SIANG DI TEMPAT PARKIR SEBUAH PASAR
Mohammad Saroni
Pasar adalah komunitas kecil masyarakat yang dipergunakan sebagai tempat transaksi kehidupan. Di pasar akan terjadi kegiatan transaksi berbagai poin kehidupan. Di pasar, kita dapat berjual beli, berinteraksi antar personal, belajar bersosialisasi dengan berkomunisasi aktif bersama orang lain. Di pasar pun kita dapat belajar berhitung, tawar menawar, dan interaksi sosial.
Berbagai jenis watak, karakter manusia silih berganti masuk dan keluar pasar. Mereka saling bersek dan bergeser tidak hanya fisik, terapi juga jiwa. Mereka saling berpengaruh sehingga
SEORANG LELAKI TELAH KEMBALI
Mohammad Saroni
Ketika kemudian kepalanya terangkat, wajahnya menatap ke depan dengan pandangan tajam. Semakin terlihat bahwa lelaki itu sedang diterkam kemarahan. Jangan tanya,betapa sorot matanya tajam menembus jarak, menerobos hingga ke dalam pasar. Sesekali kepalanya menoleh ke kiri dan kekanan. Siapakah lelaki itu?
Pagi itu, pasar sedang ramai. Maklum sedang prepekan. Tiga hari lagi akan datang bulan puasa. Dan, bukan rahasia umum kalau pada hari-hari seperti ini, pasar ramai. Orang-orang sibuk masak untuk acara syukuran menyambut bulan suci. Megengan, ya mereka menyebutnya begitu. Pada hari-hari seperti ini, ibu-ibu sudah disibukkan untuk madak makanan untuk disedekahkan ke tetangga sebagai wujud syukur dan bahagia karena bulan suci telah datang. Dan, lelaki itu adalah korban dari situasi. Dia, lelaki dengan penghasilan yang minim, sebab pendapatannya tidak menentu. Seringkali tidak cukup untuk kebutuhan keluarganya. Tetapi, selama ini, lelaki ini tetap bertahan dalam situasi yang menggantung lehernya.
"Kau nampak gelisah. Ada apa?" seorang lelaki setengah baya tiba-tiba duduk di sampingnya. Lelaki itu nampak masih muda. Raut muka nampak begitu sumringah. Ada senyum yang bersahabat saat mereka bersitatap.
Lelaki itu memandangi lelaki yang baru datang. Penuh selidik, disusurinya seluruh wajah, bahkan tubuh lelaki itu.
"Kamu siapa?" tanyanya resah.
"Aku seperti kamu. Seorang lelaki yang penuh gelisah. Tetapi, aku telah mengalahkan kegelisahanku..." lelaki itu begitu santai menjelaskannya.
"Kamu gelisah? Tak kulihat apalagi menemukan kegelisahan di bola matamu. Kau adalah lelaki mapan..." sergah lelaki itu.
"Yang kau lihat hanya aku yang sekarang. Dahulu, bahkan mungkin lebih parah dari kegelisahanmu..." lelaki itu terus saja tersenyum.
Sejenak, lelaki kusam itu menelisik sekujur tubuh lelaki setengah baya itu.
"Apa yang harus kulakukan? Beban hidup terlalu berat kualami. Rasanya, aku sudah tidak mampu untuk menjalaninya..."
" Itulah yang dahulu kualami, bahkan aku sempat memaksa malaikat pecabut nyawa.untuk mengambil nyawaku. Tetapi, Tihan tidak mengijinkan aku mati! Aku tertolong!"
Sejenak lelaki itu menarik nafas dalam-dalam. Lantas, dihembuskannya perlahan.
"Aku sadar bahwa Tuhan begitu sayang padaku. Sejak itu, aku mendekat pada-Nya. Aku khusyuk untuk-Nya. Dan, tidak terlalu lama, aku temukan ketenangan hati dan berkah yang begitu besar dari Tuhan...."
"Lantas, apa yang harus kulakukan?' lelaki kusam itu mencoba mencari jawaban.
Lelaki setengah baya itu tersenyum. Menepuk pundak lelaki kusam dan berkata:
"Pergilah ke musholah, ambil.wudhu dan sholatlah. Bertaubatlah atas semua salah yang sudah kau lakukan. Mohon petunjuk dan bimbingan untuk menjalani hidup lebih baik lagi...."
Lelaki kusam itu terhenyak. Kepalanya mendongak. Tatapan matanya bersinar. Lantas, dia berdiri dan menyalami lelaki setengah baya itu.
"Terima kasih. Aku akan lakukan saranmu. Terlalu lama aku mengabaikan Dia. Mungkin dia marah dan menegurku dengan ujian ini. Aku harus kembali..." Lelaki kusam itu segera melangkah menuju musholah. Langkahnya begitu mantap.
Lelaki setengah baya itu pun segera berdiri dan melangkah meninggalkan tempat itu. Bibirnya terap tersenyum. Kepalanya mengangguk-angguk. Sementara jemarinya lincah menari-nari di antara butiran tasbih yang sedang tadi melingkar di tangannya.
Kegelisahan memang sebuah ujian yang harus ditemukan jalan keluarnya. Jangan biarkan kegelisahan menerkam hati dan jiwamu. Kita harus mengelola kegelisahan menjadi energi kehidupan secara optimal. Sebab, sesungguhnya ketika Tuhan menghadirkan kegelisahan dalam hidup kita, maka saat itu Tuhan telah mempersiapkan sesuatu yang terbaik bagi kehidupan kita. Terutama kita yang berhasil mengelola kegelisahan.
Gembongan, 16 Maret 2025