Jumat, 11 Agustus 2023

LANGKAH MENDISIPLINKAN DIRI UNTUK MENULIS


Kedisiplinan merupakan salah aspek penting untuk menggapai keberhasilan kegiatan. Setiap kegiatan mempunyai tujuan untuk mencapsi keberhasilan, maka kedisiplinan merupakan modal dasarnya.  Kedisiplinan  terkait dengan sikap hidup, yaitu disiplin.

Disiplin adalah ketaatan dan kepatuhan terhadap nilai-nilai yang diyakini merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya. Kedisiplinan diartikan secara bebas sebagai kondidi terkait ketaatan dan kepatuhan terhadap segala hal yang diyakini dapat mengkondisikan diri pada nilai-nilai positif dalam kehidupan. Terkait dengan kegiatan menulis, maka kedisiplinan menulis mengkondisikan kita untuk taat dan patuh terhadap segala aturan yang dipercaya dapat mendukung keberhasilan dalam kegiatan menulis. 

Kegiatan menulis adalah sebuah keterampilan yang untuk dapat memilikinya, maka harus melakukannya secara intens atsu terus menerus. Artinya, kita harus disiplin dalam melakukan kegiatan menulis agar dapat terampil menulis. Kegiatan yang kita lakukan secara berulang sangat memungkinkan bagi kita untuk menguasai teknik-tekniknya secara optimal. Oleh karena itu, para kampium akan terus berlatih dan berlatih untuk memiliki keterampilan yang optimal. Bukankah, semakin sering kita nelakukan, maka semakin kita menguasai segala hal?

Permasalahannya adalah ketidak stabilan emosi kita! Seringkali kita sangat bersemangat dalam bergiat, tetapi pada saat yang lain diterkam kemalasan yang sangat! Akibatnya ritme kegiatan amburadul dan berakibat pada penguasaan yang setengah-setengah. Kondisi ini tidaklah optimal untuk nendukung ketercapaian tujuan kegiatan. Oleh karena itu, kita harus membiasakan diri untuk melakukan secara intens setiap sesuatu yang ingin kita kuasai atau lakukan. Dalam konteks kita adalah keterampilan menulis. Kita harus membiasakan diri untuk menulis agar dapat terampil menulis. 

Berdasar pada pengalaman yang penulis jalani dan miliki, maka ada beberapa hal yang harus kita lakukan agar dapat disiplin menulis. Memang setiap orang berbeda cara untuk mendisiplinkan diri, tetapi setidaknya ini dapat menjadi tambahan untuk tujuan yang sama. Hal-hal yang penulis lakukan untuk mendisiplinkan diri dalam menulis adalah:
1. Memantapkan diri untuk menulis

Hal pertama yang harus kita lakukan adalah memantapkan diri untuk menulis. Ini adalah energi dan motivasi pertama yang harus kita tumbuhkan dan menjadi alasan menulis. 

Kemantapan diri untuk melakukan merupakan motivasi terbesar yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri. Motivasi ini merupakan latar belakang kita melakukan kegiatan. Dengan demikian, maka kita akan melakukan kegiatan dengan penuh tanggungjawab. Rasa tanggungjawab inilah yang sesungguhnya alat untuk mendisiplinkan diri untuk melakukan kegiatan secara optimal. Tanpa rasa tanggungjawab, diyakini setiap kegiatan tidak dapat optimal, bahkan sering menyebabkan kegagalan. 

Kita harus memantapkan diri untuk menulis sebelum kegiatan menulis kita lakukan. Cara ini untuk membangkitkan rasa tanggungjawab terhadap kegiatan yang kita lakukan. Setelah rasa tanggungjawab ini muncul, maka kegiatan menulis pasti mengalir lancar. 

2. Mengefektifkan waktu-waktu menulis

Setiap penulis atau orang yang ingin menulis, pasti mencari dan menentukan waktu yang tepat untuk menulis. Tidak sembarang waktu dapat dijadikan saat untuk menulis. Walau, sesungguhnya semua waktu dapat dijadikan saat untuk menulis. Tetapi, terkait dengan waktu menulis adalah kita harus benar-benar mengefektifkan waktu menulis. Artinya, jika kita dudah memutuskan menulis di pagi hari, maka kita harus konsisten dengan keputusan tersebut. Jangan mengabaikan keputusan yang sudah kita tentukan sendiri. 

Kita harus mengefektifkan waktu kita menulis dengan menentukan target-target menulis. Target-target menulis inilah yang akan mendisiplinkan kita dalam menulis. Kita harus memasang target agar waktu yang kita alokasikan untuk menulis dapat berhasil guna secara optimal. Untuk target penulisan dapat kita tentukan berdasar waktu ataupun jumlah tulisan. Jika berdasarkan pada waktu, maka kita dapat membuat kesepakatan diri untuk menulis selama waktu berapa, misal 30 menit atau bahkan 5 menit saja. Dan, selama kurun waktu tersebut, kita benar-benar menulis. 

Kita harus mengefektifkan waktu menulis sehingga setiap interval waktu menulis dapat menghasilkan tulisan sebagaimana program kita. Misalkan kita mengefektifkan berdasarkan waktu, maka pada batas waktu yang kita rencanakan sudah menulis semaksimalnya. Tidak ada waktu yang terbuang untuk kegiatan diluar kegiatan menulis. Begitu juga hslnya dengan pengefektifan berdasar jumlah tulisan, maka setiap kali proses menulis, kita selesaikan jatah menulis, misalnya 100 kata, 350 kata, 500 kata, dan yang lainnya. Dengan demikian, kita harus 'memaksa' diri untuk menuntaskan tulisan. Pemaksaan inilah yang diyakini dapat mendisiplinkan diri untuk menulis.

3. Membaca banyak buku

Menulis merupakan pasangan dari membaca. Setiap yang membaca, diawali dengan membaca. Setiap yang membaca, dilanjutkan dengan menulis. Kita dapat mengibaratkan bahwa membaca adalah sebagaimana kegiatan makan dan minum, dan menulis adalah sebagaimana kita BAB dan BAK. Apa yang terjadi jika kita hanya makan dan minum saja, tanpa BAB dan BAK? Apa pula yang terjadi jika kita hanya BAB dan BAK, tanpa makan dan minum?
I
Membaca adalah kegiatan memasukkan informasi ke dalam memori otak sehingga pengetahuan kita meningkat. Kita dapat mengetahui berbagai informasi dari proses membaca. Selanjutnya, semua informasi disimpan dalam memori kita. Lantas untuk apa informasi yang tersimpan tersebut? Tentunya, informasi tersebut dapat hilang dalam kurun waktu tertentu akibat keterbatasan kemampuan menyimpan dari otak kita. 

Menulis adalah kegiatan mengalirkan pengetahuan dan informasi dalam otak sehingga dapat diketahui oleh banyak orang. Kita memproyeksikan rekaman informasi yang mengeram dalam memori otak menjadi bentuk tulisan yang berwujud huruf dan angka. Informasi yang tersimpan di  dalam otak dialirkan keluar sehingga ruang penyimpanan di memori otak tidak membludak. Dan, otak selslu dalam kondisi segar atau fresh sehingga tidak mudah mengalami kebuntuan ataupun hang saat menulis. 

Kegiatan membaca yang dilakukan secara intens akan membangkitkan semangat menulis. Kita mendapat informasi yang semakin banyak dan mendorong kita untuk menulis. Kondisi ini akan berlangsung terus menerus setiap kali kita selesai membaca. Selalu ada keinginan untuk menulis dan menulis sehingga terciptalah sebuah kebiasaan menulis. Akan tercipta kedisiplinan menulis setiap saat. 

4. Membaca lingkungan

Lingkungan adalah tempat kita beraktifitas menjalani kehidupan. Ada banyak kejadian di lingkungan sekitar kita. Kejadian -kejadian itu dapat menjadi sumber atau ide menulis. Kita menangkap satu atau dua idemuntuk diikat dalam bentuk tulisan. Demikian secara terus menerus kita lakukan sehingga kita terbiasa untuk menulis.

Seorang penulis seharusnya banyak membaca segala kejadian yang ada di lingkungannya. Dengan demikian, selalu ada bahan untuk dituliskan. Bahan itulah yang selanjutnya kita sebut sebagai ide tulisan. Ketika kita melihat seorang nenek yang melangkah tertatih, itu adalah bahan atau ide tulisan. Ketika kita melihat seorang anak menangis saat menginginkan es cream tetapi tidak dibrlikan sang ibu, itu adalah bahan atau ide tulisan. Dan, masih banyak lagi hal-hal kejadian di lingkungan yang dapat dijadikan bahan atau ide menulis.  Begitu banyaknya bahan, maka kita akan terus menerus menulis sehingga dapat menjadi kebiasaan kita. Jika sudah menjelma menjadi kebiasaan, berarti kita sudah disiplin dalam menulis. 

Membaca lingkungan memang dapat menambah informasi atau pengetahuan dalam memori otak kita. Hal ini akan menyebabkan pengaliran informasi yang tiada hentinya untuk dituliskan. Kita tidak akan berhenti menulis sebab materi yang akan ditulis tidak pernah habis. Materi tulisan kita dapatkan dari hasil membaca lingkungan kita. Kita mendisiplikan diri untuk menulis dengan membaca lingkungan tempat tinggal kita. 

5. Berinteraksi dengan komunitas

Siapa dirimu dapat dilihat dari siapa temanmu. Ini adalah pendapat yang sudah menjadi pegangan semua orang untuk memberi label pada seseorang. Hal ini didukung oleh sebuah pepatah lama yang buminya kita-kita sebagai berikut, ala bisa karena biasa. Seseorang dapat melakukan sesuatu karena dia terbiasa melakukannya. Dan, kebiasaan itu terbentuk sebagai hasil dari komunikasi dan interaksi dengan lingkungan. 

Pada saat kita berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan, maka terjadilah friksi atau gesekan diri. Gesekan diri ini meliputi gesekan fisik dan psikis. Gesekan fisik dapat berwujud pertentangan-pertentangan fisik ataupu ssemua yang terkait dengan fisik. Sedangkan, gesekan psikis lebih terpusat pada gesekan karakter dan kemampuan. 

Salah satu lingkungan yang diyakini dapat memberikan pengaruh adalah sebuah komunitas. Komunitas adalah sekumpulan orang yang berada di dalam lingkungan dengan kegiatan yang sama. Karena kira membahas tentang kedisiplinan menulis, maka komunitas yang kita maksudkan adalah komunitas menulis. Di dalam komunitas menulis, semua orang yang ada mempunyai kegiatan yang sama, yaitu menulis. 

Untuk mendisiplinkan diri dalam kegiatan menulis, maka sudah seharusnya berinteraksi dengan orang-orang yang aktif bergiat dalam menulis. Oleh karena itu, kita dapat bergabung dengan komunitas menulis sehingga dapat terbawa arus untuk terus menulis. Jika kita setiap saat berinteraksi dengan mereka, maka  suasana dan kondisi akan mempengaruhi setiap orang di sekitar atau di dalam komunitas tersebut. 

6. Bergabung dengan kegiatan menulis antologi bersama

Menulis itu kegiatan pribadi sebab merupakan respon diri terhadap kondisi atau situasi yang terjadi di lingkungan penulis. Setiap orang pasti memberikan respon terhadap setiap kondisi atau situasi yang terjadi di lingkungannya. Tetapi, tidak semua orang menangkap dan mengikatkan responnya dalam bentuk tulisan. Sehingga, kegiatan ini dapat dikatakan sebagai kegiatan personal tetapi tidak dapat mengabaikan keberadaan orang-orang di sekitarnya.

Untuk dapat mendisiplinkan diri dalam kegiatan menulis, maka kita harus bergabung dengan lingkungan yang secara aktif melakukan kegiatan menulis. Salah satu bentuk kegiatan menulis yang sering dilakukan adalah nenulis bersama. Menulis antologi, baik antologi tunggal atau rame-rame merupakan salah satu cara untuk mendisiplinkan diri. Hal ini karena dalam menulis antologi, kita dibatasi oleh tema dan waktu penyelesaian. Ada istilah DL yang memaksa kita untuk segera menyelesaikan tulisan kita.

Pada saat kita bergabung dengan penulis lain untuk menyusun antologi, maka kita dihadapkan pada keharusan untuk menulis sesuai aturan dan waktu yang disediakan. Batasan waktu inilah yang memaksa kira untuk secara intens mengikat ide dalam brntuk tulisan. Semakin banyak kegiatan antologi yang kita ikuti, semakin banyak tulisan yang harus kita tulis. Semakin banyak tulisan yang kita tulis, maka semskin sering kita menulis. Frekuensi dan kuantitas.kita menulis akan mengkondisikan kedisiplinan kita dalam kegiatan menulis. 

Oleh karena itu, agar kita dapat disiplin dalsm menulis, maka kita harus mengikuti kegiatan menulis secara intens. Hal ini agar kita terbiasa menulis dan terkondisikan untuk selslu siap dan sigap menulis.


Upaya untuk mendisiplinkan firi dalam kegiatan menulis sangat tergantung pada motivasi inert dari seorang penulis. Kegiatan menulis dapat disiplin jika ada kesadaran dari dalam diri untuk secara terus menerus, disiplin menulis. Dan, beberapa langkah yang penulis ungkapkan di atas merupakan pengalaman pribadi penulis. Anda dapat saja mengambil langkah-langkah tersebut untuk meningkatkan kedisiplinan dalam menulis. Semoga dapat menjadi salah satu acuan untuk pengrmbangan krmampuan menulis. 



Gembongan, 12 Agustus 2023
Mohammad Saroni
Penulis buku #Sertifikasikeahliansiswa

Senin, 07 Agustus 2023

MARI MENGELOLA IDE/GAGASAN

Ide/gagasan merupakan aspek penting dalam proses menulis. Ide/gagasan ini merupakan sumber atau bahan yang akan ditulis. Setiap penulis melakukan kegiatan menulis berdasar pada ide atau gagasan ini. Bahkan, tidak sedikit penulis yang menjadikan ide/gagasan sebagsi kambing hitam ketika mengalami kesulitan saat menulis, misal saat mengalami writer's block ataupun saat tidak bersemangat menulis. Mengapa tidak menulis? Tidak ada ide/gagasan! Begitulah salah satu tanya jawab yang mengkambing hitamkan ide/gagasan.

Terkait dengan kondisi tersebut, maka ada pertanyaan yang harus kita jawab, yaitu apakah ide itu harus dicari atau ditunggu kedatangannya? 

Ise/gagasan dalam kegiatan menulis adalah segala hsl yang berada di sekitar kita, bahkan dalam diri kita yang melintas ataupun berkecamuk dalam otak kita. Ide/gagasan yang berkecamuk dalam otak pada umumnya merupakan respon terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di sekitar kita. Kondisi tersebut terekam otak kita dan tersimpan dalam memori yang setelah mengalami pengendapan memberontak untuk diungkapkan sebagai bentuk respon terhadap kehidupan. Ini merupakan kesadaran diri untuk  merespon dan memberikan  upaya untuk memberikan pemahaman terhadap orang-orang. Kita berusaha menunjukkan kepada orang lain tentang tanggapan atau respon terhadap situasi dan kondisi. Ide/gagasan ini sebenarnya sudah mengeram dalam otak sehingga siap untuk dituliskan, tetapi tergantung pada niat dan semangat menulis.

Sementara itu, ide yang melintas di labirin otak secara temporer merupakan ide/gagasan yang berseliweran di sekitar kita dan tertangkap atau terjebak di ruang labirin otak serta kita ingin menuliskannya atau mewujudkannya. Ide/gagasan jenis inilah yang sering menjadi kambing hitam kebuntuan dalam kegiatan menulis, bahkan keengganan melakukan kegiatan menulis. Banyak penulis ataupun bakal calon penulis yang menyampaikan alasan tidak menulis karena tidak mempunyai ide yang dituliskan. Pikirannya zonk ataupun blank sehingga tidak ada yang dapat dituliskan. 

Apakah ide/gagasan harus dicari atau ditunggu kedatangannya?

Ayo kita menulis!
Sebentar, menunggu ide/gagasan datang!
Emang kemana ide/gagasannya?
Sedang keluar kota!
Menunggu sampai kapan,?
Sampai ide/gagasan datang!
Kspan datangnya?
Tidak tahu!

Ini merupakan percakapan tanya jawab untuk memulai proses menulis. Seseorang mengatakan bahwa dia menunggu kedatangan ide/gagasan untuk menulis. Dalam konteks ini, ide/gagasan itu seperti tukang bakso atau tukang pangsit yang mendorong gerobak dagangnya menuju ke kita. Lantas, kita menghentikannya untuk menikmati dagangan tersebut. Menulis itu adalah kenikmatan untuk nengungkapkan ide/gagasan yang berupa pulse-pulse respon diri terhadap sekilas kejadian dalam kehidupan. 

Ide/gagasan ini melintas setiap saat di pikiran kita. Lintasan-lintasan ini terkadang begitu cepat pergerakkannya, tetapi ada yang lambat dan berkali-kali melintas. Dan, jenis ide/gagasan yang direspon adalah yang melintas lambat dan berkali-kali melintas. Ide/gagasan ini seperti burung merpati yang bersikap jinak kepada kita tetapi tidak mudah untuk menangkapnya. Tidak mudah menangkap merpati yang berkeliaran di sekitar kita. Begitulah gambaran yang dapat kita ilustrasikan pada kegiatan menulis. 

Seringkali kita merasa siap menulis sesuatu berdasarkan ide/gagasan yang tertangkap oleh otak kita, tetapi pada saat hendak menulis, ternyata ide/gagasan tersebut lepas. Akhirnya, kita hanya duduk tepekur di depan laptop atau layar HP. 

Sejatinya, kita tidak perlu menunggu ataupun mengejar ide/gagasan untuk dituliskan. Seperti penjelasan di depan, ide/gagasan itu berseliweran di sekitar kita dan kita tinggal menangkap serta mengikatnya dalam bentuk tulisan. Ide/gagasan akan datang ke kita dan harus segera diikat dalam bentuk tulisan. Kita ambil satu ide dan mengikatnya dalam tulisan. Dengan cara ini, maka kita dapat melakukan kegiatan menulis lebih efektif.  

Apa yang harus dilakukan pada saat ide/gagasan sudah ada?

Ide/gagasan itu sejatinya sudah ada di dalam pikiran kita. Tetapi, seringkali kita memanjakan diri sehingga ide/gagasan tersebut bermalas-malasan/ tidur nyenyak. Oleh karena itu, kita harus segera membangunkannya agar dapat dituliskan. Kita harus melecut ide/gagasan tersebut sehingga bangun dan berkembang menjadi kalimat, paragraf, dan tulisan seutuhnya. 

Jika ide/gagasan sudah muncul dslam pikiran, apa yang harus kita lakukan? Untuk hal ini, kita dapat melakukan beberapa langkah, yaitu:

a. Mengikatnya dalam catatan kecil

Ide hadir sewaktu-waktu. Kita tidak pernah tahu kapan waktunya. Dan, kehadirannya seringkali hanya selintasan sehingga seringkali pula lepas dari eksekusi kita. Akibatnya, ide tersebut menguap tanpa sempat kita ikat dalam bentuk tulisan. Hal tersebut terjadi karena kita hanya mengandalkan daya ingat kita, yang kita sudah tahu sangat terbatas. Daya ikat memori kita sangat terbatas sehingga dalam kurun waktu tertentu dapat hilang, terlupakan. Akibatnya, kita kehilangan bahan tulisan. Oleh karena itu, agar ide yang muncul tidak lepas, terlupa.

Untuk menghindari terlepasnya ide akibat kemampuan memori yang lemah, maka kita dapat mengatasinya dengan selalu membawa potongan-potongan kertas dan menyimpannya di saku dan alat tulis. Setiap kali kita mendapatkan ide, maka segera kita tuliskan di lembaran kecil kertas tersebut. Walau mungkin tidak dapat menulis secara lengkap, setidaknya kita sudah mengikat ide dasarnya. Ide dasar inilah yang selanjutnya kita kembangkan menjadi tulisan lebih lamjut. Kita harus meyakini bahwa satu kata ysng kita tuliskan akan memancing kata-kata yang.lsin untuk dituliskan sehingga menjadi sebuah tulisan yang lengkap. 

b. Mengikat dalam outline

Outline dapat dijelaskan sebagai bentuk kerangka tulisan yang mengikat ide dalam pikiran-pikiran pokok dan penjelas. Pikiran pokok dan penjelas inilah yang menjadi acuan menuliskan ide. Outline merupakan bagian penting sebab akan menjadi kerangka dari bangunan tulisan yang akan ditulis oleh penulis. 

Ide yang sudah kita ikat di potongan kertas kita kembangkan sesuai dengan aspek-aspek terkait ide tersebut. Dengan demikian, maka alur tulisan sudah nampak arahnya. Hal ini juga diharapkan dapat menjadi koridor penulisan sehingga tidak terjadi pembengkakan dan kebablasan dalam menulis. Efektivitas kerja menulis lebih dapat dicapai sehingga tulisan benar-benar bernas dan tidak bertele-tele.

Penulis harus dapat mrnyudun outline untuk setiap ide yang dimilikinya. Penyusunan outline merupakan aspek penting dalam mengelola ide dan keterampilan menulis.

c. Segera menuliskan pengembangannya

Selanjutnya, setelah ide diikat dalsm sebuah outline, maka penulis harus mengembangkan ide menjadi tulisan yang diinginkannya. Ini merupakan langkah eksekusi terhadap ide. Walaupun, sesungguhnya setelah diikat dalam outline, kemukiman lupa dapat dikurangi ataupun dihindari, tetapi kadang ada tulisan yang terkait dengan waktu. Ada masa kadaluwarsa untuk ide yang ditulis.  Untuk jenis-jenis ide seperti ini, maka kecepatan menuliskan ide sangat berarti bagi tulisan tersebut. 

Dan, yang sering terjadi pada.kita adalah semangat menulis yang labil. Kadang kita sangat bersemangat menulis, tetapi tidak jarang kita begitu malas untuk menulis. Tujuan kita segera menuliskan setiap kali ada ide adalah untuk mengantisipasi kondisi tersebut. Seringkali kita terjebak pada situasi seperti ini sehingga ide tulisan, bahkan sebuah tulisan terbengkalai karena kita diserang virus kemalasan. Kita kehilangan aemangat untuk melanjutkan proses menulis, tetapi bukan semata karena writer's block. Kita tidak mengalami kebuntuan untuk mengalirkan kata- kata, tetapi kita merasa malas untuk menulis. 

Oleh karena itu, kita harus segera mengeksekusi ide tulisan dengan mengembangkan ide dalam berbagai aspeknya. Dengan demikian, maka ide dapat dikelola secara holistik.

Begitulah kira-kira yang dapat kita lakukan untuk mengelola ide/gagasan yang sudah kita miliki sehingga dapat diwujudkan dalam brntuk tulisan. Sekiranya kita dapat melakukan hal tersebut, maka produktivitas menulis kita dapat didongkrak naik. Banyak tulisan yang kita hasilkan dalam waktu yang singkat dan tentunya jika dinilai dari aspek finansial, daat menambah penghasilan.

Selamat mengelola ide/gagasan sehingga keterampilan menulis dapat meningkat dan meningkatkan produktivitas menulis.

Salam literasi!!


Gembongan, 11 Agustus 2023
Mohammad Saroni
Penulis buku #personalbrandingguru

Jumat, 04 Agustus 2023

TIPS MENJAGA KEAJEGAN MENULIS



Setiap kegiatan yang kita lakukan seharusnya dilakukan secara ajeg dan terus menerus. Hal ini karena akan berdampak pada penguasaan dan pemahaman optimal pada inti kegiatan. Seperti orang yang sedang menggali sumur, maka penggalian harus dilakukan secara ajeg dan terus menerus untuk menemukan sumber air. Sumber air adalah inti dari proses penggalian sumur. Apa jadinya jika penggali sumur melakukannya secara tidak ajeg dan terus menerus? Pasti yang didapatkan hanyalah lubang-lubang di sana-sini, tanpa ada sumber airnya. 

Begitu juga halnya dengan kegiatan menulis. Seorang penulis yang tidak ajeg dan terus menerus melakukan kegiatan menulis, pasti akan mengalami kesulitan menyelesaikan proyek tulisannya. Mereka dapat saja mengalami writer's block pada awal menulis, pertengahan, dan akhir penulisan. Sudah berusaha menulis dengan duduk berjam-jam di depan laptop atau komputer, tetapi tidak satupun tulisan berhasil dikerjakannya 

Mengapa seorang penulis mengalami writer's block salah satunya karena kurang ajegnya penulis melakukan kegiatan menulis. Hal ini menyebabkan sistem sirkulasi aliran kata mengalami gangguan, tersendat-sendat. Keajegan itu adalah rutinitas dari sebuah kegiatan. Oleh karena itu, kita harus melakukannya secara terus menulis sebagai bagian kegiatan yang tidak lepas dari kehidupan kita.

Lantas, bagaimana caranya agar keajegan menulis kita dapat terjaga dan produktivitas menulis tidak mengalami kemerosotan? Berikut langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk menjaga keajegan menulis, yaitu:.
1. Komitmen
Untuk menjaga keajegan menulis, maka penulis harus membuat komitmen, dengan diri sendiri ataupun dengan pihak lain terkait produk tulisan, misalnya media massa ataupun penerbit. Komitmen ini sangat penting sebab dapat menjadi pemicu semangat menulis. 

Komitmen merupakan kesepakatan yang dibuat untuk mencapai kondisi tertentu dari proses menulis. Kita harus membuat kesepakatkan-kesepakatan yang dapat memicu semangat menulis. Semangat menulis sangat nenentukan keajegan kita dalam menulis. Semakin kita bersemangat menulis, maka semakin ajeg kita menulis atau menghasilkan karya tulis. Komitmen ini akan selalu menjadi pengingat dan penyadar kita bahwa ada hal-hal yang harus kita tuliskan dan tuntaskan. 

Komitmen dapat kita artikan sebagai perjanjian yang harus kita lakukan untuk mencapai kondisi harapan. Kita berjanji pada diri kita atau pihak ketiga untuk secara cepat dan tepat waktu dalam menyelesaikan tulisan. Kota juga dapat bersepakat terkait produktivitas tilisan untuk setiap waktunya. Dengan demikian, maka keajegan dalam kegiatan menulis dapat tetap terjaga.

2. Konsisten

Konsisten merupakan ketetapan hati ubtuk melalukan kegiatan. Seorang penulis harus konsisten dengan hal yang sudah disepakatinya dan mewujudkannya dalam kegiatan nyata. Hal ini dapat terjadi karena penulis memahami manfaat dan cara mewujudkan kesepakatan yang sudah dibuatnya. 

Konsistensi sangat penting untuk mendukung keberhasilan komitmen yang sudah dibuat oleh penulis. Seorang penulis yang konsisten pasti akan newujudkan segala komitmen yang sudah dibuatnya sedemikian rupa sehingga dapat mencapai tujuan kegiatan. Keberhasilan mencapai keberhasilan merupakan goal atau tujuan yang disepakati sejak awal kegiatan menulis. 

Konsistensi seorang penulis dalam melaksanakan segala kesepakatan dalam kegiatan menulis sangat menentukan keberhasilannya. Hal ini karena, orang-orang dengan konsistensi tinggi adalah mereka yang siap bekerja keras dan pantang menyerah mewujudkan hasil optimal kegiatan. 

3. Konsekuen

Konsekuen dapat diartikan sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban terhadap kesepakatan yang sudah dibuat oleh penulis. Konsekuen merupakan satu katakter penting yang harus dimiliki oleh aeorang penulis agar ada pertanggungjawaban jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkari pada tulisan yang dikerjakan. 

Karakter ini diyakini dapat meningkatkan keajegan kita dalam kegiatan menulis. Seorang penulis memang harus siap bertanggungjawab terhadap kesepakatan yang sudah dibuatnya untuk kelancaran kegiatan menulisnya. Jika sejak awal sudah disepakati bahwa waktu yang dibutuhkan untuk menulis adalah satu jam, maka penulis harus konsekuen dan menyelesaikan tulisan dalam waktu satu jam. Tidak boleh melebihi waktu yang sudah disepakatinya. 

Setiap kegiatan yang kita lakukan pasti membawa dampak terhadap diri dan kegiatan kita. Oleh karena utu, seorang penulis garus diap bertanggungjawab terhadap segala hal yang berhubungan dengan kesepakatan yang sudah dibuat 


Seorang penulis harus menjaga keajegannya salam proses menulis. Keajegan ini akan menjaga produktivitas penulis dalam menghasilkan tulisan. Ketiga aspek ini sangat penting bagi keberhasilan proses menulis. Oleh karena itu, seorang penulis harus dapat bergiat secara optimal 


Gembongan,  7 Agustus 2023
Mohammad Saroni
*Penulis buku Orang Miskin Harus Sekolah

Rabu, 02 Agustus 2023

MANAJEMEN MENULIS AGAR OPTIMAL MENULIS


Menulis merupakan salah kegiatan hidup untuk mengembangkan kemampuan dasar calistung. Setiap orang pasti dapat menulis, tetapi menulis efektif dengan didasari ide atau gagasan sehingga orang lain dapat memahami tidak semua orang dapat melakukannya. Tetapi, kegiatan menulis bukanlah sesuatu yang sulit untuk dikuasai. Hal ini karena kegiatan menulis adalah sebuah keterampilan. Seseorang yang dapat menulis dikatakan sebagai orang yang terampil menulis. 

Sebagai sebuah keterampilan, maka sejatinya setiap orang dapat mempunyai kemampuan untuk menulis. Keterampilan itu merupakan sebuah kemampuan yang dimiliki seseorang karena proses berlatih yang intens. Seseorang terampil melakukan sesuatu karena secara intens melakukan latihan-latihan terkait keterampilan tersebut. Semakin sering berlatih, maka semakin terampil melakukan kegiatan. Begitu juga halnya dengan kemampuan menulis. Sebagai sebuah keterampilan, maka menulis juga membutuhkan latihan yang intens.

Berlatih dan berlatihlah terus

Seorang atlit tidak akan pernah membiarkan hari-harinya berlalu tanpa latihan. Setiap waktu yang dimilikinya akan dialokasikan untuk berlatih. Tidaklah heran jika setiap saat kemampuannya meningkat secara proporsional. Dia memang memasang program untuk berlatih sebab dia menyadari bahwa tanpa berlatih, maka kemampuannya dapat menurun. Terapi, jika dia berlatih secara intens, maka kemampuannya meningkat. Hal ini tidak berbeda dengan pisau  sebuah pisau akan semakin tajam kalau setiap waktu diasah. Tetapi, jika tidak diasah, maka dapat menjadi tumpul, bahkan rusak, berkarat. Begitu juga dengan kemampuan-kemampuan lainnya. Oleh karena itu, kita harus betlatih dan berlatih sepanjang waktu. 

Seorang penulis adalah sosok terampil yang mempunyai kewajiban untuk meningkatkan kualitas keterampilannya sehingga setiap proses menulis dilakukan secara cepat dan tepat. Secara teoritis, dia tidak akan mengalami hambatan pada saat menulis. Hal ini karena penulis sudah terbiasa untuk menulis. Dia sudah terbiasa merangkai kata-kata sehingga memberikan makna yang diinginkannya. Seorang penulis yang terampil dapat menyelesaikan proyek tulisan dalam waktu relatif singkat. Dengan kondisi ini, maka seorang penulis yang terampil sangat produktif menghasilkan tulisan.

Salah satu kunci keberhasilan menjadi seorang penulis adalah meningkatkan kemampuan secara berkelanjutan. Peningkatan kemampuan dilakukan melalui proses berlatih dan berlatih secara intens. Proses latihan bukan berarti sekedar menulis melainkan harus menulis produktif. Setiap saat, penulis harus menulis, baik itu tulisan pendek ataupun panjang. Dengan demikian, maka kemampuannya dapat meningkat secara proporsional. 

Di atas langit ada langit

Berlatih menulis akan menajamkan pikiran dan mempermudah pengaliran ide atau gagasan dalam pikiran. Kesadaran untuk berlatih merupakan bentuk pertanggungjawaban terhadap pengembangan diri. Penulis selalu berpikir bahwa kemampuannya masih terbatas dan masih banyak orang mempunyai kemampuan lebih. Bahwa, di atas langit madih ada langit. Jika ada seseorang mempunyai kemampuan pada level tertentu, sejatinya masih ada orang yang kemampuannya di level atasnya. 

Penulis harus menyadari bahwa banyak orang yang kemampuannya melebihi kemampuannya. Hal ini merupakan kondisi yang sangat merisaukan sebab merupakan saingan dalam proses kreatif menulis. Oleh karena itu, penulis harus dapat mengelola kegiatan menulisnya sehingga dapat mencapai tingkatan kemampuan tertinggi. Meskipun demikian, kesadaran pada kenyataan bahwa di atas langit masih ada langit merupakan rambu-rambu bahwa kita masihlah belum sempurna, belum benar-benar mampu menulis.

Dengan kesadaran ini, kita akan terus berusaha untuk meningkatkan kemampuan diri tidak terlalu jauh perbedaan level kemampuan kita.  Ini merupakan salah satu cara mengelola kegiatan menulis yang menjadi kemampuan diri. Kita memang harus selalu menyadari bahwa diri kita tetaplah sosok yang serba kurang. Tidak mungkin kita dapat melakukan banyak hal berbasis kemampuan diri sebab selalu ada orang lain yang lebih berkemampuan. Oleh karena itu, penulis akan terus meningkatkan kemampuan dirinya.

Jangan takut menulis

Untuk dapat menjadi penulis, maka kita haruslah dekat dengan kegiatan menulis. Kedekatan ini dapat berwujud berinteraksi dengan banyak penulis dan selalu melakukan kegiatan menulis. Ada orang mengatakan, siapa kamu dapat dilihat dari pergaulanmu, dengan siapa kamu berinteraksi. Artinya, jika kita bergaul dengan penulis,maka pada saatnya kita juga dapat menjadi penulis. Lingkungan akan membentuk sebagaimana situasi lingkungan tersebut. Hal kedua yang dapat dilakukan adalah melakukan kegiatan menulis secara terus menerus. Masalahnya adalah banyak orang yang takut untuk menulis!

Ketakutan untuk melakukan kegiatan menulis merupakan alasan utama sehingga seseorang tidak menulis. Mereka merasa bahwa tidak ada kemampuan menulis, kalaupun ada, tulisan mereka tidak layak untuk dibaca. Mereka takut orang lain menertawakan hasil tulisannya. Ketakutan ini mengerdilkan jiwa dan hatinya sehingga selalu takut untuk menulis. Banyak orang yang berlindung di balik kata ketakutan untuk menulis. 

Untuk menjadi seorang penulis, maka kita tidak boleh takut menulis. Kita harus melakukan kegiatan menulis setiap saat. Kita juga menulis apa saja yang ingin kita tuliskan. Apapun yang ada di dalam pikiran, kita tuliskan. Tidak perlu mencari-cari atau memikirkan apa yang harus kita tuliskan. Kita cukup menuliskan apa yang ada di dalam pikiran kita. Ini merupakan salah satu cara agar proses menulis dapat dilakukan secara optimal, baik dari sisi waktu ataupun kualitas dan kuantitas tulisan. 

Untuk menjadi seorang penulis, maka jangan pernah takut untuk menulis. Ketakutan menulis merupakan satu penghalang terbesar untuk menjadi penulis. Kita harus membuang jauh-jauh semua jenis ketakutan yang menghambat kegiatan menulis. Kita harus berani menuliskan segala hal yang ingin kita tuliskan. 

Jangan malas menulis

Kemalasan akan melahirkan kebodohan. Siapa yang malas melakukan kegiatan, sesungguhnya sedang menggali liang kuburnya sendiri. Hidup ini sangat dinamis sehingga jika ada yang malas, maka akan terlindas oleh laju dinamisasi kehidupan. 

Kegiatan menulis merupakan bagian dari kehidupan sehingga pun mengalami dinamisasi. Dinamisasi dalam kegiatan menulis juga terus berlangsung. Hal ini seringkali menjadi pemicu kemalasan seseorang untuk menulis. Bahkan, seseorang yang sudah terbiasa menulis dapat terserang kemalasan untuk menulis. Kegiatan menulis yang biasanya dilakukan dengan lancar tetapi karena kemalasan, maka kegiatan menulis tersendat dan terhenti. 

Kemalasan memang musuh utama seorang penulis. Kegiatan menulis itu kegiatan aktif sehingga jika ada kemalasan, maka ritme kegiatan menulis terganggu dan produktivitas menurun hingga berhenti menulis. Seorang penulis yang malas menulis merupakan pertanda bahwa ada permasalahan dalam dirinya. Oleh karena itu, penulis yang mengakam kemalasan harus segera melakukan introspeksi untuk mengobati permasalahan dirinya. Jika tidak segera dilakuan, maka kemalasan tersebut dapat membunuh kreativitas penulis, bahkan membunuh secara nyata.

Kirimkan tulisan ke media massa

Setelah proses menulis selesai dilakukan, apa yang harus kita lakukan terhadap karya tulis itu? Ini merupakan pertanyaan klasik yang sering ditanyakan oleh penulis, terutama penulis pemula. Jangan hanya disimpan di rak buku atau di dalam folder komputer. Kita harus mempublikasikan tulisan kita sehingga masyarakat dapat membaca dan memahaminya. Dengan demikian, maka manfaat dari isi tulisan dapat dinikmati oleh sidang masyarakat. 

Setelah kita menyelesaikan tulisan, maka kita kirimkan tulisan tersebut ke media massa. Pengiriman tulisan ini bertujuan untuk mengukur tingkat kemampuan menulis yang kita miliki. Media massa merupakan wadah bagi tulisan-tulisan untuk dinikmati dalam bentuk cetak ataupun file.  Pada media massa inilah kita mengukur tingkat keberhasilan menulis kita. Kita harus mengetahui bahwa sebelum karya tulis fimuat dalam media massa, tulisan tersebut harus singgah di meja redaktur untuk dikurasi kelayakannya dimuat. Jika redaktur menilai bahwa sebuah tulisan layak muat, maka tulisan tersebut akan tampil dalam edisi atau terbitan media tersebut. 

Begitulah langkah-langkah manajemen menulis yang dapat kita lakukan untuk kontinuitas atau keberlangsungan proses menulis. Pada sisi lainnya, ada kebahagiaan dan kebanggaan saat mengetahui karya tulis kita dimuat di media massa. Dan, hal tersebut merupakan api pemercik yang dapat membakar dan mengobarkan semangat menulis kita.


Gembongan, 7 Agustus 2023
Mohammad Saroni
Penulis# pendidikan untuk orang miskin