Sabtu, 15 Maret 2025

FLASH FICTION

SIANG DI TEMPAT PARKIR SEBUAH PASAR
Mohammad Saroni

Pasar adalah komunitas kecil masyarakat yang dipergunakan sebagai tempat transaksi kehidupan. Di pasar akan terjadi kegiatan transaksi berbagai poin kehidupan. Di pasar, kita dapat berjual beli, berinteraksi antar personal, belajar bersosialisasi dengan berkomunisasi aktif bersama orang lain. Di pasar pun kita dapat belajar berhitung, tawar menawar, dan interaksi sosial.
Berbagai jenis watak, karakter manusia silih berganti masuk dan keluar pasar. Mereka saling bersek dan bergeser tidak hanya fisik, terapi juga jiwa. Mereka saling berpengaruh sehingga 
 
 


SEORANG LELAKI TELAH KEMBALI
Mohammad Saroni

Seorang lelaki duduk sendiri di bangku sudut pasar. Kepalanya tertunduk dalam, menekuri lantai pasar yang basah sehabis hujan. Sudut gerahamnya sebentar-sebentar terlihat mengeras. Nafasnya pun nampak berat. Tanda seseorang yang sedang geram. 
Ketika kemudian kepalanya terangkat, wajahnya menatap ke depan dengan pandangan tajam. Semakin terlihat bahwa lelaki itu sedang diterkam kemarahan. Jangan tanya,betapa sorot matanya tajam menembus jarak, menerobos hingga ke dalam pasar. Sesekali kepalanya menoleh ke kiri dan kekanan. Siapakah lelaki itu?
Pagi itu, pasar sedang ramai. Maklum sedang prepekan. Tiga hari lagi akan datang bulan puasa. Dan, bukan rahasia umum kalau pada hari-hari seperti ini, pasar ramai. Orang-orang sibuk masak untuk acara syukuran menyambut bulan suci. Megengan, ya mereka menyebutnya begitu. Pada hari-hari seperti ini, ibu-ibu sudah disibukkan untuk madak makanan untuk disedekahkan ke tetangga sebagai wujud syukur dan bahagia karena bulan suci telah datang. Dan, lelaki itu adalah korban dari situasi. Dia, lelaki dengan penghasilan yang minim, sebab pendapatannya tidak menentu. Seringkali tidak cukup untuk kebutuhan keluarganya. Tetapi, selama ini, lelaki ini tetap bertahan dalam situasi yang menggantung lehernya. 
"Kau nampak gelisah. Ada apa?" seorang lelaki setengah baya tiba-tiba duduk di sampingnya. Lelaki itu nampak masih muda. Raut muka nampak begitu sumringah. Ada senyum yang bersahabat saat mereka bersitatap.
Lelaki itu memandangi lelaki yang baru datang. Penuh selidik, disusurinya seluruh wajah, bahkan tubuh lelaki itu.
"Kamu siapa?" tanyanya resah.
"Aku seperti kamu. Seorang lelaki yang penuh gelisah. Tetapi, aku telah mengalahkan kegelisahanku..." lelaki itu begitu santai menjelaskannya.
"Kamu gelisah? Tak kulihat apalagi menemukan kegelisahan di bola matamu. Kau adalah lelaki mapan..." sergah lelaki itu. 
"Yang kau lihat hanya aku yang sekarang. Dahulu, bahkan mungkin lebih parah dari kegelisahanmu..." lelaki itu terus saja tersenyum.
Sejenak, lelaki kusam itu menelisik sekujur tubuh lelaki setengah baya itu.
"Apa yang harus kulakukan? Beban hidup terlalu berat kualami. Rasanya, aku sudah tidak mampu untuk menjalaninya..."
" Itulah yang dahulu kualami, bahkan aku sempat memaksa malaikat pecabut nyawa.untuk mengambil nyawaku. Tetapi, Tihan tidak mengijinkan aku mati! Aku tertolong!"
Sejenak lelaki itu menarik nafas dalam-dalam. Lantas, dihembuskannya perlahan.
"Aku sadar bahwa Tuhan begitu sayang padaku. Sejak itu, aku mendekat pada-Nya. Aku khusyuk untuk-Nya. Dan, tidak terlalu lama, aku temukan ketenangan hati dan berkah yang begitu besar dari Tuhan...."
"Lantas, apa yang harus kulakukan?' lelaki kusam itu mencoba mencari jawaban.
Lelaki setengah baya itu tersenyum. Menepuk pundak lelaki kusam dan berkata:
"Pergilah ke musholah, ambil.wudhu dan sholatlah. Bertaubatlah atas semua salah yang sudah kau lakukan. Mohon petunjuk dan bimbingan untuk menjalani hidup lebih baik lagi...."
Lelaki kusam itu terhenyak. Kepalanya mendongak. Tatapan matanya bersinar. Lantas, dia berdiri dan menyalami lelaki setengah baya itu.
"Terima kasih. Aku akan lakukan saranmu. Terlalu lama aku mengabaikan Dia. Mungkin dia marah dan menegurku dengan ujian ini. Aku harus kembali..." Lelaki kusam itu segera melangkah menuju musholah. Langkahnya begitu mantap.
Lelaki setengah baya itu pun segera berdiri dan melangkah meninggalkan tempat itu. Bibirnya terap tersenyum. Kepalanya mengangguk-angguk. Sementara jemarinya lincah menari-nari di antara butiran tasbih yang sedang tadi melingkar di tangannya.
Kegelisahan memang sebuah ujian yang harus ditemukan jalan keluarnya. Jangan biarkan kegelisahan menerkam hati dan jiwamu. Kita harus mengelola kegelisahan menjadi energi kehidupan secara optimal. Sebab, sesungguhnya ketika Tuhan menghadirkan kegelisahan dalam hidup kita, maka saat itu Tuhan telah mempersiapkan sesuatu yang terbaik bagi kehidupan kita. Terutama kita yang berhasil mengelola kegelisahan. 

Gembongan, 16 Maret 2025



Rabu, 12 Maret 2025

DIMANA TEMPAT LAHIR BETA

DI MANA TEMPAT LAHIR BETA
Mohammad Saroni

Tanah-tanah bersertifikat ganda
hasil permainan oknum pertanahan
penyerobotan tidak tanggung-tanggung
satu orang ribuan hentar
rakyat kecil kembali menjerit
sertifikat miliknya tidak berarti
bertarung di pengadilan sudah pasti kalah
sebab para penyabot sudah bermain mata dan amplop
skenario pemenangan tak bisa dibantah

Pemilik tanah terusir dari pekarangannya sendiri
kehilangan pijak di bumi pertiwi
lantas, para orangtua berteriak lantang:
Dimanakah tempat lahir beta?!!

ms, 12 Maret 2025

Selasa, 11 Maret 2025

QUOTE

Saat matahari berada di tempat lain, Dia titipkan sinarnya padanrembulan dan bebintang agar tetap dapat mencahayai bumi seisinya

Matahari memang tidak pernah memberi kabar kapan terbit atau tenggelam, tetapi kehangatannya sudah sebuah isyarat

Matahari, walaupun tidak nampak dipandang, dia tetap ada untuk kita, yakinlah itu....

Langit akan tetap Langit walaupun mendung menutupi setebal apapun ....

Langit malam nampak hitam, gelap. Berjuta misteri ada di dalamnya. Cobalah membuka tabir gelap itu agar kau temukan pintumu...

Matahari tetap setiap menghangatkan, meskipun bumi seisinya sedang lelap tidur. Sesungguhnya matahari adalah wujud kesetiaan sejati...

Setiap kata adalah doa, jagalah lisan kita, sebab Langit tidak pernah tidur...

Setiap kata adalah doa, jagalah lisan kita, sebab Langit tidak pernah tidur...

Langit setiap saat memberikan cobaan kepada kita, tetapi cobaan itu tidak pernah melebihi kemampuan kita menerimanya...

Jika kita berpikir positif, alam akan mensupport sehingga semua menjadi positif. Begitulah alam memberi kemudahan kepada kita. Mengapa kita justru mempersulit diri dengan berbagai pikiran negatif?

Alam akan bersikap sebagaimana kita berpikir tentangnya, maka jagalah pikiran kita..

Alam itu penuh kasih dan sayang, saat kita menanam pohon, maka pada saatnya kita diberi buah. Tetapi, alam juga perlu cinta, kasih sayang kita agar mau memberi kepada kita. Kita mendapat karena memberi, itulah matematika alam!

Jangan takut memberi, takutlah tidak menerima, sebab memberi dan menerima adalah kausalik alam. Siapa memberi, dia menerima ....

Alam tidak pelit pada kita, justru kita yang pelit pada sesama. Lantas kita berharap apa?

Langit tidak akan pernah penuh oleh doa-doa kita, terus saja berdoa sampai pada saatnya.

..Setiap kali malam menyergap bumi dan kegelapan memeluk bumi, maka berjuta doa bergerak naik ke Langit. 

Pagi telah gantikan malam, saatnya mengusahakan doa-doa dalam kegiatan nyata, sebab doa tanpa diikuti usaha nyata tidak sempurna...

Kesempurnaan sebuah doa adalah keseriusan menjalani usaha mencapai doa.

Coba hitung berapa banyak waktu sudah kita gulung, dan berapa banyak bentangan waktu yang tersisa...??

Ketemu dan bersama orang-orang yang sefrekuensi adalah saat-saat Langit memberikan kebahagiaan kepada kita..

Jangan paksa alam beradaptasi kepada kita, sebaliknya kita seharusnya yang beradaptasi dengan alam

Satu kekurangan kita adalah sulit beradapasi dengan alam, karena kita terlalu egois, pingin diperhatikan tetapi kurang memperhatikan..

Kesulitan hidup kita sebenarnya berpusat pada ketidak mampuan kita menyelaraskan diri dengan kondisi kehidupan...

Perjalanan hidup adalah perjalanan untuk mengumpulkan serpihan/kepingan mozaik diri yang tercecer. Jika kita berhasil mengumpulkan secara utuh, maka kita pulang dengan diri seutuhnya. Tetapi, jika tidak, maka kita harus mencari dan menemukan serta memgumpulkannya, seyampang masih diberi waktu

Jangan pernah lelah untuk berdoa, memohon, sebab semakin sering kita memohon, Langit akan semakin dekat dengan kita.

Jika kau lelah dalam menjalani role cerita hidupmu, bersandarlah pada Langit, sebab Dialah yang sesungguh-sungguhnya tempat bersandar dan memohon kekuatan.

Jika Langit sudah berkehendak, maka Bumi akan menerima semua dengan tabah dan penuh iman.

Menunggu Langit merealisasikan skenario dalam kehidupan, sebab Langit adalah sutradaranya.

Berserah pada Langit akan terselimuti kedamaian.

Berharaplah hanya kepada Langit, sebab sesungguhnya Langit yang selalu memperhatikan kita, bukan yang lainnya.

Ada dari kita yang kepingan mozaik terkumpul lengkap, tetapi sedikit yang belum terkumpul lengkap saat harus pulang. Bersyukurlah untuk yang sudah lengkap, berusahalah terus untuk yang belum lengkap. Tetapi, bagaimana indikasi lengkapnya? Hanya Dia yang tahu!

Kalaupun, kepingan mozaik kita belum lengkap dan kita diminta pulang, maka sisa kepingan yang belum terkumpul akan diganti oleh amal perbuatan baik yang sudah kita lakukan selama mengumpulkan kepingan  mozaik itu!

Melangkahlah terus dan terus, walaupun ada aral melintang di jalan. Sebab, yakinlah ada cara menyingkirkan aral tersebut!

Guru terbaik dalam kehidupan adalah pengalaman yang telah dialami, maka maknai pengalaman sepenuh hati!

Memunguti kepingan mozaik diri yang tercecer dan mengumpulkannya untuk kesempurnaan diri, walau sesungguhnya kesempurnaan tidak akan menjadi milik makhlukNya

Hidup ini simpel saja, tidak perlu rumit-rumit, apa yang kau pikirkan, itulah yang harus kau lakukan

Dalam hidup ini ada dua pilihan, antara pasti dan mungkin. Apakah kita memilih yang pasti, atau sebaliknya lebih suka yang mungkin?
Yakinkan diri sebelum menentukan!

Sesuatu yang pasti memberikan sebuah kenyataan, walaupun pahit. Sesuatu yang mungkin hanya memberi sebuah janji, walaupun manis.

Kemungkinan memang membuat "nyaman" hati, sebab terbukanya peluang. Tetapi, tetap ada lara pada akhirnya...

Berbesar hatilah atas segala  takdir, sebab itu adalah bagian dari skenario hidup kita.