu untuk buku yang baru. 
Bagaimana seorang Jk Rowling mampu meningkatkan ekonomi dirinya dengan naskah buku yang ditolak oleh penerbit dan agen penerbitan buku dan ternyata sangat disenangi banyak orang. Bahkan difilmkan. Berapa besar penghasilan JK untuk buku yang mengalami penolakan dimana mana.

5.Memviralkan nama diri
Jika sebuah buku terkenal.di masyarakat, sesungguhnya yang terkenal tidak hanya bukunya, tetapi penulisnya juga. Tidak hanya buku, tetapi tulisan-tulisan lainnya 
Seorang penulis, mungkin pada awalnya bukan siapa-siapa. Tetapi, saat buku tulisannya dikenal banyak orang, maka nama penulisnya juga dikenal 

Kegiatan menulis sebenarnya merupakan anak tangga untuk mencapai puncak kehidupan. Orang-orang yang aktif menulis, pada waktu tertentu akan dikenal banyak orang. Bahkan, dapat dikenal hingga seluruh pelosok dunia 

Jika kita memperhatikan apa yang kita dapatkan sebagai penulis, maka setidaknya dapat menjadi energi pembangkit semangat untuk menulis. Semoga.

Gembongan, 11 September 2022

Jumat, 09 September 2022

SEMANGAT MENULIS ANTOLOGI, MENGAGUMKAN!!

Salah satu cara untuk mengurangi kemalasan kita berkarya adalah dengan menulis keroyokan. Menulis keroyokan adalah salah satu cara untuk membangkitkan semangat menulis para penulis, tidak hanya penulis awal, juga penulis lama. Hal ini karena, kegiatan menulis keroyokan tidak membebani dengan karya yang banyak. Biasanya, kita cukup menulis satu (satu) karya sampai 3 (tiga) karya saja. 

Pada sisi yang lain, menulis keroyokan sudah diberikan tema. Tema ini menjadi koridor kita dalam menulis. Dengan adanya tema, maka pikiran kita sudah dapat membentuk gambaran tulisan yang kita buat. Tema akan menuntun kita pada ide atau gagasan tulisan. Tentunya hal ini sangat menguntungkan sebab kita tidak perlu mencari tema tulisan. 

Kenapa semangat menulis keroyokan, antologi lebih besar dibandingkan menulis tunggal?  Kita perlu menemukan jawaban atas kondisi ini. Kita harus bersyukur dengan adanya kesadaran untuk menulis bersama-sama ini. Setidaknya hal ini dapat dijadikan sebagai parameter semangat menulis. Dan, kenyataan yang kita temukan adalah bahwa semangat menulis bersama-sama ini sangat menggembirakan. Para penulis dengan suka dan rela mengikuti kegiatan menulis bersama, walaupun harus menebus buku setelah buku terbit. 

Jika kita memperhatikan kondisi yang ada ini, maka setidaknya kita dapat mengemukakan beberapa alasan mereka antusias menulis bersama. Alasan-alasan tersebut adalah:
1. Tidak bingung mencari tema
Kegiatan menulis bersama, antologi bersama adalah kegiatan yang dikoordinir oleh seseorang dan melibatkan banyak orang lain. Banyak dalam hal ini diartikan lebih dari 2 (dua) orang. 

Koordinator kegiatan ini berkewajiban untuk mencari ide tulisan bersama. Ide itu dituangkan dalam bentuk tema tulisan. Tema tersebut diberikan kepada peserta kegiatan menulis bersama dengan keterangan yang berisi ketentuan-ketentuan yang harus diikuti peserta. Ketentuan-ketentuan ini bukanlah hal yang rumit sebab sangat standar. Bukan persyaratan yang berat untuk diikuti peserta.

Dengan tema yang sudah ada, maka penulis tinggal menentukan obyek tulisan yang terkait dengan tema. Selama ini yang sering menjadi alasan tidak menulis adalah tidak adanya ide atau tema yang akan ditulis. Maka, ketika ada yang menyodori ajakan menulis dengan tema yang sudah ada, maka pikiran langsung terkondisikan pada tema.
Penulis tidak perlu kebingungan untuk mencari dan menemukan tema yang akan ditulis. Inilah yang menyebabkan banyak orang yang mengikuti penulisan antologi bersama-sama.

2. Bangga sebuku dengan banyak penulis 
Siapa yang tidak bangga ketika mengetahui bahwa dia menulis dan diterbitkan bersama penulis-penulis dari berbagai daerah. Kebersamaan ini melahirkan satu sikap purba kita yaitu kebanggaan diri. Ketika karya kita bersanding dengan orang lain, khususnya penulis-penulis terkenal, maka kebanggaan tersebut meningkatkan semangat menulis. 

Rasa bangga yang tumbuh di dalam hati merupakan energi hidup yang melahirkan semangat. Hal ini sangat dibutuhkan oleh setiap orang agar dapat menjaga eksistensi dirinya dan sekaligus untuk mengembangkan diri. Rasa bangga ini akan menjadi innert motivation, yaitu tenaga pendorong yang berasal dari dalam sendiri. Innert motivation ini semacam tekad yang menggelora. Dengan tekad inilah akan terbentuk kemauan untuk melakukan sesuatu hingga berhasil.

Kesadaran bahwa ada orang-orang sukses yang tergabung dalam antologi menjadikan semangat menulis semakin besar. Orang-orang besar yang tergabung dalam antologi menjadi pendorong untuk mengikuti jejak mereka. Ini adalah semangat dari luar diri yang kita sebut sebagai externt motivation. Ada keinginan untuk berkarya sebagaimana orang-orang hebat tersebut. Siapa yang tidak bangga saat membaca buku yang di dalamnya ada karyanya dan orang-orang hebat. Sebuku dengan....

Kita harus mengakui bahwa gelombang semangat menulis dengan cara bersama-sama telah melahirkan banyak penulis baru. Orang-orang yang awalnya takut untuk menulis, tiba-tiba  bersemangat menulis. Oleh karena itu, kita harus bersyukur kepada komunitas atau orang-orang hebat yang menyelenggarakan kegiatan menulis bersama. Merekalah para pegiat yang dengan penuh kesadaran menciptakan iklim yang membangkitkan untuk menghasilkan karya. 

3. Biaya cetak/tebus buku yang murah

Karya yang kita hasilkan tidak cukup untuk kita simpan di rak buku atau dimana. Sungguh satu hal sangat hal yang sangat eman jika hal tersebut terjadi. Hasil kreasi yang merupakan serapan inti kehidup tersia-siakan begitu saja. Oleh karena itu, perlu diikat menjadi sebuah buku. Untuk itu, karya tulis harus dikirim ke penerbit agar dapat diterbitkan menjadi buku. Di sinilah permasalahannya.

Untuk mengirimkan naskah ke penerbit dan berharap diterbitkan ada 2 ,(dua) kemungkinan. Pertama, diterbitkan dan ditolak. Ini berlaku untuk penerbit mayor, dimana penulis akan mendapatkan bayaran berupa royalti, berkelanjutan atau beli putus. Tetapi hal tersebut tidaklah segampang membalik telapak tangan. Tidak semua penerbit mayor dapat menerima naskah dan menerbitkan. Banyak pertimbangan untuk hal tersebut. 

Pilihannya adalah mengirimkan naskah buku ke penerbit indie. Tetapi, untuk menerbitkan buku di penerbit indie, penulis harus mengeluarkan sejumlah uang yang mungkin tidak sedikit. Setelah buku terbit, maka penulis harus menjual secara self publisher. Penulis harus menjual sendiri buku-bukunya. Jika jaringan penulisnya luas kemungkinan terjualnya buku semakin cepat. Tetapi, jika penulis tidak mempunyai jaringan, maka buku akan tertumpuk di ruang buku, mungkin perpustakaan keluarga. Ngendon tanpa ada orang lain yang membacanya. 

Sementara itu, jika kita menulis secara keroyokan, bersama, maka biaya penerbitan ditanggung bersama. Semua penulis yang karyanya ikut dalam buku antologi ikut mengumpulkan dana untuk proses penerbitannya. Kalkulasinya, semakin banyak peserta ikut dalam buku antologi, maka semakin ringan biaya yang harus ditanggung. Walau kemudian kalkulasi tersebut meleset karena panitiapun harus diperhitungkan jerih payahnya. Tetapi hal tersebut bukan masalah, bahkan tidak menjadi masalah sebab kalkulasi tetap lebih murah daripada menerbitkan buku sendirian.

Itulah sesungguhnya yang terjadi pada saat kegiatan menulis bersama dan menerbitkan karya bersama. Orang-orang tetap dan terus tertarik, bahkan tertantang untuk mengikuti kegiatan menulis bersama walau sudah tahu harus menanggung dana penerbitan secara bersama. 

Semoga semangat ini tetap terjaga sehingga iklim literasi bangsa ini tidak terpuruk, seperti isu yang dilontarkan dunia. Isu yang sesungguhnya fitnah jika dikatakan bahwa iklim literasi kita tidak literat. Bahkan dikatakan bahwa kesadaran baca, daya baca bangsa kita rendah. Sungguh itu fitnah yang keji. Mungkin yang benar, daya beli bacaan yang masih belum sesuai dengan harapan. 

Semoga pula untuk teman-teman yang memposisikan diri sebagai penerbit indie tidak patah arang. Keberadaan kalian sungguh sangat penting untuk kelahiran karya yang besar. Kalian yakin bahwa dari sekian penulis yang mempercayakan tulisannya untuk diterbitkan adalah penulis hebat dan akan diperhatikan pada saatnya. 

Gegap gempita kegiatan menulis bersama adalah indikasi lahirnya penulis-penulis hebat di negeri ini. Aamiin...


Gembongan, 10 September 2022

PENTINGNYA KOMITMEN DIRI UNTUK PRODUKTIVITAS MENULIS

Menulis itu kegiatan hidup yang sangat membosankan. Setiap saat harus bermain dengan huruf dan kata, lalu menjadi kalimat untuk melahirkan paragraph hingga akhirnya menjadi bahan bacaan. Begitulah sebagian orang berpendapat tentang kegiatan menulis. Begitu membosankan sehingga mereka tidak menulis satu tulisan pun. 

Kondisi ini menjadikan kegiatan menulis sebagai kegiatan yang eksklusif. Tidak semua orang dapat melakukannya. Jika ada orang yang dapat, bahkan piawai dalam kegiatan menulis, maka dianggap istimewa. Mereka dianggap sebagai kelompok para pemikir. Dan, masyarakat berharap agar mereka dapat menjadi pencerah kehidupan masyarakatnya. 

Kembali pada anggapan bahwa kegiatan menulis itu kegiatan yang membosankan. Tentunya dengan anggapan ini, maka banyak orang yang enggan untuk bergiat menulis. Apalah artinya melakukan kegiatan yang membosankan? 

Mengapa banyak orang yang enggan menulis? Apakah memang kegiatan menulis itu membosankan? Atau hanya alasan karena merasa tidak mampu melakukan kegiatan menulis?  Mungkin, kita koreksi diri terkait kegiatan menulis. Pejamkan mata dan konsentrasikan pikiran terhadap alasan kita tidak menulis. Maka, kita akan menemukan alasan yang sesungguhnya kenapa tidak menulis 

Ketakutan tak beralasan

Diakui atau tidak, kita sering diterkam ketakutan untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk hal-hal yang baru. Banyak alasan kenapa kita ketakutan itu. Tetapi, sesungguhnya ketakutan tersebut hanyalah halusinasi semata. Ketakutan yang sesungguhnya tidak beralasan.

Ketika ada tantangan datang kepada kita, apa yang terlintas dalam pikiran kita? Ya, kita tidak percaya pada kemampuan kita. Seringkali, ketika mendapatkan tantangan, kita sudah menjatuhkan vonis bahwa kita tidak mampu melakukan kegiatan tersebut. Hal ini berakibat menjadi kerdilnya diri kita. Bagaimana tidak, kita belum melakukan apa-apa, tetapi sudah dikondisikan tidak mampu. Kondisi ini akan menjadi beban dalam pikiran kita. Beban ini selanjutnya menutup kemungkinan untuk melakukan kegiatan tersebut.

Untuk menghindari ketakutan tidak beralasan ini, maka salah satu caranya adalah berpikir dan bertindak positif. Berasalah yakin bahwa kita dapat melakukan, menghadapi tantangan yang datang pada kita. Dan, kita yakin dapat muncul sebagai pemenangnya. Pemenang yang kita maksudkan dalam hal ini adalah kita dapat menulis dengan sebaik-baiknya.

Hadapi semuabtantang hidup dengan keyakinan dapat memenangkannya. Keyakinan ini merupakan kemenangan yang kita miliki. 

Komitmen terhadap diri sendiri

Komitmen terhadap diri sendiri merupakan satu energi besar yang mendukung keberhasilan kita. Pertanyaannya, adakah kita telah membuat komitmen terhadap diri sendiri saat menghadapi tantangan atau keinginan tertentu? Ataukah kita biarkan diri kita menggelinding sendiri untuk menjawab tantangan?

Komitmen dapat kita artikan sebagai sebuah kesepakatan yang harus dipatuhi dan diwujudkan dengan penuh konsekuensi. Komitmen kepada diri sendiri merupakan energi yang kita tanamkan ke dalam diri dan menjadi penyemangat innert. Ketika komitmen itu kita tuangkan, maka terbentuk satu kesadaran dalam diri untuk mewujudkannya. 

Dengan komitmen ini, maka tanpa harus diingatkan atau diperintah oleh orang lain, maka sudah menjadi bagian integral kegiatan. Kita akan melakukan isi komitmen dan merasa berhutang jika tidak melakukannya. Misalnya, kita berkomitmen untuk menulis setiap hari, maka kita akan menulis setiap hari. Tetapi komitmen tersebut kurang efektif, maka kita tingkatkan menulis satu halaman atau berapa halaman tiap hari, maka setiap hari kita menulis sesuai komitmen tersebut. Jika kita tidak melakukannya, maka berasa berhutang.

Komitmen 2 (dua) halaman tersebut dapat kita selesaikan dalam satu hati. Bukan sekali duduk menulis. Mungkin kita dapat menulis seperempat halaman di pagi hari, setengah halaman di siang hari, seperempat halaman menjelang magrib, satu halaman setelah menonton sinetron, dan selanjutnya kita istirahat.

Jika hal tersebut kita terapkan dengan disiplin tinggi, maka kita akan terlatih untuk secara intens menulis. Tidak ada lagi kemalasan saat ingin menulis.

Menulis itu mengasyikan

Tahukah Anda bahwa sesungguhnya kegiatan hidup yang paling mengasyikan adalah menulis. Dengan menulis, maka kita dapat menyampaikan berbagai ide, gagasan, bahkan keinginan. Kita dapat menyiratkan berbagai kejadian, bahkan beban pikiran untuk meringankan hati. Menulis adalah sarana rekreasi yang paling mudah, sederhana, dan murah. Tetapi meskipun demikian, kita dapat menuliskan banyak hal yang tersimpan dalam memori kita. 

Menulis itu menyiratkan segala yang ada dalam pikiran kita. Semua hal yang berjubel di dalam pikiran dapat kita keluarkan dalam bentuk tulisan. Semakin banyak tulisan yang kita hasilkan, maka semakin banyak pikiran terkurangi. Hal ini mengakibatkan pikiran kita menjadi ringan. Kondisi ini dapat terjadi sebab pada saat kita menulis, bendungan pikiran terbuka. Isinya mengalir keluar. Akhirnya, isi pikiran berkurang dan ringan.

Jika kita memperhatikan, maka sebenarnya pada saat kita membuat komitmen dengan diri, sesungguhnya kita sedang meningkatkan produktivitas menulis. Produktivitas tulisan dapat kita lihat dari jumlah tulisan yang kita hasilkan. Semakin banyak tulisan, semakin produktif.

Sebagai seorang penulis atau yang ingin menjadi penulis, maka membuat komitmen dengan diri sendiri sangatlah perlu dan penting. Kita pasti berkeinginan untuk tetap produktif setiap waktunya dan tidak ingin terjebak dalam kebuntuan. Dan, komitmen kepada diri sendiri diyakini dapat menganulir semua kemungkinan negatif yang menerkam kegiatan menulis kita.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita. Aamiin.


Gembongan, 9 September 2022


Jumat, 02 September 2022

MENJAGA SEMANGAT MENULIS DI KOMUNITAS

Semangat merupakan hal penting dalam kehidupan. Dengan semangat, maka banyak hal dapat kita lakukan. Semangat adalah energi yang mendorong kita untuk menyelesaikan tugas, kewajiban, dan tanggungjawab. Dengan semangat, maka energi positif dalam diri akan terus berkembang dan melawan kemalasan. 

Untuk mendapatkan semangat ini, maka setidaknya kita perlu menyadari bahwa ada 2 (dua) asal semangat, yaitu semangat yang berasal dari dalam diri sendiri dan semangat yang berasal dari luar diri. Tentunya kedua semangat ini akan membangkitkan diri untuk dapat menuntaskan tugas, kewajiban, dan tugas. Jika diri mempunyai semangat tinggi, maka energi diri dapat meningkat sangat signifikan. Bahkan, karena adanya semangat, maka kita dapat menyelesaikan sesuatu.yang sebelumnya dianggap tidak mungkin dapat dilakukan dan diselesaikan.

Semangat dari dalam diri

Sesungguhnya, Tuhan telah melengkapkan berbagai kemampuan dalam diri kita. Di samping itu, untuk mendukung aplikasi kemampuan, maka dalam diri kita juga dilengkapi energi diri. Energi ini merupakan bagian dari kemampuan diri. Dengan energi ini, maka kemauan diri akan muncul sebagai pendorong untuk mencapai tujuan. 

Energi yang berasal dari dalam diri ini selanjutnya kita sebut sebagai semangat dan karena berasal dari dalam diri, maka disebut sebagai innert power atau juga spirit from yourself. Semangat ini merupakan pengungkapan energi dalam diri untuk mencapai tujuan. Ada dorongan dari dalam diri untuk mengerjakan kegiatan. 

Semangat dari dalam sendiri merupakan wujud dari kesadaran bahwa setiap masalah hidup harus dihadapi dan diselesaikan. Dan, semangatlah yang menjadi energi pendorong.untuk mencapai tujuan. 

Terkait dengan semangat menulis, maka dorongan dari dalam diri merupakan energi yang sangat besar untuk menjadikan seseorang menulis. Kita perlu menyadari 
bahwa kegiatan menulis untuk sebagian orang sangat berat. Baru mendengar kata menulis, maka langsung loyo. 

Jika tidak ada semangat dari dalam diri untuk menulis, maka keengganan akan melahirkan kemalasan. Maka, harapan untuk bergiat menulis akan sangat berat, bahkan tidak tercapai.

Sebenarnya, semangat dari dalam diri merupakan sumber energi yang paling besar. Keberhasilan kita dalam kegiatan sangat tergantung pada dorongan yang berasal dari dalam diri. Dorongan dari dalam diri ini adalah keinginan yang didasarkan pada kebutuhan. Jika dari dalam diri kita ada keinginan yang didasari kebutuhan, maka semangat untuk keberhasilan akan berkobar-kobar. 

Jika kita ingin membangkitkan semangat menulis pada orang-orang, maka kita harus membangkitkan keinginan berdasarkan kebutuhan dalam diri setiap orang. 

Semangat dari luar diri

Orang lain dalam kehidupan kita adalah partner hidup. Keberadaan mereka menjadikan kesempurnaan hidup. Hal ini karena setiap saat terjadi interaksi dan komunikasi personal dan massa. Kita tidak dapat hidup sendiri. Ada ketergantungan yang tidak dapat kita abaikan. Tanpa mereka, kita bukan siapa-siapa. Tanpa mereka, kita tidak dapat apa-apa. 

Kita membutuhkan semangat yang berasal dari luar diri. Semangat ini dapat berupa saran, kritik, bahkan persaingan yang bersifat positif dalam berkarya. Semua yang positif berasal dari luar diri adalah dorongan semangat agar kita terus bergiat. Hal ini sangat kita perlukan sebagai pengukur progres kegiatan. Jika progresnya kegiatan kita positif, maka pengaruh dari luar adalah positif. Tetapi, jika ternyata progres kegiatan kita negatif, menjadi buruk, maka berarti pengaruh semangat itu juga negatif. 

Kita membutuhkan semangat dari orang lain agar terjaga stamina kegiatan kita. Orang lain adalah inspirasi hidup kita. Oleh karena itu, komunikasi dan interaksi antar personal harus terus dijaga dan dikembangkan. Setiap saat kita harus berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Pada saat inilah terjadi transkoneksi yang dapat mengembangkan kemampuan diri. 

Komunitas sebagai wahana mengembangkan diri

Komunitas adalah wadah sekumpulan orang dengan visi dan misi sama untuk mencapai tujuan bersama. Visi dan misi akan mengembangkan diri secara bersama sama. Kesepakatan bersama sebagai bagian komunitas menuntut konsekuensi, dedikasi, loyalitas, dan kreativitas tinggi. Untuk kondisi tersebut, komunikasi dan interaksi personal sangat menentukan.

Pergaulan antar personal di dalam komunitas sangat memungkinkan pengembangan diri. Hal ini karena obyek dan subyek kegiatan  adalah bagian integral mereka. Mereka secara intens membahas tentang hal-hal yang mereka sukai. Setiap kali mereka berkumpul, maka mereka membahas hal-hal yang mereka sama-sama kuasai. Maka, komunikasi mereka selalu nyambung. Tidak ada.yang mengambil posisi sebagai pendengar saja, melainkan mereka adalah para pembicara diskusi.

Oleh karena itu, bukan hal baru dan aneh jika banyak personal yang berhasil mengembangkan diri setelah bergabung dengan komunitas tertentu. Mereka berkembang, bahkan secara sendiri-sendiri sesuai kemampuannya. 

Komunitas memang sangat memungkinkan bagi kita untuk mengembangkan diri. Proses pergaulan, interaksi, dan komunikasi menjadikan mereka lebih konsen pada bidangnya. Diskusi-diskusi yang mereka lakukan adalah batu asahan yang mempertajam kemampuan. Kemampuan-kemampuan tersebut berkembang beriringan dengan waktunya. 

Kita memang terus berjuang untuk mengembangkan diri. Ini merupakan upaya untuk menjaga eksistensi diri dalam kehidupan. Selain itu, kita juga perlu untuk mempertahankan eksistensi diri. Dan, eksistensi tersebut akan terjaga jika kita tampil dalam kehidupan kita. Sementara itu, untuk dapat tampil dalam kehidupan, kemampuan harus selalu diasah. Proses.pengasahan dapat kita lakukan dengan bergabung dan bergiat dalam komunitas.

Mari kita menjaga dan menjaga semangat bergiat kita dengan berkomunitas. Kita tidak mungkin dapat hidup sendiri. Kita butuh orang lain untuk tetap eksis dalam kehidupan. 

Gembongan, 8 September 2022

Kamis, 01 September 2022

SALING PERCAYA, KUNCI KEBAHAGIAAN

Salah satu sifat manusia yang paling jelek adalah khianat. Khianat ini merupakan karakter yang buruknya tidak ada bandingnya. Hal ini karena seorang pengkhianat telah mengingkari kesepakatan bersama, kebaikan yang sudah diberikan orang lain, mengingkari kepercayaan yang diberikan orang lain. Padahal kita mengetahui bahwa kepercayaan orang lain kepada kita adalah pintu-pintu kebaikan bagi diri kita.

Kita harus mengakui bahwa ada 2 (dua) pemikiran dalam otak kita. Kedua pemikiran tersebut saling menguatkan diri untuk menjadi penguasa, setidaknya lebih berperan dari pemikiran yang lain. Kedua pemikiran tersebut adalah pemikiran positif dan pemikiran negatif. Kedua pemikiran ini mengeram dalam otak kita. Pada saat-saat tertentu akan menetas dan menjadi pola laku, tindak kita. Pola laku, pola tindak ini sangat tergantung pada pemikiran mana yang berkuasa dalam otak, hati, jiwa kita. Jika saat itu yang berkuasa adalah pemikiran positif, maka pola laku, pola tindak akan positif. Tetapi, jika pemikirannya negatif, maka pola laku, pola tindak akan negatif juga. 

Pola Positif Sumber Bahagia.

Pernahkah kalian mensugesti diri pada koridor positif? Apa yang kalian rasakan setelah sugesti tersebut kita tanamkan dalam pikiran kita?

Energi terbesar dalam kehidupan kita adalah energi yang dimiliki dan dipancarkan alam. Alamlah yang sesungguhnya mengendalikan kehidupan kita. Matahari dengan kekuatan sinarnya, mampu memberi panas dan kehangatan dalam kehidupan. Karena sinarnya yang panas, maka udara dapat bergerak menjadi angin. Angin menggerakkan air laut sehingga menjadi alun, riak, ombak, dan gelombang. 

Panas sinar matahari menyebabkan dedaunan dapat memasak sari makanan dari bumi dalam peristiwa fotosintesis sehingga pohon bertahan hidup bahkan dapat memperpanjang keberadaannya dengan buahnya, generatif. Begitulah, alam bekerja untuk menjaga kehidupan tetap eksis. 

Semua itu jika kita simak dari pemikiran positif. Bagaimana jika kita simak dari pemikiran negatif?

Kekuatan pemikiran positif tidak dapat kita ingkari. Bahkan, semua yang kita nikmati dalam hidup, yang membuat kita nyaman adalah hasil dari pemikiran positif. Oleh karena itu, kita selalu ditekankan untuk selalu berpikir positif. Ketika kita berpikir positif,maka alam akan mendukung pemikiran tersebut dengan mengumpulkan energi positif. Energi positif yang dipancarkan alam inilah yang membentuk kenyaman diri kita. 

Oleh karena itu, semua orang selalu berusaha untuk mengkondisikan pikirannya pada situasi positif. Bahkan, pada saat pemikiran dilahirkan sebagai perkataan ataupun tindakan, maka semua berada pada koridor positif. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa perkataan adalah doa dan doa adalah kata-kata suci sepenuh hati yang kita sampaikan kepada alam agar dipertimbangkan untuk diwujudkan. Dengan demikian, maka kita selalu berdoa untuk hal-hal yang positif. 

Dengan demikian, maka pola pemikiran positif adalah sumber kebahagiaan. Semakin kuat pemikiran positif kita, maka semakin kuat alam membantu kita untuk mewujudkannya. Jika pemikiran kita terwujud, maka yang kita rasakan adalah kebahagiaan 

Pola negatif sumber penderitaan

Pola pemikiran negatif adalah lawan dari pemikiran positif. Dengan pola pemikiran negatif, maka hal-hal yang berkembang di dalam pikiran adalah segala hal yang negatif. Hal-hal negatif adalah kondisi yang menyudutkan atau memandang rendah diri sendiri ataupun orang lain. Ketika kita menganggap orang lain lebih rendah dari kita, tidak dapat melakukan sesuatu, tidak dapat membayar tagihan belanja atau yang lainnya, maka itulah yang kita maksudkan pemikiran negatif. Lebih parah lagi ketika kita merendahkan diri sendiri, menganggap diri tidak mampu melakukan sesuatu, tidak berani melakukan sesuatu karena menganggap diri sendiri tidak mampu, padahal belum dilakukan. Kondisi itulah yang kita sebut pemikiran negatif.

Pemikiran negatif akan melahirkan penderitaan dalam diri sendiri. Pemikiran negatif ini akan menekan diri sendiri sedemikian rupa sehingga resah dan gelisah. Ini merupakan upaya mengulum diri sendiri. Bahkan sangat parah sebab tekanannya diderita oleh jiwa atau psikis kita. Jiwa kita tertekan sedemikian rupa sehingga melahirkan ketakutan untuk melakukannya. 

Kita dapat mengambil contoh pada seseorang yang sedang belajar mengendarai sepeda motor. Jika dari sejak awal di dalam pemikirannya mengatakan atau berpikir akan jatuh, pasti akan jatuh! Sugesti di dalam.ditinya adalah dia akan jatuh dan alam menjawabnya, dia terjatuh. Repotnya lagi, setelah merasakan sakitnya jatuh, maka ada ketakutan dalam dirinya, semacam phobia untuk mengendarai sepeda motor.

Masih banyak contoh lain yang memberikan contoh pada kita terkait pemikiran negatif ini.  Sekali lagi, kita harus selalu ingat bahwa setiap perkataan kita baik yang sudah dilisankan atau masih menjadi bahasa kalbu. Jika pikiran kita sudah terpola negatif, maka alampun akan mengkondisikan negatif. Akibatnya, segala hal yang kita pikirkan akan terwujudkan. 

Banyak pengalaman yang merupakan akibat dari pemikiran negatif ini. Oleh karena itu, kita perlu introspeksi terhadap pemikiran kita. Kita harus dapat memilih dan memilah setiap pemikiran yang berkembang. Tidak semua pemikiran dieksekusi untuk diterapkan dalam kehidupan. Kita harus mengevaluasi, cek and ricek setiap pemikiran sebelum kita terapkan. 

Mengembangkan rasa saling percaya

Kepercayaan atau percaya atau satu sikap yang berupa respon kepada seseorang karena karakternya. Kepercayaan ini juga merupakan satu penghargaan yang kita berikan kepada seseorang atas loyalitas, dedikasi, dan keteguhan hatinya menjaga sesuatu untuk kita. Penghargaan ini berupa keyakinan yang utuh kepada seseorang. Dengan kepercayaan yang ada, maka seseorang dapat dan siap melakukan tugas dan kewajibannya secara baik.

Karena adanya kepercayaan, maka seseorang tidak merasa takut atau canggung dalam melakukan sesuatu selama tidak melakukan kesalahan. Dengan demikian, maka seseorang akan berada dalam kondisi kenyamanan tinggi. Mereka tidak perlu syak wasangka dan kawatirkan sesuatu selama pada jalur yang benar. 

Kita harus mengembangkan rasa percaya sebaik-baiknya, bahkan seoptimalnya. Dengan rasa percaya, maka orang lain akan memberikan penghargaan untuk diri kita. Hal ini karena rasa percaya yang kita berikan pada seseorang, maka orang tersebut akan meningkat rasa percaya dirinya. Ada kebanggaan di dalam diri pada saat kita memberikan kepercayaan pada seseorang  

Kita harus mengakui bahwa dapat dari pemberian kepercayaan pada diri adalah tumbuh kembangnya kebanggaan diri dan rasa percaya diri. Bahkan, ada selintas rasa bangga karena dianggap 'penting' oleh orang lain dengan kepercayaan tersebut. Pada saat kita memberi kepercayaan pada seseorang, kita memposisikan seseorang dalam level kepentingan, penting untuk sebuah kegiatan. Oleh karena itu, orang tersebut atau kita akan melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya. 

Kita memang harus saling memberi kepercayaan kepada orang lain. Hal ini karena salah satu kekuatan alam adalah kausal, timbal balik. Siapa menanam, dia yang memanen. Siapa yang berbuat harus mau menerima akibatnya. Dan, dengan pola saling memberi kepercayaan, maka akan saling menjaga kepercayaan tersebut. Ini merupak pemikiran positif yang sangat penting untuk menjaga eksistensi dalam kehidupan masyarakat.

Selanjutnya sangat bergantung pada bagaimana kita mengelola pemikiran kita sehingga menjadikan pemikiran positif sebagai koridor perjalanan hidup. Walau, memang kita tidak dapat menghilangkan pemikiran negatif sebab sudah menjadi sunnatullah, setidaknya kita dapat memposisikan diri pada koridor yang benar, sesuai kebutuhan hidup di masyarakat 


Gembongan, 2 September 2022

Sabtu, 27 Agustus 2022

PASAR, INSTITUSI PENDIDIKAN MASYARAKAT

Pasar adalah sebuah lingkungan tempat terjadinya transaksi jual beli. Pasar juga diartikan sebagai tempat interaksi dan komunikasi ekonomi penjual dan pembeli. Pembeli datang untuk mendapatkan barang kebutuhan hidupnya. Penjual mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan pembeli. Apalagi untuk pasar tradisional, interaksi dan komunikasi personal sangat kentara dan dapat kita temukan secara langsung.

Sebagai makhluk sosial, sudah menjadi takdir kita untuk bergantung pada orang lain. Kita tidak dapat menghadapi hidup dan kehidupan sendirian, berdasarkan kemampuan diri sendiri. Kita ini makhluk dengan berbagai keterbatasan di dalam kesempurnaan kita. Kita dapat melakukan banyak hal, tetapi tidak mampu menangani semuanya seorang diri. 

Dan, pasar menjadi ajang bagi kita untuk berkomunikasi menutup keterbatasan kita dengan memanfaatkan kemampuan orang lain. Pemanfaatan kemampuan orang lain untuk kepentingan kita, mungkin mengesankan kita plagiator. Tetapi, sesungguhnya demikianlah hidup ini. Kita saling berpengaruh dan mempengaruhi sehingga kehidupan tidak stagnan. Bukankah kita dapat belajar dimana saja?

Pasar sebagai sekolah masyarakat
Pasar sebagai tempat interaksi dan komunikasi personal, dimana masing-masing personal menyampaikan pendapatnya untuk dicapai kesepakatan bersama dan persetujuan. Ketika pembeli mendatang lapak penjual dan menyampaikan inginnya, maka penjual akan memberi informasi kepada pembeli. Jika ada ketidaksamaan, maka pembeli melakukan penawaran. Di sinilah terjadi interaksi dan komunikasi aktif. Mungkin butuh satu atau dua kali komunikasi dan didapatkan kesepakatan sehingga pembeli menyerahkan uang dan penjual menyerahkan barang. 

Apakah yang dapat kita simpulkan dari proses jual.beli tersebut?  Ya, pada saat kita berinteraksi dan berkomunikasi, pada saat itu kemampuan literasi kita terapkan. Kemampuan kita berbahasa, menjadi alat kita untuk berinteraksi dan berkomunikasi. Dengan bahasa yang kita terapkan dalam kegiatan tersebut, maka orang lain dapat mengerti, memahami komunikasi kita. Pada sisi lainnya, kita dapat melakukan proses perhitungan, terkait uang. Kita dapat menyatakan bahwa harga yang ditawarkan penjual harus kita tawar dengan harga yang lebih rendah dari penawaran penjual. Lantas, pada saat kita memberikan uang dan ada lebihan, maka dapat menghitung uang kembalian berdasarkan selisih harga jual dengan uang yang kita berikan.

Pasar adalah tempat belajar yang holistik. Kita dapat memperoleh banyak informasi di pasar, selain tentu saja tentang harga barang-barang. Mereka yang mengikuti pembelajaran di lingkungan pasar akan mendapatkan pengetahuan, nilai sikap, dan keterampilan aplikatif. Mereka tidak hanya menyimpan pengetahuan dan keterampilan tersebut, melainkan mengaplikasikannya dalam kehidupan.

Pasar adalah sekolah masyarakat. Oleh karena itu, sejatinya kita harus mempertahankan keberadaan pasar di lingkungan kita. Pasar, khususnya pasar tradisional adalah tempat kita belajar bermasyarakat. Pendidikan berinteraksi dan berkomunikasi menjadi muatan yang sangat penting, begitu juga pembentukan karakter. Di pasar kita dapat membentuk sikap welcome pada orang-orang yang berbeda. Kita juga dapat menerima berbagai perbedaan dengan lapang hati. Bagaimana perasaan pedagang jika ada pembeli yang menawar barang jauh di bawah harga standar? Mereka tetap tersenyum dan tidak marah. 

Begitulah pasar sebagai tempat pendidikan masyarakat.yang sangat aplikatif dalam kehidupan. Semoga keberadaannya tetap terjaga dan abadi.

Gembongan, 2 September 2022

MEMBENTUK KARAKTER DIRI

Karakter adalah seperangkat sifat batin yang mempengaruhi segenap pola pikir, perilaku yang direspon orang lain. Karakter yang kita maksudkan dalam hal ini adalah karakter yang melahirkan kekaguman dan penghargaan dari orang lain. Ini merupakan karakter positif. Kita tekankan pada karakter positif sebab masyarakat kita berdasar pada hukum positif. Semua yang positif harus dikembangkan sebagai nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai inilah yang harus kita tanamkan ke dalam hati agar menjadi personal branding. Orang dengan personal branding yang bagus akan mendapatkan reward dari masyarakat.

Sementara itu, karakter negatif adalah karakter yang harus dianulir dan diingatkan untuk tidak menjadi sifat kita. Karakter negatif adalah karakter yang tidak diinginkan masyarakat. Ada kecenderungan perlawanan masyarakat terhadap karakter negatif. Bahkan, mereka yang berkarakter negatif akan mendapatkan punnishment atau hukuman. Hukuman ini dapat berupa hukuman fisik dan hukuman psikis. 

Hukuman fisik terkait dengan fisik seseorang, artinya jika seseorang telah melakukan hal-hal negatif, yang bertentangan dengan hukum positif yang berlaku di masyarakat, maka mendapatkan hukuman yang setimpal. Hukuman fisik ini misalnya hukuman kurungan badan atau hukuman cambuk, dan yang lainnya. Hukuman ini terasa secara fisik 

Hukuman psikis adalah hukuman yang dilakukan dan berdampak pada psikis, kejiwaan seseorang yang terhukum. Karakter negatif akan mengalami hal tersebut sebagai konsekuensi kita makhluk sosial. Masyarakat menghukum kita secara psikis, misalnya diisolir dari pergaulan. Ini berdampak pada psikis kita. Dan masih banyak lagi bentuk hukuman terhadap karakter negatif.

Begitulah yang terjadi sebagai konsekuensi dari karakter diri. Sejatinya, tidak hanya karakter yang menuai konsekuensi dalam kehidupan ini. Semua hal dalam kehidupan ini menyimpan konsekuensi masing-masing. Terserah pada kita pilihan karakter atas diri kita. 

Lantas bagaimana kita harus bersikap dalam kehidupan ini?

Biasakan bertindak jujur
Jujur adalah salah satu sikap positif yang harus kita miliki dalam hidup. Sifat ini menunjukkan tentang integritas kita terhadap satu kondisi sesuai dengan kondisi yang ada. Kita tidak mencoba, melakukan upaya untuk mengingkari ataupun merekayasa kondisi demi kepentingan pribadi atau golongan.

Jujur itu adalah karakter diri yang mengedepankan kenyataan sebagai modalnya. Kita berpijak pada kenyataan dan tidak berusaha untuk merekayasa sesuai harapan kita. Kita tidak menutupi kenyataan selain kenyataan itu sendiri. Jika memang A, maka kita katakan A. Kita tidak merekayasa kondisi untuk keselamatan diri dan kelompoknya 

Kita harus belajar dan terus belajar untuk menciptakan sikap jujur dalam diri kita. Proses ini sangat panjang sehingga butuh waktu yang lama. Sepanjang hidup ada waktu yang tersedia untuk hidup lebih baik 

Ala bisa karena biasa. Jika kita terbiasa melakukan sesuatu, maka kita pasti bisa menuntaskan masalah yang terkait dengan kebiasaan yang kita lakukan. Oleh karena itu, agar karakter positif menjadi bagian integral dalam diri kita, maka biasakan untuk melakukan hal-hal yang positif. Semakin biasa melakukan hal yang positif, maka kebiasaan tersebut akan menjadi bagian integral diri kita. 

Bergaullah yang utama dengan kelompok positif
Pergaulan atau interaksi personal merupakan kewajiban bagi kita. Hal ini untuk menjaga eksistensi diri dalam pergaulan masyarakat. Dengan bergaul, maka orang akan mengenal kita, begitu juga sebaliknya. Hal ini merupakan isyarat bahwa kita ada di⁸ lingkungan masyarakat. 

Permasalahannya ada pada dampak dari pergaulan. Kita harus menyadari bahwa kondisi pergaulan di masyarakat adalah situasi yang dilematis. Hal ini karena akan melahirkan kebimbangan untuk menentukan siapa yang kita ajak berinteraksi. Kita harus dapat memilah dan memilih orang-orang yang kita jadikan teman. Kita tidak boleh terlalu pilih-pilih, tetapi juga tidak boleh membuka pintu diri seluasnya tanpa ada seleksi.

Siapa teman kita, begitulah kita. Mungkin pepatah ini tidak begitu benar. Tetapi, pada nyatanya banyak kenyataan bahwa siapa teman kita, begitulah kita. Orang-orang alim, umumnya bergaul dengan orang alim. Orang-orang yang kurang benar, biasanya bergaul dengan mereka yang kurang benar. Oleh karena itu, kita harus memposisikan diri untuk bergaul dengan orangorang positif agar kita tergolong orang positif.

Pengaruh lingkungan sangatlah besar terhadap diri kita. Orang yang baik dapat menjadi tidak baik jika selalu bergaul dengan yang tidak baik. Begitu pula sebaliknya, orang yang tidak baik dapat menjadi baik jika selalu bergaul dengan orang-orang baik. Pengaruh lingkungan itu seperti virus yang gampang menulari orang lain. Oleh karena itu selalulah bergaul dengan kelompok positif agar dapat menjadi orang positif.

Beranilah berkata tidak untuk hal negatif
Beranilah berkata tidak untuk hal-hal yang negatif. Ini merupakan gerbang pertama untuk memasuki diri kita. Dengan kata tidak yang kita sampaikan, maka hal negatif tidak masuk ke diri kita. 

Seringkali, mereka yang terjebak hal-hal negatif adalah karena tidak mampu berkata tidak untuk hal yang sesungguhnya tidak sesuai hatinya. Hal ini sangat penting bagi masa ke depan. Sekali kita tidak mampu mengatakan tidak, maka seterusnya akan terjadi. Seperti saat kita berbohong. Sekali kita berbohong, maka akan lahir bohong-bohong selanjutnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Satu kebohongan adalah pintu untuk kebohongan selanjutnya.

Tetapi dengan berani mengatakan tidak melakukan hal negatif, kita bertahan untuk berada pada sisi positif. Semakin berani, semakin kokoh pertahanan kita pada sisi positif. Oleh karena itu, jika ada yang mengajak kita melakukan hal-hal negatif, maka beranilah mengatakan tidak!

Katakan tidak untuk hal-hal negatif!

Gembongan, 29 Agustus 2022

Kamis, 25 Agustus 2022

BERGURU PADA KEHIDUPAN


Kehidupan adalah sekolah yang paling holistik. Kehidupan adalah sekolah yang sengguhnya sekolah. Hal ini karena 3 (tiga) aspek dasar pendidikan ada di dalamnya, afektif, kognitif, dan psikomotor. Bahkan, proses pembelajaran di kehidupan adalah aplikatif. Kita secara langsung belajar dan menerapkan hasil belajar tersebut.

Setiap saat kita menemukan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai positif dalam kehidupan. Pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai positif tersebut langsung kita terapkan dal8am kehidupan. Hal ini karena kita langsung berada dalam lingkungan hidup. Kita secara langsung berinteraksi, berkomunikasi dengan orang lain. Untuk dapat melakukan interaksi dan komunikasi, maka kita harus memiliki 3(tiga) bekal tersebut.

Belajar dari orang lain
Kita dikatagorikan sebagai makhluk sosil. Sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat mengabaikan orang lain. Keberadaan kita adalah karena adanya orang lain. Tanpa orang lain, kita tidak dapat melakukan apa-apa.

Oleh karena itu, kita harus berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Kita tidak dapat hidup sendiri. Walau pernah ada yang mencoba hidup sendiri, Robinson Crusoe, tetap saja tidak dapat. Tetap membutuhkan orang lain agar dapat menjalani hidup sebaik-baiknya.

Orang lain adalah guru kehidupan. Dengan memperhatikan orang lain, maka kita mendapatkan pengalaman dari yang dialami orang lain. Pengalaman tersebut menjadi energi untuk antisipasi jika negatif dan mengembangkan diri jika positif.  Pedulilah kepada orang lain agar kita mengetahui kebaikan dan keburukan sehingga kita dapat memilahnya untuk kebaikan hidup kita. 

Pedulilah pada orang lain
Kita tidak dapat hidup tanpa orang lain. Orang lainlah yang menyempurnakan kehidupan kita. Banyak hal yang tidak dapat kita lakukan sendiri, apalagi harus memenuhi sendiri. Perlu peran orang lain agar.kita dapat melangsungkan kehidupan.

Begitu pentingnya peran orang lain sehingga kita harus mempunyai kepedulian terhadap mereka. Kita berpedanan pada hukum timbal balik, jika kita melakukan sesuatu kepada orang lain, maka sebaliknya orang lain akan melakukan sesuatu untuk kita. Dengan mempedulikan orang lain, berarti kita memperkuat tali penghubung kausalik tersebut. 

Memang telah menjadi karakter dasar setiap orang bahwa jika mendapatkan perhatian dari orang lain, maka akan balik memperhatikan. Ada yang yang simbiosis mutualisme, parasitisme, dan komensalisme. Ini merupakan hukum alam yang mengikat kita. Setiap kita mengambil salah satunya untuk diri kita. Tetapi, konsep dasarnya tetap yaitu interaksi dan komunikasi dengan makhluk lainnya.

Orang lain atau masing-masing kita adalah guru dalam kehidupan. Kita adalah sosok-sosok yang dipercaya dan ditiru oleh orang lain untuk kehidupannya. Oleh karena itu kita berusaha untuk menampilkan hal terbaik dalam hidup kita. Hal ini juga terkait hukum positif yang diterapkan di masyarakat kita, bahkan seluruh dunia. Hukum positif menjadi pondasi dan latar belakang menjalani kehidupan. Sedangkan, yang negatif menjadi lawan yang harus dianulir dalam kehidupan ini. 

Kita memang harus belajar dari lingkungan untuk kehidupan yang lebih baik. Lingkungan akan mengajari kita bagaimana seharusnya menjalani kehidupan. Semakin kita berinteraksi dengan kehidupan, orang lain, maka semakin terbentuk afektif, kognitif, dan psikomotor kita.
 Selamat belajar

Gembongan, 27 Agustus 2022

Selasa, 23 Agustus 2022

MENYIASATI BERITA MEDIA

Perkembangan teknologi informasi sangatlah pesat. Dalam.kurun waktu yang relatif singkat, maka berbagai media informasi tumbuh menjamur. Setiap media memberikan layanan prima terkait pemberitaan dan berita yang tersebar di seluruh pelosok dunia.

Memang sudah menjadi kewajiban bagi media massa untuk menyampaikan berita kepada masyarakat. Untuk media lokal, mungkin obyek pemberitaannya di wilayah lokalnya. Setidaknya, media lokal dapat mengabarkan kejadian-kejadian di sekitar daerahnya, lokalnya sehingga masyarakat lokal mengetahuinya.

Dan, yang harus kita ketahui dan sadari bahwa media massa mempunyai tujuan untuk mempengaruhi sidang pembaca, masyarakat dengan berita yang disiarkan. Hal ini terkait dengan rating media di masyarakat. Semakin banyak orang yang tertarik, maka ratingnya semakin meningkat. Semakin meningkat rating, maka semakin banyak perusahaan yang tertarik untuk ikut memasang iklan. Dari sinilah salah satu sumber dana untuk operasional. 

Jika kita memperhatikan berita-berita yang dimuat oleh media massa, maka mereka berebut untuk menampilkan berita yang sedang viral di masyarakat. Hal tersebut ditambah bumbu-bumbu kata yang menarik, bahkan kontroversi pada judulnya. Begitu membaca judul, maka masyarakat tertarik untuk membaca secara tuntas. Walau kadang ternyata isi berita tersebut bombamtis, bahkan isapan jempol alias hoaks. Lantas, bagaimana kita menyiasati berita sehingga asupan informasi kita benar-benar sehat?

Baca tuntas beritanya
Pada saat kita membaca berita, bacalah secara tuntas. Jangan membaca selintasan, separuh, atau tidak tuntas. Hal ini mengakibatkan informasi yang kita dapat setengah-setengah. Informasi yang setengah-setengah sangat riskan terjadinya kesalahpahaman. Seringkali hal ini ditumpangi pendapat pribadi. Subyektivitas respon, tanggapan, dan penyampaian lebih kuat.

Berita itu rangkaian kata, kalimat, dan paragraf yang mengandung informasi tentang sesuatu, baik tertulis maupun lisan. Sesuatu itu adalah kejadian yang ada di sekitar kita, bahkan jauh di negeri seberang. 

Bacalah berita, informasi dari kata pertama hingga kata terakhir. Jika hal ini kita lakukan, maka isi berita, informasi dapat kita serap dan simpan dalam memori otak. Pada saat kita membaca secara tuntas, maka inti sari dari berita, informasi menjadi milik kita. Dengan demikian, maka kita menjadi tahu berita, informasi tersebut. Oleh karena itu, bacalah berita, informasi secara keseluruhan. Jangan memilih dan memilah bagian berita untuk dibaca. Bacalah semuanya!!

Pahami inti dari berita, informasi
Seringkali kita mendapati kenyataan terjadi salah persepsi, salah pengertian terhadap berita yang kita baca. Hal ini terjadi karena kita membaca berita, informasi secara selayang pandang. 

Pada beberapa orang, memang ada yang mempunyai kebiasaan membaca sepanjang pandang. Orang-orang seperti ini melakukan pembacaan cepat sehingga dibutuhkan waktu sedikit untuk membaca.

Sebuah berita, informasi bagian yang penting adalah intinya. Sebenarnya hal ini berlaku untuk semua hal dalam kehidupan kita. Inti adalah bagian terpenting yang dapat memberikan hal.baru bagi kita. Pada saat membaca berita, informasi, kita harus mengikat intinya sebagai perumusan kegiatan membaca. Kita serap setiap kata, kalimat, dan paragraf serta mengikatnya sebagai hasil kegiatan membaca.

Setiap kali kita membaca, maka menyerap inti berita, informasi merupakan inti kegiatan membaca. Seseorang dapat dikatakan sudah membaca berita, informasi jika sudah mengetahui inti permasalahan atau berita, informasinya. Oleh karena itu, kita harus memahami inti berita, informasi pada saat membaca dan setelah membaca.

Inti dari berita merupakan perumusan kita terhadap berita. Perumusan yang kita maksudkan dalam hal ini adalah terkait dengan isi berita.

Resapi dalam-dalam sebuah berita
Orang yang bijak adalah orang yang setelah membaca lantas mengendapkan isi berita sebelum menyampaikan respon terhadap berita tersebut. Ini merupakan ajakan yang sangat bagus untuk mengurangi terjadinya kesalahpahaman terhadap sebuah berita. 

Kita harus meresapi setiap berita, informasi sedemikian rupa sehingga respon yang kita berikan betul-betul obyektif. Obyektifitas ini sangat penting sehingga dapat memberikan kejelasan atas berita yang kita baca. Jika respon kita positif, maka ungkapan kita dapat mendukung secara positif terhadap berita, informasi tersebut. Jika respon kita negatif, maka ungkapan kita tidak menjatuhkan secara vulgar berita tersebut. Ini merupakan nilai kesopanan dalam berkomunikasi.

Begitulah hal yang harus kita lakukan untuk menyiasati berita, informasi yang kita dapat, kita baca dari media massa. Jangan sampai kita terjebak dalam lingkaran hoaks sebuah berita sehingga kita ikut membesarkan berita hoaks. Jangan sampai terjadi.


Gembongan, 26 Agustus 2022

Senin, 22 Agustus 2022

TRANSFER ENERGI LITERASI

Bahwa, sesungguhnya segala hal dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Artinya, kita dapat memberikan energi kepada orang lain dan sebaliknya orang lain dapat memberikan energi kepada kita. Proses perpindahan dapat terjadi melalui media pengantar, konduktor beragam rupa. Misal, kita dapat mengalirkan energi dengan sentuhan kulit. Air dapat juga kita jadikan media untuk pengaliran energi. Bahkan, kita dapat juga mengalirkan energi dengan udara. 

Setiap kegiatan yang kita lakukan sebenarnya merupakan proses pengaliran atau pemindahan energi. Hal ini karena pada setiap kegiatan pasti terkait dengan energi. Baik itu menyerap energi ataupun memancarkan energi. Misalnya, pada saat kita bersepeda kita memancarkan energi untuk memutar pedal agar sepeda dapat melaju. Pada saat yang sama, kita menghirup oksigen untuk menghasilkan energi dari dalam diri kita.

Dalam dunia literasi, transfer energi juga sering terjadi. Kontinuitas kegiatan literasi adalah karena adanya energi yang terus meletup-letup. Energi ini terus bergejolak di setiap pegiat literasi. Dengan berapi-api, para pegiat mencoba untuk mentransfer energi dirinya ke orang-orang di sekitarnya. Tujuannya adalah agar orang-orang teracuni semangat literasi. Sebuah komunitas literasi dapat bertahan dan berkembang karena adanya saling transfer antar dan antara.pegiatnya.

Pentingnya Energi Literasi

Kegiatan literasi adalah kegiatan abadi. Sepanjang hayat dikandung badan, kegiatan literasi tidak akan hengkang dari kehidupan seseorang, kita. Sejak kita masih kecil, bahkan di dalam kandungan, kegiatan literasi sudah diperkenalkan kepada kita. Dan, proses tersebut berlangsung sepanjang hidup kita.

Proses yang terus berkelanjutan ini pada akhirnya menuntut untuk menyediakan energi yang sangat besar. Jika tidak, maka kita akan patah di tengah perjalanan proses literasi. Kita akan kehabisan energi sebelum kita sampai pada titik puncak literasi yang kita harapkan. Kegiatan literasi itu ibarat lari marathon, panjang dan lama sehingga harus berbekal energi yang cukup sehingga dapat sampai pada garis finish. Jika kita kehabisan energi di tengah proses, maka kita dapat terkapar.

Pada saat kita menekuni proses terkait literasi, terutama menulis, kita membutuhkan energi yang sangat besar. Hal ini karena kegiatan literasi tidak hanya butuh energi fisik tetapi juga energi psikis. Dua energi secara langsung diterapkan pada saat bergiat literasi. Kondisi inilah yang menyebabkan cepatnya kedatangan kelelahan. Oleh karena itu perlu adanya transfer energi dari orang lain.

Bahwa energi yang kita miliki sesungguhnya berasal dari orang lain dan dari dalam diri sendiri. Kita dapat memperoleh energi yang memendar dari orang lain sehingga mematik energi yang ada di dalam diri kita. Energi yang memendar itu kita hisap dan bersatu dengan energi yang ada dalam diri kita. Perpaduan tersebut menggelorakan semangat diri sehingga berkobar-kobar lagi. 

Dalam kegiatan literasi, energi yang.kita dapatkan dari orang lain dapat berupa karya-karya mereka atau gesekan karena bersama dalam satu aktivitas. Pada saat kita kehilangan energi, maka kita dapat mengisinya dengan membaca buku-buku. Energi yang tersimpan dalam kata-kata isi buku akan mengisi pundi-pundi semangat kita. Begitu juga saat kita bersama dengan orang lain dalam aktivitas tertentu. Kebersamaan tersebut akan menggesek semangat masing-masing sehingga berkobar. 

Saat membaca buku, energi yang dituliskan sang penulis memasuki otak kita dan menstimulus syaraf sehingga mengikuti inti dari buku. Kita mengikuti setiap hipnotis kata dari sang penulis. Hal ini membangkitkan semangat kita untuk menulis kata-kata yang menghipnotis orang lain lagi. Kita sarikan rangkaian kata sang penulis dan menuliskannya lagi sebagai hasil pencerahan kita. Dengan demikian, maka energi terus bergelora untuk menghasilkan karya-karya selanjutnya. 

Saat kita bergiat dalam satu aktivitas dengan orang lain, maka semangat mengikuti kegiatan merupakan sumber energi kita. Kita mencuri energi mereka dan mencampurkannya dengan energi dalam diri kita. Misalnya kita menjadi narasumber dalam sebuah acara bersama, maka energi peserta yang meluap-luap merupakan pendorong energi dalam diri kita. Energi dalam diri kita bangkit dan ikut bergelora pada saat mendapat semangat peserta yang bergelora. Berbeda jika peserta kegiatannya tidak bersemangat, narasumber pasti kehilangan semangat. Oleh karena itu, pada kegiatan-kegiatan seperti ini selalu diterapkan ice breaker saat ditengarai peserta kehilangan semangat.

Kehidupan kita tidak memberikan keluasan bagi kita untuk sendiri. Kita harus berinteraksi dengan orang lain agar kehidupan kita tidak mengalami hambatan. Dan, kita harus meyakini bahwa interaksi personal tersebut merupakan cara kita mengelola energi. Artinya, dengan interaksi tersebut kita saling mengisi energi. Setiap orang mencoba untuk memberikan energi kepada orang lain agar interaksinya lancar. Begitu juga dalam kegiatan literasi, kita saling memberi energi sehingga tidak ada yang kehabisan energi, apalagi kehilangan energi. Energi akan tetap terjaga untuk berkarya.

Begitulah menurut saya, bagaimana menurut Anda. Tulislah respon Anda di kolom komentar.


Gembongan, 23 Agustus 2022