Bersikap dewasa? Wah, berarti dalam hal hal ini kita dianggap belum dewasa ya?! Sungguh keterlaluan! Tentunya semua orang tidak akan menerima jika diirnya dianggap belum dewasa. Hal ini jelas memberikan dampak yang kurang baik bagi kondisi kejiwaannya. Selanjutnya kondisi kejiwaan yang ku-rang baik ini memberikan dampak negatif secara keseluruhan pada kehidup-annya. Semua orang menganggap bahwa dengan kedewasaan yang dimilikinya, maka kita dapat mengembangkan diri sesuai dengan kondisi diri kita.
Tulisan ini bukan bertujuan untuk mengatakan bahwa anda belum mampu berpikir dewasa. Ini hanyalah sebuah ajakan untuk menempatkan diri sebaik-baiknya dalam koridor yang sesuai dengan apa yang terjadi di luar diri. Ini merupakan upaya untuk menyeimbangkan kondisi di dalam diri dengan di luar diri. Penulis berharap setelah sidang pembaca membaca wacana yang tertulis di buku ini, maka terbit sebuah kondisi hidup yang didasari oleh pola lebih baik dan terarah pada kebahagiaan hidup. Kita perlu menyadari bahwa tujuan hidup kita yang terutama adalah menggapai kebahagiaan hakiki.
Seringkali kita sebagai orangtua membentak atau menasehati anak-anak agar dapat bersikap dewasa pada saat menghadapi persoalan hidup. Hal ini karena anak-anak memang belum mampu menentukan pilihan terbaik bagi kehidupannya, alias belum dewasa! Jika ungkapan tersebut kita arahkan kepada anak-anak bukanlah sebuah permasalahan yang besar sebab mereka memang masih membutuhkan arahan dari kita untuk lebih memfokuskan langkah ke tujuan hidupnya. mereka memang masih dalam proses mencari apa yang seharusnya dilakukan untuk dapat mewujudkan cita-cita hidupnya. Dan, justru karena itulah, maka mereka membutuhkan arahan dari orang-orang yang lebih berpengalaman. Tetapi, bagaimana dengan kita yang sudah beranak pinak? Masih pantaskah kita diarahkan untuk bersikap dewasa dalam menghadapi kehidupan? Apakah kita ini belum dewasa? Apakah setiap saat kita masih harus diarahkan untuk bersikap hidup lebih dewasa, sedangkan kondisi kita dapat di-katakan sudah dewasa?!
Kedewasaan seseorang menunjukkan pada kita bagaimana seseorang menghadapi kehidupan dengan berbagai kondisi secara bertanggungjawab serta mempunyai solusi-solusi yang tepat untuk menghadapi setiap konsekuensi kehidupan yang dihadapinya. Kita memang mengetahui bahwa sebenarnya seseorang dapat dianggap dewasa beradasarkan 3 (tiga) hal, yaitu dewasa dalam usia, dewasa dalam sosial, dan dewasa dalam susila. Kedewasaan seseorang memang sangat terkait dalam tiga hal tersebut dan agar seseorang mempunyai atau mencapai kedewasaan yang utuh, maka dia harus sampai atau mencapai tiga kondisi kedewasaan tersebut. Kalau hanya faktor usia yang sudah banyak (tua), itu bukan berarti secara langsung dapat menunjukkan bahwa seseorang itu telah mencapai kedewasaan diri atau kadang kala dilihat dari sejarah pernikahannya, jika sudah pernah mneikah berarti dianggap sudah dewasa.. Demikian juga jika ternyata seseorang telah mencapai kondisi sosial yang cukup, bahkan kaya raya, bukan berarti dia dapat dianggap telah dewasa. Serta seseorang yang telah mencapai kondisi susila yang baik, bukan berarti dia telah dewasa. Kedewasaan seseorang merupakan keuTuhan dari ketiga hal tersebut diatas. Jika salah satu dari ketiga hal tersebut belum dapat dicapai seseorang, maka dia tidak dapat dikatakan telah mencapai kedewasaan diri. Misalnya, sseorang telah mencapai usia yang cukup, di negeri ini seseorang dikatakan telah mencapai kedewasaan usia saat berusia dua puluh tahunan, tetapi ternyata faktor sosial belum mencukupi, apalagi faktor susila belum mencukupi, maka tidak dapat dikatakan telah dewasa.
Kedewasaan usia artinya seseorang telah mencapai atau mencapai usia kalender yang sudah cukup, misalnya diatas tujuh belas tahun. Di negeri ini, jika seseorang telah mencapai usia di atas tujuh belas tahun dan atau sudah menikah, maka secara langsung sudah dianggap telah mencapai usia kedewasaan. Anak-anak yang sudah mencapai usia tujuh belas dianggap telah mempunyai ke-sadaran atau kesanggupan untuk menghadapi kehidupan secara bertanggung-jawab terhadap segala hal yang dilakukannya dalam kehidupan. Anak-anak yang sudah mencapai usia dewasa harus mempertanggungjawabkan setiap kelakukan atau perbuatan yang dilakukannya dalam kehidupan. Dalam hal ini orangtua sudah bukan lagi sebagai penanggungjawab penuh atas segala per-buatan anak didik. Dalam hal upaya mencapai kedamaian hidup yang hakiki, maka faktor kedewasaan usia sangat menentukan sehingga kehidupan anak ini jika melakukan kesalahan tidak sulit. Hal ini didasari pada kenyataan konsep bahwa anak-anak yang telah mencapai usia dewasa dianggap sudah mampu mengetahui dan membedakan hal-hal yang baik dan buruk serta mampu menentukan mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukannya. Memang hal ini sebagai sebuah anggapan secara umum, tetapi setidaknya ketika anak mencapai usia dewasa, maka mereka harus dapat me-nanggung setiap hasil perbuatan yang telah dilakukannya tanpa harus melibatkan orangtua secara langsung. Setiap perbuatan adalah tanggungjawab pribadinya. Begitulah yang selama ini berlaku di dalam kehidupan bermasya-rakat sehingga secara umum semua elemen masyarakat menerapkannya sebagai sesuatu yang lumrah dan harus diikuti oleh semua anak oleh karena itulah, maka tidak aneh saat anak melakukan suatu perbuatan yang menyimpang dari pola kehidupan positif masyarakat, maka mereka harus menanggungnya hingga berhadapan dengan hukum yang berlaku di negeri ini. Jangankah yang sudah dewasa, sedangkan yang kecil saja, di negeri dapat masuk ke penjara atau berurusan dengan hukum jika telah melakukan kesalahan yang melanggar pola kehidupan positif di masyarakat.anak kecil yang dalam hal ini masih berada dalam pertanggugjawaban orangtua saja dapat dipermasalahan secara hukum jika telah melakukan pelanggaran pola kehidupan positif di masyarakat, apalagi yang sudah dewasa. Begitulah yang terjadi di dalam kehidupan masya-rakat kita. Oleh karena itulah, maka agar seseorang atau secara umum kita dapat mencapai kedamaian hidup yang selanjutnya dapat membawa kita pada istana kebahagia-an hidup, maka kita harus meyakinkan diri bahwa dengan usia yang telah dewasa, maka segala tindak tanduk perbuatan kita dimasyarakat haruslah mencerminkan seseorang yang sudah dewasa.
Sekali lagi kita perlu menyadari bahwa sebenarnya kedewasaan orang di negeri kita ini salah satu indikasinya adalah usia orang tersebut, jika usia sese-orang telah mencapai tujuh belas tahun atau sudah menikah, maka secara langsung dia sudah dianggap dewasa. Oleh karena itulah, maka dia harus berani bertanggungjawab terhadap segala hal yang diakukannya selama bergaul dalam masyarakat.
Sementara itu, kedewasaan dari segi sosial berarti bahwa seseorang dapat dikatakan sudah dewasa jika dia sudah dapat memenuhi kebuTuhan hidupnya secara mandiri, artinya dia sudah mempunyai pekerjaan yang dapat dijadikan sebagai menggantungkan hidupnya dan jika perlu keluarganya. Seseorang yang telah mempunyai sumber penghasilan yang layak untuk menghidupi dirinya dan keluarganya, maka orang tersebut dapat dikatakan telah dewasa secara sosial. Umumnya, dalam hal ini akibat pekerjaan yang sudah dimilikinya, maka dia sudah mempunyai rumah, segala kebuTuhan hidup, bahkan status sosial di masyarakat. Orang-orang yang sudah dewasa secara sosial pada umumnya adalah mereka yang mempunyai kesempatan hidup secara layak, mempunyai pekerjaan tetap dengan penghasilan yang mencukupi kebuTuhan hidupnya, selanjutnya, jika memang diperlukan, dia mempunyai kedudukan yang patut diperhitungkan dalam pola pergaulan kemasyarakatan, misalnya sebagai tokoh masyarakat atau sebagai orang-orang yang eksistensinya diperhitungkan di dalam kehidupan bermasyarakat. Orang-orang yang mempunyai tingkat ke-dudukan sosial yang mencukupi merupakan orang-orang yang secara lang-sung mempunyai kemampuan untuk melakukan hal-hal yang berguna ataupun yang tidak berguna bagi kehidupan di masyarakat. Dengan kemampuan yang di-milikinya tersebut, maka setidaknya mereka mempunyai kesempatan yang lebih banyak bagi upaya perbaikan pola kehidupan bermasyarakat.
Kedewasaan sosial menunjukkan pada kita seberapa tingkat kemampuan seseorang dalam menjawab setiap tantangan kehidupan bermasyarakat. Kehi-dupan bermasyarakat itu sangatlah luas jangkauannya sehingga kita tidak dapat hanya melihat dari satu sisi semata. Kemampuan inilah yang selanjutnya dijadi-kan sebagai salah satu indikasi untuk menyatakan seseorang itu sudah layak dikatakan dewasa ataukah belum. Seseorang yang secara usia sudah dapat dikatakan sudah dewasa sebab usianya sudah cukup dan sudah mneikah, tetapi tetap saja dianggap belum dewasa jika ternyata dia tidak mempunyai pekerjaan tetap yang memberikannya penghasilan tetap untuk kehidupan dirinya sendiri dan keluarganya. Seseorang yang belum mampu memberikan rasa aman secara sosial untuk dirinya ataupun untuk keluarganya, maka dapat dikelompokkan sebagai orang-orang yang belum mempunyai kedewasaan yang mencukupi.
Berdasarkan kondisi seperti inilah yang selanjutnya ternyata menjadikan banyak orang kehilangan semangat untuk mencapai kedewasaan secara utuh. Kita seringkali melihat dan mendengar seseorang tidak mau menikah sebab merasa belum mecukupi dari segi sosialnya. Mereka beranggapan bahwa yang didapatkannya dari hasil kerja kerasnya sama sekali belum mampu untuk menutup atau memenuhi kebutuhan hidup sosialnya, apalagi harus menghidupi sebuah keluarga. Mereka merasa belum mampu melakukan hal tersebut sehing-ga merasa ragu dan akhirnya menimbulkan kesan sebagai pribadi yang belum dewasa. Mereka memang mempunyai kemampuan untuk hidup secara sosial, tetapi merasa belum mampu untuk menghidupi keluarganya, artinya belum menikah, maka mereka dikatakan belum dewasa.
Seseorang yang dikatakan telah dewasa secara sosial memberikan kontribusi yang utuh terhadap segala upaya untuk mencukupi segala kebuTuhan hidupnya sehingga tidak ada kekurangan yang menyebabkan kehidupannya menderita atau keluarganya menderita sebab kekurangan dana dalam kehidup-an sosial. Kedewasaan seseorang dalam segi sosial-pun menunjukkan kondisi sampai dimana kemampuan orang tersebut dalam melakukan interaksi sosial dalam kehidupan rmasyarakat. Bagaimana seseorang menempatkan diri dalam hubungan kemasyarakatan menunjukkan kedewasaan dirinya. Seringkali kita melihat betapa seseorang dipercaya oleh hampir semua orang untuk menjadi wakil mereka atau pimpinan mereka dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebenarnya, kedewasaan seseorang yang dilihat berdasarkan kondisi sosial bukan semata-mata berdasarkan kondisi kehidupan sosial atau harta ben-danya saja. Harta bukanlah menunjukkan tingkat kedewasaan sosial, melainkan sekedar sebagai perwujudan keberhasilan segala usaha hidup yang dilaku-kannya. Harta seringkali dijadikan sebagai tata ukuran tingkat sosial seseorang sementara dalam kehidupan bermasyarakat sehingga kita seringkali mendengar istilah strata sosial atau tingkatan sosial seseorang dalam kehidupan bermasya-rakat. Strata sosial diartikan sebagai tingkatan kedudukan seseorang yang lebih didasarkan pada kemampuan finansialnya dibandingkan dengan orang keba-nyakan.
Selama ini kita memang telah salah kaprah dalam menentukan keduduk-an seseorang yang didasarkan pada kondisi kehidupan finansialnya. Kebanyak-an atau secara umum jika seseorang memiliki kondisi finansial hidupnya sangat berkecukupan, maka secara langsung mereka mengatakan bahwa seseorang tersebut memiliki kedewasaan sosial yang cukup bagus. Tapi apakah memang seperti itu halnya? Apakah seseorang yang mempuyai kedudukan finansial yang cukup lantas dapat dikatakan sebagai berkedudukan sosial yang tinggi?! Apakah selanjutnya kedewasaan sosial seseorang hanya didasarkan pada kondisi ke-bendaan, fiasial dari seseorang tersebut? Tentunya tidak demikian kenyataan-nya.
Kedewasaan sosial itu sebenarnya dapat dikatakan sebagai suatu kondisi seseorang terhadap responsibilitasnya pada setiap kondisi kehidupan orang-orang yang ada di sekitarnya. Sosial dapat diartikan sebagai suatu sikap untuk selalu memperhatikan dan memberikan perhatian yang cukup terhadap semua orang yang ada di sekitarnya sehingga menghadirkan perasaan tertentu yang berkaitan dengan kesetiakawanan terhadap kondisi seseorang di sekitarnya. Orang-orang yang memiliki kedewasaan sosial pada dasarnya memiliki kesadaran sosial yang cukup tinggi sehingga selalu mampu menyisihkan sebagian perhatian dirinya kepada sesamanya, berbagi kasih sayang dan kondisi kebahagiaan dengan orang-orang lain, khususnya yang mengalami kesulitan dalam kehidupannya.
Orang – orang yang memiliki kemampuan untuk berbagai kondisi diri secara proporsional terhadap kondisi kehidupan finansialnya atau kehidupan sosialnya memberikan sebuah pemandangan dan cara memandang kehidupan yang lebih obyektif dan sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya. Orang-orang yang tidak mampu memandang kehidupan ini sebagai sesuatu yang saling mengkait dan menjadi saling menyebabkan kondisi kehidupan manusia secara umum.
Begitulah seharusnya kita memandang kedewasaan sosial seseorang se-bagai suatu sikap hidup yang mempunyai kemampuan untuk menghadapi kehidupan secara proporsional dengan secara intens memperhatikan pola kehi-dupan orang-orang yang berada di sekitarnya sebagai bentuk kesetiakawanan yang cukup tinggi dan menjaga hubungan antar personal untuk selalu dalam kondisi sebaik-baiknya dengan memposisikan pandangan bahwa semua orang mempunyai kedudukan yang sama dalam tata pergaulannya. Tidak ada sese-orang yang lebih tinggi kedudukannya dari orang lainnya, walaupun kondisi finansialnya sangat berlebih dibandingkan dengan orang-orang kebanyakan di sekitarnya. Mereka hanya berbeda pada kondisi finansial, tetapi secara umum, kedudukan sosial atau hubungan antar personall sebenarnya tidak ada perbeda-annya. Walau yang terjadi selama ni kedudukan finansial ini diidentikan dengan kedudukan sosial seseorang. Dalam hal ini sudah menjadi sebuah ketentuan umum, bahwa mereka yang mempunyai kedudukan finansial tinggi, kaya secara otomatis masuk dalam golongan orang-orang dengan strata sosial yang tinggi, bukan lagi dalam golongan strata ekonomi tinggi. Hal inilah yang seringkali menjadi salah satu indikasi penyebab ketidakdamaian hidup seseorang. Jika seseorang menduduki kondisi finansial yang rendah, serba kekurangan, maka di dalam dirinya secara otomatis timbul suatu perasaan yang tidak kondusif untuk terciptanya sebuah kehidupan yang penuh kedamaian. Salah satu bentuk ke-tidakdamaian tersebut adalah adanya kondiis minder ketika harus berinteraksi dengan orang-orang yang mempunyai kedudukan finansial tinggi. Mereka me-rasa sedemikian kerdilnya sehingga menganggap bahwa manusia hidup itu memang tersusun atas strata-strata sosial yang berbeda. Sungguh, jika sudah terjebak dalam opini seperti itu, maka dimana-pun kita berada, maka ketidak-damaian pasti timbul dan menekan hati kita sebab kehidupan masyarakat kita semakin tidak seimbang, artinya yang kedudukan finansialnya tinggi semakin tinggi, tetapi mereka yang kedudukan finansialnya rendah semakin terpuruk dan tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya menekan perasaan sebagai ben-tuk keterpurukan perasan oleh kondisi finansial kehidupan mereka.
Orang-orang seperti ini menunjukkan bahwa tingkat kedewasaan sosial-nya masih sangat rendah, sehingga apresiasinya terhadap hubungan antar manusia hanya terbatas pada kedudukan finansial semata. Padahal sebenarnya ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekedar kedudukan finansial dalam pola pergaulan bermasyarakat. Hal terpenting tersebut adalah tingkat kepedulian seseorang terhadap kondisi kehidupan sesama yang ada di sekitar-nya. Ya, hal terpenting dalam pola pergaulan masyarakat adalah bagaimana seseorang mem-berikan respon terhadap orang lainnya dan selanjutnya mem-berikan solusi-solusi cantik terhadap setiap permasalahan yang mungkin dihadapi dalam kehidupannya. Sebenarnya, yang menjadikan kita berbeda atau memiliki kedewasaan sosial adalah tingkat kepedulian kita terhadap setiap permasalahan yang dialami oleh masyarakat di sekitar kita. Seberapa besar tingkat kepedulian kita itulah yang sebenarnya menjadi salah satu indikasi ukuran tingkat kedewasaan sosial seseorang. Semakin besar tingkat kepeduli-annya terhadap kondisi kehi-dupan di masyarakatnya, maka semakin tinggi tingkat kedewasaan seseorang. Orang mengatakan, dalam hal ini salah satunya adalah kedermawanan seseorang terhadap orang yang lainnya. Begitulah, jika seseorang memiliki tingkat kedewasaan sosial yang tinggi, maka segala sepak terjangnya tidak luput dari perwujudan dari kepeduliannya terhadap kondisi kehidupan ini.
Kedewasaan yang ketiga adalah kedewasaan susila. Kedewasaan susila artinya kesanggupan seseorang untuk bersikap sesuai dengan kodratnya sebagai manusia. Dalam hal ini kedewasaan susila sangat erat hubungannya dengan kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri dari perbuatan-perbuatan yang melanggar aturan susila dalam kehidupan bermasyarakat. Kehidupan su-sila artinya tidak lain adalah tindakan-tindakan yang berdasarkan pada norma-norma kehidupan positif yang berlaku dimasyarakat. Susila secara bebas dapat kita artikan sebagai norma atau kondisi positif yang dimiliki dan harus dimiliki oleh seseorang agar kehidupannya dapat lancar dan tidak mengalami hambatan ataupun kesulitan. Dengan aturan hidup kesusilaan ini, maka kita tidak bakalan melakukan hal-hal yang diluar sisi kenormaan dari kehidupan kita. Jika kita melakukan hal tersebut, berarti kita harus melawan pola kehidupan masyarakat secara umum. Semua elemen masyarakat tentunya menjadi musuh kita jika kita melakukan tindakan asusila dalam masyarakat. Oleh karena itulah, agar kehi-dupan kita penuh kedamaian menuju kebahagiaan hakiki, maka kehidupan yang penuh kesusilaan harus dijadikan sebagai salah satu bentuk sikap positif menghadapi kehidupan yang semakin tidak karuan ini. Kita harus menjadikan sikap hidup penuh kesusilan sebagai dasar berinteraksi sehingga pola kehidup-an dapat tertata dan mampu serta memungkinkan bagi kita untuk mencapai ke-damaian yang kita angan-angankan.
Tingkat kedewasaan susila seseorang pada dasarnya terkait dengan ting-kat kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri dalam hal tindakan-tin-dakan yang bersifat susila. Kemampuan seseorang dalam mengendalikan tin-dakan-tindakan asusila menunjukkan seberapa tingkat kedewasaan seseorang, misalnya seseorang yang mampu mengendalikan dirinya untuk tidak berbuat negatif dengan melanggar norma kesusilaan, misalnya melacur atau bertindak untuk kepentingan dan kesenangan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain, terutama lawan jenis, memperkosa atau melakukan perbuatan-perbuatan yang dikategorikan sebagai penzinahan, maka kita dapat mengatakan bahwa seseorang telah mempunyai atau mencapai tingkatan kedewasaan diri yang cukup baik. Suka melecehkan orang lain-pun dikategorikan tidak dewasa secara susila. Hal ini sering kali kita lihat dilakukan kaum lelaki terhadap kaum perempuan. Entah dengan pola pemikiran yang bagaimana, sepertinya kaum lelaki merasakan bahwa posisinya berada pada kedudukan superior sehingga dengan seenaknya memperlakukan kaum perempuan sebagai sesuatu yang dapat dipermainkan begitu saja. Tetapi, repotnya juga, kaum perempuan-pun ternyata tidak sedikit yang justru membuka peluang seluas-luasnya untuk diperlakukan seenaknya oleh kaum laki-laki. Kaum perempuan dengan seenak hatinya berpenampilan seronok di tempat-tempat umum sehingga mengun-dang mulut-mulut atau tangan-tangan usil untuk menggodanya. Dalam kasus seperti ini, maka kita dapat mengatakan bahwa yang mengalami kemerosotan kedeawasaan susila adalah kedua pihak, yaitu sang laki-laki dan perempuan.
Orang-orang yang telah mencapai kedewasaan susila selalu memposisi-kan dan menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak sepatutnya dilakukan jika dilihat dari sisi kesusilaan. Dengan langkah dan pola hidup seperti ini, maka setidaknya kita dapat mengkondisikan hati kita dalam keadaan yang damai me-nuju kebahagiaan diri. Kesusilaan yang dimiliki seseorang menjadi indikasi ke-dewasaan seseorang. Semakin dewasa, maka semakin terkontrol kesusilaannya. Orang-orang yang sudah pada taraf kedewasaan susila selalu melakukan intro-speksi atau evaluasi awal sebelum sesuatu mereka lakukan, terkhusus yang berhubungan dengan kesusilaan. Mereka seringkali harus mengalah dan meng-anggap tidak ada apa-apa disekitarnya jika sudah berhubungan dengan kesusila-an. Bagi mereka kesusilaan merupakan sesuatu yang sakral dan tidak boleh di-ganggu eksistensinya. Semua orang mempunyai kewajiban untuk menjaganya.
Sekarang ini kita seringkali melihat kenyataan bahwa semakin hari banyak orang yang kehilangan kedewasaan susilanya, apalagi jika kita melihat ke tempat-tempat umum, seperti mall atau plaza di kota-kota. Banyak orang yang telah kehilangan nilai-nilai norma kehidupan positif sehingga dengan seenaknya melakukan tindakan-tindakan yang lebih mengarah pada kondisi kehilangan kedewasaan susila. Mereka dengan seenaknya bersikap sebagai orang-orang barbar yang tanpa perhitungan dan pertimbangan melakukan se-gala hal hanya untuk menyenangkan hatinya semata. Bahkan tidak jarang mereka bermesraan di tempat - tempat umum, dipandang oleh banyak mata. Mereka seakan tidak memperdulikan betapa semua orang berdecak keheranan melihat sikap mereka yang sangat over acting. Boleh saja kita menyayangi pasangan kita, tetapi tentunya tidak seperti itu kita menyatakannya. Tidak pada tempatnya jika kita melakukan kemesraan dengan pasangan kita, apalagi yang bukan pasangan kita di tempat-tempat umum, dihadapan banyak mata orang. Tentunya hal ini menjadikan kita sebagai orang-orang yang belum memahami tentang kedewasaan susila kita sendiri. Sebaiknya, jika kita saling menyayang dengan pasangan resmi ataupun bukan pasangan resmi kita, maka tidak perlu kita pamerkan di depan pandangan umum. Sama sekali tidak etis jika hal ter-sebut kita lakukan secara drastic seperti itu. Lebih baik kita pulang atau ke tempat pribadi kita sehingga hanya kita berdua yang melakukannya.
Berapa banyak orang yang dengan seenaknya melakukan tindakan-tin-dakan asusila di dalam kehidupan masyarakat. Bergerak seenaknya sendiri dalam kondisi yang tidak bermoral. Barapa banyak orang yang melakukan tindakan - tindakan amoral, asusila hanya untuk memenuhi kebuTuhan naluri kebinatangannya. Kalau hal seperti itu terjadi, bagaimana mungkin kita dapat hidup secara damai menuju pada kondisi yang serba berbahagia?! Dapatkah kita hidup damai jika ternyata setiap saat kita selalu saja menjadi perbincangan orang akibat sikap kita yang telah kehilangan sisi susila kemanusiaan? Oleh karena itulah, maka kita perlu menjaga kedewasaan susila kita secara baik dan teratur.
Sabtu, 20 September 2008
HUBUNGAN KEDAMAIAN DAN KEBAHAGIAAN
Ketika kita merasakan kehidupan yang tidak aman, maka pada saat itu se-benarnya kita telah kehilangan sebagian dari kedamaian kita. Keamanan yang terancam akibat kondisi yang tercipta untuk kita ataupun sikap serta kondisi yang tidak mendukung keinginan hati dan akhirnya memancing emosi kita sehingga berapi-api, maka pada saat tersebut kita telah kehilangan kedamaian hidup. Hubungan antara kedamaian dengan sebahagiaan sedemikian erat dan dekatnya sehingga kita tidak dapat mengabaikan satu terhadap yang lainnya. Kalau kita membicarakan yang satu, maka yang satuya secara langsung menjadi bagian tak terpisahkan dan selalu bersama-sama sebagai hukum sebab dan akibat, yaitu hukum kausalik yang berlaku secara otomatis dari Tuhan. Kedamaian merupakan dasar dari hidup yang penuh kebahagiaan dan keba-hagiaan hanya dapat tercipta jika kita berada pada kondisi hidup yang penuh kedamaian. Hal ini disebabkan karena hanya dalam kedamaian, maka hati merasa nyaman dan kenyamanan merupakan indikasi dari hidup yang ber-kebahagiaan.
Secara umum, ketika kita berbicara mengenai kedamaian, maka yang ter-bayang di dalam pikiran kita adalah suatu kondisi yang aman, tidak ada ancaman dari dunia luar diri. Semua pola kegiatan hidup dapat dilakukan dan diwujudkan sesuasi dengan program yang telah disusun sebelumnya. Tidak ada permusuhan yang tercipta di antara elemen masyarakat. Semua elemen masya-rakat dapat hidup berdampingan tanpa ada perseteruan negatif yang menye-babkan masing-masing pihak merasa terancam eksistensinya. Semua orang dapat melaksanakan kegiatan hidupnya tanpa harus merasa syak terhadap kondisi dan pola pergaulan yang harus dijalaninya. Setiap orang menjalani kehidupan secara kodrati tanpa harus melakukan manuver-manuver kotor untuk mengkondisikan dirinya sebagai orang-orang berhasil menguasai kehi-dupan dan menganggap orang lain hanyalah pion yang melengkapi kehi-dupannya. Mereka merasa hidup sebagai sosok yang lebih dari pada orang lain sehingga orang lain seharusnya dating kepaanya jika membutuhkan sesuatu. Hal ini selanjutnya menciptakan interaksi sosial antar personall dan menjadikan hidup sebagai sesuatu yang dinamis.
Tetapi, pada kenyataannya semua itu sungguh sangat berbeda. Teori me-ngenai langkah-langkah menciptakan kondisi aman sungguh berlainan dengan kenyataan yang dihadapi dalam kehidupan yang sebenarnya. Orang - orang selalu mengatakan bahwa mereka sangat mendambakan hidup damai. Tetapi apa yang kita temukan dalam kehidupan nyata? Mereka justru menjadi penyebab ketidakdamaian di lingkungan masing-masing. Mereka selalu saja menerapkan pola kehidupan yang bertentangan dengan konsep dasar kehidup-an penuh kedamaian. Bahkan tidak jarang mereka yang sangat getol menyuara-kan kedamaian ternyata menjadi biang keladi keonaran hidup di masya-rakat.
Masing-masing dari kita selalu berusaha untuk dapat menggapai ke-hidupan yang penuh kedamaian. Segala hal dilakukan untuk dapat mewujud-kan kehidupan yang damai dan hal ini seringkali menyebabkan pola kehidupan tidak lagi damai. Bahwa ketidakdamaian pola kehidupan di masyarakat merupa-kan akibat dari pola hidup yang diterapkan oleh anggota masyarakatnya. Se-bagian besar anggota masyarakat, kita berpikir bahwa kedamaian itu urusan diri masing-masing dan harus berusaha untuk mendapatkannya sendiri-sendiri. Hal inilah yang selanjutnya menjadi permasalahaan krusial sebab sering terjadi friksi antar pribadi akibat egoisme masing-masing pihak untuk mewujudkan keingin-an mereka. Kenyataan inilah yang menjadikan kondisi seakan-akan setiap orang berada pada posisi saling menyikut dan menjatuhkan. Jika hal tersebut salah dimengerti, maka yang terjadi adalah keyataan, yaitu masing-masing personil saling menjegal dan menyikut untuk mendapatkan kedamaian hidup. Padahal sebenarnya kedamaian itu tidak dapat digapai oleh orang perseorang tanpa bantuan atau keterlibatan orang lain. Kita dapat merasakan kedamaian sebab setiap orang mendukung diri kita untuk berada pada kondisi damai, kalau saja orang lain merasa tidak memerlukan kedamaian, maak sudah pasti hidup kita juga tidak pernah damai, apalagi bahagia.
Kita harus menghindari terjadinya friksi antar pribadi dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab, friksi inilah yang seringkali menjadikan kita kehilangan kondisi damai. Kita berbenturan hati, bahkan fisik sehingga mendatangkan kondisi tidak aman. Akibatnya, seringkali kita menyaksikan terjadinya perang antar saudara, suku, bahkan antar negara. Bahkan, kita pernah mengalami kondisi yang sangat tidak damai, sehingga banyak orang yang tidak bahagia hidupnya. Pada saat itu kondisi sedemikian rupa sehingga orang selalu me-mikirkan keselamatan dirinya yang terancam. Setiap saat harus berhadapan dengan serdadu dan bau amis darah korban perang. Ketika negeri ini dijajah oleh negeri lain karena diinginkan hasil buminya, kekayaan buminya yang sede-mikian besar, maka pada saat itulah kita telah kehilangan kedamaian hidup, apalagi kebahagiaan hidup. Setiap saat kita harus berhadapan dengan kondisi yang tidak nyaman sebab penjajah memang mengkondisikan agar hidup kita tidak nyaman sehingga setiap saat banyak orang yang tersiksa hidupnya, kehilangan kedamaian dan kebahagiaan hidup. Itu merupakan sejarah yang sangat menyiksa dan menjadi teladan agar kita tidak mengalami hal tersebut untuk kedua kalinya. Hidup tanpa kedamaian merupakan kehidupan yang paling menyiksa diri dan menghancurkan masa depan, sehingga kita seharusnya menyadari bahwa kita sangat memerlukan kedamaian sebagai salah satu jembatan menuju kebahagiaan hidup yang hakiki.
Berapa banyak orang yang mati akibat kondisi yang tidak aman, bahkan kondisi yang tidak ada kedamaian. Mereka merupakan korban yang sia-sia. Seharusnya mereka hidup secara bahagia di dunia ini, sesuai dengan kodrat hidupnya. Kita juga demikian, seharusnya dapat hidup secara damai agar bahagia. Segala hal harus kita lakukan dan kondisikan sehingga mampu meng-antar kita menuju keberhasilan membangun masyarakat yang penuh kedamai-an. Setiap saat kita berusaha untuk mengkondisikan kehidupan ini penuh dengan kedamaian sehingga setiap personil atau elemen masyarakat merasakan bahwa kehidupan ini merupakan hal terbaik bagi kita. Bagaimana-pun kita selalu berharap agar hidup kita selalu dalam lingkupan kebahagiaan dan bukan terkungkung oleh kedukaan yang tiada habisnya. Sebagai makhluk Tuhan yang diciptakan untuk menjadi pemimpin di dunia ini, maka setidaknya masing-masing orang dibekali oleh sikap baik untuk menjaga kehidupan dunia sebagai sebuah kondisi yang terbaik. Pada hakikatnya manusia diciptakan dalam kondisi putih, suci sehingga kodratnya adalah baik-baik, hanya saja kemudian kondisi tersebut snagat berlainan ketika harus berinteraksi dengan orang lain dan menghadapi kodnsii kehidupan yang tidak dapat diatasinya secara baik, maka nilai positif diri mulai tergerus dan pada akhirnya hilang. Bahwa, pada dasarnya kita ini adalah pribadi yang baik. Kita diciptakan oleh Tuhan sebagai sosok yang suci, tanpa dosa dan selalu berpikiran positif terhadap kondisi kehidupan dunia. Coba kita lihat, bagaimana seorang anak berinteraksi dengan lingkungannya tanpa pernah mempuyai syak wasangka terhadap siapapun yang ada di sekitar-nya. Mereka begitu lugu artinya masih begitu asli hidupnya sehingga tidak pernah mempunyai kecurigaan terhadap kondisi kehidupannya, walaupun apa yang dilakukannya mengandung resiko. Hal ini bukan berarti karena anak belum mengerti apa-apa, tetapi begitulah sebenarnya kita diciptakan Tuhan dalam kehidupan ini. Seharusnya pikiran kita adalah pikiran bebas yang tidak didasari oleh berbagai pikiran negatif terhadap orang lain atau terhadap kehidupan ini. Dasar kepribadian kita adalah kepribadian positif tetapi selanjutnya mengalami perubahan drastis ketika kepribadian tersebut harus disandingkan dengan kehidupan alam yang memaksa setiap orang untuk berusaha menjaga eksistensi dirinya. Bahwa selanjutnya sikap kita menjadi negatif semata-mata adalah merupakan respon diri terhadap kondisi hidup yang memang memaksa kita untuk berusaha mempertahankan diri terhadap segala aktivitas hidup yang serba memperkosa diri. Kehidupan selalu memaksa setiap orang untuk selalu berusaha memenuhi segala kebuTuhan hidupnya tanpa harus memikirkan dampak yang terjadi dari setiap kegiatan pertahanan diri tersebut. Bahkan, tidak jarang harus berbenturan dengan orang lain sebab mem-pertahankan kehidupan salah satunya adalah selalu menganggap bahwa orang lain selalu berusaha menyerobot kepentingan diri kita. Asumsi inilah yang selanjutnya membuat setiap orang merasa terganggu bahkan terancam jika seseorang mendekati bidang kerja yang ditanganinya. Dari asumsi tersebut, maka selanjutnya timbul-lah kontra antar pribadi, friksi antar personall dan akhirnya hal tersebut menjadi-kan setiap orang bercuriga terhadap sesamanya. Jika hal tersebut terjadi, maka kita pasti kehilangan kedamaian sebab hidup kita didasari oleh kecurigaan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.
Kita harus meyakini bahwa hanya dengan pola hidup yang penuh ke-damaian saja, maka kehidupan dunia ini dapat dijaga dari kehancuran. Dengan kedamaian pasti akan tercipta pola pergaulan antar manusia yang dapat mem-berikan kebahagiaan yang memberikan kita dapat mengaktualisasikan segala kemampuan diri sehingga dapat menjaga eksistensi kehidupan manusia. Siapa lagi yang bakal menjaga eksistensi kita jika bukan kita?! kita diciptakan Tuhan sebagai pemimpin kehidupan dunia, artinya Tuhan sengaja menciptakan kita sebagai makhluk yang berakal, berperasaan dengan tujuan agar dapat menjaga eksistensi kehidupan ini sedemikian rupa sehingga segala hal negatif dalam kehidupan dapat dihilangkan dan selanjutnya dapat menjadikan kehidupan lebih teratur dan tentu saja penuh dengan kedamaian.
Kedamaian dan kebahagiaan merupakan dua aspek kehidupan yang saling berkaitan dan tidak dapat terpisahkan sampai kapanpun. Kedua aspek ini sepertinya saling bergantung dan tergantung. Bahwa kedamaian pada akhirnya mengarah pada terciptanya suatu kondisi yang membahagiakan. Sedangkan, kebahagiaan yang utuh sudah pasti akan membawa kondisi yang penuh dengan kedamaian. Inilah benang merah yang mengkaitkan antara kedamaian dengan kebahagiaan.
Kita tidak mungkin membiarkan kondisi kehidupan yang selalu penuh dengan ancaman. Kitalah yang seharusnya berusaha untuk menghilangkan segala hal yang berkaitan dengan eksistensi kedamaian dengan kebahagiaan yang mungkin tercipta akibat pola pikir dan laku. Kita seharusnya berperan aktif dalam setiap langkah konkrit untuk mengawinkan kedamaian dengan ke-bahagiaan sebagai hasil reproduksi alamiah. Dengan proses perkawinan alamiah inilah, maka reproduksi kehidupan menjadi sebuah fenomena alam, bukan hasil rekayasa ataupun upaya negatif menutupi kepalsuan kondisi.
Kedamaian dan kebahagiaan tidak mungkin kita palsukan sebab dengan memalsukan kondisi tersebut sebenarnya kita telah menanam benih permasalah-an dan penderitaan untuk masa depan. Bagaimanapun kita harus memposisikan pola kehidupan diri kita secara proporsional sehingga tidak begitu merugikan diri sendiri. Keproporsionalan kondisi tersebut harus diasumsikan sebagai se-buah upaya sadar dan dialokasikan sebagai langkah konkrit pertanggung-jawaban terhadap kehidupan diri.
Kedamaian tidak hanya tergantung pada tidak adanya ancaman keaman-an diri terhadap ancaman, melainkan kondisi perekonomian juga dapat menjadi salah satu pemicu hadirnya ketidakdamaian hidup. Oleh karena itulah, maka keinginan hidup secara damai merupakan salah satu dampak dari kondisi per-ekonomian yang kurang mendukung. Kita yang kondisi perekonomiannya ku-rang mampu, bahkan tidak mampu mempunyai kecenderungan untuk menciptakan ketidakamanan dan selanjutnya menjadi ketidakdamaian hidup, yang jika dibiarkan secara terus menerus, maka hal tersebut dapat menjadikan hidup kita kehilangan kebahagiaan.
Seringkali kita berharap kondisi perekonomian kita dapat meningkat, maka pada saat tersebut kita merasa terancam oleh kondisi yang serba berke-kurangan. Inilah yang penulis maksudkan bahwa perekonomian menjadi salah satu penyebab ketidak-damaian hidup manusia. Manusia mempunyai kecen-derungan untuk hidup serba mudah dan terpenuhi segala kebuTuhan. Hal ini seringkali mendatangkan pola kehidupan manusia yang penuh kegelisahan. Seringkali orang memakai kondisi perekonomian keluarga sebagai salah satu alasan sehingga mereka tidak dapat menggapai kedamaian hidup. Mereka merasa bahwa seharusnya kehdiupan ini dalam kondisi perkonomian yang cukup, bahkan berlebih jika ingin hidup secara damai dan pada akhirnya penuh dengan kebahagiaan. Kita seringkali melihat banyak orang yang mengatakan hidupnya tidak nyaman, tidak tenang dan tidak damai, bahkan tidak bahagia sebab kehidupan ekonominya sangat berkekurangan. Mereka menganggap bahwa kehidupannya terancam oleh kondisi ekomnomi yang kurang.
Kalau kita mengalami kegelisahan dalam hidup, maka hal itu berarti kita mengalami kondisi yang tidak aman dan selanjutnya kondisi tidak aman ini menciptakan ketidaknyamanan. Kalau hidup kita tidak nyaman, maka sudah pasti kita tidak bakal damai. Setiap saat kita selalu berpikir tentang segala hal yang bersifat negatif dan menyerang diri kita. Hidup kita terasa selalu meng-hadapi kondisi negatif yang destruktif sehingga tidak ada kedamaian. Akibatnya kita selalu berusaha untuk mempertahankan diri dari segala hal yang bersifat negatif terhadap diri kita. Kita selalu berusaha menganulir setiap masalah dengan langkah-langkah strategis, yang kadangkala oleh orang lain dianggap sebagai bentuk perlawanan dan akhirnya orang lain berthan pada kondisi yang akhirnya kondisi tersebut menciptakan friksi antar personall.
Apakah kita menginginkan hal seperti itu? Tentunya tidak seorangpun yang ingin hidupnya selalu dilingkupi perasaan gelisah dan tidak aman. Kita cenderung untuk berada pada lingkungan yang memberikan kita kondisi aman. Setiap kali kita menghadapi kondisi negatif yang mengancam, maka segera kita berusaha untuk melepaskan diri. Segala hal kita lakukan untuk menganulir kondisi negatif dan mencoba untuk menciptakan kondisi positif agar kehidupan menjadi lebih baik. Setiap orang berusaha untuk menghilangkan kondisi negatif.
Kita memang harus segera tanggap terhadap kondisi yang kita alami jika menginginkan segala hal menjadi lebih baik. Kita harus berusaha untuk meng-usir segala hal negatif untuk dapat hidup secara damai dan akhirnya mencapai kebahagiaan. Kita ini mempunyai kewajiban untuk selalu berusaha dalam menghadapi kehidupan. Kalau kita tidak mau berusaha, maka kehidupan kita menjadi sebuah perjalanan tiada arti.
Lantas, apalah artinya hidup kita jika kita tidak mau berbuat sesuatu yang membahagiakan diri dan memberikan kedamaian? Kebahagiaan dan kedamaian memang sangat mahal harganya. Nilainya bagi kehidupan sangatlah penting sehingga dimanapun kita berada, maka kita sangat memerlukannya.
Seringkali orang mengatakan bahwa apa yang dijalani dan diterima dalam kehidupan ini sungguh sangat berlainan dengan apa yang diharap-kannya, bahkan banyak juga yang mengatakan sangat bertentangan. Akibatnya seringkali kita mengalami kekecewaan yang sangat dan menjadikan diri di-rundung penderitaan. Apakah anda juga mengalami hal yang sama? Apakah anda juga mengalami kekecewaan terhadap apa yang telah diberikan kehidupan untuk diri kita? Jika hal itu kita alami, maka sudah pasti hidup kita tidak ten-teram.
Lantas, apa yang harus kita lakukan untuk dapat menciptakan kehidupan yang penuh kedamaian menuju kebahagiaan? Apakah kita membiarkan diri kita tenggelam dan terjebak dalam lingkaran dan balutan hidup yang serba tidak pasti? Tentunya tidak demikian yang kita lakukan!
Langkah-langkah penciptaan dan pengkondisian hidup yang damai di-lakukan secara sadar dan terstruktur dengan selalu bersikap tenang dan meng-hilangkan emosional pada saat menghadapi permasalahan. Kita perlu meng-hadapi setiap permasalahan secara proporsional dan hati lapang sehingga hidup terasa ringan dan tiada bermasalah. Marilah kita mulai melangkahkan kaki dan tekad untuk lebih menghargai kehidupan secara baik dan jangan matikan hidup dengan berlama-lama dan bermesra-mesra dengan permasalahan.
Secara umum, ketika kita berbicara mengenai kedamaian, maka yang ter-bayang di dalam pikiran kita adalah suatu kondisi yang aman, tidak ada ancaman dari dunia luar diri. Semua pola kegiatan hidup dapat dilakukan dan diwujudkan sesuasi dengan program yang telah disusun sebelumnya. Tidak ada permusuhan yang tercipta di antara elemen masyarakat. Semua elemen masya-rakat dapat hidup berdampingan tanpa ada perseteruan negatif yang menye-babkan masing-masing pihak merasa terancam eksistensinya. Semua orang dapat melaksanakan kegiatan hidupnya tanpa harus merasa syak terhadap kondisi dan pola pergaulan yang harus dijalaninya. Setiap orang menjalani kehidupan secara kodrati tanpa harus melakukan manuver-manuver kotor untuk mengkondisikan dirinya sebagai orang-orang berhasil menguasai kehi-dupan dan menganggap orang lain hanyalah pion yang melengkapi kehi-dupannya. Mereka merasa hidup sebagai sosok yang lebih dari pada orang lain sehingga orang lain seharusnya dating kepaanya jika membutuhkan sesuatu. Hal ini selanjutnya menciptakan interaksi sosial antar personall dan menjadikan hidup sebagai sesuatu yang dinamis.
Tetapi, pada kenyataannya semua itu sungguh sangat berbeda. Teori me-ngenai langkah-langkah menciptakan kondisi aman sungguh berlainan dengan kenyataan yang dihadapi dalam kehidupan yang sebenarnya. Orang - orang selalu mengatakan bahwa mereka sangat mendambakan hidup damai. Tetapi apa yang kita temukan dalam kehidupan nyata? Mereka justru menjadi penyebab ketidakdamaian di lingkungan masing-masing. Mereka selalu saja menerapkan pola kehidupan yang bertentangan dengan konsep dasar kehidup-an penuh kedamaian. Bahkan tidak jarang mereka yang sangat getol menyuara-kan kedamaian ternyata menjadi biang keladi keonaran hidup di masya-rakat.
Masing-masing dari kita selalu berusaha untuk dapat menggapai ke-hidupan yang penuh kedamaian. Segala hal dilakukan untuk dapat mewujud-kan kehidupan yang damai dan hal ini seringkali menyebabkan pola kehidupan tidak lagi damai. Bahwa ketidakdamaian pola kehidupan di masyarakat merupa-kan akibat dari pola hidup yang diterapkan oleh anggota masyarakatnya. Se-bagian besar anggota masyarakat, kita berpikir bahwa kedamaian itu urusan diri masing-masing dan harus berusaha untuk mendapatkannya sendiri-sendiri. Hal inilah yang selanjutnya menjadi permasalahaan krusial sebab sering terjadi friksi antar pribadi akibat egoisme masing-masing pihak untuk mewujudkan keingin-an mereka. Kenyataan inilah yang menjadikan kondisi seakan-akan setiap orang berada pada posisi saling menyikut dan menjatuhkan. Jika hal tersebut salah dimengerti, maka yang terjadi adalah keyataan, yaitu masing-masing personil saling menjegal dan menyikut untuk mendapatkan kedamaian hidup. Padahal sebenarnya kedamaian itu tidak dapat digapai oleh orang perseorang tanpa bantuan atau keterlibatan orang lain. Kita dapat merasakan kedamaian sebab setiap orang mendukung diri kita untuk berada pada kondisi damai, kalau saja orang lain merasa tidak memerlukan kedamaian, maak sudah pasti hidup kita juga tidak pernah damai, apalagi bahagia.
Kita harus menghindari terjadinya friksi antar pribadi dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab, friksi inilah yang seringkali menjadikan kita kehilangan kondisi damai. Kita berbenturan hati, bahkan fisik sehingga mendatangkan kondisi tidak aman. Akibatnya, seringkali kita menyaksikan terjadinya perang antar saudara, suku, bahkan antar negara. Bahkan, kita pernah mengalami kondisi yang sangat tidak damai, sehingga banyak orang yang tidak bahagia hidupnya. Pada saat itu kondisi sedemikian rupa sehingga orang selalu me-mikirkan keselamatan dirinya yang terancam. Setiap saat harus berhadapan dengan serdadu dan bau amis darah korban perang. Ketika negeri ini dijajah oleh negeri lain karena diinginkan hasil buminya, kekayaan buminya yang sede-mikian besar, maka pada saat itulah kita telah kehilangan kedamaian hidup, apalagi kebahagiaan hidup. Setiap saat kita harus berhadapan dengan kondisi yang tidak nyaman sebab penjajah memang mengkondisikan agar hidup kita tidak nyaman sehingga setiap saat banyak orang yang tersiksa hidupnya, kehilangan kedamaian dan kebahagiaan hidup. Itu merupakan sejarah yang sangat menyiksa dan menjadi teladan agar kita tidak mengalami hal tersebut untuk kedua kalinya. Hidup tanpa kedamaian merupakan kehidupan yang paling menyiksa diri dan menghancurkan masa depan, sehingga kita seharusnya menyadari bahwa kita sangat memerlukan kedamaian sebagai salah satu jembatan menuju kebahagiaan hidup yang hakiki.
Berapa banyak orang yang mati akibat kondisi yang tidak aman, bahkan kondisi yang tidak ada kedamaian. Mereka merupakan korban yang sia-sia. Seharusnya mereka hidup secara bahagia di dunia ini, sesuai dengan kodrat hidupnya. Kita juga demikian, seharusnya dapat hidup secara damai agar bahagia. Segala hal harus kita lakukan dan kondisikan sehingga mampu meng-antar kita menuju keberhasilan membangun masyarakat yang penuh kedamai-an. Setiap saat kita berusaha untuk mengkondisikan kehidupan ini penuh dengan kedamaian sehingga setiap personil atau elemen masyarakat merasakan bahwa kehidupan ini merupakan hal terbaik bagi kita. Bagaimana-pun kita selalu berharap agar hidup kita selalu dalam lingkupan kebahagiaan dan bukan terkungkung oleh kedukaan yang tiada habisnya. Sebagai makhluk Tuhan yang diciptakan untuk menjadi pemimpin di dunia ini, maka setidaknya masing-masing orang dibekali oleh sikap baik untuk menjaga kehidupan dunia sebagai sebuah kondisi yang terbaik. Pada hakikatnya manusia diciptakan dalam kondisi putih, suci sehingga kodratnya adalah baik-baik, hanya saja kemudian kondisi tersebut snagat berlainan ketika harus berinteraksi dengan orang lain dan menghadapi kodnsii kehidupan yang tidak dapat diatasinya secara baik, maka nilai positif diri mulai tergerus dan pada akhirnya hilang. Bahwa, pada dasarnya kita ini adalah pribadi yang baik. Kita diciptakan oleh Tuhan sebagai sosok yang suci, tanpa dosa dan selalu berpikiran positif terhadap kondisi kehidupan dunia. Coba kita lihat, bagaimana seorang anak berinteraksi dengan lingkungannya tanpa pernah mempuyai syak wasangka terhadap siapapun yang ada di sekitar-nya. Mereka begitu lugu artinya masih begitu asli hidupnya sehingga tidak pernah mempunyai kecurigaan terhadap kondisi kehidupannya, walaupun apa yang dilakukannya mengandung resiko. Hal ini bukan berarti karena anak belum mengerti apa-apa, tetapi begitulah sebenarnya kita diciptakan Tuhan dalam kehidupan ini. Seharusnya pikiran kita adalah pikiran bebas yang tidak didasari oleh berbagai pikiran negatif terhadap orang lain atau terhadap kehidupan ini. Dasar kepribadian kita adalah kepribadian positif tetapi selanjutnya mengalami perubahan drastis ketika kepribadian tersebut harus disandingkan dengan kehidupan alam yang memaksa setiap orang untuk berusaha menjaga eksistensi dirinya. Bahwa selanjutnya sikap kita menjadi negatif semata-mata adalah merupakan respon diri terhadap kondisi hidup yang memang memaksa kita untuk berusaha mempertahankan diri terhadap segala aktivitas hidup yang serba memperkosa diri. Kehidupan selalu memaksa setiap orang untuk selalu berusaha memenuhi segala kebuTuhan hidupnya tanpa harus memikirkan dampak yang terjadi dari setiap kegiatan pertahanan diri tersebut. Bahkan, tidak jarang harus berbenturan dengan orang lain sebab mem-pertahankan kehidupan salah satunya adalah selalu menganggap bahwa orang lain selalu berusaha menyerobot kepentingan diri kita. Asumsi inilah yang selanjutnya membuat setiap orang merasa terganggu bahkan terancam jika seseorang mendekati bidang kerja yang ditanganinya. Dari asumsi tersebut, maka selanjutnya timbul-lah kontra antar pribadi, friksi antar personall dan akhirnya hal tersebut menjadi-kan setiap orang bercuriga terhadap sesamanya. Jika hal tersebut terjadi, maka kita pasti kehilangan kedamaian sebab hidup kita didasari oleh kecurigaan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.
Kita harus meyakini bahwa hanya dengan pola hidup yang penuh ke-damaian saja, maka kehidupan dunia ini dapat dijaga dari kehancuran. Dengan kedamaian pasti akan tercipta pola pergaulan antar manusia yang dapat mem-berikan kebahagiaan yang memberikan kita dapat mengaktualisasikan segala kemampuan diri sehingga dapat menjaga eksistensi kehidupan manusia. Siapa lagi yang bakal menjaga eksistensi kita jika bukan kita?! kita diciptakan Tuhan sebagai pemimpin kehidupan dunia, artinya Tuhan sengaja menciptakan kita sebagai makhluk yang berakal, berperasaan dengan tujuan agar dapat menjaga eksistensi kehidupan ini sedemikian rupa sehingga segala hal negatif dalam kehidupan dapat dihilangkan dan selanjutnya dapat menjadikan kehidupan lebih teratur dan tentu saja penuh dengan kedamaian.
Kedamaian dan kebahagiaan merupakan dua aspek kehidupan yang saling berkaitan dan tidak dapat terpisahkan sampai kapanpun. Kedua aspek ini sepertinya saling bergantung dan tergantung. Bahwa kedamaian pada akhirnya mengarah pada terciptanya suatu kondisi yang membahagiakan. Sedangkan, kebahagiaan yang utuh sudah pasti akan membawa kondisi yang penuh dengan kedamaian. Inilah benang merah yang mengkaitkan antara kedamaian dengan kebahagiaan.
Kita tidak mungkin membiarkan kondisi kehidupan yang selalu penuh dengan ancaman. Kitalah yang seharusnya berusaha untuk menghilangkan segala hal yang berkaitan dengan eksistensi kedamaian dengan kebahagiaan yang mungkin tercipta akibat pola pikir dan laku. Kita seharusnya berperan aktif dalam setiap langkah konkrit untuk mengawinkan kedamaian dengan ke-bahagiaan sebagai hasil reproduksi alamiah. Dengan proses perkawinan alamiah inilah, maka reproduksi kehidupan menjadi sebuah fenomena alam, bukan hasil rekayasa ataupun upaya negatif menutupi kepalsuan kondisi.
Kedamaian dan kebahagiaan tidak mungkin kita palsukan sebab dengan memalsukan kondisi tersebut sebenarnya kita telah menanam benih permasalah-an dan penderitaan untuk masa depan. Bagaimanapun kita harus memposisikan pola kehidupan diri kita secara proporsional sehingga tidak begitu merugikan diri sendiri. Keproporsionalan kondisi tersebut harus diasumsikan sebagai se-buah upaya sadar dan dialokasikan sebagai langkah konkrit pertanggung-jawaban terhadap kehidupan diri.
Kedamaian tidak hanya tergantung pada tidak adanya ancaman keaman-an diri terhadap ancaman, melainkan kondisi perekonomian juga dapat menjadi salah satu pemicu hadirnya ketidakdamaian hidup. Oleh karena itulah, maka keinginan hidup secara damai merupakan salah satu dampak dari kondisi per-ekonomian yang kurang mendukung. Kita yang kondisi perekonomiannya ku-rang mampu, bahkan tidak mampu mempunyai kecenderungan untuk menciptakan ketidakamanan dan selanjutnya menjadi ketidakdamaian hidup, yang jika dibiarkan secara terus menerus, maka hal tersebut dapat menjadikan hidup kita kehilangan kebahagiaan.
Seringkali kita berharap kondisi perekonomian kita dapat meningkat, maka pada saat tersebut kita merasa terancam oleh kondisi yang serba berke-kurangan. Inilah yang penulis maksudkan bahwa perekonomian menjadi salah satu penyebab ketidak-damaian hidup manusia. Manusia mempunyai kecen-derungan untuk hidup serba mudah dan terpenuhi segala kebuTuhan. Hal ini seringkali mendatangkan pola kehidupan manusia yang penuh kegelisahan. Seringkali orang memakai kondisi perekonomian keluarga sebagai salah satu alasan sehingga mereka tidak dapat menggapai kedamaian hidup. Mereka merasa bahwa seharusnya kehdiupan ini dalam kondisi perkonomian yang cukup, bahkan berlebih jika ingin hidup secara damai dan pada akhirnya penuh dengan kebahagiaan. Kita seringkali melihat banyak orang yang mengatakan hidupnya tidak nyaman, tidak tenang dan tidak damai, bahkan tidak bahagia sebab kehidupan ekonominya sangat berkekurangan. Mereka menganggap bahwa kehidupannya terancam oleh kondisi ekomnomi yang kurang.
Kalau kita mengalami kegelisahan dalam hidup, maka hal itu berarti kita mengalami kondisi yang tidak aman dan selanjutnya kondisi tidak aman ini menciptakan ketidaknyamanan. Kalau hidup kita tidak nyaman, maka sudah pasti kita tidak bakal damai. Setiap saat kita selalu berpikir tentang segala hal yang bersifat negatif dan menyerang diri kita. Hidup kita terasa selalu meng-hadapi kondisi negatif yang destruktif sehingga tidak ada kedamaian. Akibatnya kita selalu berusaha untuk mempertahankan diri dari segala hal yang bersifat negatif terhadap diri kita. Kita selalu berusaha menganulir setiap masalah dengan langkah-langkah strategis, yang kadangkala oleh orang lain dianggap sebagai bentuk perlawanan dan akhirnya orang lain berthan pada kondisi yang akhirnya kondisi tersebut menciptakan friksi antar personall.
Apakah kita menginginkan hal seperti itu? Tentunya tidak seorangpun yang ingin hidupnya selalu dilingkupi perasaan gelisah dan tidak aman. Kita cenderung untuk berada pada lingkungan yang memberikan kita kondisi aman. Setiap kali kita menghadapi kondisi negatif yang mengancam, maka segera kita berusaha untuk melepaskan diri. Segala hal kita lakukan untuk menganulir kondisi negatif dan mencoba untuk menciptakan kondisi positif agar kehidupan menjadi lebih baik. Setiap orang berusaha untuk menghilangkan kondisi negatif.
Kita memang harus segera tanggap terhadap kondisi yang kita alami jika menginginkan segala hal menjadi lebih baik. Kita harus berusaha untuk meng-usir segala hal negatif untuk dapat hidup secara damai dan akhirnya mencapai kebahagiaan. Kita ini mempunyai kewajiban untuk selalu berusaha dalam menghadapi kehidupan. Kalau kita tidak mau berusaha, maka kehidupan kita menjadi sebuah perjalanan tiada arti.
Lantas, apalah artinya hidup kita jika kita tidak mau berbuat sesuatu yang membahagiakan diri dan memberikan kedamaian? Kebahagiaan dan kedamaian memang sangat mahal harganya. Nilainya bagi kehidupan sangatlah penting sehingga dimanapun kita berada, maka kita sangat memerlukannya.
Seringkali orang mengatakan bahwa apa yang dijalani dan diterima dalam kehidupan ini sungguh sangat berlainan dengan apa yang diharap-kannya, bahkan banyak juga yang mengatakan sangat bertentangan. Akibatnya seringkali kita mengalami kekecewaan yang sangat dan menjadikan diri di-rundung penderitaan. Apakah anda juga mengalami hal yang sama? Apakah anda juga mengalami kekecewaan terhadap apa yang telah diberikan kehidupan untuk diri kita? Jika hal itu kita alami, maka sudah pasti hidup kita tidak ten-teram.
Lantas, apa yang harus kita lakukan untuk dapat menciptakan kehidupan yang penuh kedamaian menuju kebahagiaan? Apakah kita membiarkan diri kita tenggelam dan terjebak dalam lingkaran dan balutan hidup yang serba tidak pasti? Tentunya tidak demikian yang kita lakukan!
Langkah-langkah penciptaan dan pengkondisian hidup yang damai di-lakukan secara sadar dan terstruktur dengan selalu bersikap tenang dan meng-hilangkan emosional pada saat menghadapi permasalahan. Kita perlu meng-hadapi setiap permasalahan secara proporsional dan hati lapang sehingga hidup terasa ringan dan tiada bermasalah. Marilah kita mulai melangkahkan kaki dan tekad untuk lebih menghargai kehidupan secara baik dan jangan matikan hidup dengan berlama-lama dan bermesra-mesra dengan permasalahan.
KEDAMAIAN
Mengapa semua manusia menginginkan kehidupan penuh kedamaian? Sementara itu, tidak sedikit yang dengan alasan menciptakan kedamaian tetapi justru menciptakan kondisi yang tidak mendamaikan hati. Kita dapat melihat, banyak orang yang dengan alasan menggapai kedamaian hidup, ternyata justru membuat hidupnya terjepit dalam penderitaan panjang. Berbagai langkah kehidupan diterapkan sehingga membuyarkan kedamaian yang sebenarnya sudah tercipta di tempat tersebut. Misalnya dapat kita lihat dari beberapa ke-jadian hidup yang berkaitan dengan kehidupan orang-orang kecil dinegeri ini. Mereka diobrak sebab hidup di tempat yang salah, sementara itu, mereka me-rasakan kedamaian di tempat tersebut. Hal ini sering kali kita lihat dan dengar serta baca di setiap media massa yang ada di sekeliling kita. Bagaimana mereka diubek-ubek hanya karena menempati tempat yang menurut para penguasa adalah tempat yang salah bagi mereka, sementara mereka sama sekali tidak pernah berusaha untuk memberikan jalan pemecahan yang sesuai untuk bagi para korban tersebut. Bahkan dengan pongah sekali, para petugas membongkar dan menghancurkan segala milik para rakyat kecil tersebut. Seakan merekalah yang sesungguh sang penguasa tersebut.
Pada saat seseorang berupaya mendapatkan kedamaian, sebenanya pada saat tersebut dia mencoba untuk menciptakan sebuah kondisi yang mempunyai kemampuan untuk mengantarkan kehidupan menjadi lebih baik. Hal ini dapat kita lihat dari pola kehidupan yang semakin hari semakin tidak karuan. Bagai-mana seseorang dapat bersikap kontroversi dalam hidupnya hanya untuk men-dapatkan kedamaian dalam hidupnya, semua jalan ditempuh, bahkan bertaruh nyawa sekalipun. Kedamaian menjadi semacam piala yang harus diperebutkan dengan mengorbankan banyak hal, harta ataupun nyawa kita.
Ketika seseorang merasa terganggu kehidupannya, maka pada saat ter-sebut dia berusaha untuk menghilangkan gangguan dengan segala hal agar didapatkan kedamaian. Kedamaian itu memang harus diperjuangkan agar dapat dimiliki. Tanpa perjuangan, segala sesuatu yang kita inginkan hanyalah sebuah fatamorgana yang nampak didepan mata tetapi sama sekali tidak dapat di-wujudkan. Seperti fatamorgana yang kita lihat di saat sinar matahari membakar permukaan bumi dan diatasnya nampak sebagai segenangan air yang menjanji-kan obat untuk kehausan yang sedang melanda hidup kita. Apa yang bakal kita dapatkan dari kondisi seperti itu?
Kedamaian itu kondisi nyaman, aman, tenang, dan bahagia yang terjadi di dalam batin seseorang. Tetapi, meskipun demikian bukan berarti terlepas dari pengaruh dunia luar diri! Kita perlu menyadari dan menerima kenyataan bahwa dunia dalam diri kita tidak terlepas dari dunia luar diri kita dan disinilah seni kehidupan yang sesungguhnya perlu kita perankan. Bagaimana kita dapat me-madukan dunia dalam dengan dunia luar sehingga menjadi sesuatu yang solid dan sesuatu itu adalah kedamaian. Jika tidak demikian, maka bagaimanapun kita tidak dapat memperoleh kedamaian hidup. Dunia di dalam diri dengan dunia diluar diri sebenarnya merupakan sebuah kondisi yang sangat berkaitan dan terdapat sebuah benang merah yang menjadi penghubungnya sehingga selalu dapat kita ketahui dan rasakan segala hal terjadi. Kita dapat mengetahui kondisi dunia di luar diri dengan melalui panca indera yang kita miliki. Kita mempunyai mata untuk melihat kondisi fisik dari dunia di luar diri kita. Kita punya telinga untuk mengetahui sebenarnya apa yang sedang terjadi di dunia luar diri kita. Kita punya kulit untuk merasakan apa yang sebenarnya ada di sekitar kita. Kita punya lidah untuk merasakan nikmat dan tidaknya. Kita mem-punyai hidung untuk mengenali segala sesuatu berdasarkan bau yang ada. Semua itu adalah penghubung dunia di dalam diri kita dengan dunia diluar diri kita. asal hal tersebut kita miliki, maka interaksi antara diri dengan dunia adalah hal yang indah dan penuh kedamaian. Bahkan, kalaupun dari sekian banyak itu ada yang tidak kita miliki, kita tetap dapat damai dengan interaksi yang dilakukan oleh bagian lainnya. Enam indera tersebut saling bekerja sama dan saling menutupi kekurangan masing-masing sehingga sebenarnya tidak ada perma-salahan terhadap diri kita.
Kita ini adalah makhluk pribadi (ego) yang tidak dapat melepaskan diri dari posisi sebagai makhluk sosial. Kita tidak dapat hidup dengan meng-utamakan kebuTuhan ego dan mengabaikan eksistensi orang lain yang ada di sekitar kita. Orang lain yang ada di sekitar kita merupakan penyeimbang pola kehidupan kita dan tidak mungkin kita abaikan. Oleh karena itulah, untuk sebuah kedamaian yang kita inginkan, maka peranan orang lain juga perlu diperhatikan, walau sebenarnya kedamaian itu bersifat pribadi, personallity problem. Yang terutama sekali dalam menciptakan kondisi damai adalah diri sendiri. Tetapi pada kenyataannya keterkaitan orang lain dalam hal ini seringkali emberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi tercapainya kedamaian secara maksimal. Adanya orang lain merupakan bukti bahwa sebenarnya kita tidak dapat mengabaikan eksistensi orang lain dalam kehidupan ini. Kalau kita ingin kedamaian dalam kehidupan ini, maka salah satu cara yang mungkin dapat kita lakukan adalah dengan mengetrapkan pola pergaulan antar manusia secara baik dan efektif. Kedamaian itu sesuatu yang relatif dan tidak dapat diukur secara pasti sebab eksistensinya hanyalah di dalam jiwa dan rasa. Tidak ada alat pengukuran yang dapat menginformasikan kepada kita tingkat keda-maian yang dimiliki oleh seseorang dalam kehidupannya.
Setidaknya berkaitan dengan kedamaian ini, maka kita dapat mem-bedakannya atas kedamaian diri sendiri dan kedamaian global, yaitu kedamaian untuk semua orang. Dan, selanjutnya yang kita bahas adalah kedamaian yang berkaitan dengan diri sendiri. Selama kedamaian tersebut bertujuan untuk menciptakan kedamaian di dalam kehidupan pribadi, maka yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menyeimbangkan setiap kondisi yang terjadi dan selanjutnya menerapkannya dalam pola kehidupan kita secara pribadi. Bukan berarti dalam hal ini kita berpikir untuk egois, tetapi memang seharusnya untuk memenuhi kebuTuhan hidup damai diri sendiri kita harus bersikap egois. Kadang kala bertindak egois memang sangat diperlukan jika orientasi kita untuk kedamaian dan kebahagiaan diri sendiri. Tetapi, jika kedamaian itu orientasinya untuk orang banyak, maka kita harus menyesuaikan diri.
Seandainya kita menginginkan kondisi diri penuh kedamaian, ettapi ternyata pada saat tersebut tetangga kita memasang music player dengan suara yang sedemikian kencangnya, maka sudah pasti diri kita mengalami ketidak-damaian. Hati kita langsung bereaksi negatif terhadap kondisi tersebut dengan menebarkan emosi. Maki-makian kecil, bahkan sekedar gerundelan di dalam hati langsung dilontarkan sebagai tanggapan atas kondisi tersebut. Jika hal tersebut yang kita lakukan sebagai tanggapan terhadap kondisi, maka pada saat tersebut kita sudah menghancurkan bangunan pondasi kedamaian yang telah kita buat dengan susah payah. Hidup ini memang penuh dengan dinamisasi sehingga setiap saat kadangkala kita tertinggal untuk sebuah urusan atau kejadian dan selanjutnya hal tersebut menjadikan kita sebagai orang dungu. Dan, biasanya jika kita sudah berada pada kondisi tersebut, maka kita menjadi tidak mengerti apa yang harus dilakukan dalam menghadapi permasalahan yang ada.
Kedamaian memang sangat erat hubungannya dengan tingkat emosional seseorang, berbanding terbalik. Semakin besar tingkat emosional seseorang, maka semakin sulit dia mendapatkan kedamaian. Semakin gampang emosi, maka semakin susah mendapatkan kedamaian hidup. Lantas, mengapa kita tidak menghalau emosi atau setidak-tidaknya mengelola emosi kita agar dapat mencapai kedamaian yang kita inginkan? Emosi itu ada di bawah pengendalian diri kita, sehingga adalah sangat memungkinkan bagi kita untuk mengarahkan emosi pada kondisi yang terbaik bagi diri kita. Emosi itu sebenarnya adalah bibit penyakit yang menguasai diri kita sehingga kita kehilangan kontrol atas segala hal yang kita alami. Kita merasa tersinggung harga diri kita sehingga dengan segala cara kita mencoba untuk mengembalikan kondisi diri kita, bahkan tidak jarang kita harus melakukan hal-hal yang diluar kebiasaan kita. Misalnya kita harus bentrok dengan rekan kerja kita hanya karena kita dikuasai oleh luapan emosi yang tidak terkendali lagi. Kita harus mengakui bahwa tenaga yang ter-simpan di balik luapan emosi merupakan sebuah tenaga yang sedemikian besar-nya sehingga tidak ada seorang-pun yang mampu menanggulanginya jika emosi sudah bergelora dan mengalir lewat kata-kata, pandangan mata, bahkan action power yang kita miliki. Tidak jarang pula jika kita telah kerasukan emosi, maka arogansi sikap dan sifat muncul sebagai upaya untuk mempertahankan diri dari segala bentuk serangan, hama dan penyakit dari luar diri. Emosi memang iden-tik dengan arogansi. Orang-orang yang emosional seringkali terkungkung pada kondisi diri yang gampang menerapkan arogansinya, gampang mempertunjukan kekuasaannya. Kalau dia seorang pemimpin, maka jiwa kepemimpinannya akan hilang dan berganti dengan kesombongannya yang dilapisi oleh perasaan berkuasanya. Kita yang terbiasa hidup dengan tingkat emosional tinggi maka dimanapun kita berada tidak dapat memperoleh teman atau sahabat sebanyak-banyaknya. Orang-orang menghindar dari kehidupan kita dan mencari sahabat lainnya. Meninggalkan kita yang terlonglong melihat mereka berlalu dari kita. begitulah, kita bakal tertinggal oleh perubahan jaman sebab diri kita terkung-kung oleh emosional tinggi dan tidak gampang menerima setiap perubahan yang terjadi sebagai jalan menuju kedamaian hidup. Kita bakal hidup sendirian di dunia ini jika kita selalu saja terkungkung oleh sikap emosional yang ada di dalam diri kita. Apalah artinya kita pandai jika ternyata hidup kita tidak berarti sama sekali sebab tidak ada teman yang mau bersahabat. Dalam hal ini berarti kita telah berada pada kondisi kehidupan yang tidak damai. Kita merasakan kesendirian akibat teman-teman yang tidak responsif terhadap eksistensi diri kita diantara mereka.
Sekali lagi, kedamaian itu erat hubungannya dengan kondisi batin kita dan berkait dengan kondisi emosi kita. Oleh karena itulah, maka tidak ada salahnya dan memang sebuah keharusan bagi kita untuk mengelola semuanya secara baik dan menerapkannya dalam kehidupan kita. Jangan mau terus mene-rus diperbudak oleh emosi kita! Emosi merupakan tiran terbesar dalam diri kita, hilangkan semua itu. Gantilah kondisi tersebut dengan kedamaian sebab ke-damaian adalah demokrat sejati dalam diri kita. Dengan kedamaian yang kita miliki, maka kita dapat melakukan segala sesuatu secara proporsional dan efektif. Jika didalam hati kita telah tertanam kondisi yang penuh kedamaian, maka apapun yang kita lakukan bakalan mendapatkan respon yang baik dari diri kita sehingga benar-benar tecipta suasana yang demokratis. Bukankah kita selalu berharap dalam hidup kita, masyarakat kita tercipta suatu kondisi ke-hidupan yang demokratis sehingga masing-masing personil dapat mengem-bangkan diri melalui segala kreativitas yang dimilikinya.
Kalau kita dapat menggapai kedamaian, mengapa pula kita berkutet dalam segala laku yang menghancurkan sumber utama kedamaian itu? Semua orang pada dasarnya memang menginginkan kehidupannya penuh kedamaian, lantas mengapa keinginan tersebut tidak digabungkan menjadi satu kebulatan tekad untuk menciptakan kedamaian secara global di lingkungan kita? Kalau saja semua orang bersatu padu dalam upaya meningkatkan kepedulian terhadap kondisi kehidupan yang penuh kedamaian, maka kita meyakini bahwa ke-hidupan ini bakal penuh dengan bendera kedamaian yang berkibar di setiap sudut dunia. Bahkan bendera kedamaian merupakan selimut kehidupan semua manusia secara universal. Setiap orang membawa bendera tersebut kemanapun dan kapanpun dia berada. Semarak kedamaian yang terpancar dari pantulan warna kedamaian oleh terpaan sinar matahari menjadikan kehidupan semakin semarak dan begitu hidup.
Oleh karena itulah, maka penulis mengajak kepada seluruh pembaca agar dapat mengelola emosional masing-masing untuk dapat mewujudkan kedamai-an hidup bersama. Kedamaian hidup merupakan jembatan penghubung antara kondisi kehidupan dengan kebahagiaan hidup. Adakah orang yang tidak meng-inginkan hidupnya damai yang pada akhirnya bakal membawanya kepada kon-disi yang penuh kebahagiaan? Semua orang membutuhkan kedamaian hidup
Pada saat seseorang berupaya mendapatkan kedamaian, sebenanya pada saat tersebut dia mencoba untuk menciptakan sebuah kondisi yang mempunyai kemampuan untuk mengantarkan kehidupan menjadi lebih baik. Hal ini dapat kita lihat dari pola kehidupan yang semakin hari semakin tidak karuan. Bagai-mana seseorang dapat bersikap kontroversi dalam hidupnya hanya untuk men-dapatkan kedamaian dalam hidupnya, semua jalan ditempuh, bahkan bertaruh nyawa sekalipun. Kedamaian menjadi semacam piala yang harus diperebutkan dengan mengorbankan banyak hal, harta ataupun nyawa kita.
Ketika seseorang merasa terganggu kehidupannya, maka pada saat ter-sebut dia berusaha untuk menghilangkan gangguan dengan segala hal agar didapatkan kedamaian. Kedamaian itu memang harus diperjuangkan agar dapat dimiliki. Tanpa perjuangan, segala sesuatu yang kita inginkan hanyalah sebuah fatamorgana yang nampak didepan mata tetapi sama sekali tidak dapat di-wujudkan. Seperti fatamorgana yang kita lihat di saat sinar matahari membakar permukaan bumi dan diatasnya nampak sebagai segenangan air yang menjanji-kan obat untuk kehausan yang sedang melanda hidup kita. Apa yang bakal kita dapatkan dari kondisi seperti itu?
Kedamaian itu kondisi nyaman, aman, tenang, dan bahagia yang terjadi di dalam batin seseorang. Tetapi, meskipun demikian bukan berarti terlepas dari pengaruh dunia luar diri! Kita perlu menyadari dan menerima kenyataan bahwa dunia dalam diri kita tidak terlepas dari dunia luar diri kita dan disinilah seni kehidupan yang sesungguhnya perlu kita perankan. Bagaimana kita dapat me-madukan dunia dalam dengan dunia luar sehingga menjadi sesuatu yang solid dan sesuatu itu adalah kedamaian. Jika tidak demikian, maka bagaimanapun kita tidak dapat memperoleh kedamaian hidup. Dunia di dalam diri dengan dunia diluar diri sebenarnya merupakan sebuah kondisi yang sangat berkaitan dan terdapat sebuah benang merah yang menjadi penghubungnya sehingga selalu dapat kita ketahui dan rasakan segala hal terjadi. Kita dapat mengetahui kondisi dunia di luar diri dengan melalui panca indera yang kita miliki. Kita mempunyai mata untuk melihat kondisi fisik dari dunia di luar diri kita. Kita punya telinga untuk mengetahui sebenarnya apa yang sedang terjadi di dunia luar diri kita. Kita punya kulit untuk merasakan apa yang sebenarnya ada di sekitar kita. Kita punya lidah untuk merasakan nikmat dan tidaknya. Kita mem-punyai hidung untuk mengenali segala sesuatu berdasarkan bau yang ada. Semua itu adalah penghubung dunia di dalam diri kita dengan dunia diluar diri kita. asal hal tersebut kita miliki, maka interaksi antara diri dengan dunia adalah hal yang indah dan penuh kedamaian. Bahkan, kalaupun dari sekian banyak itu ada yang tidak kita miliki, kita tetap dapat damai dengan interaksi yang dilakukan oleh bagian lainnya. Enam indera tersebut saling bekerja sama dan saling menutupi kekurangan masing-masing sehingga sebenarnya tidak ada perma-salahan terhadap diri kita.
Kita ini adalah makhluk pribadi (ego) yang tidak dapat melepaskan diri dari posisi sebagai makhluk sosial. Kita tidak dapat hidup dengan meng-utamakan kebuTuhan ego dan mengabaikan eksistensi orang lain yang ada di sekitar kita. Orang lain yang ada di sekitar kita merupakan penyeimbang pola kehidupan kita dan tidak mungkin kita abaikan. Oleh karena itulah, untuk sebuah kedamaian yang kita inginkan, maka peranan orang lain juga perlu diperhatikan, walau sebenarnya kedamaian itu bersifat pribadi, personallity problem. Yang terutama sekali dalam menciptakan kondisi damai adalah diri sendiri. Tetapi pada kenyataannya keterkaitan orang lain dalam hal ini seringkali emberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi tercapainya kedamaian secara maksimal. Adanya orang lain merupakan bukti bahwa sebenarnya kita tidak dapat mengabaikan eksistensi orang lain dalam kehidupan ini. Kalau kita ingin kedamaian dalam kehidupan ini, maka salah satu cara yang mungkin dapat kita lakukan adalah dengan mengetrapkan pola pergaulan antar manusia secara baik dan efektif. Kedamaian itu sesuatu yang relatif dan tidak dapat diukur secara pasti sebab eksistensinya hanyalah di dalam jiwa dan rasa. Tidak ada alat pengukuran yang dapat menginformasikan kepada kita tingkat keda-maian yang dimiliki oleh seseorang dalam kehidupannya.
Setidaknya berkaitan dengan kedamaian ini, maka kita dapat mem-bedakannya atas kedamaian diri sendiri dan kedamaian global, yaitu kedamaian untuk semua orang. Dan, selanjutnya yang kita bahas adalah kedamaian yang berkaitan dengan diri sendiri. Selama kedamaian tersebut bertujuan untuk menciptakan kedamaian di dalam kehidupan pribadi, maka yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menyeimbangkan setiap kondisi yang terjadi dan selanjutnya menerapkannya dalam pola kehidupan kita secara pribadi. Bukan berarti dalam hal ini kita berpikir untuk egois, tetapi memang seharusnya untuk memenuhi kebuTuhan hidup damai diri sendiri kita harus bersikap egois. Kadang kala bertindak egois memang sangat diperlukan jika orientasi kita untuk kedamaian dan kebahagiaan diri sendiri. Tetapi, jika kedamaian itu orientasinya untuk orang banyak, maka kita harus menyesuaikan diri.
Seandainya kita menginginkan kondisi diri penuh kedamaian, ettapi ternyata pada saat tersebut tetangga kita memasang music player dengan suara yang sedemikian kencangnya, maka sudah pasti diri kita mengalami ketidak-damaian. Hati kita langsung bereaksi negatif terhadap kondisi tersebut dengan menebarkan emosi. Maki-makian kecil, bahkan sekedar gerundelan di dalam hati langsung dilontarkan sebagai tanggapan atas kondisi tersebut. Jika hal tersebut yang kita lakukan sebagai tanggapan terhadap kondisi, maka pada saat tersebut kita sudah menghancurkan bangunan pondasi kedamaian yang telah kita buat dengan susah payah. Hidup ini memang penuh dengan dinamisasi sehingga setiap saat kadangkala kita tertinggal untuk sebuah urusan atau kejadian dan selanjutnya hal tersebut menjadikan kita sebagai orang dungu. Dan, biasanya jika kita sudah berada pada kondisi tersebut, maka kita menjadi tidak mengerti apa yang harus dilakukan dalam menghadapi permasalahan yang ada.
Kedamaian memang sangat erat hubungannya dengan tingkat emosional seseorang, berbanding terbalik. Semakin besar tingkat emosional seseorang, maka semakin sulit dia mendapatkan kedamaian. Semakin gampang emosi, maka semakin susah mendapatkan kedamaian hidup. Lantas, mengapa kita tidak menghalau emosi atau setidak-tidaknya mengelola emosi kita agar dapat mencapai kedamaian yang kita inginkan? Emosi itu ada di bawah pengendalian diri kita, sehingga adalah sangat memungkinkan bagi kita untuk mengarahkan emosi pada kondisi yang terbaik bagi diri kita. Emosi itu sebenarnya adalah bibit penyakit yang menguasai diri kita sehingga kita kehilangan kontrol atas segala hal yang kita alami. Kita merasa tersinggung harga diri kita sehingga dengan segala cara kita mencoba untuk mengembalikan kondisi diri kita, bahkan tidak jarang kita harus melakukan hal-hal yang diluar kebiasaan kita. Misalnya kita harus bentrok dengan rekan kerja kita hanya karena kita dikuasai oleh luapan emosi yang tidak terkendali lagi. Kita harus mengakui bahwa tenaga yang ter-simpan di balik luapan emosi merupakan sebuah tenaga yang sedemikian besar-nya sehingga tidak ada seorang-pun yang mampu menanggulanginya jika emosi sudah bergelora dan mengalir lewat kata-kata, pandangan mata, bahkan action power yang kita miliki. Tidak jarang pula jika kita telah kerasukan emosi, maka arogansi sikap dan sifat muncul sebagai upaya untuk mempertahankan diri dari segala bentuk serangan, hama dan penyakit dari luar diri. Emosi memang iden-tik dengan arogansi. Orang-orang yang emosional seringkali terkungkung pada kondisi diri yang gampang menerapkan arogansinya, gampang mempertunjukan kekuasaannya. Kalau dia seorang pemimpin, maka jiwa kepemimpinannya akan hilang dan berganti dengan kesombongannya yang dilapisi oleh perasaan berkuasanya. Kita yang terbiasa hidup dengan tingkat emosional tinggi maka dimanapun kita berada tidak dapat memperoleh teman atau sahabat sebanyak-banyaknya. Orang-orang menghindar dari kehidupan kita dan mencari sahabat lainnya. Meninggalkan kita yang terlonglong melihat mereka berlalu dari kita. begitulah, kita bakal tertinggal oleh perubahan jaman sebab diri kita terkung-kung oleh emosional tinggi dan tidak gampang menerima setiap perubahan yang terjadi sebagai jalan menuju kedamaian hidup. Kita bakal hidup sendirian di dunia ini jika kita selalu saja terkungkung oleh sikap emosional yang ada di dalam diri kita. Apalah artinya kita pandai jika ternyata hidup kita tidak berarti sama sekali sebab tidak ada teman yang mau bersahabat. Dalam hal ini berarti kita telah berada pada kondisi kehidupan yang tidak damai. Kita merasakan kesendirian akibat teman-teman yang tidak responsif terhadap eksistensi diri kita diantara mereka.
Sekali lagi, kedamaian itu erat hubungannya dengan kondisi batin kita dan berkait dengan kondisi emosi kita. Oleh karena itulah, maka tidak ada salahnya dan memang sebuah keharusan bagi kita untuk mengelola semuanya secara baik dan menerapkannya dalam kehidupan kita. Jangan mau terus mene-rus diperbudak oleh emosi kita! Emosi merupakan tiran terbesar dalam diri kita, hilangkan semua itu. Gantilah kondisi tersebut dengan kedamaian sebab ke-damaian adalah demokrat sejati dalam diri kita. Dengan kedamaian yang kita miliki, maka kita dapat melakukan segala sesuatu secara proporsional dan efektif. Jika didalam hati kita telah tertanam kondisi yang penuh kedamaian, maka apapun yang kita lakukan bakalan mendapatkan respon yang baik dari diri kita sehingga benar-benar tecipta suasana yang demokratis. Bukankah kita selalu berharap dalam hidup kita, masyarakat kita tercipta suatu kondisi ke-hidupan yang demokratis sehingga masing-masing personil dapat mengem-bangkan diri melalui segala kreativitas yang dimilikinya.
Kalau kita dapat menggapai kedamaian, mengapa pula kita berkutet dalam segala laku yang menghancurkan sumber utama kedamaian itu? Semua orang pada dasarnya memang menginginkan kehidupannya penuh kedamaian, lantas mengapa keinginan tersebut tidak digabungkan menjadi satu kebulatan tekad untuk menciptakan kedamaian secara global di lingkungan kita? Kalau saja semua orang bersatu padu dalam upaya meningkatkan kepedulian terhadap kondisi kehidupan yang penuh kedamaian, maka kita meyakini bahwa ke-hidupan ini bakal penuh dengan bendera kedamaian yang berkibar di setiap sudut dunia. Bahkan bendera kedamaian merupakan selimut kehidupan semua manusia secara universal. Setiap orang membawa bendera tersebut kemanapun dan kapanpun dia berada. Semarak kedamaian yang terpancar dari pantulan warna kedamaian oleh terpaan sinar matahari menjadikan kehidupan semakin semarak dan begitu hidup.
Oleh karena itulah, maka penulis mengajak kepada seluruh pembaca agar dapat mengelola emosional masing-masing untuk dapat mewujudkan kedamai-an hidup bersama. Kedamaian hidup merupakan jembatan penghubung antara kondisi kehidupan dengan kebahagiaan hidup. Adakah orang yang tidak meng-inginkan hidupnya damai yang pada akhirnya bakal membawanya kepada kon-disi yang penuh kebahagiaan? Semua orang membutuhkan kedamaian hidup
Menara Kedamaian
Pendahuluan
Kedamaian dalam hidup adalah tenaga pendorong yang dipercaya dapat menggerakkan roda kehidupan manusia. Dengan berpatok pada kedamaian, dalam hal ini menjadikan kedamaian sebagai tonggak tujuan kehidupan, maka manusia merasakan bahwa hidup ini begitu dinamis. Bahwa hidup memberikan berbagai pengharapan untuk kondisi terbaik bagi manusia. Dalam hal ini alam telah menerapkan prinsip hidup saling berimbang, artinya siapa memberi, maka dia yang bakal menerima. Siapa yang mengasihi alam raya, maka dia bakal men-dapatkan kasih yang sama, bahkan jauh lebih besar dari alam raya. Alam itu sosok yang sangat besar kasih sayangnya kepada manusia, walaupun dalam kenyataannya, banyak manusia yang sama sekali tidak memberikan kasih sayangnya kepada alam. Ibarat seorang kekasih, maka alam itu adalah kekasih setia kita. Kepada alamlah kita menaruh harapan untuk mendapatkan hal-hal terbaik dalam kehidupan ini. Rasanya sangat sedih dan mau mati saja jika seandainya alam sudah tidak menyayangi kita, walau dalam kenyataannya alam tidak pernah kehabisan kasih sayangnya untuk kita. Bahkan, ketika kematian menjemput diri kita, maka dengan penuh kasih sayang sang alam merengkuh kita dalam pelukannya yang sejuk dan segar. Itulah alam semesta dengan segala samudera kasih sayang dan cinta yang maha luas untuk kita. seharusnya, jika kita mempunyai naluri kemanusiaan, maka segala bentuk kasih sayang yang diberikan alam kepada kita merupakan sesuatu yang begitu besar artinya dan menyadarkan nurani kita bahwa kitapun harus berbuat yang sama kepada alam semesta. Walaupun akhir-akhir ini kita seringkali melihat bahwa alam dikatakan telah marah dan tidak bersahabat lagi dengan kita, tetapi jika kita berpikir secara logis, maka setidaknya kita melihat bahwa semua itu adalah salah satu bentuk kasih sayang yang diberikan oleh alam kepada kita. Coba kita berpikir, bahwa gunung yang meletus itu ternyata membawa kebaikan juga bagi manusia, yaitu tanah-tanah bekas semburan isi perut gunung adalah bahan material yang sangat berguna bagi kehidupan sebab subur dan membawa material yang dapat digunakan untuk keperluan yang lainnya. Begitulah yang dapat kita peroleh dari bentuk kasih sayang alam kepada kita. Tetapi, seringkali yang kita peroleh dari alam sebenarnya adalah kebaikan-kebaikan yang sedemikian besarnya sehingga mampu memposisikan diri kita pada kondisi terbaik, misalnya bahagia, damai dan sejahtera dalam hidup. Semua itu adalah rahmat yang diberikan alam kepada kita, tetapi kenapa seringkali kita harus menipu diri sendiri dan alam dengan mengatakan bahwa diri kita tidak bahagia, tidak sejahtera dan tidak damai. Padahal jika semua itu kita runtut, maka kita melihat bahwa apa yang kita alami itu sebenarnya merupakan akibat dari apa yang telah kita lakukan sendiri. Seperti telah penulis katakana didepan bahwa alam itu menerapkan hukum sebab akibat, kausalik. Artinya yang berbuat pasti menerima hasil per-buatannya tersebut. Jangan pernah berharap dapat menghindarkan diri dari kondisi ini sebab ini sudah hukum alam yang harus kita jalani. Kalau hidup kita tidak bahagia, tidak sejahtera atau tidak damai, itu artinya kita telah melakukan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan kondisi dunia dalam diri kita sehingga berbenturan dengan dunia di luar diri kita. benturan tersebut selanjut-nya menjadikan kita merasa tidak nyaman dan akhirnya mneimbulkan ketidak-bahagiaan, ketidakan sejahteraan, dan ketidakdamaian hidup. Bukankah semua itu karena pola pikir kita sendiri yang memposisikan diri sebagai berada pada kondisi negatif, kita terlalu bernegatif thinking! Mungkin kita pernah mendengar orang berbicara bahwa jika pikiran kita mengatakan diri kita sakit, maka tidak lama lagi diri kita pasti sakit beneran. Ini adalah semacam support yang di-dapatkan dari dalam diri kita, inilah sugesti yang kita dapat dari dalam diri sendiri dan ternyata sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan kita. kalau orang sehat mengatakan dirinya sedang sakit, maka alam akan memberikan per-mintaan tersebut sehingga orang tersebut benar-benar sakit. Alam itu sangat kasih pada kita sehingga apapun yang kita inginkan pasti dipenuhinya. Oleh karena itulah, kita harus berpikir positif. Apa yang kita pikirkan untuk men-dapatkan, maka secara berangsur-angsur alam pasti akan memberikan yang kita inginkan tersebut. Masalah waktu sudah merupakan hal yang biasa. Alam pasti memberikan permintaan atau harapan kita terhadap pola kehidupan yang kita jalani, tidak peduli pola positif maupun pola negatif, asal kita memintanya dengan sepenuh hati, maka segalanya mungkin bahkan pasti terjadi, terturuti. Untuk hal tersebut, maka sebaiknya kita selalu berpikiran positif terhadap pola kehidupan dan penghidupan yang sudah diatur oleh alam sebaik-baiknya se-hingga kita benar-benar dapat menjadi manusia yang selalu bersyukur dan ber-terima kasih kepada alam seluas-luasnya sehingga alam semakin sayang kepada kita. Dan, kalau alam sudah menyayangi kita, maka segala hal berkenaan dengan hidup dan kehidupan bukanlah sesuatu yang sulit untuk kita hadapi. Segalanya tentunya sedemikian mudahnya sebab alam sudah begitu dekat dengan kehi-dupan kita, diri kita.
Kedamaian hidup adalah mesiu yang menyulut keseluruhan kesadaran manusia bahwa hidup itu menjanjikan keindahan. Dengan keindahan itu, maka manusia berharap dapat menggapai segala cita-cita hidupnya. keindahan itu salah satunya adalah akibat dari kedamaian yang tercipta pada saat proses ke-hidupan dijalaninya. Jika kondisi kehidupan baik, teratur dan memberikan ke-bahagiaan kepada kita, maka itu berarti kita telah berada pada kondisi terbaik pada interaksi kita dengan alam semesta ini. Pada kenyataannya, sebenarnya dalam kehidupan ini terdapat dua alam yang saling berkaitan dan tidak mung-kin terpisahkan satu dari lainnya. Dua alam tersebut adalah alam dalam diri dan alam di luar diri. Kita sebenarnya mempunyai sebuah alam yang begitu indah sekaligus begitu buruk di dalam diri kita. sebagaimana dunia di luar diri,jika mendapatkan perlakuan yang tidak baik, maka konsekuensi yang bakal diterima sudah barang tentu merupakan sesuatu yang sedemikian buruknya, dapat berupa penderitaan atau sebangsanya yang memposisikan diri kita pada sisi negatif. Begitu kondisi dunia didalam diri dibandingkan kondisi kehidupan di dunia luar diri kita. Kalau di dunia dalam diri kita mengalami guncangan, maka secara langsung berakibat tergoncangnya kehidupan di luar diri kita. Begitu juga ketika kondisi kehidupan di luar diri mengalami goncangan, maka secara lang-sung kondisi di dunia dalam diri juga mengalami goncangan yang tidak kalah hebatnya dengan goncangan yang terjadi. Oleh karena itulah, maka kita dituntut untuk dapat menyeimbangkan kondisi dunia dalam diri dengan dunia diluar diri sehingga tidak mungkin menimbulkan riak-riak, alunan ataupun gelora gel-ombang yang mampu menyulut kehancuran dalam diri. Dalam hal ini setidak-nya kita dapat melihat bahwa jika tidak ada keseimbangan antara kondisi dunia di dalam, maka yang terjadi adalah kerusakan akibat goncangan yang timbul akibat perbedaan kondisi. Kita dapat membayangkan bahwa dunia luar diri dan dunia dalam diri itu sebuah bejana berhubungan berisi air yang tertutup oleh sebuah katup yang dapat kita buka dan tutup. Pada saatnya katup harus kita buka untuk menciptakan hubungan antara dunia di dalam diri dengan dunia diluar diri, sehingga mengalirlah air dari satu sisi ke sisi yang lainnya. Tetapi, jika kedua sisi dunia tersebut mempunyai isi air yang sama, maka hal tersebut tidak bakal menjadikan aliran air yang bergelora yang menyeret segalanya ke sisi yang lainnya. Jika isi airnya sama, maka pada saat tersebut dapat kita katakan sebagai kondisi seimbang antara dunia didalam diri dengan dunia diluar diri. Akibatnya permukaan airnya merata dan hal tersebut tidak me-nyebabkan aliran air dari satu sisi ke sisi lainnya dan hal tersebut menyebabkan air tenang, damai. Tetapi, bagaimana jika isi airnya tidak sama, kondisinya tidak sama antara dunia di luar diri dengan dunia didalam diri?! Tentunya, jika isi airnya berbeda, misalnya air di sisi dunia luar diri lebih banyak dari air di dalam dunia dalam diri, maka air mengalir deras ke dalam dunia dalam diri kita se-hingga aliran tersebut menjadikan sebuah goncangan tersendiri bagi dunia dalam diri kita. Air yang mengalir ke dalam dunia dalam diri menyebabkan kondisi di dalam dunia dalam diri mengalami perubahan dan perubahan tersebut menjadikan kondisinya tidak tenang sehingga kondisi dunia di dalam diri men-capai keseimbangan dengan kondisi dunia diluar diri kita. Begitulah gambaran yang dapat kita peroleh jika kita berupaya mencapai kedamaian diri dengan menyeimbangkan kondisi di dunia di dalam diri dengan dunia diluar diri. Ke-seimbangan tersebut harus kita peroleh dan ciptakan agar upaya mencapai kedamaian benar-benar dapat terwujudkan dan kebahagiaan bukan lagi sebuah wacana manis di atas kertas atau diangan-angan semata.
Pada dasarnya kehidupan ini memang penuh keindahan. Banyak hal yang dapat kita jadikan sebagai penuntun kebahagiaan diri kita. Setiap saat kita selalu melihat pemandangan yang begitu indah di sekitar dunia luar diri kita dan kita selalu berusaha untuk memasukkan pemandangan indah tersebut se-hingga dapat menjadi bagian integral dari dunia dalam diri kita. Semua orang pasti sepakat jika kita mengatakan bahwa kehidupan di dunia luar diri memang merupakan sebuah tempat yang sedemikian luas dan indahnya sehingga me-nimbulkan kekerasanan bagi setiap orang untuk tinggal dan bertahan untuk tinggal di dunia luar diri ini. Bahkan tidak jarang orang-orang yang rela mengor-bankan dunia dalam dirinya demi menggapai dunia di luar dirinya. Tentunya hal tersebut memberikan resiko yang sedemikian besarnya sebab dapat meng-hilangkan keseimbangan mungkin telah tercipta selama proses kehdupan dengan adaptasi yang telah dilakukan oleh masing-masing pribadi. Semakin baik seseorang melewati masa adaptasinya dengan dunia luar dirinya, maka semakin baik dia mengupayakan keseimbangan antara kondisi dunia di dalam dirinya dengan kondisi dunia diluar dirinya. Dan, pada umumnya orang-orang yang berada pada kelompok ini pola kehidupannya teratur dan penuh dengan kedamaian. Mereka adalah orang-orang yang menghadapi kehidupan sebagai sebuah perjalanan rekreasi yang sedemikian menyenangkan hatinya. Tetapi, bagi mereka yang tidak mempunyai kemampuan untuk menyeimbangkan kondisi di dunia dalam dirinya dengan kondisi di dunia luar dirinya, maka sudah barang tentu harus menanggung konsekuensi yang sedemikian beratnya.
Orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk menyeimbang-kan kondisi antara dunia dalam dirinya dengan kondisi dunia diluar dirinya mempunyai kecenderungan untuk hidup secara tidak teratur. Mereka selalu dihinggapi oleh perasaan dan prasangka negatif setiap hal yang dihadapi dalam kehidupan. Mereka selalu bercuriga pada setiap aspek kehidupan sehingga hal tersebut menjadikan pola kehidupan mereka menjadi tidak teratur dan selanjut-nya menjadikan mereka selalu sibuk untuk menghadapi permasalahan yang seharusnya bukan permasalahan yang urgen. Kehidupan yang tidak teratur sudah memberikan gambaran yang sedemikian nyata betapa tidak adanya kese-imbangan antara dunia di luar diri dengan kehidupan dunia di dalam diri. Se-mentara kehidupan yang damai memberikan gambaran bahwa di dalam diri telah tercipta keseimbangan yang sedemikian stabil, maka tidak heran jika mereka selalu dalam keadaan damai dan sejahtera.
Di dalam hidup ini, manusia memang sak dermo nglampahi, tetapi hal itu bukan berarti manusia tidak mempunyai harapan untuk bertindak sesuai dengan persepsinya terhadap kehidupan ini. Manusia memang sudah diplot untuk sebuah peran saja, tetapi pada dasarnya peran tersebut dapat dikem-bangkan sesuai dengan improvisasinya terhadap kehidupan. Maka, adalah sah-sah saja jika manusia mempunyai pengharapan dalam hidupnya untuk kondisi-kondsi tertentu, misalnya kedamaian. Seperti telah dikatakan bahwa di dalam kehidupan ini manusia berada di antara dua dunia, yaitu dunia di dalam dirinya dengan dunia di luar dirinya yang pada dasarnya merupakan satu ke-satuan yang terpisah oleh ruangan semata. Ruangan itu selanjutnya kita nama-kan sebagai jasad. Jasad inilah yang memisahkan dunia dalam diri dengan dunia luar diri. Dengan dua dunia yang kita miliki ini, maka setidaknya kita dapat mem-posisikan diri kita sebaik-baiknya sehingga benar-benar dapat mengkontribusi segala hal yang ada didalam kehidupan ini. Jika kita menginginkan kondisi kehidupan yang penuh kedamaian, maka setidaknya dalam hal ini kita harus dapat mengkomposisikan kondisi kehidupan di dalam diri dengan kehidupan di luar diri sedemikian rupa sehingga ada perimbangan kondisi dan hal ini dapat menjadikan kesetimbangan kondisi sehingga tidak muncul tuntutan hidup yang beraneka. Memang kita perlu menyeimbangkan kondisi kehidupan dunia di dalam diri dengan kehidupan dunia di luar diri sehingga dengan kesetimbangan tersebut, maka tidak tercipta peluang untuk saling menuntut. Sebenarnya hal utama yang menyebabkan manusia berambisi dan untuk hal tersebut dilakukan dengan berbagai kelakuan yang kadangkala dapat mengancam kondisi kehidup-an secara umum. Kondisi kehidupan di dunia dalam diri merasakan ada sesuatu yang kurang sehingga untuk hal tersebut harus dipenuhi. Proses pemenuhan kondisi tersebut menyebabkan terlahirnya tuntutan untuk memenuhinya. Bukankah jika di tempat kita ada tempat yang kosong, maka naluri kita selalu berkeinginan untuk mengisinya.?! Seperti ketika bak kamar mandi kita sudah tandas, tidak ada airnya, maka secara sadar kita memposisikan diri untuk segera memenuhi kebuTuhan pengisian bak kamar mandi tersebut. Itu merupakan ke-sadaran yang tidak pernah kita kontrol tetapi secara otomatis muncul dalam kegiatan hidup kita. Semua itu selalu muncul setiap kali kita melihat kejang-galan ada di dalam kehidupan kita. Ini adalah kontrol naluri yang selalu muncul dari dalam diri kita. Inilah yang menjadikan kita sebagai orang-orang yang sadar lingkungan dan kondisi diri. Jika hal ini kita alami, maka berarti kita selalu ber-pandangan positif terhadap kehidupan ini. Dan, inilah sebenarnya yang selalu kita inginkan, yaitu kesadaran untuk melakukan segala tanggungjawab kehidup-an sebagai sesuatu yang wajar dan memang harus dikerjakan tanpa adanya tun-tutan ataupun beban yang memberati langkah kehidupan. Bukankah, jika kehidup-an kita terbebani, maka rasanya hidup ini begitu berat dan tidak sesuai dengan bayangan hati kita. Apa yang bakal kita rasakan jika ternyata hidup kita ber-beban? Tentunya kedamaian hidup menjadi hilang dan selanjutnya kebahagiaan bakal meninggalkan hidup kita. dunia di dalam diri kita akan terusik dan gelora air laut menggunung menjilati awan putih yang berarak. Kalau lautan di dalam dunia dalam diri kita bergelora, apa yang bakal kita alami?!
Bukankah yang terpenting sebenarnya adalah kehidupan di dalam diri kita? Ya, memang sebenarnya pertimbangan yang terpenting bagi kehidupan kita selama ini adalah menciptakan kondisi dunia di dalam diri sebagai suatu pola kehidupan yang seimbang, bahagia dan penuh dengan kedamaian. Yang terpenting bagi kita memang adalah keseimbangan antara kondisi dunia di dalaam diri dengan kondisi dunia di luar diri kita. Keseimbangan kondisi dunia di dalam diri dan kondisi dunia di luar diri selanjutnya kita posisikan sebagai sebuah neraca dan jiwa adalah titik tengahnya. Dengan kondisi seperti itu, maka kita dapat mengatur posisi kita terhadap kondisi kehidupan. Dimana kita harus bersikap, bagaimana sikap kita, dapat kita atur sedemikian rupa sehingga terjadi keseimbangan antara dunia dalam diri dengan dunia diluar diri. Seperti yang dilakukan oleh pak tani pada saat harus mengangkat beban dengan menggu-nakan sebatang kayu, pikulan. Mereka begitu enjoy saat memikul beban tersebut di pundak. Mereka sama sekali tidak kelihatan terbebani oleh barang yang dipikul. Bahkan jika kita melihat bagiamana mereka memikul, maka setidaknya kita dapat mengetahui bahwa tersirat kebahagiaan di raut wajahnya yang sudah mengkilap oleh keringat diterpa sinar matahari yang garang. Topi bambu yang dipakainya sama sekali tidak dapat menghalau panasnya sinar matahari yang langsung terpancar dari langit. Sementara orang mengatakan bahwa kehidupan yang paling tenang adalah kehidupan yang dijalani oleh pak tani. Mereka nam-pak begitu tenang dan nampaknya tidak berbeban, walau sebenarnya kalau kita tanyakan pada mereka, semuanya tidak jauh berbeda sebab semua harus meng-hadapi dunia luar yang sama. Tetapi, yang jelas pada saat kita melihat yang dilakukan oleh pak tani, maka secara langsung kita dapat mengatakan bahwa kehidupan mereka sangat tenang. Bergumul dengan lumpur sawah, berceng-kerama dengan burung-burung bangau, mendengarkan suara desiran angin yang melewati lubang-lubang dangau tempatnya istirahat. Seharusnya seperti itulah hidup yang kita angan-angankan. Tidak terlalu direpotkan oleh berbagai pemikiran yang kadangkala jauh dari realitasnya. Kita seringkali mengharapkan sesuatu yang lebih daripada yang bakal kita dapatkan. Memang hal tersebut wajar dan harus kita lakukan. Bukankah mimpi merupakan keinginan masa depan yang tersimpan dalam memori otak kita dan muncul pada saat kita meng-hadapi permasalahan atau ketika sedang rileks dan menunggui kehidupan yang terus melangkah.
Mimpi, ya mimpi memang merupakan keinginan yang tersimpan dalam di lubuk hati dan setiap saat keinginan tersebut dapat muncul sebagai mimpi yang merupakan perwujudan keinginan yang sudah sedemikian kuatnya untuk mengalami penyesuaian. Kita memang hidup di alam mimpi, yaitu alam yang penuh dengan keinginan terselubung, yang kadangkala tidak bakalan diketahui oleh orang lain. Mimpi, ya mimpi kitalah yang mengantar segala hal yang kita inginkan dalam konteks kebahagiaan hidup di dunia. Kita berpedoman pada mimpi agar dapat melangsungkan kehidupan dengan lebih baik. Selama ini mimpi telah menjadi kendaraan bagi kita untuk mencapai tujuan yang telah kita programkan bersama. Kita hidup sebab kita mempunyai mimpi dan bisa jadi karena mimpilah kemudian kita mengalami kematian. Banyak contoh yang menunjukkan betapa seseorang menjadi sedemikian berhasil dalam kehidupan-nya sebab dia mempunyai banyak mimpi untuk kehidupannya itu. Kita juga mendapatkan banyak contoh berapa banyak orang yang terjebak dalam mimpi dan selanjutnya terjerat menuju kematiannya yang tragis. Sungguh, mimpi telah menjadi semacam monument yang harus diperebutkan oleh semua orang untuk dapat menggapai kebahagiaan, kesejahteraan, dan kedamaian hakiki dalam ke-hidupannya. Kalau memang hal tersebut merupakan sebuah kenyataan, menga-pa pula kita malu untuk mengakui bahwa apa yang kita dapatkan hari ini, kema-rin dan esok merupakan perwujudan dari segala mimpi yang telah kita miliki dan jadikan semacam menara api di dalam jiwa kita? Bagaimanapun kita membutuhkan sesuatu yang dapat mendorong diri dan jiwa kita untuk me-lakukan sesuatu yang telah menjadi semacam tenaga pendorong yang mampu membawa semua keinginan sehingga terwujud dan dapat direalisasi sebagai pengalaman hidup dan keberhasilan kita dalam kehidupan ini.setiap orang membutuhkan tenaga pendorong yang dapat berasal dari dalam dirinya sendiri ataupun dari orang lain yang berada di sekitarnya, yang menaruh perhatian dan harapan padanya. Kita dapat hidup secara damai sebab di dalam diri kita ada semacam kondisi yang menjadikan kita nyaman dan tidak tertekan oleh sesuatu sehingga menyebabkan pikiran kita stress. Tanpa tekanan di dalam dirinya, maka kehidupan kita bakal nyaman. Inilah yang sebenarnya kita harapkan se-bagai salah satu bentuk kedamaian yang hakiki.
Dengan kedamaian yang melingkupi kita, maka segala persoalan hidup hanyalah sebutir kelilip di kelopak mata kita atau seserpih selilit diantara sela gigi. Sakit, tetapi segera hilang jika dikeluarkan. Bahkan, kedamaian telah menjadi salah satu fenomena penting yang selalu diusahakan semua manusia agar ke-hidupan global menjadi lebih terarah dan aman. Kedamaian hakiki menjadikan manusia hidup tenang dan ayem. Segala hal yang dihadapi dalam kehidupannya merupakan sealun air di pinggir pesisir dan sama sekali tidak memberikan pengaruh yang signifikans terhadap pola kehidupan kita secara menyeluruh. Alunan air tersebut jsutru menjadikan semacam elusan lembut di dinding hati kita dan menjadi penyemangat yang tiada taranya bagi kehidupan secara me-nyeluruh. Kalau memang kita dapat hidup secara damai, mengapa pula kita harus melakukan segala hal yang pada akhhirnya sangat berbahaya bagi pola kehidupan secara umum? Kita hanya menginginkan kehidupan yang nyaman dan damai sepanjang hari melingkupi setiap ayunan kaki dan memberikan support bagi yang lainnya sehingga mampu mendapatkan apa yang kita dapat-kan.
Kedamaian itu sebenarnya manifestasi dari kondisi jiwa yang tenang dan tidak merasa terancam, aman. Kedamaian itu letaknya ada di dalam jiwa sehing-ga tidak dapat kita ketahui secara kasat mata. Seseorang yang kehidupan finan-sialnya serba kekurangan bukan berarti tidak damai, atau sebaliknya orang yang berlimpah harta tidak pasti hidupnya penuh kedamaian. Tidak seperti itu keadaannya. Kedamaian itu sifatnya relatif untuk setiap orang. Bahkan, orang yang serba berkekurangan saja hidupnya dapat damai. Sebab mereka dapat menerima kondisi kehidupan secara luas hati dan tidak dibeban oleh keinginan-keinginan yang berlebih dari kemampuan dirinya untuk mendapatkannya. Mereka menjalani kehidupan sebagaimana adanya, artinya kalau hari ini mereka dapat makan nasi yang dimakan, tetapi kalau esok mereka hanya dapat makan ubi, ya dimakan saja. Tidak ada perbedaan antara nasi dan ubi. Semuanya sama saja. Yang membedakan hanyalah syaraf rasa yang ada di permukaan lidah. Kalau nasi dan ubi sudah melewati lidah, maka semuanya sama. Tidak ada rasanya tetapi sama-sama dapat menyebabkan perut menjadi kenyang. Jika kita makan dalam jumlah yang sama atau setidaknya berimbang, maka antara nasi dan ubi memang berbedanya hanya pada saat melewati permukaan lidah saja. Kedamaian itu berkaitan erat dengan kondisi batin, jika kondisi batin tenang, ayem, maka pada saat itulah kedamaian melingkupi hidup. Dan, itu berarti tidak terpaut jauh dari kebahagiaan. Kedamaian sama dengan kebahagiaan. Setidak-nya identik. Kalau kita mampu memberikan masukan bagi diri kita, walaupun cuma sedikit tetapi cukup, maka tidak ada masalah lagi. Kita boleh saja kaya, tetapi bukan berarti kaya identik dengan kedamaian sebab orang kaya justru merasa tidak nyaman hidupnya. Mereka selalu berpikir bagaimana caranya mengamankan semua harta yang dimilikinya sehingga tidak dicuri orang dan sebagainya. Artinya, menjadi orang kaya ternyata membuat kita memiliki kebiasaan berprasangka terhadap orang lain. Sementara perlu kita ketahui bah-wa sebenarnya berrasangka itu merupakan penyakit batin yang sangat gawat. Kalau seseorang telah terjangkiti oleh penyakit batin ini, maka secara terus menerus mereka selalu berada pada kondisi syakwasangka dengan yang lain-nya. Jika kita mempunyai syak wasangka terhadap orang lain, maka di dalam diri kita tercipta sebuah opini yang sudah barang tentu bersifat negatif terhadap orang bersangkutan. Setiap kali kita bertemu dengan orang tersebut, maka secara langsung di dalam diri kita, dunia dalam diri kita tergoncang dan me-nyebabkan gelora air laut yang membahana. Setiap yang dilakukan orang tersebut, dihadapan kita segalanya salah. Tidak ada hal positif yang dimiliki oleh orang tersebut. Kita jadi makan hati sendiri. Kita merasa begitu rupa terhadap orang tersebut sehingga didalam hati kita telah tertanam perasaan sentiment yang begitu besar. Lantas, apakah kita pernah berpikir bagaimana kondisi orang yang kita syakwasangkai? Apakah mereka juga berlaku seperti kita?! Tentunya tidak seperti itu. Mereka tenang-tenang saja saat lewat atau bergurau di sekitar kita. Justru kita yang semakin kebakaran jenggot melihat sikapnya di hadapan kita. Tetapi, mereka tenang-tenang saja. Orang yang kita syakwasangkai tidak pernah menyadari bahwa kita sentimen terhadap dirinya. Tentunya di dalam hatinya sama sekali tidak menduga hal tesrebut terjadi didalam diri kita. Apa yang kita harapkan jika kondisi sudah seperti ini? Kita sendiri yang terluka oleh sikap kita yang tidak proporsional. Itulah, sebenarnya kedamaian tidak berada jauh dari diri kita. Kemanapun kedamaian itu selalu kita bawa dan selalu kita terapkan dalam pola kehidupan pergaulan antar personil di masyarakat. Hanya saja kita memang perlu sedikit keterampilan pada saat membuka folder ke-damaian yang ada di ruang memori computer otak kita. Otak kita ini kan tidak berbeda fungsinya dengan komputer yang setiap hari mungkin kita pakai untuk bekerja. Di komputer tersebut kita memasukan data dan selanjutnya data ter-sebut dikelola dan disimpan dalam chiep yang berhubungan dengan pe-nyimpanan data. Otak kita tidak berbeda jauh dengan perangkat tersebut. Seka-rang tergantung bagaimana kita menghadapi kondisi seperti ini.
Mungkin, jika kita mengkaitkan dengan kondisi kehidupan global yang secara langsung tersaji di hadapan mata kita, maka rasanya sangatlah muskil untuk dapat mewujudkan kedamaian dalam kehidupan ini. Kedamaian menjadi barang yang sangat langka dan sulit didapatkan ataupun diciptakan sebab setiap manusia hanya pandai membuat permasalahan tanpa mempunyai solusi. Banyak orang yang secara membabi buta memaksakan keinginan pribadinya untuk menjadi yang terbaik bagi kehidupannya. Mereka berusaha untuk mem-pengaruhi setiap orang agar mendapatkan berbagai dukungan untuk kegiatan yang dilakukannya sebagai perwujudan ambisi diri pribadi. Ambisi, ya ambisi-lah yang menjadikan seseorang berusaha untuk mendapatkan hal-hal terbaik bagi kehidupan dirinya. Dengan ambisi, maka seseorang dapat bersemangat. Tanpa ambisi tentunya seseorang akan merasakan kehidupan ini hanyalah semacam terminal yang hiruk pikuk tetapi sama sekali tidak memberikan nilai tambah kepada kehidupannya. Sampai sekarang ini kita dapat menemukan banyak orang yang telah kehilangan kehdiupan yang sebenarnya masih berada dalam genggaman tangannya. Mereka kehilangan sesuatu yang sebenarnya masih melekat dalam dirinya. Inilah kehilangan semu yang selalu dialami oleh seseorang yang tenggelam dalam ketidak seimbangan pola kehidupan dunia dalam diri dengan dunia diluar dirinya. Kita memang seringkali mengalami ke-hilangan semu seperti ini. Coba kita bayangkan, berapa kali kita tiba-tiba merasakan bawa dalam kehidupan ini ternyata kita hanya sendirian saja, tanpa teman yang mau mengerti apa yang sebenarnya sedang kita butuhkan pada saat tertentu. Semua teman seakan pergi meninggalkan kehidupan kita. meninggal-kan kita sendirian. Padahal sebenarnya tidak ada seorang-pun dari teman kita yang meninggalkan diri kita, hanya saja mereka memang terlalu sibuk mengha-dapi kehidupan mereka sendiri sehingga tidak sempat memperhatikan diri kita.
Ya, kita memang selalu berusaha untuk memenuhi kebuTuhan diri pribadi lebih besar dibandingkan upaya untuk memenuhi kewajiban menyenangkan orang lain. Kita seringkali mengutamakan kebuTuhan diri sendiri terlebih dahulu, setelah itu kita memikirkan segala kebuTuhan orang lain. Orang lain menjadi nomor kesekian dalam tabel skala prioritas yang harus diselesaikan oleh diri kita. Kita tidak dapat mengelak pada kenyataan seperti itu sebab semua memang lebih condong untuk bersikap seperti itu. Kita ini makhluk sosial yang juga makhluk pribadi, tetapi hak jauh lebih diutamakan daripada kewajiban, sebab sejak kita saat makan kita selalu diajari untuk hak agar makanan masuk. Orang Jawa selalu mengatakan ‘hak’ setiap kali menyuapi anak-anaknya. Hak……hak…..hak, maka secara spontan anak akan membuka mulutnya dan menerima makanan yang disuapkan oleh ibu atau ayahnya, bahkan tidak jarang pembantu setianya. Setiap saat kita memang selalu mendengarkan ibu, bapak, atau penyuap kita mengatakan ‘hak’ pada saat menyuapkan makanan ke mulut kita, sehingga kata tersebut terekam kuat di dalam diri kita bahwa hak itu artinya kita harus membuka mulut untuk melahap semua yang diberikan pada kita, bahkan yang tidak diberikan-pun dapat saja dilahapnya.
Tetapi setidaknya satu hal yang selalu kita harapkan dalam kehidupan ini yaitu kondisi yang benar-benar kondusif untuk proses kehidupan kita yang sudah sedemikian rupa. Kita perlu mengakui secara lapang hati bahwa kehidup-an kita saat sekarang ini sudah jauh dari kondisi ideal. Kita sudah terlalu lama terjebak dalam suasana hidup yang serba gamang dan tidak pasti. Setiap kali pergantian pimpinan yang kita harapkan dapat menjadi harapan baru ternyata hasilnya tidak berbeda jauh. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa pim-pinan yang baru-pun itupun bertindak jauh lebih parah dari pimpinan yang lama. Semua hal memungkinan untuk terjadi sebab kita berhadapan dengan orang-orang yang secara pasti tidak dapat kita ketahui bagaimana sebenarnya kondisi yang ada didalam dirinya. Kemungkinan terciptanya kedamaian dalam kehidupan memang merupakan hal penting yang harus kita upayakan, tetapi hal itu bukan berarti menghalalkan setiap langkah dalam penerapannya. Kita masih harus memperhitungkan berbagai hal sebelum kita menerapkan konsep-konsep kehidupan, apalagi jika kita melihat kemungkinan terciptakan friksi jika konsep-konsep tersebut disosialisasikan dalam kehidupan. Hal ini seringkali menjadi salah satu penyebab kehilangan damai, bahagia dan kesejahteraan hidup ini. Jika semua orang sudah menerapkan kebutuhan umum sebagai alasan untuk menimbun kekayaan pribadi, maka sampai kapanpun hidup kita tidak bakalan damai, apalagi bahagia dan sejahtera. Sesuatu yang masih jauh jika kita hanya begini.
Kedamaian dalam hidup adalah tenaga pendorong yang dipercaya dapat menggerakkan roda kehidupan manusia. Dengan berpatok pada kedamaian, dalam hal ini menjadikan kedamaian sebagai tonggak tujuan kehidupan, maka manusia merasakan bahwa hidup ini begitu dinamis. Bahwa hidup memberikan berbagai pengharapan untuk kondisi terbaik bagi manusia. Dalam hal ini alam telah menerapkan prinsip hidup saling berimbang, artinya siapa memberi, maka dia yang bakal menerima. Siapa yang mengasihi alam raya, maka dia bakal men-dapatkan kasih yang sama, bahkan jauh lebih besar dari alam raya. Alam itu sosok yang sangat besar kasih sayangnya kepada manusia, walaupun dalam kenyataannya, banyak manusia yang sama sekali tidak memberikan kasih sayangnya kepada alam. Ibarat seorang kekasih, maka alam itu adalah kekasih setia kita. Kepada alamlah kita menaruh harapan untuk mendapatkan hal-hal terbaik dalam kehidupan ini. Rasanya sangat sedih dan mau mati saja jika seandainya alam sudah tidak menyayangi kita, walau dalam kenyataannya alam tidak pernah kehabisan kasih sayangnya untuk kita. Bahkan, ketika kematian menjemput diri kita, maka dengan penuh kasih sayang sang alam merengkuh kita dalam pelukannya yang sejuk dan segar. Itulah alam semesta dengan segala samudera kasih sayang dan cinta yang maha luas untuk kita. seharusnya, jika kita mempunyai naluri kemanusiaan, maka segala bentuk kasih sayang yang diberikan alam kepada kita merupakan sesuatu yang begitu besar artinya dan menyadarkan nurani kita bahwa kitapun harus berbuat yang sama kepada alam semesta. Walaupun akhir-akhir ini kita seringkali melihat bahwa alam dikatakan telah marah dan tidak bersahabat lagi dengan kita, tetapi jika kita berpikir secara logis, maka setidaknya kita melihat bahwa semua itu adalah salah satu bentuk kasih sayang yang diberikan oleh alam kepada kita. Coba kita berpikir, bahwa gunung yang meletus itu ternyata membawa kebaikan juga bagi manusia, yaitu tanah-tanah bekas semburan isi perut gunung adalah bahan material yang sangat berguna bagi kehidupan sebab subur dan membawa material yang dapat digunakan untuk keperluan yang lainnya. Begitulah yang dapat kita peroleh dari bentuk kasih sayang alam kepada kita. Tetapi, seringkali yang kita peroleh dari alam sebenarnya adalah kebaikan-kebaikan yang sedemikian besarnya sehingga mampu memposisikan diri kita pada kondisi terbaik, misalnya bahagia, damai dan sejahtera dalam hidup. Semua itu adalah rahmat yang diberikan alam kepada kita, tetapi kenapa seringkali kita harus menipu diri sendiri dan alam dengan mengatakan bahwa diri kita tidak bahagia, tidak sejahtera dan tidak damai. Padahal jika semua itu kita runtut, maka kita melihat bahwa apa yang kita alami itu sebenarnya merupakan akibat dari apa yang telah kita lakukan sendiri. Seperti telah penulis katakana didepan bahwa alam itu menerapkan hukum sebab akibat, kausalik. Artinya yang berbuat pasti menerima hasil per-buatannya tersebut. Jangan pernah berharap dapat menghindarkan diri dari kondisi ini sebab ini sudah hukum alam yang harus kita jalani. Kalau hidup kita tidak bahagia, tidak sejahtera atau tidak damai, itu artinya kita telah melakukan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan kondisi dunia dalam diri kita sehingga berbenturan dengan dunia di luar diri kita. benturan tersebut selanjut-nya menjadikan kita merasa tidak nyaman dan akhirnya mneimbulkan ketidak-bahagiaan, ketidakan sejahteraan, dan ketidakdamaian hidup. Bukankah semua itu karena pola pikir kita sendiri yang memposisikan diri sebagai berada pada kondisi negatif, kita terlalu bernegatif thinking! Mungkin kita pernah mendengar orang berbicara bahwa jika pikiran kita mengatakan diri kita sakit, maka tidak lama lagi diri kita pasti sakit beneran. Ini adalah semacam support yang di-dapatkan dari dalam diri kita, inilah sugesti yang kita dapat dari dalam diri sendiri dan ternyata sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan kita. kalau orang sehat mengatakan dirinya sedang sakit, maka alam akan memberikan per-mintaan tersebut sehingga orang tersebut benar-benar sakit. Alam itu sangat kasih pada kita sehingga apapun yang kita inginkan pasti dipenuhinya. Oleh karena itulah, kita harus berpikir positif. Apa yang kita pikirkan untuk men-dapatkan, maka secara berangsur-angsur alam pasti akan memberikan yang kita inginkan tersebut. Masalah waktu sudah merupakan hal yang biasa. Alam pasti memberikan permintaan atau harapan kita terhadap pola kehidupan yang kita jalani, tidak peduli pola positif maupun pola negatif, asal kita memintanya dengan sepenuh hati, maka segalanya mungkin bahkan pasti terjadi, terturuti. Untuk hal tersebut, maka sebaiknya kita selalu berpikiran positif terhadap pola kehidupan dan penghidupan yang sudah diatur oleh alam sebaik-baiknya se-hingga kita benar-benar dapat menjadi manusia yang selalu bersyukur dan ber-terima kasih kepada alam seluas-luasnya sehingga alam semakin sayang kepada kita. Dan, kalau alam sudah menyayangi kita, maka segala hal berkenaan dengan hidup dan kehidupan bukanlah sesuatu yang sulit untuk kita hadapi. Segalanya tentunya sedemikian mudahnya sebab alam sudah begitu dekat dengan kehi-dupan kita, diri kita.
Kedamaian hidup adalah mesiu yang menyulut keseluruhan kesadaran manusia bahwa hidup itu menjanjikan keindahan. Dengan keindahan itu, maka manusia berharap dapat menggapai segala cita-cita hidupnya. keindahan itu salah satunya adalah akibat dari kedamaian yang tercipta pada saat proses ke-hidupan dijalaninya. Jika kondisi kehidupan baik, teratur dan memberikan ke-bahagiaan kepada kita, maka itu berarti kita telah berada pada kondisi terbaik pada interaksi kita dengan alam semesta ini. Pada kenyataannya, sebenarnya dalam kehidupan ini terdapat dua alam yang saling berkaitan dan tidak mung-kin terpisahkan satu dari lainnya. Dua alam tersebut adalah alam dalam diri dan alam di luar diri. Kita sebenarnya mempunyai sebuah alam yang begitu indah sekaligus begitu buruk di dalam diri kita. sebagaimana dunia di luar diri,jika mendapatkan perlakuan yang tidak baik, maka konsekuensi yang bakal diterima sudah barang tentu merupakan sesuatu yang sedemikian buruknya, dapat berupa penderitaan atau sebangsanya yang memposisikan diri kita pada sisi negatif. Begitu kondisi dunia didalam diri dibandingkan kondisi kehidupan di dunia luar diri kita. Kalau di dunia dalam diri kita mengalami guncangan, maka secara langsung berakibat tergoncangnya kehidupan di luar diri kita. Begitu juga ketika kondisi kehidupan di luar diri mengalami goncangan, maka secara lang-sung kondisi di dunia dalam diri juga mengalami goncangan yang tidak kalah hebatnya dengan goncangan yang terjadi. Oleh karena itulah, maka kita dituntut untuk dapat menyeimbangkan kondisi dunia dalam diri dengan dunia diluar diri sehingga tidak mungkin menimbulkan riak-riak, alunan ataupun gelora gel-ombang yang mampu menyulut kehancuran dalam diri. Dalam hal ini setidak-nya kita dapat melihat bahwa jika tidak ada keseimbangan antara kondisi dunia di dalam, maka yang terjadi adalah kerusakan akibat goncangan yang timbul akibat perbedaan kondisi. Kita dapat membayangkan bahwa dunia luar diri dan dunia dalam diri itu sebuah bejana berhubungan berisi air yang tertutup oleh sebuah katup yang dapat kita buka dan tutup. Pada saatnya katup harus kita buka untuk menciptakan hubungan antara dunia di dalam diri dengan dunia diluar diri, sehingga mengalirlah air dari satu sisi ke sisi yang lainnya. Tetapi, jika kedua sisi dunia tersebut mempunyai isi air yang sama, maka hal tersebut tidak bakal menjadikan aliran air yang bergelora yang menyeret segalanya ke sisi yang lainnya. Jika isi airnya sama, maka pada saat tersebut dapat kita katakan sebagai kondisi seimbang antara dunia didalam diri dengan dunia diluar diri. Akibatnya permukaan airnya merata dan hal tersebut tidak me-nyebabkan aliran air dari satu sisi ke sisi lainnya dan hal tersebut menyebabkan air tenang, damai. Tetapi, bagaimana jika isi airnya tidak sama, kondisinya tidak sama antara dunia di luar diri dengan dunia didalam diri?! Tentunya, jika isi airnya berbeda, misalnya air di sisi dunia luar diri lebih banyak dari air di dalam dunia dalam diri, maka air mengalir deras ke dalam dunia dalam diri kita se-hingga aliran tersebut menjadikan sebuah goncangan tersendiri bagi dunia dalam diri kita. Air yang mengalir ke dalam dunia dalam diri menyebabkan kondisi di dalam dunia dalam diri mengalami perubahan dan perubahan tersebut menjadikan kondisinya tidak tenang sehingga kondisi dunia di dalam diri men-capai keseimbangan dengan kondisi dunia diluar diri kita. Begitulah gambaran yang dapat kita peroleh jika kita berupaya mencapai kedamaian diri dengan menyeimbangkan kondisi di dunia di dalam diri dengan dunia diluar diri. Ke-seimbangan tersebut harus kita peroleh dan ciptakan agar upaya mencapai kedamaian benar-benar dapat terwujudkan dan kebahagiaan bukan lagi sebuah wacana manis di atas kertas atau diangan-angan semata.
Pada dasarnya kehidupan ini memang penuh keindahan. Banyak hal yang dapat kita jadikan sebagai penuntun kebahagiaan diri kita. Setiap saat kita selalu melihat pemandangan yang begitu indah di sekitar dunia luar diri kita dan kita selalu berusaha untuk memasukkan pemandangan indah tersebut se-hingga dapat menjadi bagian integral dari dunia dalam diri kita. Semua orang pasti sepakat jika kita mengatakan bahwa kehidupan di dunia luar diri memang merupakan sebuah tempat yang sedemikian luas dan indahnya sehingga me-nimbulkan kekerasanan bagi setiap orang untuk tinggal dan bertahan untuk tinggal di dunia luar diri ini. Bahkan tidak jarang orang-orang yang rela mengor-bankan dunia dalam dirinya demi menggapai dunia di luar dirinya. Tentunya hal tersebut memberikan resiko yang sedemikian besarnya sebab dapat meng-hilangkan keseimbangan mungkin telah tercipta selama proses kehdupan dengan adaptasi yang telah dilakukan oleh masing-masing pribadi. Semakin baik seseorang melewati masa adaptasinya dengan dunia luar dirinya, maka semakin baik dia mengupayakan keseimbangan antara kondisi dunia di dalam dirinya dengan kondisi dunia diluar dirinya. Dan, pada umumnya orang-orang yang berada pada kelompok ini pola kehidupannya teratur dan penuh dengan kedamaian. Mereka adalah orang-orang yang menghadapi kehidupan sebagai sebuah perjalanan rekreasi yang sedemikian menyenangkan hatinya. Tetapi, bagi mereka yang tidak mempunyai kemampuan untuk menyeimbangkan kondisi di dunia dalam dirinya dengan kondisi di dunia luar dirinya, maka sudah barang tentu harus menanggung konsekuensi yang sedemikian beratnya.
Orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk menyeimbang-kan kondisi antara dunia dalam dirinya dengan kondisi dunia diluar dirinya mempunyai kecenderungan untuk hidup secara tidak teratur. Mereka selalu dihinggapi oleh perasaan dan prasangka negatif setiap hal yang dihadapi dalam kehidupan. Mereka selalu bercuriga pada setiap aspek kehidupan sehingga hal tersebut menjadikan pola kehidupan mereka menjadi tidak teratur dan selanjut-nya menjadikan mereka selalu sibuk untuk menghadapi permasalahan yang seharusnya bukan permasalahan yang urgen. Kehidupan yang tidak teratur sudah memberikan gambaran yang sedemikian nyata betapa tidak adanya kese-imbangan antara dunia di luar diri dengan kehidupan dunia di dalam diri. Se-mentara kehidupan yang damai memberikan gambaran bahwa di dalam diri telah tercipta keseimbangan yang sedemikian stabil, maka tidak heran jika mereka selalu dalam keadaan damai dan sejahtera.
Di dalam hidup ini, manusia memang sak dermo nglampahi, tetapi hal itu bukan berarti manusia tidak mempunyai harapan untuk bertindak sesuai dengan persepsinya terhadap kehidupan ini. Manusia memang sudah diplot untuk sebuah peran saja, tetapi pada dasarnya peran tersebut dapat dikem-bangkan sesuai dengan improvisasinya terhadap kehidupan. Maka, adalah sah-sah saja jika manusia mempunyai pengharapan dalam hidupnya untuk kondisi-kondsi tertentu, misalnya kedamaian. Seperti telah dikatakan bahwa di dalam kehidupan ini manusia berada di antara dua dunia, yaitu dunia di dalam dirinya dengan dunia di luar dirinya yang pada dasarnya merupakan satu ke-satuan yang terpisah oleh ruangan semata. Ruangan itu selanjutnya kita nama-kan sebagai jasad. Jasad inilah yang memisahkan dunia dalam diri dengan dunia luar diri. Dengan dua dunia yang kita miliki ini, maka setidaknya kita dapat mem-posisikan diri kita sebaik-baiknya sehingga benar-benar dapat mengkontribusi segala hal yang ada didalam kehidupan ini. Jika kita menginginkan kondisi kehidupan yang penuh kedamaian, maka setidaknya dalam hal ini kita harus dapat mengkomposisikan kondisi kehidupan di dalam diri dengan kehidupan di luar diri sedemikian rupa sehingga ada perimbangan kondisi dan hal ini dapat menjadikan kesetimbangan kondisi sehingga tidak muncul tuntutan hidup yang beraneka. Memang kita perlu menyeimbangkan kondisi kehidupan dunia di dalam diri dengan kehidupan dunia di luar diri sehingga dengan kesetimbangan tersebut, maka tidak tercipta peluang untuk saling menuntut. Sebenarnya hal utama yang menyebabkan manusia berambisi dan untuk hal tersebut dilakukan dengan berbagai kelakuan yang kadangkala dapat mengancam kondisi kehidup-an secara umum. Kondisi kehidupan di dunia dalam diri merasakan ada sesuatu yang kurang sehingga untuk hal tersebut harus dipenuhi. Proses pemenuhan kondisi tersebut menyebabkan terlahirnya tuntutan untuk memenuhinya. Bukankah jika di tempat kita ada tempat yang kosong, maka naluri kita selalu berkeinginan untuk mengisinya.?! Seperti ketika bak kamar mandi kita sudah tandas, tidak ada airnya, maka secara sadar kita memposisikan diri untuk segera memenuhi kebuTuhan pengisian bak kamar mandi tersebut. Itu merupakan ke-sadaran yang tidak pernah kita kontrol tetapi secara otomatis muncul dalam kegiatan hidup kita. Semua itu selalu muncul setiap kali kita melihat kejang-galan ada di dalam kehidupan kita. Ini adalah kontrol naluri yang selalu muncul dari dalam diri kita. Inilah yang menjadikan kita sebagai orang-orang yang sadar lingkungan dan kondisi diri. Jika hal ini kita alami, maka berarti kita selalu ber-pandangan positif terhadap kehidupan ini. Dan, inilah sebenarnya yang selalu kita inginkan, yaitu kesadaran untuk melakukan segala tanggungjawab kehidup-an sebagai sesuatu yang wajar dan memang harus dikerjakan tanpa adanya tun-tutan ataupun beban yang memberati langkah kehidupan. Bukankah, jika kehidup-an kita terbebani, maka rasanya hidup ini begitu berat dan tidak sesuai dengan bayangan hati kita. Apa yang bakal kita rasakan jika ternyata hidup kita ber-beban? Tentunya kedamaian hidup menjadi hilang dan selanjutnya kebahagiaan bakal meninggalkan hidup kita. dunia di dalam diri kita akan terusik dan gelora air laut menggunung menjilati awan putih yang berarak. Kalau lautan di dalam dunia dalam diri kita bergelora, apa yang bakal kita alami?!
Bukankah yang terpenting sebenarnya adalah kehidupan di dalam diri kita? Ya, memang sebenarnya pertimbangan yang terpenting bagi kehidupan kita selama ini adalah menciptakan kondisi dunia di dalam diri sebagai suatu pola kehidupan yang seimbang, bahagia dan penuh dengan kedamaian. Yang terpenting bagi kita memang adalah keseimbangan antara kondisi dunia di dalaam diri dengan kondisi dunia di luar diri kita. Keseimbangan kondisi dunia di dalam diri dan kondisi dunia di luar diri selanjutnya kita posisikan sebagai sebuah neraca dan jiwa adalah titik tengahnya. Dengan kondisi seperti itu, maka kita dapat mengatur posisi kita terhadap kondisi kehidupan. Dimana kita harus bersikap, bagaimana sikap kita, dapat kita atur sedemikian rupa sehingga terjadi keseimbangan antara dunia dalam diri dengan dunia diluar diri. Seperti yang dilakukan oleh pak tani pada saat harus mengangkat beban dengan menggu-nakan sebatang kayu, pikulan. Mereka begitu enjoy saat memikul beban tersebut di pundak. Mereka sama sekali tidak kelihatan terbebani oleh barang yang dipikul. Bahkan jika kita melihat bagiamana mereka memikul, maka setidaknya kita dapat mengetahui bahwa tersirat kebahagiaan di raut wajahnya yang sudah mengkilap oleh keringat diterpa sinar matahari yang garang. Topi bambu yang dipakainya sama sekali tidak dapat menghalau panasnya sinar matahari yang langsung terpancar dari langit. Sementara orang mengatakan bahwa kehidupan yang paling tenang adalah kehidupan yang dijalani oleh pak tani. Mereka nam-pak begitu tenang dan nampaknya tidak berbeban, walau sebenarnya kalau kita tanyakan pada mereka, semuanya tidak jauh berbeda sebab semua harus meng-hadapi dunia luar yang sama. Tetapi, yang jelas pada saat kita melihat yang dilakukan oleh pak tani, maka secara langsung kita dapat mengatakan bahwa kehidupan mereka sangat tenang. Bergumul dengan lumpur sawah, berceng-kerama dengan burung-burung bangau, mendengarkan suara desiran angin yang melewati lubang-lubang dangau tempatnya istirahat. Seharusnya seperti itulah hidup yang kita angan-angankan. Tidak terlalu direpotkan oleh berbagai pemikiran yang kadangkala jauh dari realitasnya. Kita seringkali mengharapkan sesuatu yang lebih daripada yang bakal kita dapatkan. Memang hal tersebut wajar dan harus kita lakukan. Bukankah mimpi merupakan keinginan masa depan yang tersimpan dalam memori otak kita dan muncul pada saat kita meng-hadapi permasalahan atau ketika sedang rileks dan menunggui kehidupan yang terus melangkah.
Mimpi, ya mimpi memang merupakan keinginan yang tersimpan dalam di lubuk hati dan setiap saat keinginan tersebut dapat muncul sebagai mimpi yang merupakan perwujudan keinginan yang sudah sedemikian kuatnya untuk mengalami penyesuaian. Kita memang hidup di alam mimpi, yaitu alam yang penuh dengan keinginan terselubung, yang kadangkala tidak bakalan diketahui oleh orang lain. Mimpi, ya mimpi kitalah yang mengantar segala hal yang kita inginkan dalam konteks kebahagiaan hidup di dunia. Kita berpedoman pada mimpi agar dapat melangsungkan kehidupan dengan lebih baik. Selama ini mimpi telah menjadi kendaraan bagi kita untuk mencapai tujuan yang telah kita programkan bersama. Kita hidup sebab kita mempunyai mimpi dan bisa jadi karena mimpilah kemudian kita mengalami kematian. Banyak contoh yang menunjukkan betapa seseorang menjadi sedemikian berhasil dalam kehidupan-nya sebab dia mempunyai banyak mimpi untuk kehidupannya itu. Kita juga mendapatkan banyak contoh berapa banyak orang yang terjebak dalam mimpi dan selanjutnya terjerat menuju kematiannya yang tragis. Sungguh, mimpi telah menjadi semacam monument yang harus diperebutkan oleh semua orang untuk dapat menggapai kebahagiaan, kesejahteraan, dan kedamaian hakiki dalam ke-hidupannya. Kalau memang hal tersebut merupakan sebuah kenyataan, menga-pa pula kita malu untuk mengakui bahwa apa yang kita dapatkan hari ini, kema-rin dan esok merupakan perwujudan dari segala mimpi yang telah kita miliki dan jadikan semacam menara api di dalam jiwa kita? Bagaimanapun kita membutuhkan sesuatu yang dapat mendorong diri dan jiwa kita untuk me-lakukan sesuatu yang telah menjadi semacam tenaga pendorong yang mampu membawa semua keinginan sehingga terwujud dan dapat direalisasi sebagai pengalaman hidup dan keberhasilan kita dalam kehidupan ini.setiap orang membutuhkan tenaga pendorong yang dapat berasal dari dalam dirinya sendiri ataupun dari orang lain yang berada di sekitarnya, yang menaruh perhatian dan harapan padanya. Kita dapat hidup secara damai sebab di dalam diri kita ada semacam kondisi yang menjadikan kita nyaman dan tidak tertekan oleh sesuatu sehingga menyebabkan pikiran kita stress. Tanpa tekanan di dalam dirinya, maka kehidupan kita bakal nyaman. Inilah yang sebenarnya kita harapkan se-bagai salah satu bentuk kedamaian yang hakiki.
Dengan kedamaian yang melingkupi kita, maka segala persoalan hidup hanyalah sebutir kelilip di kelopak mata kita atau seserpih selilit diantara sela gigi. Sakit, tetapi segera hilang jika dikeluarkan. Bahkan, kedamaian telah menjadi salah satu fenomena penting yang selalu diusahakan semua manusia agar ke-hidupan global menjadi lebih terarah dan aman. Kedamaian hakiki menjadikan manusia hidup tenang dan ayem. Segala hal yang dihadapi dalam kehidupannya merupakan sealun air di pinggir pesisir dan sama sekali tidak memberikan pengaruh yang signifikans terhadap pola kehidupan kita secara menyeluruh. Alunan air tersebut jsutru menjadikan semacam elusan lembut di dinding hati kita dan menjadi penyemangat yang tiada taranya bagi kehidupan secara me-nyeluruh. Kalau memang kita dapat hidup secara damai, mengapa pula kita harus melakukan segala hal yang pada akhhirnya sangat berbahaya bagi pola kehidupan secara umum? Kita hanya menginginkan kehidupan yang nyaman dan damai sepanjang hari melingkupi setiap ayunan kaki dan memberikan support bagi yang lainnya sehingga mampu mendapatkan apa yang kita dapat-kan.
Kedamaian itu sebenarnya manifestasi dari kondisi jiwa yang tenang dan tidak merasa terancam, aman. Kedamaian itu letaknya ada di dalam jiwa sehing-ga tidak dapat kita ketahui secara kasat mata. Seseorang yang kehidupan finan-sialnya serba kekurangan bukan berarti tidak damai, atau sebaliknya orang yang berlimpah harta tidak pasti hidupnya penuh kedamaian. Tidak seperti itu keadaannya. Kedamaian itu sifatnya relatif untuk setiap orang. Bahkan, orang yang serba berkekurangan saja hidupnya dapat damai. Sebab mereka dapat menerima kondisi kehidupan secara luas hati dan tidak dibeban oleh keinginan-keinginan yang berlebih dari kemampuan dirinya untuk mendapatkannya. Mereka menjalani kehidupan sebagaimana adanya, artinya kalau hari ini mereka dapat makan nasi yang dimakan, tetapi kalau esok mereka hanya dapat makan ubi, ya dimakan saja. Tidak ada perbedaan antara nasi dan ubi. Semuanya sama saja. Yang membedakan hanyalah syaraf rasa yang ada di permukaan lidah. Kalau nasi dan ubi sudah melewati lidah, maka semuanya sama. Tidak ada rasanya tetapi sama-sama dapat menyebabkan perut menjadi kenyang. Jika kita makan dalam jumlah yang sama atau setidaknya berimbang, maka antara nasi dan ubi memang berbedanya hanya pada saat melewati permukaan lidah saja. Kedamaian itu berkaitan erat dengan kondisi batin, jika kondisi batin tenang, ayem, maka pada saat itulah kedamaian melingkupi hidup. Dan, itu berarti tidak terpaut jauh dari kebahagiaan. Kedamaian sama dengan kebahagiaan. Setidak-nya identik. Kalau kita mampu memberikan masukan bagi diri kita, walaupun cuma sedikit tetapi cukup, maka tidak ada masalah lagi. Kita boleh saja kaya, tetapi bukan berarti kaya identik dengan kedamaian sebab orang kaya justru merasa tidak nyaman hidupnya. Mereka selalu berpikir bagaimana caranya mengamankan semua harta yang dimilikinya sehingga tidak dicuri orang dan sebagainya. Artinya, menjadi orang kaya ternyata membuat kita memiliki kebiasaan berprasangka terhadap orang lain. Sementara perlu kita ketahui bah-wa sebenarnya berrasangka itu merupakan penyakit batin yang sangat gawat. Kalau seseorang telah terjangkiti oleh penyakit batin ini, maka secara terus menerus mereka selalu berada pada kondisi syakwasangka dengan yang lain-nya. Jika kita mempunyai syak wasangka terhadap orang lain, maka di dalam diri kita tercipta sebuah opini yang sudah barang tentu bersifat negatif terhadap orang bersangkutan. Setiap kali kita bertemu dengan orang tersebut, maka secara langsung di dalam diri kita, dunia dalam diri kita tergoncang dan me-nyebabkan gelora air laut yang membahana. Setiap yang dilakukan orang tersebut, dihadapan kita segalanya salah. Tidak ada hal positif yang dimiliki oleh orang tersebut. Kita jadi makan hati sendiri. Kita merasa begitu rupa terhadap orang tersebut sehingga didalam hati kita telah tertanam perasaan sentiment yang begitu besar. Lantas, apakah kita pernah berpikir bagaimana kondisi orang yang kita syakwasangkai? Apakah mereka juga berlaku seperti kita?! Tentunya tidak seperti itu. Mereka tenang-tenang saja saat lewat atau bergurau di sekitar kita. Justru kita yang semakin kebakaran jenggot melihat sikapnya di hadapan kita. Tetapi, mereka tenang-tenang saja. Orang yang kita syakwasangkai tidak pernah menyadari bahwa kita sentimen terhadap dirinya. Tentunya di dalam hatinya sama sekali tidak menduga hal tesrebut terjadi didalam diri kita. Apa yang kita harapkan jika kondisi sudah seperti ini? Kita sendiri yang terluka oleh sikap kita yang tidak proporsional. Itulah, sebenarnya kedamaian tidak berada jauh dari diri kita. Kemanapun kedamaian itu selalu kita bawa dan selalu kita terapkan dalam pola kehidupan pergaulan antar personil di masyarakat. Hanya saja kita memang perlu sedikit keterampilan pada saat membuka folder ke-damaian yang ada di ruang memori computer otak kita. Otak kita ini kan tidak berbeda fungsinya dengan komputer yang setiap hari mungkin kita pakai untuk bekerja. Di komputer tersebut kita memasukan data dan selanjutnya data ter-sebut dikelola dan disimpan dalam chiep yang berhubungan dengan pe-nyimpanan data. Otak kita tidak berbeda jauh dengan perangkat tersebut. Seka-rang tergantung bagaimana kita menghadapi kondisi seperti ini.
Mungkin, jika kita mengkaitkan dengan kondisi kehidupan global yang secara langsung tersaji di hadapan mata kita, maka rasanya sangatlah muskil untuk dapat mewujudkan kedamaian dalam kehidupan ini. Kedamaian menjadi barang yang sangat langka dan sulit didapatkan ataupun diciptakan sebab setiap manusia hanya pandai membuat permasalahan tanpa mempunyai solusi. Banyak orang yang secara membabi buta memaksakan keinginan pribadinya untuk menjadi yang terbaik bagi kehidupannya. Mereka berusaha untuk mem-pengaruhi setiap orang agar mendapatkan berbagai dukungan untuk kegiatan yang dilakukannya sebagai perwujudan ambisi diri pribadi. Ambisi, ya ambisi-lah yang menjadikan seseorang berusaha untuk mendapatkan hal-hal terbaik bagi kehidupan dirinya. Dengan ambisi, maka seseorang dapat bersemangat. Tanpa ambisi tentunya seseorang akan merasakan kehidupan ini hanyalah semacam terminal yang hiruk pikuk tetapi sama sekali tidak memberikan nilai tambah kepada kehidupannya. Sampai sekarang ini kita dapat menemukan banyak orang yang telah kehilangan kehdiupan yang sebenarnya masih berada dalam genggaman tangannya. Mereka kehilangan sesuatu yang sebenarnya masih melekat dalam dirinya. Inilah kehilangan semu yang selalu dialami oleh seseorang yang tenggelam dalam ketidak seimbangan pola kehidupan dunia dalam diri dengan dunia diluar dirinya. Kita memang seringkali mengalami ke-hilangan semu seperti ini. Coba kita bayangkan, berapa kali kita tiba-tiba merasakan bawa dalam kehidupan ini ternyata kita hanya sendirian saja, tanpa teman yang mau mengerti apa yang sebenarnya sedang kita butuhkan pada saat tertentu. Semua teman seakan pergi meninggalkan kehidupan kita. meninggal-kan kita sendirian. Padahal sebenarnya tidak ada seorang-pun dari teman kita yang meninggalkan diri kita, hanya saja mereka memang terlalu sibuk mengha-dapi kehidupan mereka sendiri sehingga tidak sempat memperhatikan diri kita.
Ya, kita memang selalu berusaha untuk memenuhi kebuTuhan diri pribadi lebih besar dibandingkan upaya untuk memenuhi kewajiban menyenangkan orang lain. Kita seringkali mengutamakan kebuTuhan diri sendiri terlebih dahulu, setelah itu kita memikirkan segala kebuTuhan orang lain. Orang lain menjadi nomor kesekian dalam tabel skala prioritas yang harus diselesaikan oleh diri kita. Kita tidak dapat mengelak pada kenyataan seperti itu sebab semua memang lebih condong untuk bersikap seperti itu. Kita ini makhluk sosial yang juga makhluk pribadi, tetapi hak jauh lebih diutamakan daripada kewajiban, sebab sejak kita saat makan kita selalu diajari untuk hak agar makanan masuk. Orang Jawa selalu mengatakan ‘hak’ setiap kali menyuapi anak-anaknya. Hak……hak…..hak, maka secara spontan anak akan membuka mulutnya dan menerima makanan yang disuapkan oleh ibu atau ayahnya, bahkan tidak jarang pembantu setianya. Setiap saat kita memang selalu mendengarkan ibu, bapak, atau penyuap kita mengatakan ‘hak’ pada saat menyuapkan makanan ke mulut kita, sehingga kata tersebut terekam kuat di dalam diri kita bahwa hak itu artinya kita harus membuka mulut untuk melahap semua yang diberikan pada kita, bahkan yang tidak diberikan-pun dapat saja dilahapnya.
Tetapi setidaknya satu hal yang selalu kita harapkan dalam kehidupan ini yaitu kondisi yang benar-benar kondusif untuk proses kehidupan kita yang sudah sedemikian rupa. Kita perlu mengakui secara lapang hati bahwa kehidup-an kita saat sekarang ini sudah jauh dari kondisi ideal. Kita sudah terlalu lama terjebak dalam suasana hidup yang serba gamang dan tidak pasti. Setiap kali pergantian pimpinan yang kita harapkan dapat menjadi harapan baru ternyata hasilnya tidak berbeda jauh. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa pim-pinan yang baru-pun itupun bertindak jauh lebih parah dari pimpinan yang lama. Semua hal memungkinan untuk terjadi sebab kita berhadapan dengan orang-orang yang secara pasti tidak dapat kita ketahui bagaimana sebenarnya kondisi yang ada didalam dirinya. Kemungkinan terciptanya kedamaian dalam kehidupan memang merupakan hal penting yang harus kita upayakan, tetapi hal itu bukan berarti menghalalkan setiap langkah dalam penerapannya. Kita masih harus memperhitungkan berbagai hal sebelum kita menerapkan konsep-konsep kehidupan, apalagi jika kita melihat kemungkinan terciptakan friksi jika konsep-konsep tersebut disosialisasikan dalam kehidupan. Hal ini seringkali menjadi salah satu penyebab kehilangan damai, bahagia dan kesejahteraan hidup ini. Jika semua orang sudah menerapkan kebutuhan umum sebagai alasan untuk menimbun kekayaan pribadi, maka sampai kapanpun hidup kita tidak bakalan damai, apalagi bahagia dan sejahtera. Sesuatu yang masih jauh jika kita hanya begini.
Langganan:
Postingan (Atom)
