Kamis, 24 Agustus 2023

SUKA DUKA BERGIAT MENULIS

Setiap orang pasti mengalami suka atau duka dalam hidupnya. Tidak peduli siapa saja, pada episode hidupnya pasti terjebak pada salah satu suasana tersebut. Suka dan duka datang bergantian pada tempo yang tidak menentu. Kadang duka datang terlebih dahulu, kemudian disusul oleh suka. Atau kebslikannya, suka datang terlebih dahulu dan disusul oleh duka. Ini sudah menjadi garis kehidupan sehingga kita tidak pernah tahu kapan datang dan perginya. Kita hanya menjalani dan merasakan kehadirannya, tanpa mampu mengelak.  

Suka dan duka adalah hiasan dari hidup. Setiap kegiatan hidup yang dilakukan, pasti mempunyai 2 (dua) sisi kondisi yaitu suka dan duka ini. Dengan adanya suka dan duka, maka hidup menjadi dinamis, tidak statis. Hal ini karena sifat dasar manusia yang selalu serba kurang, selalu serba kurang bahkan tidak puas dengan kondisi yang dimilikinya. Kita selalu dan terus berusaha agar kondisi suka merupakan kondisi akhir dari sebuah kegiatan hidup. Tidak seorangpun yang menginginkan duka dalam kehidupannya. Karenanya, mereka berusaha untuk mencapai kondisi terbaik dalam hidupnya. Upaya inilah yang menyebabkan dinamisasi hidup. Hidup terus mengalami perubahan dan perkembangan.

Meskipun demikian, kita jangan terpengaruh oleh kondisi yang terjadi saat bergiat ataupun sesudah bergiat. Kita harus berbesar hati untuk menerima setiap kondisi. Untuk kondisi positif, kemungkinan bukan permasalahan sebab memang kondisi itu yang kita harapkan. Tetapi, untuk kondisi negatif, pasti sangat berpengaruh terhadap setiap penulis. Beberapa kondisi penulis yang menyebabkan lahirnya suka dan dukanya adalah:

a. Kehilangan ide

Ide adalah jiwa dari proses menulis. Tanpa adanya ide, maka proses menulis akan mengalami kesulitan, bahkan hambatan sehingga menyebabkan penulis gagal menulis. Ide juga merupakan koridor panjang yang akan mengantarkan penulis menuju goal penulisan. Oleh karena itu, seorang penulis yang kehilangan ide akan kehilangan jiwa menulis. Kehilangan jiwa menulis berarti mati. 

Ini merupakan kondisi negatif yang dapat menyebabkan seorang penulis berduka. Tidak ada yang dituliskan pada kerja tulisnya. Bisa terjadi, setelah berjam-jam menghadapi layar monitor laptop, PC, maupun hape, tetapi tidak satupun tulisan yang dihasilkan. Pikirannya zonk, blank, dan berduka. Kehilangan ide ini menyebabkan penulis kehilangan arah menulisnya sebab koridor jalan yang harus dilewatinya hilang. 

Kehilangan ide menyebabkan seorang penulis mengalami kedukaan panjang sebab didasari oleh rasa eman sebab tidak dapat mewujudkan ide yang sempat muncul. Tetapi, karena ketidakmampuannya mengikat ide, maka dia kehilangan ide tersebut. Ini sebuah perasaan bersalah yang sangat besar dari seorang penulis. Tetapi, kita para penulis merasa bersyukur bahwa kita diberi kemampuan untuk segera move on untuk mengikat ide lain yang muncul. 

b. Kehilangan waktu

Waktu adalah uang, begitu pendapat banyak orang. Banyak orang memberdayakan waktu untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya. Setiap waktu yang mereka miliki adalah untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Bagi penulis, waktu adalah karya tulis. Setiap waktu yang dimiliki oleh seorang penulis, adalah untuk menghasilkan karya tulis. Jika ada waktu yang terbuang, berarti tidak ada karya tulisan, maka hal tersebut sangat merugikannya. 

Seorang penulis akan sangat berduka jika kehilangan waktu. Hal ini karena menghilangkan kesempatan yang dimiliki untuk menghasilkan karya tulis. Waktu yang seharusnya dipergunakan untuk menulis, ternyata tidak ada lagi. Kehilangan waktu dapat terjadi karena dead line atau DL penulisan. Atau karena kesibukan yang tidak dapat dihindari sehingga sebagian besar waktu terhisap untuk menyelessikan kesibukan tersebut. 

Kadang, kita tidak dapat mengelak ketika tiba-tiba ada tamu ke rumah dan tidak pulang-pulang. Kita ngobrol ngalor ngidul sehingga memakan waktu yang seharusnya terjadwal untuk menulis. Target pencapaian hasil tulisan terlewatkan dan menyebabkan target penyelesaian tulisan juga mengalami mundur. Hal ini merupakan kedukaan bagi seorang penulis. Oleh karena itu, kota harus dapat mengatur, mengelola waktu seefektif mungkin sehingga dapat terhindar dari segala bentuk gangguan. 

c. Kehilangan karya tulis

Kehilangan karya tulis dapat terjadi oleh berbagai sebab. Ketika seorang penulis kehilangan karya tulis seperti kehilangan sebagian jiwanya. Karya tulis adalah pengejahwantahan dati jiwa seorang penulis dalam upaya memberikan respon kepada suatu obyek tulisan. Bagaimana respon seorang penulis terhadap setiap fenomena yang terjadi dan dituliskan untuk lebih mudah pemahaman, khususnya oleh orang lain.

Pekerjaan menulis adalah paduan kerja fisik dan psikis. Kadangkala, kehabisan energi fisik, kadang kehabisan energi psikis. Energi fisik dan psikis merupakan kebutuhan penulis pada saat bergiat menulis. Artinya, seorang penulis harus mempersiapkan fisik dan psikis secara optimal agar dapat menghasilkan tulisan. Penulis harus menyeimbangkan kondisi fisik dan psikisnya.

Seorang penulis dapat kehilangan karya tulisnya jika kondisi fisik dan psikis tidak berimbang sehingga proses menulis terganggu. Daya ingat kita sangat terbatas sehingga sangat memungkinkan kehilangan karya tulis. Pada jaman sekarang, mungkin hal tersebut dapat diminimalisir sebab kehadiran komputer yang mampu menyimpan data. Tetapi pada jaman dahulu, penulis menggunakan mesin ketik untuk menulis atau menulis secara manual. Jika berkas tulisan hilang, maka kita tidak dapat memunculkan lagi. Tetapi, kelelahan fisik dan psikis dapat menyebabkan kehilangan karya tulis secara permanen. Jika terjadi hal tersebut, maka itu kondisi yang membuat penulis sangat berduka. Dalam sebuah buku, Pramudya Ananta Toer pernah mengalami hal tersebut, dimana hasil tulisannya diberangus sehingga hilang. Beruntung Tuhan memberi kemampuan mengingat yang sangat bagus sehingga dapat ditulis ulang. Kika terjadi pada kita?

d. Kehilangan kesempatan menulis

Hal lain yang dapat menyebabkan seorang penulis berduka adalah kehilangan kesempatan menulis. Ada peribahasa mengatakan bahwa kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya. Jika sebuah kesempatan datang dan kita gagal mrmanfaatkannya, maka kesempatan itu akan hilang. 

Setiap orang mempunyai kesempatan untuk melakukan atau mendapatkan sesuatu dalam hidupnya. Seorang penulis pasti mendapatkan kesempatan untuk menulis. Kesemparan tersebut dapat berasal dari luar dirinya, juga dari dalam dirinya. Kesempatan ini merupakan jawaban alam terhadap keinginan bawah sadarnya terkait dengan kesadaran bahwa dia dapat menulis. 

Kesempatan ini dapat hilang dari seorang penulis jika pada saat yang bersamaan ada kegiatan yang harus ditangani juga. Akibat adanya kesibukan, maja kesempatan yang datang tidak dapat dilakukan sesuai kondisi. Akibatnya, kesemparan tersebut berlalu begitu saja. Dan, ketika menyadari bahwa waktu untuk penyelesaian kesempatan tersebut sudah habis, maka yang tertinggal adalah penyesalan. 

Oleh karena itu, seorang penulis harus dapat mengelola waktu sebaik-baiknya agar dapat menjalankan kegiatan menulisnya secara optimal. Kuncinya agar tidak kehilangan kesempatan menulis adalah mengelola waktu dan kegiatan sehingga dapat menyangkup semua yang ada. 

Suka dan duka dalam kegiatan menulis, sebagaimana kegiatan umumnya dalam kehidupan, pasti ada. Setiap penulis akan mengalami hal tersebut. Dan, semua kembali pada diri sang penulis. Suka dan duka pada saat mrnulis bukanlah halangan untuk menuntaskan sebuah kerja tulis. Hal tersebut seharusnya dijadikan support untuk semakin giat menulis.

Ok, selamat melewati suka dan duka dalam kegiatan menulis. Semoga terlewati dengan lancar dan tidak menjadikan kita terpuruk.


Gembongan, 4 September 2023
Mohammad Saroni
Penulis buku #suratcintauntukAimel

Selasa, 22 Agustus 2023

PEMBIASAAN KEGIATAN MENULIS

Ala bisa karena biasa. Bahwa seseorang dapat melakukan berbagai hal dalam hidupnya karena terbiasa melakukan hal tersebut. Bisa dalam hal ini tidak sekedar bisa melainkan 'bisa'. 'Bisa' yang kita maksudkan dalam hal ini adalah menguasai teknik-teknik sekaligus dapat melakukan kegiatan tersebut. Jadi tidak sekedar bisa melainkan kompeten untuk melakukan kegiatan. 

Pada kegiatan menulis, seseorang dianggap 'bisa' melakukan kegiatan menulis jika mampu menghasilkan tulisan  untuk dibaca sidang pembaca. Tulisan yang dapat dibaca oleh sidang pembaca adalah tulisan yang terstruktur, mempunyai makna, dan memberikan pencerahan untuk sidang baca. Hasil kerja tulis yang dikerjakan oleh penulis berpengalaman dan penulis pemula pastilah berbeda. Seorang penulis berpengalaman dapat menulis dimana dan kapanpun. Mereka memang 'bisa' menulis. Sedangkan penulis pemula, tidak semudah itu. Butuh berbagai kondisi sehingga dapat menulis. Hal tersebut karena penulis pemula belum seterampil penulis berpengalaman. 

Padahal untuk mencapai kondisi sebagaimana penulis berpengalaman, penulis pemula juga dapat mengkondisikannya. Pengalaman seseorang terkait dan berbanding lurus dengan waktu dan frekuensi pelaksanaan kegiatan tersebut. Semakin lama jam terbang seorang penulis, maka semakin terampil melakukan kegiatan menulis. Semakin sering melakukan kegiatan menulis, maka semakin terampil, semakin 'bisa' menulis. Oleh karena itu, seorang penulis pemula tidak boleh merasa jengah ataupun rendah diri dibandingkan penulis berpengalaman. Semua dapat dikondisikan seiring waktu dan frekuensi menulis.

Waktu dan frekuensi dalam melakukan kegiatan akan melahirkan sebuah kondisi yang disebut kebiasaan. Lantas, bagaimana caranya agar kita dapat menciptakan kebiasaan menulis sehingga dapat meningkatkan kemampuan menulis kita? Pada kesempatan ini, penulis mencoba untuk memberikan pengalaman untuk membiasakan diri melakukan kegiatan menulis. Kita harus berada pada kondisi yang bisa menjadi energi pendorong kegiatan menulis. Kondisi itu adalah menciptakan sebuah kebiasaan untuk menulis.

Kebiasaan merupakan sebuah kondisi yang tercipta sebagai akibat kegiatan-kegiatan yang secara intens kita lakukan sehingga jika tidak melakukan, maka terasa ganjil. Kebiasaan itu kondisi yang tercipta karena kita sudah terbiasa melakukannya. Permasalahannya adalah bagaimana cara kita menciptakan kebiasaan menulis untuk meningkatkan keterampilan menulis serta produktivitas menulis. Mungkin, langkah-langkah berikut dapat dijadikan acuan untuk menjadikan menulis sebagai sebuah kebiasaan, yaitu,:

a. Selalu menyiapkan kertas / kartu ide dan pena di saku baju

Ide datang tidak mengenal waktu dan kondisi. Bahkan, seringkali ide muncul pada saat kita tidak siap untuk mengikat ide tersebut dalam bentuk tulisan. Akibatnya, ide tersebut berlalu begitu saja. Kita sering kehilangan ide karena kondisi ini.

Untuk.mengantisipasi kehilangan ide, maka kita harus menyispkan potongan kertas atau kartu ide dan pen di saku kita. Setiap kali ada ide, maka kita segera mengikatnya dalam bentuk tulisan. Tentunya, kita hanya dapat mengikat garis besar dari ide yang muncul. Kita tidak mungkin menuliskan secara utuh dalam kartu ide tersebut. 

Kartu ide tersebut kita kembangkan menjadi tulisan seutuhnya setelah kita berada pada kondisi yang memungkinkan, misalnya tiba di rumah atau di kantor. Dengan mengikat ide dalam kartu ide, kita akan terbiasa menulis, walsipun terbatas garis besar, pikiran pokok dan pikiran tambahan dalam bentuk ulasan singkat ataupun outline. Jika hal ini kita lakukan setiap saat, maka akan menjadi kebiasaan yang tidak akan lepas dari keseharian hidup kita. Setiap saat kita menulis dan menulis. Hidup tidak akan lengkap jika belum menulis!

b. Membuat WAG dengan peserta  diri sendiri

Perkembangan teknologi informasi sangatlah pesat. Setiap saat mengalami perubahan perkembangan sehingga fasilitas di dalam alat-alatnya semakin canggih. Salah satu fasilitas yang dapat kita jadikan sebagai alat melahirkan kebiasaan menulis adalah catatan dan WAG (WhatsApp Group). Dalam hal ini, kita pergunakan WAG sebagai bahasan. Alasan pembahasan WAG adalah fitur atau aplikasi ini operasionalnya praktis. Kita tidak kesulitan untuk mempergunakannya sebagai wadah kita menulis. 

Untuk.menjadikan WAG sebagai tempat menulis adalah dengan mengajak teman untuk masuk ke grup yang kita buat, selanjutnya setelah selesai, kita mengeluarkan teman dari WAG. Karena, teman kita keluarkan, maka penghuni grup hanya kita sendiri. Pada kondisi inilah kota intens menulis di halaman chattnya

Setelah WAG grup tinggal kita saja, maka kita dapat mengeksplore kemampuan menulis kita di situ. Setiap saat kita dapat mrnuliskan ide di grup tersebut. WAG ini dapat kita buat beberapa sesuai dengan ide yang kita miliki. Judul WAG menunjukkan ide yang kita tulis dalam grup WA tersebut. Misalnya WAG 'DAUN', berarti grup ini merupakan tempat kita menulis untuk mengeskplorasi daun. Sedangkan genre yang kita jadikan wadah menulis ya kita cantumkan. Mungkin lebih lengkapnya 'PUISI DAUN', maka kita menulis puisi tentang daun. Dengan demikian, maka konsentrasi kita lebih terarah pada tema tersebut. 

c Membuat catatan-catatan kejadian setiap saat

Setiap peristiwa akan berlalu dari kehidupan kita. Bahwa kehidupan ini adalah sebuah perjalanan panjang dengan berbagai kejadian yang harus kita lewati, kemudian bergulir untuk kejadian selanjutnya. Kejadian yang sudah terjadi menjadi kenangan. Tentunya kita tidak ingin semua kejadian menjadi kenangan semata, apalagi kenangan dalam memori otak, yang kemampuan ingatnya sangat terbatas. Agar kejadian hidup tidak menghilang akibat keterbatasan kemampuan otak menyimpan kenangan, maka harus disimpan dalam bentuk tulisan. Tulisan diyakini lebih abadi dibandingkan ingatan otak, belum lagi ketika seseorang karena takdirnya meninggal, maka kenangan kejadian ikut terkubur dan hilang.

Untuk mengkondisikan hal tersebut, maka kita harus selalu mengikat setiap kejadian hidup dalam bentuk tulisan. Kita menuliskan setiap kejadian hidup kita sebagai memoar hidup ataupun rekam jejak kehidupan kita. Setiap saat kita dapat membaca ulang catatan kejadian tersebut sehingga kita tidak pernah melupakan kejadian tersebut 

Jika setiap saat kita melakukan kegiatan menulis, maka hal tersebut akan menjadi kebiasaan kita. Setiap kegiatan yang secara rutin, terstruktur dan terprogram akan menumbuhkan kebiasaan dalam diri kita. 

d. Mengetik ulang tulisan orang untuk koleksi

Langkah lain yang dapat menumbuhkan kebiasaan, khususnya dalam kegiatan menulis adalah menulis ulang tulisan orang lain. Mungkin hal ini dianggap aneh dan sia-sia. Tetapi, kita harus tahu bahwa ketika kita mengetik ulang karya tulis orang lain, maka saat itu kita mendapatkan banyak pengalaman terkait kegiatan menulis. Misalnya kita jadi tahu berapa kata yang dipergunakan oleh penulis, pola penulisan yang diterapkan penulis, gaya penulisan, ide atau gagasan yang lepas dari penggarapan penulis, dan yang lainnya. Ini merupakan pengalaman yang tidak ternilai harganya.

Pada saat kita mengetik ulang karya tulis orang lain, roh tulisan akan berpendaran dalam otak kita. Pendaran toh ini sesungguhnya merupakan nyawa tulisan itu sendiri sehingga secara langsung mengasah otak dan menajamkan intuisi untuk menulis. Ketajaman intuisi diyakini dapat menjadi energi setiap orang untuk menulis. Intuisi merupakan sebuah kemampuan untuk memahami hal-hal yang ditemui dalam kehidupan, dalam hal ini kegiatan menulis. Kemampuan ini sangat penting bagi seorang penulis sebagai pemicu dan pemacu semangat menulis. 

Semangat menulis menjadikan seorang penulis sebagai penulis yang produktif. Karena semangat yang dimiliki, maka seseorang dapat menulis dan menghasilkan karya tulis dalam jumlah yang besar salam waktu singkat. Kondisi ini menggambarkan bahwa penulis tersebut sangat produktif dalam kerja tulisnya. Seseorang dapat produktif jika mempunyai kemampuan istimewa atau di atas rata-rata. Kondisi ini hanya dapat dimiliki oleh seseorang yang sudah terbiasa melakukan kegiatan tulis dan setisp saat melakukan kegiatan menulis. 

Kegiatan menulis ulang karya tulis seseorang bukanlah upaya plagiat atau mengekor, tetapi upaya untuk membiasakan diri menulis dengan tingkat konsentrasi tinggi. Kita memang harus memiskan diri untuk menulis sehingga tumbuh dan berkembang kebiasaan menulis. 

e. Menulis di buku harian

Langkah ini identik dengan menulis setiap saat ataupun menulis ide pokok di kertas ide atau kartu ide yang selalu tersedia di dalam kantung baju. Tetapi, untuk membiasakan kegiatan menulis di buku harian mengharuskan untuk menyediakan buku khusus untuk catatan harian ini, yaitu buku harian. 

Kita harus intens menulis segala yang yang telah, sedang, dan akan kita lakukan dalam hidup. Kita rekam tulis semua kejadian yang telah kita alami. Hal ini untuk catatan penting segala hal yang sudah kita lewati. Hal yang sedang kita alami pun harus kita catat sehingga kita dapat dengan segera mengetahui hal-hal yang telah tercapai ataupun yang belum, dan merencanakan hal-hal yang akan dilakukan pada masa yang akan datang. 

Buku harian adalah buku yang setiap hari kita isi tulisan. Kita secara berkesinambungan mengisi buku harian sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Mungkin, mereka yang mengisi buku harian bukanlah seorang penulis, tetapi kegiatan yang mereka lakukan setiap saat merupakan pondasi dari seorang penulis. Artinya, seseorang yang aktif atau terbiasa menulis buku harian adalah seorang penulis. Dengan demikian, maka sejatinya menulis buku harian merupakan upaya untuk membiasakan diri menulis. Para penulis buku harian adalah para penulis produktif. Setiap hari, bahkan setiap saat mereka menulis dan menghasilkan tulisan.


Seorang penulis memang harus menulis. Waktu-waktu yang dimilikinya adalah kegiatan menulis. Setiap waktu yang dimiliki adalah untuk menulis. Setidaknya, seorang penulis tidak jauh dari kegiatan menulis. Untuk menciptakan kondisi tersebut, maka seorang penulis membiasakan diri dalam kegiatan menulis. Kebiasaan menulis ini tercipta sebab penulis mendisiplinkan dalam kegiatan menulis. Sekali lagi pepatah lama sangat penting kita jadikan pedoman, yaitu ala bisa karena biasa!  Siapa terbiasa melakukan sesuatu, maka dia pasti bisa!


Gembongan, 24 Agustus 2023
Mohammad Saroni
Penulis buku: #malamheningmalambening

Jumat, 18 Agustus 2023

LANGKAH-LANGKAH EFEKTIF MENULIS


Apakah Anda ingin mahir menulis? Mengapa tidak segera menulis? Adakah hambatan yang menyebabkan Anda tidak segera menulis? Sebegitu beratkah hambatan tersebut sehingga mengalahkan niat dan tekad menulis yang Anda bangun? 

Kita harus mengakui bahwa banyak orang yang ingin dapat menulis. Tetapi, mereka mundur secara teratur sebelum benar-benar melakukan kegiatan menulis. Banyak yang kalah, menyerah sebelum berperang. Akhirnya, keinginan menulis kandas, bshksn tenggelam dalam lumpur yang pekat. Mereka belum sempat lahir, sudah hancur terlebih dahulu.

Bagaimana menghadapi kondisi seperti ini? Walaupun banyak penulis yang mengatakan bahwa kegiatan menulis itu mudah, gampang, segampang ngomong. Menurut mereka, menulis dan ngomong sejatinya dua kegiatan yang sama. Artinya, siapa yang dapat ngomong, berarti dapat menulis.  Tetapi kenyataannya, sungguh berbeda! Banyak orang yang pinter ngomong tetapi nol prestasi menulis. Sebaliknya, banyak orang yang sulit ngomong tetapi produktif dalam menulis. 

Lantas, apa sesungguhnya yang menjadi sebab seseorang pintar menulis?

Untuk menguraikan kondisi tersebut, kita dapat menyebutkan beberapa langkah penting untuk mengefektifkan proses menulis, yaitu:

1. Ada niat menulis yang kuat

Niat menjadi hal utama untuk mencapai efektivitas kegiatan menulis. Bahkan, niat menjadi pondasi untuk pelaksanaan kegiatan hidup. Kuat dan lemahnya bangunan sebuah tulisan atau kegiatan sangat tergantung pada pondasinya dan kerangka pembentuknya. Semakin kuat pondasinya, maka semakin kokoh bangunan. 

Khususnya dalam kegiatan menulis, niat merupakan energi dari dalam diri untuk melakukan kegiatan menulis. Oleh karena, setiap orang yang berkeinginan untuk menulis, maka harus meniati kegiatannya sejak awal. Orang Jawa mengatakannya dengan niat ingsun. Sudahkah Anda melakukan hal itu sebelum melakukan kegiatan? Kalau sudah, Anda menunggu keberhasilan kegiatan. Jika tidak, maka segeralah melakukan hsl tersebut! Jangan sampai terlambat!

2. Ada pertaruhan/tantangan tulisan

Pernahkah Anda menghadapi tantangan atau pertaruhan dalsm hidup? Pasti pernah! Pernahkah Anda terima taruhan tersebut dan melakukannya? Pada saat yang lainnya, pernahkah Anda melakukan suatu kegiatan karena keinginan untuk melakukannya? Apakah perbedaan dari kedua kondisi tersebut?

Sadarkah Anda bahwa melakukan sesuatu karena adanya pertaruhan mempunyai energi yang lebih besar. Pertaruhan berarti ada sesuatu yang akan kita dapatkan jika melakukan hal tersebut. Sesuatu yang dimaksudkan adalah hadiah. Hadiah itu akan menjadi pemicu kita untuk menulis. Dengan demikian, proses menulis akan lebih efektif. Oleh karena itu, ketika melakukan proses menulis karena ada pertaruhan atau tantangan dan memberi reward berupa hadiah, maka semangat menulis akan meningkat. 

Hadiah menjadi salah satu magnet yang dapat menarik hati. Event-event menulis berhadiah menjadi pemicu semangat menulis dan mampu mengefektifkan kegiatdn menulis.

3. Adanya Persaingan Sehat Berkarya dalam Komunitas

Hidup ini merupakan perjuangan yang tidak ada habisnya. Setiap kegidtan harus diperjuangkan agar dapat mencapai tujuan. Salah satu perjuangan adalah menghadapi dan menyelesaikan setiap persaingan. Ada dua hal yang akan terjadi pada setiap persaingan, khususnya dalam berkarya tulis. 

Kita harus siap bertarung dengan segala hal yang menghadang kegiatan hidup kita. Pertarungan ini merupakan wujud dari persaingan hidup. Dan, selanjutnya pertarungan ataupun persaingan itu akan menjadi alat untuk seleksi alam. Siapa yang mampu bertahan, maka akan terjaga keberadaannya. 

Pada sisi lainnya, persaingan akan memicu dan memacu semangat berkarya. Hal ini karena sifat dasar manusia yang tidak pernah rela disaingi oleh orang lain. Persaingan inilah yang mampu melahirkan motivasi dari dalam diri seseorang untuk membuktikan bahwa dia lebih baik dari yang lainnya. 

Oleh karena itu,jangan oernah takut untuk bersaing dengan orang lain, terutama untuk persaingan positif yang memang merupakan energi yang menumbuhkan semangat untuk bergiat. Selamat bersaing, tidak harus menang sebab persaingan itu hanya untuk memicu dan memacu semangat bergiat atU menulis. 

4. Ada tuntutan DL

Dead line adalah istilah yang dipergunakan dalam kegiatan menulis, yaitu batasan akhir pekerjaan menukis harus diakhiri dengan hasil optimal. DL ajan menjadi pemicu dan pemacu semangat menulis para penulis. Dengan semangat itulah, seorang penulis dapat memacu semangat  sehingga terjadilah peningkatan produktivitas menulisnya. 

DL menjadi acuan atau batasan waktu bagi penulis untuk menyelesaikan proyek penulisannya. Dengan demikian, maka proses penulisan lebih efektif dan efisien. Penulis dapat menyusun program penulisan sehingga pada waktu tepat selesai.

Seorang penulis pada kenyataannya adalah sosok pemrogram, penyusun yang di dalam proses penulisannya sudah menyusun rencana proses. Rencana kerja mengatur proses menulis untuk jangka atau batasan waktu tertentu. Waktu inilah yang mengkondisikan menulis mengatur prosesnya. Batasan waktu inilah yang sesungguhnya menjadikan kegiatan menulis lebih efektif.

5. Ada keinginan untuk produktif

Setiap orang berkeinginan untuk dapat menghasilkan produk sebanyak-banyaknya dan berkesinambungan. Setiap saat tidak berhenti menghasilkan produk kegiatannya. Begitu juga halnya dengan penulis. Setiap penulis ingin berkarya sebanyak-banyaknya secara peridek dan tiada jeda untuk berhenti. Setiap saat, selalu ada karya tulis yang dihasilkan. 

Ini sebuah keinginan yang wajar. Setiap orang ingin eksis dalsm setiap kegiatannya, begitu juga seorang penulis. Eksistensi seorang penulis diakui melalui karya-karyanya yang terus mengalir. Secara periodek, selalu ada karya barunya, misal berupa buku atsu tulisan lepas. 

Keinginan ini merupakan salah satu faktor yang dapat mengefektifkan ketja tulis seorang penulis. Dengan keinginan untuk terus produktif dalam menulis, maka proses menulis semakin efektif. Hal ini karena produktifitas yang dihasilkan meningjatkan keterampilan menulis. Dan, semakin terampil seorang penulis, maka semakin efektif prosesnya. Seseorang yang terampil menulis tidak akan mengalami kesulitan saat menuangkan ide, gagasanya dalam bentuk tulisan. Mereka tidak akan terpengaruh oleh kondisi sebab di dalam dirinya sudah terkondisikan untuk menulis. 

Oleh karena itu, agar proses mrnulis kita dapat efektif, maka tumbuhkan keinginan untuk produktif dalam menulis. Ketidakproduktifan akan melahirkan kemalasan dan penurunan keterampilan menulis.


Kita memang dituntut untuk dapat menghasilkan tulisan sebanyak-banyaknya.  Tulisan sebanyak-banyaknya dapat diperoleh jika para penulisnya produktif. Afar produktif, maka seorang penulis harus melaksanakan kegiatan menulis secara efektif. 

Semoga kita adalah sebagian dari penulis yang efektif dalam memproduksi tilisan. Aamiin.



Gembongan 22 Agustus 2023

Mohammad Saroni
Penulis buku: #Laki-laki

Kamis, 17 Agustus 2023

MANFAAT MEMASANG TARGET MENULIS


Target merupakan harapan yang ingin dicapai di dalam sebuah kegiatan. Target ini merupakan motivasi innert yang sangat penting untuk menjaga stamina dan semangat melakukan kegiatan. Target setiap orang tentunya berbeda, dalam pengertian kuanlitas pencapaian. Tetapi, pada saat kuantitas seringkali terjadi kesamaan satu orang dengan orang lainnya. 

Tetapi setidaknya kita bersepakat bahwa kita membutuhkan target pada saat kita melakukan kegiatan. Target inilah yang memberi koridor pengerjaan kegiatan. Kita tidak akan mengalami kebuntuan ataupun kebablasan dalam kegiatan. Dalam konteks kita adalah kegiatan menulis. 

Jika memperhatikan pentingnya memasang target pada saat melakukan kegiatan, menulis, maka kita mempunyai 5 (lima) manfaat .memasang target, yaitu:

1 Mengefektifkan kegiatan menulis

Target adalah garis finish yang harus dicapai oleh seorang pelari agar dapat memenangkan perlombaan. Semakin cepat mencapai garis finish, maka semakin besar peluang untuk menang. Begitu juga halnya target dalam kegiatan menulis. Kita berlomba untuk dapat segera menyelesaikan tulisan agar dapat segera dipublikasikan dan dibaca oleh sidang pembaca.

Target dalam kegiatan menulis diyakini dapat meningkatkan energi proses. Dengan adanya target, maka seorang penulis akan berusaha untuk mewujudkannya sebagai progres kegiatan. Upaya untuk mencapai target itulah yang dapat mengefektifkan kegiatan. Penulis berusaha mencapai atau menyelesaikan target yang sudah dipasangnya sebagai tujuannya. 

Kita mengetahui bahwa target menulis dapat ditentukan dalam berbagai batasan, misalnya batasan waktu atau batasan tulisan. Misalkan, penulis memasang target menulis dalam batasan waktu, maka dapat ditentukan setiap menulis dibatasi interval waktu berapa menit atau jam. Begitu juga halnya dengan batasan tulisan, misal sekali waktu menulis targetnya satu halaman kertas, separoh halaman kertas, bahkan mungkin satu alenia saja. 

Untuk Anda, batasan target yang kita pasang pada waktu menulis, batasan yang mana? Lanjutkan, itulah kemampuan diri kita!

2 Mengefisiensikan waktu menulis

Waktu adalah uang. Setiap kegiatan yang kita lakukan selalu dilaitkan dengan waktu agar kita berhasil.lebih banyak. Kita terapkan ptinfip ekonomi dalam setiap kegiatan yaitu memberikan waktu yang singkat dengan hasil yang optimal. Kita dapat mengatakan bahwa setiap kegiatan hidup kita sebagaimana sebuah pekerjaan dengan sistem borongan. Sistem borongan yang kita maksudkan adalah bahwa kita harus menyelesaikan pekerjaan atau tanggungjawab, kewajiban hidup secepat-cepatnya agar segera dapat memperoleh hasilnya secara optimal. Walaupun kita melakukan kegiatan hidup setiap saat, hari, tetapi kita lakukan secara cepat. 

Jika kita memasang target dalam kegiatan menulis, maka hal tesebut dapat mengefisiensikan waktu yang kita butuhkan untuk menulis. Kita menulis dengan batasan waktu, maka efisiensinya haruslah optimal sehingga hasil tulisan kita dapat tuntas sesuai target yang kita tentukan. 

3. Merencanakan waktu ketuntasan proses

Pada sisi lainnya, memasang target berarti kita sudah merencanakan waktu ketuntasan proses menulis. Target sudah mengisyaratkan pada kita kapan kita harus menyelesaikan tulisan kita. Dalam hal ini, target menjadi acuan kerja tulis kita. Artinya, kita sudah membuat perencanaan waktu yang kita perlukan untuk menulis dan kapan kita harus berhenti menulis.

Dengan memadang target, maka mengetahui kapan sebuah kerja tulis selesai kita kerjakan. Dengan demikian kita dapat mengerjakan tulisan yang lain. Pun kita dapat bekerja secara tepat waktu. Profesionalitas kita sebagai penulis sangat tergantung pada ketepatan kita menyelesaikan kerja tulis. 

Target sangat terkait dengan perencanaan kerja. Setiap kegiatan yang kita lakukan dibatasi oleh batasan pencapaian setiap waktu ataupun kuantitasnya. Oleh karena itu, kita harus menyusun program kerja dengan batasan pencapaian yang harus didapatkan pada batasan waktunya.

4. Memenuhi pola penulisan kejar tayang

Ada fenomena yang berlaku di masyarakat literasi bahwa tulisan harus selesai sesuai dengan dead line (DL) yang ditentukan oleh penerbit, atau yang lainnya. Penentuan DL ini memaksa dan mengkondisikan penulis harus memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Tidak boleh ada wajtu terbuang tanpa produk tulisan.

Target akan membimbing.kita melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, maka batasan-batasan untuk kreatif dan produktif dapat mudah dicapai. Khususnya pada kerja tulis.yang kejar tayang, maka target harus diperketat sehingga setiap tulisan tepat waktu. Ketiadaan target seringkali menjadi penyebab tidak tercapainya tujuan. 

Kita dapat mengerjakan setiap kerja tulis sesuai, bahksn sebelum DL sehingga kerja tulis yang selanjutnya dapat segera dikerjakan. Semakin cepat kita selesaikan, maka antrian kerja tulis akan semakin tipis dan dapat mengambil pekerjaan tulis lainnya.

5. Meningkatkan produktifitas kegiatan menulis

Sebenarnya, semua kegiatan hidup tidak lepas dari target pencapaian. Ini merupakan hukum alam bahwa selalu ada tujuan yang hendak dicapai pada setiap kegiatan. Tujuan ini menjadi arah dan petunjuk kerja. Dalam kerja tulis, target menjadi bagian dari outline besar. Walaupun tidak tertulis dalam kerangka kerja tulis, tetapi menjadi energi dalam setiap bagian outline tersebut.

Setiap kali kita mulai kerja tulis, maka sudah tergambar tujuan yang akan dicapai. Semangat kerja tulis akan meningkat secara proporsional. Peningkatan ini akan meningkatkan jumlah karya tulis yang dihasilkan. Penulis akan lebih produktif berkarya tulis. Setiap tulisan sudah ditargetkan pencapaiannya sehingga setiap tulisan dapat ditentukan ketuntasannya.

Target akan memberikan gambaran pencapaian kerja tulisan. Waktu dan jumlah tulisan pada saat kerja tulis diatur sedemikian rupa sehingga tidak ada kerja tulis yang terselip dari proses kerjanya. 


Kita memang harus memadang target untuk setiap kegiatan yang kita lakukan. Kita tidak dapat mengikuti pepatah mengalir seperti arus air sungai. Kita harus bergerak pasti sehingga kerja tulus kita lebih efektif dan produktif.

Bagaimana menurut Anda? Sampaikan respon pendapat Anda agar dapat dipergunakan untuk menyempurnakan tulisan ini.

Salam literasi, salam kreatif 

Gembongan, 18 Agustus 2023

Mohammad Saroni
Penulis buku: #MbelingnyaAku

Rabu, 16 Agustus 2023

MANFAAT BERGABUNG DENGAN KOMUNITAS


Kita adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang tidak dapat hidup sendiri. Kita bergantung pada orang lain untuk menghadapi dan menjalani kehidupan ini. Oleh karena itu lahirlah komunitas manusia, RT, RW, Desa, Kecamatan, hingga negara. Di samping itu, ada komunitas-komunitas dari orang-orang sesuai kemampuan masing-masing. Kita memang ditakdirkan untuk hidup dalam komunitas tertentu.

Dengan menperhatikan dan nempertimbangkan diri sebagai makhluk sosial, maka kita dapat memperoleh banyak manfaat dari komunitas. Hal ini karenaelain kita dapat terhubung dengan banyak orang, kita juga dapat memperoleh hal lain yang penting bagi perkrmbangan dan keberadaan diri di masyarakat. 

Untuk lebih jelasnya, mari kita kupas pentingnya dan manfaat dari bergabung dengan komunitas. Penting dan manfaatnya yang kembali kepada kita adalah:

1. Peluang Belajar

Aetisp anggota komunitas akan mendapatkan kesempatan belajar untuk mengembangkan kemampuan dirinya. Peluang belajar ini diperoleh secara individual ataupun berkelompok. 

Dengan demikian, maka kemampuan setiap orang di dalam komunitas dapat meningkat untuk kebutuhan ditinya sendiri maupun untuk komunitasnya.

2. Jaringan Kerja 

Seseorang yang tergabung dalam komunitas akan berinterakdi dengan orang lain, minimal maupun maksimal. Akibat dari interaksi ini, maka terciptalsh sebuah jaringan interaksi ataupun jaringan kerja. Jaringan kerja yang kita maksud adalah jaringan relasi dengan banyak orang. 

Jaringan kerja ataupun jaringan relasi ini memungkinkan kita menemukan orang-orang efektif dan baru. Relasi kita semakin luas dan membuka peluang semakin luas dan besar untuk memperoleh hsl-hsl yang kita inginkan, seperti pekerjaan dan yang lainnya.  

3. Tukar Pengalaman

 Orang-orang di dalam komunitas datang dari latar belakang yang berbeda. Beragam pengalaman mereka dapat menjadi informasi pembelajaran bagi orang-orang di dalam komunitas tersebut. 

Pengalaman yang berbeda. Hal ini mengisyaratkan terciptanya komunikasi yang baik antar orang di dalam komunitas. 

4. Peluang Pekerjaan

Pekerjaan setiap orang di dalam komunitas juga beragam. Keberagaman pekerjaan ini dapat menjadi peluang bagi anggota komunitas. Mereka dapat saling membagi peluang pekerjaan di komunitas.
Bahkan, bagi anggota komunitas yang belum mempunyai pekerjaan dapat memperoleh referensi pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dirinya.  

5. Kemampuan baru 

Kita sudah tahu bahwa anggota komunitas mempunyai kemampuan yang beragam. Kemampuan ini menunjukkan keahlian masing-masing.
Menemukan kemampuan baru yang didapat sesama anggota komunitas.

Seperti.kita ketahui setiap.orang mempunyai kemampuan masing-masing. Dan, jika mereka bergabung dalam satu komunitas, maka kemampuan tersebut dapat mengalir pada setiap anggota. Anggota yang tidak memiliki kemampuan A, dapat mrnyerap dari anggota yang mempunyai kemampuan A tersebut. 

Dengan demikian, maka setiap anggota komunitas dapat mempunyai kemampuan baru dari interaksi di dalam komunitas.

6. Penyelesaian Masalah

Setiap orang memounyai masalah dalam hidupnya. Bahkan ada yang mengatakan kehidupan merupakan rangkaian masalah. Keberadaan masalah itulah yang menyebabkan adanya kehidupan. Tanpa masalah, maka bukanlah sebuah kehidupan. Hanya orang yang sudah meninggal yang tidak mempunyai masalah dalam hidupnya. 

Ketika seseorang menjadi anggota atau bergabung dengan sebuah komunitas, maka kebersamaan dalam komunitas memungkinkan untuk menyelesaikan permasalahan secara bersama-sama. Semua anggota komunitas akan membantu untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian, maka nereka akan menemukan soludi pemecahan masalahnya secara cepat.

7. Percaya Diri

Salah satu hal dasar.yang menjadi penghalang keberhasilan seseorang dalam hidupnya adalah kepercayaan diri. Orang-orang dengan kepercayaan tinggi mempunyai peluang berhasil lebih besar dibandingkan orang-orang yang kurang bahkan tidak percaya diri. 

Komunitas memberikan peluang besar untuk mengembangkan rasa percaya diri. Setiap orang akan berusaha membantu orang lain agar percaya pada kemampuan yang dimilikinya. Mereka saling mendukung sehingga perlahan dapat mengembangkan rasa percaya diri. Mereka tidak merasa takut menghadapi hidup sebab merasa yakin akan ada yang membantu mereka menghadapi dan menyelesaikannya.


Jika kita memperhatikan, menelaah dan meresapi uraian tulisan di atas, maka kita pasti memetik manfaat yang sangat berarti bagi diri kita. Bukankah akan lebih baik kita bergabung dalam sebuah komunitas agar dapat mengembangkan diri secara optimal. Lantas,mengapa kita tidak segera bergabung dengan komunitas yang sesuai dengan kebutuhan kita? Segera saja bergabung!

Gembongan, 17 Agustus 2023

Mohammad Saroni
Penulis buku: #kenangankampungyanghilang


.

Minggu, 13 Agustus 2023

MENJAGA STAMINA MENULIS


Kegiatan menulis sebenarnya merupakan kegiatan dengan konsentrasi tinggi dan waktu yang relatif panjang. Kita membutuhkan waktu yang relatif panjang untuk menyelesaikan satu tulisan. Waktu yang panjang itu semata-mata karena keinginan untuk segera menyelesaikan tulisan. Asumsi tersebut muncul sebagai konsekuensi dari kekawatiran atas kemungkinan lupa. Kita mempunyai kecenderungan untuk menuntaskan kegiatan menulis sehingga materi tulisan terikat secara keseluruhan dalam tulisan.

Pada sisi yang lain, kegiatan menulis merupakan kegiatan yang terkait erat dengan psikis. Kondisi ini menuntut pegiatnya untuk memeras fisik dan psikis secara bersamaan sehingga membutuhkan energi yang besar. Satu energi untuk mendukung aktifitas fisik dan satu energi untuk mendukung aktifitas psikis. Mungkin pada sisi fisik dapat mudah untuk ditangani, tetapi pada sisi psikis tidaklah semudah membalik telapak tangan. 

Aspek penting yang perlu diperhatikan adalah kelelahan yang terjadi pada saat melakukan kegiatan menulis. Kelelahan fisik dengan mudah diatasi dengan sedikit rileks atau olahraga ringan dan istirahat. Tetapi, bagaimana dengan kelelahan psikis? Kelelahan yang menyerang sisi psikis seringkali menyebabkan kita terjebak pada kebuntuan saat menulis. Kebuntuan inilah yang seringkali menyebabkan kegiatan menulis terhenti dan tulisan terbengkalai.

Lantas bagaimana caranya untuk menjaga stamina menulis? 

Stamina menunjukkan kekuatan dan energi fisik dan psikis yang dimiliki seseorang untuk dapat bertahan dalam berkegiatan atau bekerja. Stamina dapat juga berarti ketahanan atau kesehatan tubuh; daya tahan terhadap setiap kondisi yang terjadi di sekitar dirinya terkait kegiatan yang dilakukan dalam kehidupannya. Stamina dapat juga artikan sebagai ketabahan dan ketahanan mental atau batin dan lahiriah serta keuletan sehingga kegiatan dapat diselesaikan secara tuntas. 

Terkait kegiatan menulis, maka stamina dapat diartikan sebagai energi dan ketahanan fisik dan psikis untuk menyelesaikan proses menuliskan ide dan  perkembangannya hingga tuntas. Kegiatan menulis adalah kegiatan yang membutuhkan kekuatan dan ketahan diri, baik fisik maupun psikis sehingga seorang penulis harus dapat menjaga staminanya untuk menulis.

Apa yang harus kita lakukan untuk mengkondisikan diri agar mempunyai stamina yang cukup untuk menyelesaikan kegiatan menulis? Pada umumnya, untuk menjaga stamina diri dapat dilakukan dengan beberapa cara. Cara yang dapat dilakukan adalah:

a. Cukup asupan makan dan minum

Asupan diri, baik minum dan makan merupakan sumber energi bagi diri kita. Dengan minum atau makan, maka metabolisme tubuh dapat mengubahnya menjadi energi untuk tubuh kita. Makan dan minuman yang kita masukan ke dalam tubuh akan diolah di dalam tubuh sehingga didapat berbagai zat yang sangat penting untuk menjaga kestabilan proses menulis. Apa yang terjadi jika lambung kita tidak diisi mskansn atau minuman?

Kestabilan proses menulis dapat terkait pada asupan makanan dan minuman yang kita konsumsi. Oleh karena itu, seringkali kita menemukan seorang penulis yang menyiapkan makanan dsn minuman pada saat menulis. Dengan cara seperti itu, maka saat perut berkerucuk, maka dapat dengan segera ngemil makanan atau minum. Perut yang lapar dapat menyebabkan menurunnya tingkat konsentrasi kegiatan, dalam hal ini menulis. 

Walaupun bukan makanan yang berat, penulis tetap harus menyiapkan makanan kecil dan minuman sehingga tidak perlu beranjak meninggalkan tempat duduknya. Dengan demikian, penulis tidak harus memutus kegiatan menulisnya. Kejadian umim yang dialami penulis saat memutus kegiatan menulis adalah terputusnya aliran informasi yang harus dituliskan. Akibatnya, setiap kali menghadap komputer lagi, maka butuh warming up untuk fisik dan psikis. Hal ini dapat menghambat proses menulis. Stamina menulis tetap terjaga  sehingga produktifitas menulis juga terjaga. 

b. Memasang target tulisan dan waktu menulis 

Target merupakan tujuan yang harus fidapatkan dalam sebuah kegiatan, bahkan hidup. Target dapat berperan sebagai energi yang mendorong kita mencapai tujuan. Dengan adanya target, maka semangat kita dapat meningkat dan terus bertambah untuk mewujudkan harapan. 

Target itu sebagaimana seorang pemanah yang memanah binatang buruan. Pada saat berburu, seorang pemburu membidik biinatang buruannya. Dengan penuh konsentrasi dia arahkan senjatanya ke binatang buruannya. Setelah yakin ketepatan bidikan, maka senjata dilepaskan hingga mengenai binatang buruannya.  Begitu juga halnya dengan proses menulis. Penulis akan memasang target untuk pencapaian bidikan senjatanya. 

Untuk proses menulis, target yang kita maksudkan dibatasi pada kuantitas tulisan yang dihasilkan pada setiap waktunya atau kebalikannya. Berapa waktu yang kita siapkan untuk proses menulis yang kita lakukan. Dengan demikian, maka kita sudah mengetahui seberapa tulisan yang kita hasilkan pada saat menulis atau menyediakan berapa waktu untuk melakukan kegiatan menulis. 

Target menulis terkait dengan jumlah tulisan dan waktu yang disediakan untuk menulis. Dengan menentukan kedua target ini, maka semangat menulis akan terjaga hingga tuntas. Target ini sekaligus merupakan alat untuk pengukur kemampuan penulis melakukan kegiatan menulis. Dan, pada saat menentukan target, seorang penulis sudah mengukur kemampuan diri untuk menulis. Seorang penulis sudah memahami dan menyadari kemampuan dirinya saat menulis, baik pada aspek kuantitas tulisan ataupun waktu yang diperlukan untuk menulis. Artinya, penulis menulis berdasarkan kemampuan dirinya dan tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan kegiatan menulis. 

Berkurangnya stamina menukis seringkali terjadi karena kegiatan9 menulis dilakukan secara terpaksa. Akibatnya, kegiatan menulis menjadi beban diri. Dan, setiap beban diri merupakan penghambat kegiatan menulis. Padahal, seharusnya kegiatan menulis dilakukan sebagai bentuk refreshing. Kita harus melakukan kegiatan menulis sebagai kegiatan yang menyenangkan. Kegiatan menulis adalah kegiatan mengeluarkan segala pemikira dalam wujud tulisan. Dengan demikian, beban otak semakin berkurang dan otak kita menjadi fresh.

c. Menulis materi yang dikuasai

Lakukanlah segala sesuatu yang kita ketahui dan pahami. Hal ini sangat penting agar proses menulis dapat berlangsung lancar, tidak mengalami hambatan. Untuk dapat melakukan segala hal, maka kita harus menguasai dan memahami segala hal yang kita hadapi dalam kehidupan. Bukankah melakukan sesuatu yang kita kuasai akan sangat mudah dilakukan daripada tidak menguasainya?

Kegiatan menulis seharusnya dilakukan dengan penguasaan materi tulisan. Seorang penulis harus menguasai materi yang ditulis sehingga kegiatan menulis dapat berlangsung optimal. Materi tulisan adalah segala informasi yang ada di dalam pikiran dan merupakan pengembangan dari ide. Pengembangan ide ini meliputi pengembangan ide pokok maupun ide tambahan. 

Oleh karena itu, kita harus menuliskan hal-hal yang kita kuasai. Kita proyeksikan simpanan informasi ke dalam bentuk tulisan. Proses proyeksi ini akan lebih mudah sebab materi tulisan sudah ada di dalam pikiran kita. Proses ini lebih mudah sebab materinya sudah tersedia. Kita tidak perlu bingung-bingung mencari informasi untuk dituliskan. Sangat berbeda jika kita menulis sesuatu yang tidak kita kuasai dan pahami. 

Jika kita menulis bahan yang kita kuasai, maka kita tinggal menbuka keran, materi tulisan akan mengalir bebas menjadi tulisan. Tetapi, jika kita menulis sesuatu yang materinya tidak kita kuasai, maka kita akan mengalami kebingunan jika materi tulisan habis. Akibatnya, kita harus mengumpulkan informasi terkait bahan tulisan. Hal ini menyebabkan proses menulis terputus-putus, akibat kita harus mencari tambahan informasi. 

Oleh karena itu, sebaiknya kita menulis materi yang kita kuasai dan pahami. Penguasaan dan pemahaman menyebabkan proses menulis lancar dan hal ini dapat menjadi energi penyemangat dari dalam diri. Hal ini karena semangat menulis dapat meningkat dan menjaga stamina menulis.

d. Memberi waktu istirahat

Jika kita melakukan sebuah kegiatan, maka tidak mungkin kita melakukan kegiatan itu secara terus menerus. Kita mempunyai keterbatasan fisik maupun psikis. Keterbatasan ini dapat menjadi penghambat kegiatan kalau kita lakukan secara terus menerus tanpa batasan. Pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan secara terus menerus tanpa batasan dapat menurunkan stamina diri. Energi yang kita miliki dapat berkurang stsu habis sama sekali sehingga kita tidak dapat lagi melakukan kegiatan.

Kemampuan tubuh kita sangat terbatas sehingga tidak mungkin bekerja tanpa batas. Ada batasan kekuatan sehingga pada waktu tertentu setelah menyelesaikan kegiatan, maka tubuh kita akan kehilangan kekuatan. Pada saat tubuh kita kehilangan tenaga, maka saat itulah stamina tubuh kita hilang. Hal ini karena stamina adalah kekuatan diri untuk melakukan kegiatan. Jika kekuatan tubuh kita hilang, bagaimana kita dapat melanjutkan kegiatan sehingga mencapai keberhasilan.

Pada saat kita bergiat menulis, kita membutuhkan batasan waktu sehingga tidak terjebak di dalam lingkaran yang membingungkan. Ada banyak labirin yang siap menelan kita sehingga kita hanya berputar-putar tanpa mengetahui pintu keluar. Pada saat seperti ini berarti kita sedang mengalami kelelahan fisik dan psikis. Oleh karena itu, kita menyediakan waktu untuk beristirahat. Dengan penyediaan waktu istirahat, maka kondisi fisik dan psikis kita dapat idle lagi. Kondisi idle adalah kondisi stasioner dimana kita diam sehingga energi yang kita pergunakan sangat kecil bahkan tidak ada energi berarti yang kita pergunakan.

Kita harus menyediakan waktu istirahat untuk menyelesaikan kegiatan. Dengan adanya waktu istirahat ini, maka fisik dan psikis dapat dapat mengambil posisi diam, tanpa melepaskan energi. Seperti gelombang, maka lidah gelombang harus dilandaikan sehingga laut menjadi tenang. Ketenangan ini diyakini dapat mengembalikan stamina tubuh untuk menulis lagi. Dengan kembalinya stamina tubuh, maka kegiatan menulis tidak akan mengalami hambatan lagi. Demikian yang harus kita lakukan pada beberapa waktu sekali hingga kegiatan menulis tuntas.

Seorang penulis berkewajiban untuk menjaga stamina menulisnya agar tingkat produktifitasnya terjaga. Dengan stamina yang baik dan stabil, maka proses menulis akan mengalir lancar tanpa terhambat. Beberapa hal yang penulis ungkapkan merupakan pengalaman penulis pada saat melakukan kegiatan menulis. Semoga langkah-langkah ini dapat menjadi motivasi untuk penulis lainnya, yang sedang dan sering mengalami penurunan stamina di tengah-tengah proses menulisnya.


Gembongan, 17 Agustus 2023
Mohammad Saroni
Penulis buku: #praharanegeridongeng

Sabtu, 12 Agustus 2023

MENGIKAT IDE MENJADI JUDUL


Judul memegang peran penting pada sebuah tulisan. Hal ini dikarenakan judul adalah identitas sebuah tulisan. Judul menggambarkan isi dari sebuah tulisan. Seseorang segera mengetahui inti sebuah tulisan dengan membaca judulnya. Oleh karena itu, setiap tulisan selalu diberi judul oleh penulisnya. Apa jadinya jika sebuah tulisan dibuat tanpa judul?

Judul merupakan gambaran dari ide yang diikat secara efektif oleh penulis untuk mempermudah sidang pembaca melakukan pemahaman awal. Penulis berusaha untuk memberikan daya tarik kepada sidang pembaca untuk menyempatkan diri membaca tulisan tersebut. Oleh karena itu, wujud keefektifan judul salah satunya adalah sebagai daya tarik sidang pembaca. Semakin banyak sidang pembaca, berarti semakin tepat pilihan judul tulisan tersebut. 

Masalahnya adalah bagaimana cara penulis memilih judul sehingga tulisannya dapat menarik perhatian sidang pembaca?

Ada banyak cara dilakukan oleh penulis untuk memberikan judul pada tulisannya. Setiap penulis mempunyai cara tersendiri saat memberi judul tulisannya agar menarik perhatian sidang baca. Dan, untuk hal ini memang dibutuhkan kejelian dan kepekaan terhadap isu dari ide yang ditulisnya. 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat memilih dan menentukan judul adalah sebagai berikut:

a. Gampang tetapi susah

Judul tulisan merupakan perwakilan isi dari sebuah tulisan. Sejatinya, memilih dan menentukan judul tulisan merupakan langkah susah-susah gampang bagi seorang penulis. Gampang karena penulis sudah memiliki ide dasar dari tulisan tersebut. Sedangkan susahnya adalah pemilihan diksi yang efektif sehingga dapat menggambarkan secara keseluruhan jabaran ide dalam tulisan. 

Permasalahan dasar pada proses pemilihan dan penentuan judul ada pada pilihan diksinya. Hal ini karena sebuah tulisan haruslah jujur dalam menyampaikan informasi yang disampaikan penulis. Kesalahan dalsm pemilihan judul berdampak pada pemahaman yang salah oleh sidang pembaca. Akibat kesalahan ini, maka sebuah tulisan menjadi tidak menarik perhatian sidang pembaca. 

Untuk mengikat ide menjadi judul dapat dilakukan sebelum proses menulis dilakukan atau setelah semua informasi terkait ide sudah kita tuliskan. Seorang penulis dapst memberikan judul lebih awal daripada proses menulisnya. Artinya, sebelum kita mengungkapkan ide tulisan, kita ikat dalam judul. H

Sebuah ide dapat kita jadikan judul dari sebuah tulisan. Walaupun untuk melakukan ini merupakan langksh yang gampang tetapi susah. Gampang sebab kita sudah punya idenya, tetapi susah karena harus harus memilih diksi yang tepat. Apakah Anda mengalami kesulitan saat memberi judul tulisan? Begitulah adanya, jangan putus asa, Anda pasti menemukan judul itu 

b. Menentukan judul tentatif

Ada banyak cara dilakukan untuk memilih dan menentukan judul tulisan. Setiap penulis mempunyai cara yang berbeda sesudi pengalaman masing-masing. Tetapi, ada satu cara yang sering dilakukan penulis untuk mengikat ide menjadi judul. Cara itu adalah membuat judul tentatif untuk tulisan yang ditulis penulis. Ide yang dimiliki oleh penulis diikat menjadi judul tentatif bagi tulisan.

Judul tentatif adalah judul yang diberikan oleh penulis untuk tulisannya dan bersifat tidak pasti. Judul tersebut belum tentu akan dijadikan sebagai judul tulisannya. Hal ini merujuk pada pengertian dasar dari kata tentatif yang berarti diksi yang dipergunakan ketika memberikan penjelasan tentang sesuatu yang masih dalam proses pembahasan atau perencanaan, dalam hal ini proses penulisan. Dengan memperhatikan definisi tersebut, tersirat bahwa pilihan diksi tersebut dapat mengalami perubahan sesuai perkembangan tulisan. 

Kita dapat mengikat ide menjadi judul dengan menerapkan judul tentatif pada tulisan kita. Dengan judul tentatif ini, maka kita mempunyai petunjuk arah materi tulisan kita. Judul tentatif inilah yang membimbing kita mengungkapkan diksi-diksi terkait dengan materi tulisan sesuai ide dasar yang dimiliki penulis. 

c. Pilihan diksi yang efektif

Judul sebagai identitas sebuah tulisan, maka sudah seharusnya secara cepat dapat memberikan informasi kepada sidang pembaca terkait isi tulisan. Kuncinya adalah informasi dapat secara cepat diterima oleh sidang pembaca. Kondisi tersebut dapat dicapai jika pilihan diksi judul benar-benar efektif. Pilihan diksi harus dapat menyampaikan ide dasar tulisan. 

Pilihan fiksi yang efektif akan kembali pada perbendaharaan kosakata yang dimiliki penulis. Semakin banyak kosakata yang dimiliki oleh penulis, maka pilihan katanya tidak akan sulit. Dengan mudah, seorang penulis dapat mengambil kata yang tepat dan efektif untuk judul tulisannya. Pilihan diksi ini terutama didasarkan pada kata-kata yang kuat ke arah intisari tulisan.

Pilihan diksi yang tepat dapat meningkatkan efektifitas judul tulisan. Kita harus menyadari peranan judul bagi keberlanjutan tulisan kita. Judul yang salah diksinya dapat menyebabkan perannya berkurang, tidak ada, bahkan hilang. Apalagi jika judul tersebut membuat kebingungan sidang pembaca. 

d. Pelajari dan pahami isi tulisan keseluruhan

Langkah lain untuk mengikat ide menjadi judul adalah mempelajari dan memahami isi tulisan secara keseluruhan dan menangkap intinya. Pada saat kita membaca tulisan, maka sisi memori otak merekam setiap point isi tulisan yang kita baca. Proses perekaman ini mengembang menjadi pemahaman terhadap isi tulisan. 

Untuk keputusan memilih dan menentukan judul tulisan setelah kegiatan menulis selesai. Semua materi mengenai tulisan tertuang dengan maksimal. Proses ini dapat dilakukan saat penulis membaca tulisannya untuk pertama kalinya ataupun ketika proses editing dilakukan. Pada saat inilah penulis dapat menemukan semua pikiran pokok, pikiran penjelas dan pikiran penunjang lainnya. Penemuan inilah yang memungkinkan penulis menemukan diksi-diksi penting yang dapat diikat menjadi judul. 

Proses pembacaan dan pemahaman setelah proses penulisan selesai merupakan bagian penting dari kegiatan menulis. Seorang penulis akan segera mengetahui hal-hsl yang menyimpang dari tulisannya sehingga dapat melakukan proses editing. Pada saat inilah, penulis dapat merumuskan judul yang tepat untuk tulisannya. 

Penulis memang mempunyai kewajiban untuk memberikan informasi efektif kepada sidang pembaca. Hal ini bertujuan agar sidang pembaca juga melakukan proses pembelajaran terkait informasi awal dari sebuah tulisan. Penulis mempunyai hak ubtuk memilih dan menentukan pilihan judul tulisannya, tetapi sidang pembaca yang menentukan keterbacaan tulisan tersebut. Oleh karena itu, penulis harus memahami psikologi sidang pembacanya. Artinya, seorang penulis harus dapat mengekspresikan idenya ke dalam judul tulisan sehingga pembaca dapat memahami arah tulisannya. Dan, penulis harus memperhitungkan kemampuan sidang pembaca dalam pemahaman psikologi tulisan.


Gembongan, 13 Agustus 2023
Mohammad Saroni
Penulis buku #personalbrandingguru


Jumat, 11 Agustus 2023

LANGKAH MENDISIPLINKAN DIRI UNTUK MENULIS


Kedisiplinan merupakan salah aspek penting untuk menggapai keberhasilan kegiatan. Setiap kegiatan mempunyai tujuan untuk mencapsi keberhasilan, maka kedisiplinan merupakan modal dasarnya.  Kedisiplinan  terkait dengan sikap hidup, yaitu disiplin.

Disiplin adalah ketaatan dan kepatuhan terhadap nilai-nilai yang diyakini merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya. Kedisiplinan diartikan secara bebas sebagai kondidi terkait ketaatan dan kepatuhan terhadap segala hal yang diyakini dapat mengkondisikan diri pada nilai-nilai positif dalam kehidupan. Terkait dengan kegiatan menulis, maka kedisiplinan menulis mengkondisikan kita untuk taat dan patuh terhadap segala aturan yang dipercaya dapat mendukung keberhasilan dalam kegiatan menulis. 

Kegiatan menulis adalah sebuah keterampilan yang untuk dapat memilikinya, maka harus melakukannya secara intens atsu terus menerus. Artinya, kita harus disiplin dalam melakukan kegiatan menulis agar dapat terampil menulis. Kegiatan yang kita lakukan secara berulang sangat memungkinkan bagi kita untuk menguasai teknik-tekniknya secara optimal. Oleh karena itu, para kampium akan terus berlatih dan berlatih untuk memiliki keterampilan yang optimal. Bukankah, semakin sering kita nelakukan, maka semakin kita menguasai segala hal?

Permasalahannya adalah ketidak stabilan emosi kita! Seringkali kita sangat bersemangat dalam bergiat, tetapi pada saat yang lain diterkam kemalasan yang sangat! Akibatnya ritme kegiatan amburadul dan berakibat pada penguasaan yang setengah-setengah. Kondisi ini tidaklah optimal untuk nendukung ketercapaian tujuan kegiatan. Oleh karena itu, kita harus membiasakan diri untuk melakukan secara intens setiap sesuatu yang ingin kita kuasai atau lakukan. Dalam konteks kita adalah keterampilan menulis. Kita harus membiasakan diri untuk menulis agar dapat terampil menulis. 

Berdasar pada pengalaman yang penulis jalani dan miliki, maka ada beberapa hal yang harus kita lakukan agar dapat disiplin menulis. Memang setiap orang berbeda cara untuk mendisiplinkan diri, tetapi setidaknya ini dapat menjadi tambahan untuk tujuan yang sama. Hal-hal yang penulis lakukan untuk mendisiplinkan diri dalam menulis adalah:
1. Memantapkan diri untuk menulis

Hal pertama yang harus kita lakukan adalah memantapkan diri untuk menulis. Ini adalah energi dan motivasi pertama yang harus kita tumbuhkan dan menjadi alasan menulis. 

Kemantapan diri untuk melakukan merupakan motivasi terbesar yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri. Motivasi ini merupakan latar belakang kita melakukan kegiatan. Dengan demikian, maka kita akan melakukan kegiatan dengan penuh tanggungjawab. Rasa tanggungjawab inilah yang sesungguhnya alat untuk mendisiplinkan diri untuk melakukan kegiatan secara optimal. Tanpa rasa tanggungjawab, diyakini setiap kegiatan tidak dapat optimal, bahkan sering menyebabkan kegagalan. 

Kita harus memantapkan diri untuk menulis sebelum kegiatan menulis kita lakukan. Cara ini untuk membangkitkan rasa tanggungjawab terhadap kegiatan yang kita lakukan. Setelah rasa tanggungjawab ini muncul, maka kegiatan menulis pasti mengalir lancar. 

2. Mengefektifkan waktu-waktu menulis

Setiap penulis atau orang yang ingin menulis, pasti mencari dan menentukan waktu yang tepat untuk menulis. Tidak sembarang waktu dapat dijadikan saat untuk menulis. Walau, sesungguhnya semua waktu dapat dijadikan saat untuk menulis. Tetapi, terkait dengan waktu menulis adalah kita harus benar-benar mengefektifkan waktu menulis. Artinya, jika kita dudah memutuskan menulis di pagi hari, maka kita harus konsisten dengan keputusan tersebut. Jangan mengabaikan keputusan yang sudah kita tentukan sendiri. 

Kita harus mengefektifkan waktu kita menulis dengan menentukan target-target menulis. Target-target menulis inilah yang akan mendisiplinkan kita dalam menulis. Kita harus memasang target agar waktu yang kita alokasikan untuk menulis dapat berhasil guna secara optimal. Untuk target penulisan dapat kita tentukan berdasar waktu ataupun jumlah tulisan. Jika berdasarkan pada waktu, maka kita dapat membuat kesepakatan diri untuk menulis selama waktu berapa, misal 30 menit atau bahkan 5 menit saja. Dan, selama kurun waktu tersebut, kita benar-benar menulis. 

Kita harus mengefektifkan waktu menulis sehingga setiap interval waktu menulis dapat menghasilkan tulisan sebagaimana program kita. Misalkan kita mengefektifkan berdasarkan waktu, maka pada batas waktu yang kita rencanakan sudah menulis semaksimalnya. Tidak ada waktu yang terbuang untuk kegiatan diluar kegiatan menulis. Begitu juga hslnya dengan pengefektifan berdasar jumlah tulisan, maka setiap kali proses menulis, kita selesaikan jatah menulis, misalnya 100 kata, 350 kata, 500 kata, dan yang lainnya. Dengan demikian, kita harus 'memaksa' diri untuk menuntaskan tulisan. Pemaksaan inilah yang diyakini dapat mendisiplinkan diri untuk menulis.

3. Membaca banyak buku

Menulis merupakan pasangan dari membaca. Setiap yang membaca, diawali dengan membaca. Setiap yang membaca, dilanjutkan dengan menulis. Kita dapat mengibaratkan bahwa membaca adalah sebagaimana kegiatan makan dan minum, dan menulis adalah sebagaimana kita BAB dan BAK. Apa yang terjadi jika kita hanya makan dan minum saja, tanpa BAB dan BAK? Apa pula yang terjadi jika kita hanya BAB dan BAK, tanpa makan dan minum?
I
Membaca adalah kegiatan memasukkan informasi ke dalam memori otak sehingga pengetahuan kita meningkat. Kita dapat mengetahui berbagai informasi dari proses membaca. Selanjutnya, semua informasi disimpan dalam memori kita. Lantas untuk apa informasi yang tersimpan tersebut? Tentunya, informasi tersebut dapat hilang dalam kurun waktu tertentu akibat keterbatasan kemampuan menyimpan dari otak kita. 

Menulis adalah kegiatan mengalirkan pengetahuan dan informasi dalam otak sehingga dapat diketahui oleh banyak orang. Kita memproyeksikan rekaman informasi yang mengeram dalam memori otak menjadi bentuk tulisan yang berwujud huruf dan angka. Informasi yang tersimpan di  dalam otak dialirkan keluar sehingga ruang penyimpanan di memori otak tidak membludak. Dan, otak selslu dalam kondisi segar atau fresh sehingga tidak mudah mengalami kebuntuan ataupun hang saat menulis. 

Kegiatan membaca yang dilakukan secara intens akan membangkitkan semangat menulis. Kita mendapat informasi yang semakin banyak dan mendorong kita untuk menulis. Kondisi ini akan berlangsung terus menerus setiap kali kita selesai membaca. Selalu ada keinginan untuk menulis dan menulis sehingga terciptalah sebuah kebiasaan menulis. Akan tercipta kedisiplinan menulis setiap saat. 

4. Membaca lingkungan

Lingkungan adalah tempat kita beraktifitas menjalani kehidupan. Ada banyak kejadian di lingkungan sekitar kita. Kejadian -kejadian itu dapat menjadi sumber atau ide menulis. Kita menangkap satu atau dua idemuntuk diikat dalam bentuk tulisan. Demikian secara terus menerus kita lakukan sehingga kita terbiasa untuk menulis.

Seorang penulis seharusnya banyak membaca segala kejadian yang ada di lingkungannya. Dengan demikian, selalu ada bahan untuk dituliskan. Bahan itulah yang selanjutnya kita sebut sebagai ide tulisan. Ketika kita melihat seorang nenek yang melangkah tertatih, itu adalah bahan atau ide tulisan. Ketika kita melihat seorang anak menangis saat menginginkan es cream tetapi tidak dibrlikan sang ibu, itu adalah bahan atau ide tulisan. Dan, masih banyak lagi hal-hal kejadian di lingkungan yang dapat dijadikan bahan atau ide menulis.  Begitu banyaknya bahan, maka kita akan terus menerus menulis sehingga dapat menjadi kebiasaan kita. Jika sudah menjelma menjadi kebiasaan, berarti kita sudah disiplin dalam menulis. 

Membaca lingkungan memang dapat menambah informasi atau pengetahuan dalam memori otak kita. Hal ini akan menyebabkan pengaliran informasi yang tiada hentinya untuk dituliskan. Kita tidak akan berhenti menulis sebab materi yang akan ditulis tidak pernah habis. Materi tulisan kita dapatkan dari hasil membaca lingkungan kita. Kita mendisiplikan diri untuk menulis dengan membaca lingkungan tempat tinggal kita. 

5. Berinteraksi dengan komunitas

Siapa dirimu dapat dilihat dari siapa temanmu. Ini adalah pendapat yang sudah menjadi pegangan semua orang untuk memberi label pada seseorang. Hal ini didukung oleh sebuah pepatah lama yang buminya kita-kita sebagai berikut, ala bisa karena biasa. Seseorang dapat melakukan sesuatu karena dia terbiasa melakukannya. Dan, kebiasaan itu terbentuk sebagai hasil dari komunikasi dan interaksi dengan lingkungan. 

Pada saat kita berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan, maka terjadilah friksi atau gesekan diri. Gesekan diri ini meliputi gesekan fisik dan psikis. Gesekan fisik dapat berwujud pertentangan-pertentangan fisik ataupu ssemua yang terkait dengan fisik. Sedangkan, gesekan psikis lebih terpusat pada gesekan karakter dan kemampuan. 

Salah satu lingkungan yang diyakini dapat memberikan pengaruh adalah sebuah komunitas. Komunitas adalah sekumpulan orang yang berada di dalam lingkungan dengan kegiatan yang sama. Karena kira membahas tentang kedisiplinan menulis, maka komunitas yang kita maksudkan adalah komunitas menulis. Di dalam komunitas menulis, semua orang yang ada mempunyai kegiatan yang sama, yaitu menulis. 

Untuk mendisiplinkan diri dalam kegiatan menulis, maka sudah seharusnya berinteraksi dengan orang-orang yang aktif bergiat dalam menulis. Oleh karena itu, kita dapat bergabung dengan komunitas menulis sehingga dapat terbawa arus untuk terus menulis. Jika kita setiap saat berinteraksi dengan mereka, maka  suasana dan kondisi akan mempengaruhi setiap orang di sekitar atau di dalam komunitas tersebut. 

6. Bergabung dengan kegiatan menulis antologi bersama

Menulis itu kegiatan pribadi sebab merupakan respon diri terhadap kondisi atau situasi yang terjadi di lingkungan penulis. Setiap orang pasti memberikan respon terhadap setiap kondisi atau situasi yang terjadi di lingkungannya. Tetapi, tidak semua orang menangkap dan mengikatkan responnya dalam bentuk tulisan. Sehingga, kegiatan ini dapat dikatakan sebagai kegiatan personal tetapi tidak dapat mengabaikan keberadaan orang-orang di sekitarnya.

Untuk dapat mendisiplinkan diri dalam kegiatan menulis, maka kita harus bergabung dengan lingkungan yang secara aktif melakukan kegiatan menulis. Salah satu bentuk kegiatan menulis yang sering dilakukan adalah nenulis bersama. Menulis antologi, baik antologi tunggal atau rame-rame merupakan salah satu cara untuk mendisiplinkan diri. Hal ini karena dalam menulis antologi, kita dibatasi oleh tema dan waktu penyelesaian. Ada istilah DL yang memaksa kita untuk segera menyelesaikan tulisan kita.

Pada saat kita bergabung dengan penulis lain untuk menyusun antologi, maka kita dihadapkan pada keharusan untuk menulis sesuai aturan dan waktu yang disediakan. Batasan waktu inilah yang memaksa kira untuk secara intens mengikat ide dalam brntuk tulisan. Semakin banyak kegiatan antologi yang kita ikuti, semakin banyak tulisan yang harus kita tulis. Semakin banyak tulisan yang kita tulis, maka semskin sering kita menulis. Frekuensi dan kuantitas.kita menulis akan mengkondisikan kedisiplinan kita dalam kegiatan menulis. 

Oleh karena itu, agar kita dapat disiplin dalsm menulis, maka kita harus mengikuti kegiatan menulis secara intens. Hal ini agar kita terbiasa menulis dan terkondisikan untuk selslu siap dan sigap menulis.


Upaya untuk mendisiplinkan firi dalam kegiatan menulis sangat tergantung pada motivasi inert dari seorang penulis. Kegiatan menulis dapat disiplin jika ada kesadaran dari dalam diri untuk secara terus menerus, disiplin menulis. Dan, beberapa langkah yang penulis ungkapkan di atas merupakan pengalaman pribadi penulis. Anda dapat saja mengambil langkah-langkah tersebut untuk meningkatkan kedisiplinan dalam menulis. Semoga dapat menjadi salah satu acuan untuk pengrmbangan krmampuan menulis. 



Gembongan, 12 Agustus 2023
Mohammad Saroni
Penulis buku #Sertifikasikeahliansiswa

Senin, 07 Agustus 2023

MARI MENGELOLA IDE/GAGASAN

Ide/gagasan merupakan aspek penting dalam proses menulis. Ide/gagasan ini merupakan sumber atau bahan yang akan ditulis. Setiap penulis melakukan kegiatan menulis berdasar pada ide atau gagasan ini. Bahkan, tidak sedikit penulis yang menjadikan ide/gagasan sebagsi kambing hitam ketika mengalami kesulitan saat menulis, misal saat mengalami writer's block ataupun saat tidak bersemangat menulis. Mengapa tidak menulis? Tidak ada ide/gagasan! Begitulah salah satu tanya jawab yang mengkambing hitamkan ide/gagasan.

Terkait dengan kondisi tersebut, maka ada pertanyaan yang harus kita jawab, yaitu apakah ide itu harus dicari atau ditunggu kedatangannya? 

Ise/gagasan dalam kegiatan menulis adalah segala hsl yang berada di sekitar kita, bahkan dalam diri kita yang melintas ataupun berkecamuk dalam otak kita. Ide/gagasan yang berkecamuk dalam otak pada umumnya merupakan respon terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di sekitar kita. Kondisi tersebut terekam otak kita dan tersimpan dalam memori yang setelah mengalami pengendapan memberontak untuk diungkapkan sebagai bentuk respon terhadap kehidupan. Ini merupakan kesadaran diri untuk  merespon dan memberikan  upaya untuk memberikan pemahaman terhadap orang-orang. Kita berusaha menunjukkan kepada orang lain tentang tanggapan atau respon terhadap situasi dan kondisi. Ide/gagasan ini sebenarnya sudah mengeram dalam otak sehingga siap untuk dituliskan, tetapi tergantung pada niat dan semangat menulis.

Sementara itu, ide yang melintas di labirin otak secara temporer merupakan ide/gagasan yang berseliweran di sekitar kita dan tertangkap atau terjebak di ruang labirin otak serta kita ingin menuliskannya atau mewujudkannya. Ide/gagasan jenis inilah yang sering menjadi kambing hitam kebuntuan dalam kegiatan menulis, bahkan keengganan melakukan kegiatan menulis. Banyak penulis ataupun bakal calon penulis yang menyampaikan alasan tidak menulis karena tidak mempunyai ide yang dituliskan. Pikirannya zonk ataupun blank sehingga tidak ada yang dapat dituliskan. 

Apakah ide/gagasan harus dicari atau ditunggu kedatangannya?

Ayo kita menulis!
Sebentar, menunggu ide/gagasan datang!
Emang kemana ide/gagasannya?
Sedang keluar kota!
Menunggu sampai kapan,?
Sampai ide/gagasan datang!
Kspan datangnya?
Tidak tahu!

Ini merupakan percakapan tanya jawab untuk memulai proses menulis. Seseorang mengatakan bahwa dia menunggu kedatangan ide/gagasan untuk menulis. Dalam konteks ini, ide/gagasan itu seperti tukang bakso atau tukang pangsit yang mendorong gerobak dagangnya menuju ke kita. Lantas, kita menghentikannya untuk menikmati dagangan tersebut. Menulis itu adalah kenikmatan untuk nengungkapkan ide/gagasan yang berupa pulse-pulse respon diri terhadap sekilas kejadian dalam kehidupan. 

Ide/gagasan ini melintas setiap saat di pikiran kita. Lintasan-lintasan ini terkadang begitu cepat pergerakkannya, tetapi ada yang lambat dan berkali-kali melintas. Dan, jenis ide/gagasan yang direspon adalah yang melintas lambat dan berkali-kali melintas. Ide/gagasan ini seperti burung merpati yang bersikap jinak kepada kita tetapi tidak mudah untuk menangkapnya. Tidak mudah menangkap merpati yang berkeliaran di sekitar kita. Begitulah gambaran yang dapat kita ilustrasikan pada kegiatan menulis. 

Seringkali kita merasa siap menulis sesuatu berdasarkan ide/gagasan yang tertangkap oleh otak kita, tetapi pada saat hendak menulis, ternyata ide/gagasan tersebut lepas. Akhirnya, kita hanya duduk tepekur di depan laptop atau layar HP. 

Sejatinya, kita tidak perlu menunggu ataupun mengejar ide/gagasan untuk dituliskan. Seperti penjelasan di depan, ide/gagasan itu berseliweran di sekitar kita dan kita tinggal menangkap serta mengikatnya dalam bentuk tulisan. Ide/gagasan akan datang ke kita dan harus segera diikat dalam bentuk tulisan. Kita ambil satu ide dan mengikatnya dalam tulisan. Dengan cara ini, maka kita dapat melakukan kegiatan menulis lebih efektif.  

Apa yang harus dilakukan pada saat ide/gagasan sudah ada?

Ide/gagasan itu sejatinya sudah ada di dalam pikiran kita. Tetapi, seringkali kita memanjakan diri sehingga ide/gagasan tersebut bermalas-malasan/ tidur nyenyak. Oleh karena itu, kita harus segera membangunkannya agar dapat dituliskan. Kita harus melecut ide/gagasan tersebut sehingga bangun dan berkembang menjadi kalimat, paragraf, dan tulisan seutuhnya. 

Jika ide/gagasan sudah muncul dslam pikiran, apa yang harus kita lakukan? Untuk hal ini, kita dapat melakukan beberapa langkah, yaitu:

a. Mengikatnya dalam catatan kecil

Ide hadir sewaktu-waktu. Kita tidak pernah tahu kapan waktunya. Dan, kehadirannya seringkali hanya selintasan sehingga seringkali pula lepas dari eksekusi kita. Akibatnya, ide tersebut menguap tanpa sempat kita ikat dalam bentuk tulisan. Hal tersebut terjadi karena kita hanya mengandalkan daya ingat kita, yang kita sudah tahu sangat terbatas. Daya ikat memori kita sangat terbatas sehingga dalam kurun waktu tertentu dapat hilang, terlupakan. Akibatnya, kita kehilangan bahan tulisan. Oleh karena itu, agar ide yang muncul tidak lepas, terlupa.

Untuk menghindari terlepasnya ide akibat kemampuan memori yang lemah, maka kita dapat mengatasinya dengan selalu membawa potongan-potongan kertas dan menyimpannya di saku dan alat tulis. Setiap kali kita mendapatkan ide, maka segera kita tuliskan di lembaran kecil kertas tersebut. Walau mungkin tidak dapat menulis secara lengkap, setidaknya kita sudah mengikat ide dasarnya. Ide dasar inilah yang selanjutnya kita kembangkan menjadi tulisan lebih lamjut. Kita harus meyakini bahwa satu kata ysng kita tuliskan akan memancing kata-kata yang.lsin untuk dituliskan sehingga menjadi sebuah tulisan yang lengkap. 

b. Mengikat dalam outline

Outline dapat dijelaskan sebagai bentuk kerangka tulisan yang mengikat ide dalam pikiran-pikiran pokok dan penjelas. Pikiran pokok dan penjelas inilah yang menjadi acuan menuliskan ide. Outline merupakan bagian penting sebab akan menjadi kerangka dari bangunan tulisan yang akan ditulis oleh penulis. 

Ide yang sudah kita ikat di potongan kertas kita kembangkan sesuai dengan aspek-aspek terkait ide tersebut. Dengan demikian, maka alur tulisan sudah nampak arahnya. Hal ini juga diharapkan dapat menjadi koridor penulisan sehingga tidak terjadi pembengkakan dan kebablasan dalam menulis. Efektivitas kerja menulis lebih dapat dicapai sehingga tulisan benar-benar bernas dan tidak bertele-tele.

Penulis harus dapat mrnyudun outline untuk setiap ide yang dimilikinya. Penyusunan outline merupakan aspek penting dalam mengelola ide dan keterampilan menulis.

c. Segera menuliskan pengembangannya

Selanjutnya, setelah ide diikat dalsm sebuah outline, maka penulis harus mengembangkan ide menjadi tulisan yang diinginkannya. Ini merupakan langkah eksekusi terhadap ide. Walaupun, sesungguhnya setelah diikat dalam outline, kemukiman lupa dapat dikurangi ataupun dihindari, tetapi kadang ada tulisan yang terkait dengan waktu. Ada masa kadaluwarsa untuk ide yang ditulis.  Untuk jenis-jenis ide seperti ini, maka kecepatan menuliskan ide sangat berarti bagi tulisan tersebut. 

Dan, yang sering terjadi pada.kita adalah semangat menulis yang labil. Kadang kita sangat bersemangat menulis, tetapi tidak jarang kita begitu malas untuk menulis. Tujuan kita segera menuliskan setiap kali ada ide adalah untuk mengantisipasi kondisi tersebut. Seringkali kita terjebak pada situasi seperti ini sehingga ide tulisan, bahkan sebuah tulisan terbengkalai karena kita diserang virus kemalasan. Kita kehilangan aemangat untuk melanjutkan proses menulis, tetapi bukan semata karena writer's block. Kita tidak mengalami kebuntuan untuk mengalirkan kata- kata, tetapi kita merasa malas untuk menulis. 

Oleh karena itu, kita harus segera mengeksekusi ide tulisan dengan mengembangkan ide dalam berbagai aspeknya. Dengan demikian, maka ide dapat dikelola secara holistik.

Begitulah kira-kira yang dapat kita lakukan untuk mengelola ide/gagasan yang sudah kita miliki sehingga dapat diwujudkan dalam brntuk tulisan. Sekiranya kita dapat melakukan hal tersebut, maka produktivitas menulis kita dapat didongkrak naik. Banyak tulisan yang kita hasilkan dalam waktu yang singkat dan tentunya jika dinilai dari aspek finansial, daat menambah penghasilan.

Selamat mengelola ide/gagasan sehingga keterampilan menulis dapat meningkat dan meningkatkan produktivitas menulis.

Salam literasi!!


Gembongan, 11 Agustus 2023
Mohammad Saroni
Penulis buku #personalbrandingguru

Jumat, 04 Agustus 2023

TIPS MENJAGA KEAJEGAN MENULIS



Setiap kegiatan yang kita lakukan seharusnya dilakukan secara ajeg dan terus menerus. Hal ini karena akan berdampak pada penguasaan dan pemahaman optimal pada inti kegiatan. Seperti orang yang sedang menggali sumur, maka penggalian harus dilakukan secara ajeg dan terus menerus untuk menemukan sumber air. Sumber air adalah inti dari proses penggalian sumur. Apa jadinya jika penggali sumur melakukannya secara tidak ajeg dan terus menerus? Pasti yang didapatkan hanyalah lubang-lubang di sana-sini, tanpa ada sumber airnya. 

Begitu juga halnya dengan kegiatan menulis. Seorang penulis yang tidak ajeg dan terus menerus melakukan kegiatan menulis, pasti akan mengalami kesulitan menyelesaikan proyek tulisannya. Mereka dapat saja mengalami writer's block pada awal menulis, pertengahan, dan akhir penulisan. Sudah berusaha menulis dengan duduk berjam-jam di depan laptop atau komputer, tetapi tidak satupun tulisan berhasil dikerjakannya 

Mengapa seorang penulis mengalami writer's block salah satunya karena kurang ajegnya penulis melakukan kegiatan menulis. Hal ini menyebabkan sistem sirkulasi aliran kata mengalami gangguan, tersendat-sendat. Keajegan itu adalah rutinitas dari sebuah kegiatan. Oleh karena itu, kita harus melakukannya secara terus menulis sebagai bagian kegiatan yang tidak lepas dari kehidupan kita.

Lantas, bagaimana caranya agar keajegan menulis kita dapat terjaga dan produktivitas menulis tidak mengalami kemerosotan? Berikut langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk menjaga keajegan menulis, yaitu:.
1. Komitmen
Untuk menjaga keajegan menulis, maka penulis harus membuat komitmen, dengan diri sendiri ataupun dengan pihak lain terkait produk tulisan, misalnya media massa ataupun penerbit. Komitmen ini sangat penting sebab dapat menjadi pemicu semangat menulis. 

Komitmen merupakan kesepakatan yang dibuat untuk mencapai kondisi tertentu dari proses menulis. Kita harus membuat kesepakatkan-kesepakatan yang dapat memicu semangat menulis. Semangat menulis sangat nenentukan keajegan kita dalam menulis. Semakin kita bersemangat menulis, maka semakin ajeg kita menulis atau menghasilkan karya tulis. Komitmen ini akan selalu menjadi pengingat dan penyadar kita bahwa ada hal-hal yang harus kita tuliskan dan tuntaskan. 

Komitmen dapat kita artikan sebagai perjanjian yang harus kita lakukan untuk mencapai kondisi harapan. Kita berjanji pada diri kita atau pihak ketiga untuk secara cepat dan tepat waktu dalam menyelesaikan tulisan. Kota juga dapat bersepakat terkait produktivitas tilisan untuk setiap waktunya. Dengan demikian, maka keajegan dalam kegiatan menulis dapat tetap terjaga.

2. Konsisten

Konsisten merupakan ketetapan hati ubtuk melalukan kegiatan. Seorang penulis harus konsisten dengan hal yang sudah disepakatinya dan mewujudkannya dalam kegiatan nyata. Hal ini dapat terjadi karena penulis memahami manfaat dan cara mewujudkan kesepakatan yang sudah dibuatnya. 

Konsistensi sangat penting untuk mendukung keberhasilan komitmen yang sudah dibuat oleh penulis. Seorang penulis yang konsisten pasti akan newujudkan segala komitmen yang sudah dibuatnya sedemikian rupa sehingga dapat mencapai tujuan kegiatan. Keberhasilan mencapai keberhasilan merupakan goal atau tujuan yang disepakati sejak awal kegiatan menulis. 

Konsistensi seorang penulis dalam melaksanakan segala kesepakatan dalam kegiatan menulis sangat menentukan keberhasilannya. Hal ini karena, orang-orang dengan konsistensi tinggi adalah mereka yang siap bekerja keras dan pantang menyerah mewujudkan hasil optimal kegiatan. 

3. Konsekuen

Konsekuen dapat diartikan sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban terhadap kesepakatan yang sudah dibuat oleh penulis. Konsekuen merupakan satu katakter penting yang harus dimiliki oleh aeorang penulis agar ada pertanggungjawaban jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkari pada tulisan yang dikerjakan. 

Karakter ini diyakini dapat meningkatkan keajegan kita dalam kegiatan menulis. Seorang penulis memang harus siap bertanggungjawab terhadap kesepakatan yang sudah dibuatnya untuk kelancaran kegiatan menulisnya. Jika sejak awal sudah disepakati bahwa waktu yang dibutuhkan untuk menulis adalah satu jam, maka penulis harus konsekuen dan menyelesaikan tulisan dalam waktu satu jam. Tidak boleh melebihi waktu yang sudah disepakatinya. 

Setiap kegiatan yang kita lakukan pasti membawa dampak terhadap diri dan kegiatan kita. Oleh karena utu, seorang penulis garus diap bertanggungjawab terhadap segala hal yang berhubungan dengan kesepakatan yang sudah dibuat 


Seorang penulis harus menjaga keajegannya salam proses menulis. Keajegan ini akan menjaga produktivitas penulis dalam menghasilkan tulisan. Ketiga aspek ini sangat penting bagi keberhasilan proses menulis. Oleh karena itu, seorang penulis harus dapat bergiat secara optimal 


Gembongan,  7 Agustus 2023
Mohammad Saroni
*Penulis buku Orang Miskin Harus Sekolah

Rabu, 02 Agustus 2023

MANAJEMEN MENULIS AGAR OPTIMAL MENULIS


Menulis merupakan salah kegiatan hidup untuk mengembangkan kemampuan dasar calistung. Setiap orang pasti dapat menulis, tetapi menulis efektif dengan didasari ide atau gagasan sehingga orang lain dapat memahami tidak semua orang dapat melakukannya. Tetapi, kegiatan menulis bukanlah sesuatu yang sulit untuk dikuasai. Hal ini karena kegiatan menulis adalah sebuah keterampilan. Seseorang yang dapat menulis dikatakan sebagai orang yang terampil menulis. 

Sebagai sebuah keterampilan, maka sejatinya setiap orang dapat mempunyai kemampuan untuk menulis. Keterampilan itu merupakan sebuah kemampuan yang dimiliki seseorang karena proses berlatih yang intens. Seseorang terampil melakukan sesuatu karena secara intens melakukan latihan-latihan terkait keterampilan tersebut. Semakin sering berlatih, maka semakin terampil melakukan kegiatan. Begitu juga halnya dengan kemampuan menulis. Sebagai sebuah keterampilan, maka menulis juga membutuhkan latihan yang intens.

Berlatih dan berlatihlah terus

Seorang atlit tidak akan pernah membiarkan hari-harinya berlalu tanpa latihan. Setiap waktu yang dimilikinya akan dialokasikan untuk berlatih. Tidaklah heran jika setiap saat kemampuannya meningkat secara proporsional. Dia memang memasang program untuk berlatih sebab dia menyadari bahwa tanpa berlatih, maka kemampuannya dapat menurun. Terapi, jika dia berlatih secara intens, maka kemampuannya meningkat. Hal ini tidak berbeda dengan pisau  sebuah pisau akan semakin tajam kalau setiap waktu diasah. Tetapi, jika tidak diasah, maka dapat menjadi tumpul, bahkan rusak, berkarat. Begitu juga dengan kemampuan-kemampuan lainnya. Oleh karena itu, kita harus betlatih dan berlatih sepanjang waktu. 

Seorang penulis adalah sosok terampil yang mempunyai kewajiban untuk meningkatkan kualitas keterampilannya sehingga setiap proses menulis dilakukan secara cepat dan tepat. Secara teoritis, dia tidak akan mengalami hambatan pada saat menulis. Hal ini karena penulis sudah terbiasa untuk menulis. Dia sudah terbiasa merangkai kata-kata sehingga memberikan makna yang diinginkannya. Seorang penulis yang terampil dapat menyelesaikan proyek tulisan dalam waktu relatif singkat. Dengan kondisi ini, maka seorang penulis yang terampil sangat produktif menghasilkan tulisan.

Salah satu kunci keberhasilan menjadi seorang penulis adalah meningkatkan kemampuan secara berkelanjutan. Peningkatan kemampuan dilakukan melalui proses berlatih dan berlatih secara intens. Proses latihan bukan berarti sekedar menulis melainkan harus menulis produktif. Setiap saat, penulis harus menulis, baik itu tulisan pendek ataupun panjang. Dengan demikian, maka kemampuannya dapat meningkat secara proporsional. 

Di atas langit ada langit

Berlatih menulis akan menajamkan pikiran dan mempermudah pengaliran ide atau gagasan dalam pikiran. Kesadaran untuk berlatih merupakan bentuk pertanggungjawaban terhadap pengembangan diri. Penulis selalu berpikir bahwa kemampuannya masih terbatas dan masih banyak orang mempunyai kemampuan lebih. Bahwa, di atas langit madih ada langit. Jika ada seseorang mempunyai kemampuan pada level tertentu, sejatinya masih ada orang yang kemampuannya di level atasnya. 

Penulis harus menyadari bahwa banyak orang yang kemampuannya melebihi kemampuannya. Hal ini merupakan kondisi yang sangat merisaukan sebab merupakan saingan dalam proses kreatif menulis. Oleh karena itu, penulis harus dapat mengelola kegiatan menulisnya sehingga dapat mencapai tingkatan kemampuan tertinggi. Meskipun demikian, kesadaran pada kenyataan bahwa di atas langit masih ada langit merupakan rambu-rambu bahwa kita masihlah belum sempurna, belum benar-benar mampu menulis.

Dengan kesadaran ini, kita akan terus berusaha untuk meningkatkan kemampuan diri tidak terlalu jauh perbedaan level kemampuan kita.  Ini merupakan salah satu cara mengelola kegiatan menulis yang menjadi kemampuan diri. Kita memang harus selalu menyadari bahwa diri kita tetaplah sosok yang serba kurang. Tidak mungkin kita dapat melakukan banyak hal berbasis kemampuan diri sebab selalu ada orang lain yang lebih berkemampuan. Oleh karena itu, penulis akan terus meningkatkan kemampuan dirinya.

Jangan takut menulis

Untuk dapat menjadi penulis, maka kita haruslah dekat dengan kegiatan menulis. Kedekatan ini dapat berwujud berinteraksi dengan banyak penulis dan selalu melakukan kegiatan menulis. Ada orang mengatakan, siapa kamu dapat dilihat dari pergaulanmu, dengan siapa kamu berinteraksi. Artinya, jika kita bergaul dengan penulis,maka pada saatnya kita juga dapat menjadi penulis. Lingkungan akan membentuk sebagaimana situasi lingkungan tersebut. Hal kedua yang dapat dilakukan adalah melakukan kegiatan menulis secara terus menerus. Masalahnya adalah banyak orang yang takut untuk menulis!

Ketakutan untuk melakukan kegiatan menulis merupakan alasan utama sehingga seseorang tidak menulis. Mereka merasa bahwa tidak ada kemampuan menulis, kalaupun ada, tulisan mereka tidak layak untuk dibaca. Mereka takut orang lain menertawakan hasil tulisannya. Ketakutan ini mengerdilkan jiwa dan hatinya sehingga selalu takut untuk menulis. Banyak orang yang berlindung di balik kata ketakutan untuk menulis. 

Untuk menjadi seorang penulis, maka kita tidak boleh takut menulis. Kita harus melakukan kegiatan menulis setiap saat. Kita juga menulis apa saja yang ingin kita tuliskan. Apapun yang ada di dalam pikiran, kita tuliskan. Tidak perlu mencari-cari atau memikirkan apa yang harus kita tuliskan. Kita cukup menuliskan apa yang ada di dalam pikiran kita. Ini merupakan salah satu cara agar proses menulis dapat dilakukan secara optimal, baik dari sisi waktu ataupun kualitas dan kuantitas tulisan. 

Untuk menjadi seorang penulis, maka jangan pernah takut untuk menulis. Ketakutan menulis merupakan satu penghalang terbesar untuk menjadi penulis. Kita harus membuang jauh-jauh semua jenis ketakutan yang menghambat kegiatan menulis. Kita harus berani menuliskan segala hal yang ingin kita tuliskan. 

Jangan malas menulis

Kemalasan akan melahirkan kebodohan. Siapa yang malas melakukan kegiatan, sesungguhnya sedang menggali liang kuburnya sendiri. Hidup ini sangat dinamis sehingga jika ada yang malas, maka akan terlindas oleh laju dinamisasi kehidupan. 

Kegiatan menulis merupakan bagian dari kehidupan sehingga pun mengalami dinamisasi. Dinamisasi dalam kegiatan menulis juga terus berlangsung. Hal ini seringkali menjadi pemicu kemalasan seseorang untuk menulis. Bahkan, seseorang yang sudah terbiasa menulis dapat terserang kemalasan untuk menulis. Kegiatan menulis yang biasanya dilakukan dengan lancar tetapi karena kemalasan, maka kegiatan menulis tersendat dan terhenti. 

Kemalasan memang musuh utama seorang penulis. Kegiatan menulis itu kegiatan aktif sehingga jika ada kemalasan, maka ritme kegiatan menulis terganggu dan produktivitas menurun hingga berhenti menulis. Seorang penulis yang malas menulis merupakan pertanda bahwa ada permasalahan dalam dirinya. Oleh karena itu, penulis yang mengakam kemalasan harus segera melakukan introspeksi untuk mengobati permasalahan dirinya. Jika tidak segera dilakuan, maka kemalasan tersebut dapat membunuh kreativitas penulis, bahkan membunuh secara nyata.

Kirimkan tulisan ke media massa

Setelah proses menulis selesai dilakukan, apa yang harus kita lakukan terhadap karya tulis itu? Ini merupakan pertanyaan klasik yang sering ditanyakan oleh penulis, terutama penulis pemula. Jangan hanya disimpan di rak buku atau di dalam folder komputer. Kita harus mempublikasikan tulisan kita sehingga masyarakat dapat membaca dan memahaminya. Dengan demikian, maka manfaat dari isi tulisan dapat dinikmati oleh sidang masyarakat. 

Setelah kita menyelesaikan tulisan, maka kita kirimkan tulisan tersebut ke media massa. Pengiriman tulisan ini bertujuan untuk mengukur tingkat kemampuan menulis yang kita miliki. Media massa merupakan wadah bagi tulisan-tulisan untuk dinikmati dalam bentuk cetak ataupun file.  Pada media massa inilah kita mengukur tingkat keberhasilan menulis kita. Kita harus mengetahui bahwa sebelum karya tulis fimuat dalam media massa, tulisan tersebut harus singgah di meja redaktur untuk dikurasi kelayakannya dimuat. Jika redaktur menilai bahwa sebuah tulisan layak muat, maka tulisan tersebut akan tampil dalam edisi atau terbitan media tersebut. 

Begitulah langkah-langkah manajemen menulis yang dapat kita lakukan untuk kontinuitas atau keberlangsungan proses menulis. Pada sisi lainnya, ada kebahagiaan dan kebanggaan saat mengetahui karya tulis kita dimuat di media massa. Dan, hal tersebut merupakan api pemercik yang dapat membakar dan mengobarkan semangat menulis kita.


Gembongan, 7 Agustus 2023
Mohammad Saroni
Penulis# pendidikan untuk orang miskin