Sabtu, 27 Agustus 2022

PASAR, INSTITUSI PENDIDIKAN MASYARAKAT

Pasar adalah sebuah lingkungan tempat terjadinya transaksi jual beli. Pasar juga diartikan sebagai tempat interaksi dan komunikasi ekonomi penjual dan pembeli. Pembeli datang untuk mendapatkan barang kebutuhan hidupnya. Penjual mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan pembeli. Apalagi untuk pasar tradisional, interaksi dan komunikasi personal sangat kentara dan dapat kita temukan secara langsung.

Sebagai makhluk sosial, sudah menjadi takdir kita untuk bergantung pada orang lain. Kita tidak dapat menghadapi hidup dan kehidupan sendirian, berdasarkan kemampuan diri sendiri. Kita ini makhluk dengan berbagai keterbatasan di dalam kesempurnaan kita. Kita dapat melakukan banyak hal, tetapi tidak mampu menangani semuanya seorang diri. 

Dan, pasar menjadi ajang bagi kita untuk berkomunikasi menutup keterbatasan kita dengan memanfaatkan kemampuan orang lain. Pemanfaatan kemampuan orang lain untuk kepentingan kita, mungkin mengesankan kita plagiator. Tetapi, sesungguhnya demikianlah hidup ini. Kita saling berpengaruh dan mempengaruhi sehingga kehidupan tidak stagnan. Bukankah kita dapat belajar dimana saja?

Pasar sebagai sekolah masyarakat
Pasar sebagai tempat interaksi dan komunikasi personal, dimana masing-masing personal menyampaikan pendapatnya untuk dicapai kesepakatan bersama dan persetujuan. Ketika pembeli mendatang lapak penjual dan menyampaikan inginnya, maka penjual akan memberi informasi kepada pembeli. Jika ada ketidaksamaan, maka pembeli melakukan penawaran. Di sinilah terjadi interaksi dan komunikasi aktif. Mungkin butuh satu atau dua kali komunikasi dan didapatkan kesepakatan sehingga pembeli menyerahkan uang dan penjual menyerahkan barang. 

Apakah yang dapat kita simpulkan dari proses jual.beli tersebut?  Ya, pada saat kita berinteraksi dan berkomunikasi, pada saat itu kemampuan literasi kita terapkan. Kemampuan kita berbahasa, menjadi alat kita untuk berinteraksi dan berkomunikasi. Dengan bahasa yang kita terapkan dalam kegiatan tersebut, maka orang lain dapat mengerti, memahami komunikasi kita. Pada sisi lainnya, kita dapat melakukan proses perhitungan, terkait uang. Kita dapat menyatakan bahwa harga yang ditawarkan penjual harus kita tawar dengan harga yang lebih rendah dari penawaran penjual. Lantas, pada saat kita memberikan uang dan ada lebihan, maka dapat menghitung uang kembalian berdasarkan selisih harga jual dengan uang yang kita berikan.

Pasar adalah tempat belajar yang holistik. Kita dapat memperoleh banyak informasi di pasar, selain tentu saja tentang harga barang-barang. Mereka yang mengikuti pembelajaran di lingkungan pasar akan mendapatkan pengetahuan, nilai sikap, dan keterampilan aplikatif. Mereka tidak hanya menyimpan pengetahuan dan keterampilan tersebut, melainkan mengaplikasikannya dalam kehidupan.

Pasar adalah sekolah masyarakat. Oleh karena itu, sejatinya kita harus mempertahankan keberadaan pasar di lingkungan kita. Pasar, khususnya pasar tradisional adalah tempat kita belajar bermasyarakat. Pendidikan berinteraksi dan berkomunikasi menjadi muatan yang sangat penting, begitu juga pembentukan karakter. Di pasar kita dapat membentuk sikap welcome pada orang-orang yang berbeda. Kita juga dapat menerima berbagai perbedaan dengan lapang hati. Bagaimana perasaan pedagang jika ada pembeli yang menawar barang jauh di bawah harga standar? Mereka tetap tersenyum dan tidak marah. 

Begitulah pasar sebagai tempat pendidikan masyarakat.yang sangat aplikatif dalam kehidupan. Semoga keberadaannya tetap terjaga dan abadi.

Gembongan, 2 September 2022

MEMBENTUK KARAKTER DIRI

Karakter adalah seperangkat sifat batin yang mempengaruhi segenap pola pikir, perilaku yang direspon orang lain. Karakter yang kita maksudkan dalam hal ini adalah karakter yang melahirkan kekaguman dan penghargaan dari orang lain. Ini merupakan karakter positif. Kita tekankan pada karakter positif sebab masyarakat kita berdasar pada hukum positif. Semua yang positif harus dikembangkan sebagai nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai inilah yang harus kita tanamkan ke dalam hati agar menjadi personal branding. Orang dengan personal branding yang bagus akan mendapatkan reward dari masyarakat.

Sementara itu, karakter negatif adalah karakter yang harus dianulir dan diingatkan untuk tidak menjadi sifat kita. Karakter negatif adalah karakter yang tidak diinginkan masyarakat. Ada kecenderungan perlawanan masyarakat terhadap karakter negatif. Bahkan, mereka yang berkarakter negatif akan mendapatkan punnishment atau hukuman. Hukuman ini dapat berupa hukuman fisik dan hukuman psikis. 

Hukuman fisik terkait dengan fisik seseorang, artinya jika seseorang telah melakukan hal-hal negatif, yang bertentangan dengan hukum positif yang berlaku di masyarakat, maka mendapatkan hukuman yang setimpal. Hukuman fisik ini misalnya hukuman kurungan badan atau hukuman cambuk, dan yang lainnya. Hukuman ini terasa secara fisik 

Hukuman psikis adalah hukuman yang dilakukan dan berdampak pada psikis, kejiwaan seseorang yang terhukum. Karakter negatif akan mengalami hal tersebut sebagai konsekuensi kita makhluk sosial. Masyarakat menghukum kita secara psikis, misalnya diisolir dari pergaulan. Ini berdampak pada psikis kita. Dan masih banyak lagi bentuk hukuman terhadap karakter negatif.

Begitulah yang terjadi sebagai konsekuensi dari karakter diri. Sejatinya, tidak hanya karakter yang menuai konsekuensi dalam kehidupan ini. Semua hal dalam kehidupan ini menyimpan konsekuensi masing-masing. Terserah pada kita pilihan karakter atas diri kita. 

Lantas bagaimana kita harus bersikap dalam kehidupan ini?

Biasakan bertindak jujur
Jujur adalah salah satu sikap positif yang harus kita miliki dalam hidup. Sifat ini menunjukkan tentang integritas kita terhadap satu kondisi sesuai dengan kondisi yang ada. Kita tidak mencoba, melakukan upaya untuk mengingkari ataupun merekayasa kondisi demi kepentingan pribadi atau golongan.

Jujur itu adalah karakter diri yang mengedepankan kenyataan sebagai modalnya. Kita berpijak pada kenyataan dan tidak berusaha untuk merekayasa sesuai harapan kita. Kita tidak menutupi kenyataan selain kenyataan itu sendiri. Jika memang A, maka kita katakan A. Kita tidak merekayasa kondisi untuk keselamatan diri dan kelompoknya 

Kita harus belajar dan terus belajar untuk menciptakan sikap jujur dalam diri kita. Proses ini sangat panjang sehingga butuh waktu yang lama. Sepanjang hidup ada waktu yang tersedia untuk hidup lebih baik 

Ala bisa karena biasa. Jika kita terbiasa melakukan sesuatu, maka kita pasti bisa menuntaskan masalah yang terkait dengan kebiasaan yang kita lakukan. Oleh karena itu, agar karakter positif menjadi bagian integral dalam diri kita, maka biasakan untuk melakukan hal-hal yang positif. Semakin biasa melakukan hal yang positif, maka kebiasaan tersebut akan menjadi bagian integral diri kita. 

Bergaullah yang utama dengan kelompok positif
Pergaulan atau interaksi personal merupakan kewajiban bagi kita. Hal ini untuk menjaga eksistensi diri dalam pergaulan masyarakat. Dengan bergaul, maka orang akan mengenal kita, begitu juga sebaliknya. Hal ini merupakan isyarat bahwa kita ada di⁸ lingkungan masyarakat. 

Permasalahannya ada pada dampak dari pergaulan. Kita harus menyadari bahwa kondisi pergaulan di masyarakat adalah situasi yang dilematis. Hal ini karena akan melahirkan kebimbangan untuk menentukan siapa yang kita ajak berinteraksi. Kita harus dapat memilah dan memilih orang-orang yang kita jadikan teman. Kita tidak boleh terlalu pilih-pilih, tetapi juga tidak boleh membuka pintu diri seluasnya tanpa ada seleksi.

Siapa teman kita, begitulah kita. Mungkin pepatah ini tidak begitu benar. Tetapi, pada nyatanya banyak kenyataan bahwa siapa teman kita, begitulah kita. Orang-orang alim, umumnya bergaul dengan orang alim. Orang-orang yang kurang benar, biasanya bergaul dengan mereka yang kurang benar. Oleh karena itu, kita harus memposisikan diri untuk bergaul dengan orangorang positif agar kita tergolong orang positif.

Pengaruh lingkungan sangatlah besar terhadap diri kita. Orang yang baik dapat menjadi tidak baik jika selalu bergaul dengan yang tidak baik. Begitu pula sebaliknya, orang yang tidak baik dapat menjadi baik jika selalu bergaul dengan orang-orang baik. Pengaruh lingkungan itu seperti virus yang gampang menulari orang lain. Oleh karena itu selalulah bergaul dengan kelompok positif agar dapat menjadi orang positif.

Beranilah berkata tidak untuk hal negatif
Beranilah berkata tidak untuk hal-hal yang negatif. Ini merupakan gerbang pertama untuk memasuki diri kita. Dengan kata tidak yang kita sampaikan, maka hal negatif tidak masuk ke diri kita. 

Seringkali, mereka yang terjebak hal-hal negatif adalah karena tidak mampu berkata tidak untuk hal yang sesungguhnya tidak sesuai hatinya. Hal ini sangat penting bagi masa ke depan. Sekali kita tidak mampu mengatakan tidak, maka seterusnya akan terjadi. Seperti saat kita berbohong. Sekali kita berbohong, maka akan lahir bohong-bohong selanjutnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Satu kebohongan adalah pintu untuk kebohongan selanjutnya.

Tetapi dengan berani mengatakan tidak melakukan hal negatif, kita bertahan untuk berada pada sisi positif. Semakin berani, semakin kokoh pertahanan kita pada sisi positif. Oleh karena itu, jika ada yang mengajak kita melakukan hal-hal negatif, maka beranilah mengatakan tidak!

Katakan tidak untuk hal-hal negatif!

Gembongan, 29 Agustus 2022

Kamis, 25 Agustus 2022

BERGURU PADA KEHIDUPAN


Kehidupan adalah sekolah yang paling holistik. Kehidupan adalah sekolah yang sengguhnya sekolah. Hal ini karena 3 (tiga) aspek dasar pendidikan ada di dalamnya, afektif, kognitif, dan psikomotor. Bahkan, proses pembelajaran di kehidupan adalah aplikatif. Kita secara langsung belajar dan menerapkan hasil belajar tersebut.

Setiap saat kita menemukan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai positif dalam kehidupan. Pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai positif tersebut langsung kita terapkan dal8am kehidupan. Hal ini karena kita langsung berada dalam lingkungan hidup. Kita secara langsung berinteraksi, berkomunikasi dengan orang lain. Untuk dapat melakukan interaksi dan komunikasi, maka kita harus memiliki 3(tiga) bekal tersebut.

Belajar dari orang lain
Kita dikatagorikan sebagai makhluk sosil. Sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat mengabaikan orang lain. Keberadaan kita adalah karena adanya orang lain. Tanpa orang lain, kita tidak dapat melakukan apa-apa.

Oleh karena itu, kita harus berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Kita tidak dapat hidup sendiri. Walau pernah ada yang mencoba hidup sendiri, Robinson Crusoe, tetap saja tidak dapat. Tetap membutuhkan orang lain agar dapat menjalani hidup sebaik-baiknya.

Orang lain adalah guru kehidupan. Dengan memperhatikan orang lain, maka kita mendapatkan pengalaman dari yang dialami orang lain. Pengalaman tersebut menjadi energi untuk antisipasi jika negatif dan mengembangkan diri jika positif.  Pedulilah kepada orang lain agar kita mengetahui kebaikan dan keburukan sehingga kita dapat memilahnya untuk kebaikan hidup kita. 

Pedulilah pada orang lain
Kita tidak dapat hidup tanpa orang lain. Orang lainlah yang menyempurnakan kehidupan kita. Banyak hal yang tidak dapat kita lakukan sendiri, apalagi harus memenuhi sendiri. Perlu peran orang lain agar.kita dapat melangsungkan kehidupan.

Begitu pentingnya peran orang lain sehingga kita harus mempunyai kepedulian terhadap mereka. Kita berpedanan pada hukum timbal balik, jika kita melakukan sesuatu kepada orang lain, maka sebaliknya orang lain akan melakukan sesuatu untuk kita. Dengan mempedulikan orang lain, berarti kita memperkuat tali penghubung kausalik tersebut. 

Memang telah menjadi karakter dasar setiap orang bahwa jika mendapatkan perhatian dari orang lain, maka akan balik memperhatikan. Ada yang yang simbiosis mutualisme, parasitisme, dan komensalisme. Ini merupakan hukum alam yang mengikat kita. Setiap kita mengambil salah satunya untuk diri kita. Tetapi, konsep dasarnya tetap yaitu interaksi dan komunikasi dengan makhluk lainnya.

Orang lain atau masing-masing kita adalah guru dalam kehidupan. Kita adalah sosok-sosok yang dipercaya dan ditiru oleh orang lain untuk kehidupannya. Oleh karena itu kita berusaha untuk menampilkan hal terbaik dalam hidup kita. Hal ini juga terkait hukum positif yang diterapkan di masyarakat kita, bahkan seluruh dunia. Hukum positif menjadi pondasi dan latar belakang menjalani kehidupan. Sedangkan, yang negatif menjadi lawan yang harus dianulir dalam kehidupan ini. 

Kita memang harus belajar dari lingkungan untuk kehidupan yang lebih baik. Lingkungan akan mengajari kita bagaimana seharusnya menjalani kehidupan. Semakin kita berinteraksi dengan kehidupan, orang lain, maka semakin terbentuk afektif, kognitif, dan psikomotor kita.
 Selamat belajar

Gembongan, 27 Agustus 2022

Selasa, 23 Agustus 2022

MENYIASATI BERITA MEDIA

Perkembangan teknologi informasi sangatlah pesat. Dalam.kurun waktu yang relatif singkat, maka berbagai media informasi tumbuh menjamur. Setiap media memberikan layanan prima terkait pemberitaan dan berita yang tersebar di seluruh pelosok dunia.

Memang sudah menjadi kewajiban bagi media massa untuk menyampaikan berita kepada masyarakat. Untuk media lokal, mungkin obyek pemberitaannya di wilayah lokalnya. Setidaknya, media lokal dapat mengabarkan kejadian-kejadian di sekitar daerahnya, lokalnya sehingga masyarakat lokal mengetahuinya.

Dan, yang harus kita ketahui dan sadari bahwa media massa mempunyai tujuan untuk mempengaruhi sidang pembaca, masyarakat dengan berita yang disiarkan. Hal ini terkait dengan rating media di masyarakat. Semakin banyak orang yang tertarik, maka ratingnya semakin meningkat. Semakin meningkat rating, maka semakin banyak perusahaan yang tertarik untuk ikut memasang iklan. Dari sinilah salah satu sumber dana untuk operasional. 

Jika kita memperhatikan berita-berita yang dimuat oleh media massa, maka mereka berebut untuk menampilkan berita yang sedang viral di masyarakat. Hal tersebut ditambah bumbu-bumbu kata yang menarik, bahkan kontroversi pada judulnya. Begitu membaca judul, maka masyarakat tertarik untuk membaca secara tuntas. Walau kadang ternyata isi berita tersebut bombamtis, bahkan isapan jempol alias hoaks. Lantas, bagaimana kita menyiasati berita sehingga asupan informasi kita benar-benar sehat?

Baca tuntas beritanya
Pada saat kita membaca berita, bacalah secara tuntas. Jangan membaca selintasan, separuh, atau tidak tuntas. Hal ini mengakibatkan informasi yang kita dapat setengah-setengah. Informasi yang setengah-setengah sangat riskan terjadinya kesalahpahaman. Seringkali hal ini ditumpangi pendapat pribadi. Subyektivitas respon, tanggapan, dan penyampaian lebih kuat.

Berita itu rangkaian kata, kalimat, dan paragraf yang mengandung informasi tentang sesuatu, baik tertulis maupun lisan. Sesuatu itu adalah kejadian yang ada di sekitar kita, bahkan jauh di negeri seberang. 

Bacalah berita, informasi dari kata pertama hingga kata terakhir. Jika hal ini kita lakukan, maka isi berita, informasi dapat kita serap dan simpan dalam memori otak. Pada saat kita membaca secara tuntas, maka inti sari dari berita, informasi menjadi milik kita. Dengan demikian, maka kita menjadi tahu berita, informasi tersebut. Oleh karena itu, bacalah berita, informasi secara keseluruhan. Jangan memilih dan memilah bagian berita untuk dibaca. Bacalah semuanya!!

Pahami inti dari berita, informasi
Seringkali kita mendapati kenyataan terjadi salah persepsi, salah pengertian terhadap berita yang kita baca. Hal ini terjadi karena kita membaca berita, informasi secara selayang pandang. 

Pada beberapa orang, memang ada yang mempunyai kebiasaan membaca sepanjang pandang. Orang-orang seperti ini melakukan pembacaan cepat sehingga dibutuhkan waktu sedikit untuk membaca.

Sebuah berita, informasi bagian yang penting adalah intinya. Sebenarnya hal ini berlaku untuk semua hal dalam kehidupan kita. Inti adalah bagian terpenting yang dapat memberikan hal.baru bagi kita. Pada saat membaca berita, informasi, kita harus mengikat intinya sebagai perumusan kegiatan membaca. Kita serap setiap kata, kalimat, dan paragraf serta mengikatnya sebagai hasil kegiatan membaca.

Setiap kali kita membaca, maka menyerap inti berita, informasi merupakan inti kegiatan membaca. Seseorang dapat dikatakan sudah membaca berita, informasi jika sudah mengetahui inti permasalahan atau berita, informasinya. Oleh karena itu, kita harus memahami inti berita, informasi pada saat membaca dan setelah membaca.

Inti dari berita merupakan perumusan kita terhadap berita. Perumusan yang kita maksudkan dalam hal ini adalah terkait dengan isi berita.

Resapi dalam-dalam sebuah berita
Orang yang bijak adalah orang yang setelah membaca lantas mengendapkan isi berita sebelum menyampaikan respon terhadap berita tersebut. Ini merupakan ajakan yang sangat bagus untuk mengurangi terjadinya kesalahpahaman terhadap sebuah berita. 

Kita harus meresapi setiap berita, informasi sedemikian rupa sehingga respon yang kita berikan betul-betul obyektif. Obyektifitas ini sangat penting sehingga dapat memberikan kejelasan atas berita yang kita baca. Jika respon kita positif, maka ungkapan kita dapat mendukung secara positif terhadap berita, informasi tersebut. Jika respon kita negatif, maka ungkapan kita tidak menjatuhkan secara vulgar berita tersebut. Ini merupakan nilai kesopanan dalam berkomunikasi.

Begitulah hal yang harus kita lakukan untuk menyiasati berita, informasi yang kita dapat, kita baca dari media massa. Jangan sampai kita terjebak dalam lingkaran hoaks sebuah berita sehingga kita ikut membesarkan berita hoaks. Jangan sampai terjadi.


Gembongan, 26 Agustus 2022

Senin, 22 Agustus 2022

TRANSFER ENERGI LITERASI

Bahwa, sesungguhnya segala hal dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Artinya, kita dapat memberikan energi kepada orang lain dan sebaliknya orang lain dapat memberikan energi kepada kita. Proses perpindahan dapat terjadi melalui media pengantar, konduktor beragam rupa. Misal, kita dapat mengalirkan energi dengan sentuhan kulit. Air dapat juga kita jadikan media untuk pengaliran energi. Bahkan, kita dapat juga mengalirkan energi dengan udara. 

Setiap kegiatan yang kita lakukan sebenarnya merupakan proses pengaliran atau pemindahan energi. Hal ini karena pada setiap kegiatan pasti terkait dengan energi. Baik itu menyerap energi ataupun memancarkan energi. Misalnya, pada saat kita bersepeda kita memancarkan energi untuk memutar pedal agar sepeda dapat melaju. Pada saat yang sama, kita menghirup oksigen untuk menghasilkan energi dari dalam diri kita.

Dalam dunia literasi, transfer energi juga sering terjadi. Kontinuitas kegiatan literasi adalah karena adanya energi yang terus meletup-letup. Energi ini terus bergejolak di setiap pegiat literasi. Dengan berapi-api, para pegiat mencoba untuk mentransfer energi dirinya ke orang-orang di sekitarnya. Tujuannya adalah agar orang-orang teracuni semangat literasi. Sebuah komunitas literasi dapat bertahan dan berkembang karena adanya saling transfer antar dan antara.pegiatnya.

Pentingnya Energi Literasi

Kegiatan literasi adalah kegiatan abadi. Sepanjang hayat dikandung badan, kegiatan literasi tidak akan hengkang dari kehidupan seseorang, kita. Sejak kita masih kecil, bahkan di dalam kandungan, kegiatan literasi sudah diperkenalkan kepada kita. Dan, proses tersebut berlangsung sepanjang hidup kita.

Proses yang terus berkelanjutan ini pada akhirnya menuntut untuk menyediakan energi yang sangat besar. Jika tidak, maka kita akan patah di tengah perjalanan proses literasi. Kita akan kehabisan energi sebelum kita sampai pada titik puncak literasi yang kita harapkan. Kegiatan literasi itu ibarat lari marathon, panjang dan lama sehingga harus berbekal energi yang cukup sehingga dapat sampai pada garis finish. Jika kita kehabisan energi di tengah proses, maka kita dapat terkapar.

Pada saat kita menekuni proses terkait literasi, terutama menulis, kita membutuhkan energi yang sangat besar. Hal ini karena kegiatan literasi tidak hanya butuh energi fisik tetapi juga energi psikis. Dua energi secara langsung diterapkan pada saat bergiat literasi. Kondisi inilah yang menyebabkan cepatnya kedatangan kelelahan. Oleh karena itu perlu adanya transfer energi dari orang lain.

Bahwa energi yang kita miliki sesungguhnya berasal dari orang lain dan dari dalam diri sendiri. Kita dapat memperoleh energi yang memendar dari orang lain sehingga mematik energi yang ada di dalam diri kita. Energi yang memendar itu kita hisap dan bersatu dengan energi yang ada dalam diri kita. Perpaduan tersebut menggelorakan semangat diri sehingga berkobar-kobar lagi. 

Dalam kegiatan literasi, energi yang.kita dapatkan dari orang lain dapat berupa karya-karya mereka atau gesekan karena bersama dalam satu aktivitas. Pada saat kita kehilangan energi, maka kita dapat mengisinya dengan membaca buku-buku. Energi yang tersimpan dalam kata-kata isi buku akan mengisi pundi-pundi semangat kita. Begitu juga saat kita bersama dengan orang lain dalam aktivitas tertentu. Kebersamaan tersebut akan menggesek semangat masing-masing sehingga berkobar. 

Saat membaca buku, energi yang dituliskan sang penulis memasuki otak kita dan menstimulus syaraf sehingga mengikuti inti dari buku. Kita mengikuti setiap hipnotis kata dari sang penulis. Hal ini membangkitkan semangat kita untuk menulis kata-kata yang menghipnotis orang lain lagi. Kita sarikan rangkaian kata sang penulis dan menuliskannya lagi sebagai hasil pencerahan kita. Dengan demikian, maka energi terus bergelora untuk menghasilkan karya-karya selanjutnya. 

Saat kita bergiat dalam satu aktivitas dengan orang lain, maka semangat mengikuti kegiatan merupakan sumber energi kita. Kita mencuri energi mereka dan mencampurkannya dengan energi dalam diri kita. Misalnya kita menjadi narasumber dalam sebuah acara bersama, maka energi peserta yang meluap-luap merupakan pendorong energi dalam diri kita. Energi dalam diri kita bangkit dan ikut bergelora pada saat mendapat semangat peserta yang bergelora. Berbeda jika peserta kegiatannya tidak bersemangat, narasumber pasti kehilangan semangat. Oleh karena itu, pada kegiatan-kegiatan seperti ini selalu diterapkan ice breaker saat ditengarai peserta kehilangan semangat.

Kehidupan kita tidak memberikan keluasan bagi kita untuk sendiri. Kita harus berinteraksi dengan orang lain agar kehidupan kita tidak mengalami hambatan. Dan, kita harus meyakini bahwa interaksi personal tersebut merupakan cara kita mengelola energi. Artinya, dengan interaksi tersebut kita saling mengisi energi. Setiap orang mencoba untuk memberikan energi kepada orang lain agar interaksinya lancar. Begitu juga dalam kegiatan literasi, kita saling memberi energi sehingga tidak ada yang kehabisan energi, apalagi kehilangan energi. Energi akan tetap terjaga untuk berkarya.

Begitulah menurut saya, bagaimana menurut Anda. Tulislah respon Anda di kolom komentar.


Gembongan, 23 Agustus 2022