Jumat, 05 September 2008

Demi Anak Apapun dilakukan


Anak, bagi orangtua adalah segalanya. Adalah sumber kehidupan. Penyaluran kasih sayang dan cinta.Amanah dari Tuhan untuk mempertahankan eksistensi kehidupan manusia di dunia.
Maka tidak heran jika selanjutnya orangtua mau melakukan apapun untuk anak tercinta. Anak adalah buah cinta kasih sepsang ornagtua, ibu dan ayah. Mereka adalah refleksi atas segala curahan kasih dan sayang serta cinta orangtua.
Maka, apa yang penulis lihat di jalan raya saat penulis pulang dari kerja adal;ah sebuah bukti betapa orangtua begitu sayang dan cinta serta kasih pada anaknya sehingga saat anak tercinta meminta sepeda, maka sepedapun dibelikan. Dan, yang atrakktif adalah saat membawa sepeda ke rumah. Sang ayah menyetir sepeda motor dan sepeda di letakkan diantara ibu dan ayah selanjutnya ibu memangku dan memegangnya. Duh, sebegitu besar rasa cinta, kaish dan sayang orangtua untuk anak-anaknya.

Jangan takut menulis walau pendidikan kita rendah

Sering kita mendengar teman kita, orang-orang di sekitar kita mengatakan kesulitan saat harus atau diharuskan menuliskan berbagai hal. Mereka meng-alami kesulitan saat mengungkapkan unek-unek di dalam hatiya.
Ya, memang masih banyak orang yang kesulitan saat harus mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya! Bukan hanya mereka yang tidak berpendidikan, melainkan yang berpendidikan juga. Justru mereka yang berpendidikan banyak yang kesulitan padahal seharusnya
Negeri ini sebenarnya mempunyai banyak warga yang berpotensi, berpendidik-an tetapi pada kenyataannya masih sedikit dari mereka yang menuliskan berbagai hal kehidupan, khususnya terkait dengan disiplin ilmu atau kependidikannya! Entahlah, alasan apa yang mereka jadikan dasar sehingga tidak menuliskan kemampuannya sehingga dapat dijadikan sharing bagi orang lainnya.
Sebenarnya kita menyadari bahwa ilmu yang dituliskan merupakan sumber belajar yang sangat signifikan terhadap upaya perubahan kompetensi pada setiap orang yang selalu ingin belajar. Hasil tulisan para ilmuwan pada dasarnya merupakan sumber belajar yang sangat baik bagi perkembangan dan pengem-bangan potensi dan kualitas seseorang. Semakin banyak mereka membaca, maka semakin banyak pengetahuan yang mereka dapatkan dan selanjutnya menjadi kompetensi diri yang berlaku seumur hidup bagi mereka.
Dan, jika kita tanyakan mengapa mereka tidak menuliskan pengalaman dan kemampuan dirinya dalam tulisan, maka mereka mengatakan takut!
Dari alasan yang disampaikan tersebut, maka setidaknya kita dapat mengatakan bahwa di dalam diri mereka ada sesuatu yang menghambat kreativitas dan keberanian mereka untuk menuliskan pengalaman hidupnya. Masalah tersebut adalah:
a. Tidak percaya diri
Salah satu aspek penting di dalam upaya pencapaian keberhasilan hidup adalah adanya kepercayaan diri yang tinggi. Kepercayaan diri menjai sebuah landasar terkokoh untuk sebuah bangunan diri yang tegar. Jika seseorang tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi, maka itu artinya sama saja dengan bangunan tanpa pondasi yang kuat. Kalaupun hasilnya sangat bagus, tetapi tidak tahan lama! Gampang ambruk dan sebangsanya!
Hal yang paling fatal dari tumbuhnya rasa tidak percaya diri di dalam diri adalah hilangnya keberanian untuk melakukan segala kegiatan hidup. Mereka sudah kalah sebelum bertarung, berperang! Mereka sudah kehilang-an semangat berjuang justru pada saat mereka mendengarkan kata untuk berjuang, dalam hal ini menulis! Menulis menjadi semacam momok yang menakutkan hati.
Orang-orang yang lemah adalah orang-orang yang tidak percaya pada kemampuan yang dimiliki oleh dirinya. Mereka tidak yakin dapat melaku-kan berbagai hal yang diharapkan. Hati mereka sudah menciut sebelum melakukan sesuatu, justru saat mereka mendengar apa yang hendak dilaku-kan.
Begitu mendengar bahwa mereka harus menuliskan gagasan, maka hati mereka langsung down. Mereka sudah keteter sebelum mengawali kegiatan. Tentunya jika kondisi seperti ini kita alami, maka segala kegiatan kita jadi terbengkalai dan tidak mendapatkan apa-apa dalam kehidupan kita.
Rasa rendah diri yang melingkupi dan menguasai diri seseorang menjadikan-nya tidak dapat mengekspresikan segala kompetensi yang sebenarnya ada di dalam dirinya. Setiap hal yang akan dilakukan tidak didasari oleh sikap mental positif dari dirinya dan inilah sumber kegagalan bagi setiap yang akan dilakukannya.
Untuk dapat menjadi penulis yang handal, maka kita tidak boleh merasa rendah diri, bahakan dalam segala hal kita tidak boleh mengembangkan rasa rendah diri ini. Ini merupakan kerugian yang sangat besar bagi perkembang-an dan pengembangan diri. Kita harus menghilangkan rasa rendah diri ini sehingga tumbuh keyakinan atas kompetensi atau kemampuan diri sendiri.

b. Malu
Sebenarnya, rasa malu tumbuh dan berkembang karena rasa rendah diri yang sudah kadung tumbuh dan berkembang di dalam diri kita. Ketika kita menumbuhkan rasa rendah diri, maka di dalam diri kita tertanam sikap negatif yang mencegah tumbuhnyakreativitas dan daya inovasi serta yang paling penting adalah kepercayaan diri.
Rasa malu adalah sikap mental negatif yang kita tanamkan ke dalam pola mental kita sehingga secara langsung mengkikis habis kemampuan yang sebenarnya kita miliki. Rasa ini tumbuh akibat hati kita yang memposisikan untuk diri kita sendiri. Tentunya hal ini sangat merugikan hidup kita. Tetapi selama ini cukup banyak orang yang secara sadar atau tidak terjebak dalam posisi malu untuk berkembang atau mengembangkan kompetensi diri. Ada banyak orang yang mematikan dirinya sendiri dengan perkembangan rasa malu yang maksimal.
Untuk menjadi seorang penulis, maka kita tidak boleh terjebak dalam rasa malu untuk melakukan kegiatan menulis, lalu mempublikaikan karya tulis kita pada media massa yang lokal maupun nasional. Hal ini sangat penting untuk peningkatan rasa percaya diri.
Bahwa rasa malu yang berkembang di dalam hati adalah karena ketakutan atas komentar orang lain atas karya tulis kita. Kita takut orang lain memberikan komentar jelek pada karya tulis kita dan kita tidak siap untuk menerima ejekan atas karya tulis kita. Kita belum siap menerima kritikan pedas atau ejekan atau karya tulis kita.
Jangan malu untuk mengungkapkan ide secara tertulis sebab dengan mengungkapkan hal tersebut, maka kita dapat memberikan gambaran jelas pada banyak orang tentang hal-hal yang kita inginkan atau sesuatu yang dapat kita jadikan sebagai sumber perubahan positif bagi orang-orang di sekitar kita.
Kalau boleh kita katakan, sebenarnya malu itu adalah penyakit bagi per-kembangan dan pengembangan potensi diri kita. Orang yang dikungkung oleh rasa malu selamanya tidak dapat berkembang maksimal. Bahkan mereka bahkan bakal menjadi pecundang yang selalu kalah dalam setiap langkah kegiatan.
Rasa malu itu sebuah parasit yang bakal menggerogoti semua kemampuan yang ada di dalam diri kita sehingga habislah nilai diri kita. Rasa malu memang sangat perlu dalam kehidupan ini, tetapi setidaknya kita harus dapat membatasi penerapannya. Kapan kita harus malu dan kapan kita tidak boleh malu! Dan menulis adalah sesuatu yang penting bagi kita sehingga tentunya hal tersebut tidak boleh kita kembangkan. Rasa malu harus kita hilangkan agar kita dapat mengeksplore seluruh kemampuan kita dan dapat mendatangkan kebaikan bagi semua orang.
Kuncinya, untuk dapat menjadi penulis, maka kita jangan malu untuk menulis dan mempublikasikan karya tulisan kita sehingga dapat dibaca semua orang!

Bagi mereka yang berkeinginan untuk menjadi seorang penulis, maka dua aspek di atas harus benar-benar kita pahami dan kita jauhi. Sejauh-jauhnya! Seseorang yang merasa tidak percaya pada dirinya sendiri merupakan awal dari setiap kegagalan dalam kehidupan ini. Bahwa semua kegagalan yang terjadi di dalam kehidupan ini berawal dari ketidakpercayaan pada diri sendiri.
Bagaimana dapat berhasil jika terhadap diri sendiri saja tidak percaya. Siapa lagi yang mempercayahi diri kita selain kita sendiri? Dan, kalau kita sudah tidak percaya pada diri sendiri?? Percuma semua kegiatan yang kita lakukan, semua sudah didasari oleh ketidakpercayaan dan ketidakpercayaan adalah lima puluh persen kegagalan!
Seperti pernyataan negatif pada diri kita, misalnya jika kita tidak sakit tetapi kemudian bilang pada banyakorang bahwa kita sedang sakit, maka yakinlah bahwa sebentar lagi kita bakal sakit dengan sesungguhnya. Hal ini karena apa yang kita kondisikan dengan mengatakan diri kita sakit merupakan doa atau permintaan kita pada Tuhan. Begitulah yang seharusnya kita pahami semua.
Maka, janganlah takut untuk menulis sebab tidak ada yang menakutkan saat kita menulis dan yakinlah bahwa itulah karya tulis terbaik yang kita hasilkan!
Selamat! Kita sudah menjadi seorang penulis yang konsisten dengan dunia kita!

Menulislah apa yang kita kuasai betul

Ketika seekor kambing diturunkan ke sungai, maka suara protesnya begitu keras dan tingkahnya begitu kuat menentang kebijakan tersebut. Tetapi, ketika seekor bebek diturunkan ke sungai, maka kita dapat melihat betapa kebahagiaan, kesenangan terpancar dari sikapnya.
Ketika seseorang ditempatkan pada suatu tempat dimana dia sama sekali tidak mempunyai kemampuan cukup untuk menangani masalah yang timbul di tempat tersebut, maka terlihat sekali bahwa mereka begitu shock bahkan nervous. Mereka begitu ketakutan, bahkan.
Kita sering kali dihadapkan pada konsep yang menekankan pada kenyataan bahwa manusia selalu berusaha sekuat tenaga untuk dapat menggapai keingin-annya. Apapun cara dilakukan agar tujuannya dapat dicapai. Bahkan, tidak jarang mereka harus melakukan sesuatu yang sama sekali tidak dikuasainya agar dapat mencapai tujuan hidupnya.
Seringkali kita memaksankan diri kita melakukan sesuatu yang sebenarnya bukan bidang keahlian kita. Tentunya kita dapat mengetahui apa yang bakal terjadi jika hal tersebut kita lakukan! Yang, pekerjaan tentunya tidak prosedural, bahkan kemungkinan terjadinya kegagalan lebih besar daripada keberhasilan-nya. Bagaimana seseorang dapat mengendarai sepeda motor, trail dengan se-bagus-bagusnya dan menjadi juara sebuah grass track jika tidak didukung kemampuan atau keterampilan yang memadai untuk hal tersebut?!
Di dalam dunia kepenulisan juga demikian. Setiap penulis dituntut untuk menguasai materi yang ditulisnya dengan sebaik-baiknya. Untuk kondisi seperti itu, maka seorang penulis harus benar-benar mempunyai bekal pengetahuan terkait dengan materi yang hendak ditulisnya. Jika tidak tentunya hasil tulisannya bakal kering tanpa isi, sebagaimana bulir padi yang kekurangan air saat masa pertumbuhannya. Melompong meskipun bulirnya kadang nampak begitu bagus!
Dan, bagi seorang penulis, hasil tulisan adalah merupakan sebuah pertanggung jawaban moral dan etika pada kehidupan, profesinya sehingga mereka benar-benar menyadari betapa pentingnya kebenaran dalam setiap hasil tulisannya. Setiap tulisan yang mereka hasilkan merupakan implikasi dan implementasi dari setiap pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Hal ini terkait pada kenyataan bahwa hasil tulisan seorang penulis pada akhirnya dibaca oleh sidanag pembaca dan selanjutnya sidang pembaca bakal memberikan penilaian terhadap isi materi tulisannya. Jika isi tulisannya bagus, maka tentunya hal ter-sebut dapat mengangkat reputasinya sebagai seorang penulis. Dan selanjutnya dapat menjadikan menulis sebagai sebuah profesi yang sangat menjanjikan hidupnya.
Untuk itulah, maka setiap penulis sudah seharusnya benar-benar menulis segala hal yang dikuasainya secara baik. Jika kita menguasai materi yang kita bicara-kan, tentunya proses pembicaraan kita menjadi lebih baik dan enak didengar-kan oleh orang lain. Demikian juga halnya jika kita menulis dengan materi yang benar-benar kita kuasai, maka bahasan yang kita paparkan dapat dimengerti secara baik oleh sidang pembaca dan selanjutnya dapat menjadi faktor perubah kondisi orang lain.
Menulis itu memang bukan pekerjaan yang sulit kok! Yang terpenting adalah kita mempunyai kemampuan untuk menuliskan semua ide yang kita miliki. Tidak perlu neko-neko dalam menulis. Cukup tulislah segala hal kita kuasai, jangan memaksakan diri untuk menulis sesuatu yang sama sekali tidak kitakuasai sebab hal tersebut menjadikan kita harus memberikan penjelasan yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Bahkan dapat jadi, informasi yang kita tulis justru menjadikan setiap pembacanya tersesat dalam kondisi yang tidak benar!
Ya, seorang penulis memang harus menguasai materi yang ditulislah. Hal ini selain untuk menjaga kualitas isi tulisannya, juga memberikan keleluasaan pada penulis untuk mengeksplore kemampuan dirinya secara maksimal sesuai dengan keterampilan dan pengetahaun yang dimilikinya sesuai dengan materi yang ditulisnya.
Jika seseorang bercerita mengenai segala hal yang diketahuinya, maka isi ceritanya akan lebih bernas daripada mereka yang bercerita tanpa didukung kemampuan yang dimilikinya. Dan yang jauh lebih penting adalah proses penulisan yang begitu enteng bagi seorang penulis yang menguasai materi tulisannya. Mereka tentunya tidak perlu merekayasa data dan sebagainya hanya untuk melengkapi tulisannya sebab mereka sudah memahami betul hal-hal yang terkait dengan materi penulisannya.
Begitulah pentingnya seorang penulis menguasai materi yang ditulis tidak lain adalah untuk menghindari terjadinya penyesatan oleh isi atau materi tulisan yang disusunnya.
Sekali lagi, untuk menjadi seorang penulis yang berhasil, maka salah satu hal atau aspek yang harus kita miliki adalah kesadaran untuk menulis segala hal terkait dengan kemampuan yang kita miliki. Dengan penguasaan materi hal tersebut menjadi salah satu kegiatan yang benar-benar menjanjikan untuk masa depan!
Penguasaan terhadap materi yang akan kita tulis menjadikan kita merasa enjoy saat menuangkan semua ide kita. Semua materi tulisan bakal mengalir sebagaimana air sungai yang mengalir begitu indah sebab sudah mengenal begitu rupa jalur-jalur yang harus dilalui. Jika tidak, maka air sungai dapat mengalir ke sembarang tempat dan tidak terarah. Pada akhirnya meluap membanjir dan membuat semuanya rusak belaka!

Pentingnya out line dalam menulis

He he, masih kesulitan yang menuliskan ide, gagasan dalam bentuk tulisan? Wah, untuk kondisi tersebut kita perlu melakukan sedikit kreativitas. Sebenar-nya sih bukan sesuatu yang baru, ini sudah cukup lama diterapkan oleh para penulis, khususnya mereka yang menulis pada ukuran panjang. Untuk ukuran tulisan pendek, umumya langsung menulis begitu saja!
Tetapi, saat ini tidak ada salahnya jika kita mencoba untuk menerapkannya agar tujuan kita dalam menulis benar-benar tercapai. Hal ini terkait dengan kenyata-an bahwa menulis merupakan kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan sehingga apa yang bakal kita tulis harus runtut dan tidak menyimpang dari tema yang hendak kita tuliskan. Setidaknya kita harus menyakini bahwa yang kita tulis adalah sesuatu yang dihasilkan oleh pola pemikiran yang sistemik.
Untuk itu, maka salah satu yang harus kita kuasai dan terapkan adalah out line bagi setiap tulisan yang bakal kita tulis. Out line adalah garis-garis besar ide yang hendak kita tuliskan beserta dengan sedikit rincian yang ada dalam tulisan kita.
Dengan out line yang kita susun, maka secara dini kita dapat mengetahui hal-hal yang harus kita isikan dalam tulisan kita sehigga tidak terjadi penyimpangan atau pembiasan materi tulisan. Dengan out line yang kita susun, maka kita dapat mengetahui rencana atau rancangan isi yang sesuai dengan tema tulisan kita.
Out line menjadi jalur yang harus kita ikuti pada saat menuliskan semua ide atau gagasan kita. Seperti kita ketahui bahwa tulisan itu merupakan rangkaian kalimat yang disusun secara sistematis dan berkesinambungan sehingga perlu adanya garis-garis besar yang menjadi penuntun penulis di dalam proses pengungkapan ide kita.
Out line kita perlukan agar setiap materi yang kita tuliskan merupakan bagian integral dari materi secara keseluruhan. Integralistas materi menjadi sala h satu hal yang harus kita perhatikan saat menulis. Hal ini untuk menghindarkan terjadinya materi yang tidak nyambung satu terhadap lainnya. Out line inilah yang memberikan gambaran setiap aspek atau materi yang bakal kita tuliskan dalam tulisan kita.
Sebagai seorang penulis, kita memang dituntut untuk memberikan informasi yang runtut dan realitas. Jika kita memberikan secara acak, maka hal tersebut justru menjadikan kebingungan pada semua orang yang menerima informasi kita. Bahkan informasi yang sederhana saja dapat menjadi sangat rumit jika pola penyampaiannya tidak runtut atau sistematis!
Memang dapat saja kita menulis tanpa membuat out line terlebih dahulu. Tetapi setidaknya unuk kondisi tersebut, maka kita dituntut untuk mempunyai daya ingat dan nalar yang sangat tinggi sehingga kita tidak kehilangan materi yang hendak kita tuliskan. Dan, yang juga perlu diperhatikan, jika kita menulis tanpa adanya out line, maka keterselesaian tulisan adalah secepatnya, pada saat itu juga. Kita mulai menulis, maka selanjutnya harus kita lakukan sampai materi yang kita tuliskan benar-benar tuntas dan tulisan kita jadi!
Tentunya jika kita membayangkan hal ini, maka kita bakal merasa pada sebuah kondisi yang penuh tekanan (under pressure) dan tidak semua orang mempunyai kemampuan bekerja pada kondisi tersebut. Yang banyak adalah orang melarikan diri dari kondisi pekerjaan yang under pressure tersebut. Jangankan under pressure, saat menghadapi permasalahan atau kesulitan sedikit saja sudah bayak orang yang melarikan diri.
Dengan membuat out line, maka setidaknya kita sudah mengikat topik utama yang bakal kita tuliskan sehingga tdak menuntut kemampuan pengingatan pada otak kita.
Oleh karena itulah, maka buatlah out line saat kita hendak menulis atau membuat tulisan agar lebih mudah bagi kita untuk menyatakan setiap detail materi yang ingin kita sampaikan kepada masyarakat.